Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Tugas Penting


__ADS_3

Pucuk-pucuk daun menggantung tetesan air sisa hujan semalam. Angin pagi meruntuhkan sebagian darinya. Kicau burung belum begitu ramai. Tapi cahaya kemerahan di ufuk timur mulai menyembur perlahan melukis pagi dengan nyata.


Sunday membuka mata saat alarm di ponselnya menunjukkan pukul 5 pagi. Di luar masih gelap. Ia berbalik dari tempatnya berbaring dan menemukan Faris terlelap di sampingnya. Masih dengan wajah damai yang akhir-akhir ini mengisi setiap awal harinya. Setiap memandang wajah lelap Faris, Sunday selalu mensyukuri satu hal bahwa ia merasa Faris adalah orang yang tepat. Tepat sebagai tempat menjatuhkan hatinya.


Perlahan Sunday mengulas senyum menatap lekat wajah pria yang saat ini adalah suaminya. Meski kadang masih sedikit asing, tapi setiap mendengar kata 'suami' nyatanya selalu membuat Sunday berdebar bahagia. Sekarang dia sudah bersuami dan memasuki satu babak baru dalam hidupnya.


"Aku memang sangat tampan saat tidur, jadi pandanglah sampai kau puas." Ujar Faris tiba-tiba dengan mata yang masih malas terbuka.


"Ahh, tuan narsis sudah bangun rupanya." Sunday membuang muka, berbalik badan lagi dan menyembunyikan wajah meronanya karena malu telah ketahuan memandangi Faris seperti itu.


"Aku tahu kau mengagumiku." Sekarang Faris melingkarkan tangan ke tubuh Sunday dan menarik tubuhnya agar mereka bisa saling merapat. Sunday patuh. Ia tahu tidak akan bisa melawan Faris bagaimanapun caranya. Lagipula dia mulai terbiasa dengan 'perlakuan manis' Faris seperti itu.


"Iya iya... aku sangat mengagumimu. Saking kagumnya sampai-sampai aku tidak bisa bernafas." Sunday menyindir karena pelukan Faris terasa terlalu kuat. Lalu Faris tersenyum dan melonggarkan pelukannya.


"Memelukku sekuat itu, kau pikir aku akan kemana?"


"Aku belum ingin kau kemana-mana. Jangan bangun dulu. Mari kita begini sepanjang hari." Faris menyusupkan wajahnya ke leher Sunday, menghirup aroma wangi dari sana.


"Hei, apa belum cukup waktu yang kita habiskan selama satu minggu terakhir selalu bersama seperti ini? Kau tidak ingin pergi bekerja? Semua pegawai pasti sudah menunggu kedatanganmu."


"Aku tidak ingin pergi kemana-mana, aku ingin bersamamu terus." Faris mempererat pelukannya lagi.


"Dasar..." Sunday tersenyum kecut mendapati Faris yang menempelnya seperti itu.


"Aku rasa aku akan bekerja di rumah saja. Rasanya aku tidak bisa jauh-jauh darimu."


"Gombal." Cibir Sunday.


"Apa aku memindahkan kantorku ke rumah saja?"


"Semaunya saja kau ini."


"Hei, aku bosnya jadi terserah akan berkantor dimana."


"Kau ini sungguh bos yang sangat konyol." Sekarang Sunday berbalik menghadap Faris. Memandang matanya dan tertawa kecil.


"Sudahlah Bos, kalau kita seperti ini terus, kapan kita akan bangun."


"Aku tidak ingin bangun. Sudah ku bilang aku ingin kita seperti ini saja sepanjang hari."


"Aku harus memasak. Apa kau tidak lapar?"


"Dengan memandangmu seperti ini, aku sudah cukup kenyang."


"Ya Tuhan, rayuanmu benar-benar receh sekali." Sunday merasa lucu tapi juga merona mendengar Faris mengatakan hal itu.


Mereka sudah menghabiskan satu minggu di Santorini. Tempat yang pernah Faris janjikan sebagai tujuan mereka berbulan madu. Sebuah pulau dengan bangunan-bangunan yang berjajar rapi di atas kaldera dan didominasi warna putih bersih dan biru cerah di Yunani. Yang menawarkan berbagai keindahan dan suasana romantis di setiap sudutnya.


Menginap di hotel dengan balkon yang menawarkan view menakjubkan. Menikmati sarapan sambil melihat-lihat pemandangan di jendela atau balkon hotel. Rumah-rumah kecil berlantai dua dengan warna putih dan kubah biru berjejer rapi menandakan kekhasan Santorini.


Satu minggu di Santorini, Sunday dan Faris benar-benar menikmati bulan madu mereka. Mulai dari melakukan tur ke Palaia Kameni, yaitu satu dari dua pulau yang berada di tengah kaldera Santorini. Mereka mengunjungi Nea Kameni. Melihat itu, sekilas Sunday melihatnya sebagai pegunungan Bromo, hanya saja Nea Kamenk dikelilingi oleh lautan. Dari tempat itu mereka bisa melihat Fira, ibu kota Sanforini dan Oia, salah satu daerah pemukiman cantik di Santorini.

__ADS_1


Di Oia, mereka bisa melihat sunset yang sangat indah. Tidak heran jika Sunday pernah mendengar bahwa sunset di situ mendapat julukan "Number One Location of the World’s Best Sunsets." Sinar matahari yang berwarna putih kekuningan tampak menyinari bangunan-bangunan di sepanjang kaldera Oia sehingga memberikan kesan tersendiri akan suasana Mediteranian.


Selain tempat-tempat itu, Sunday dan Faris juga menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan dan mendatangi berbagai tempat lainnya, termasuk Akrotiri. Disana mereka melihat situs kuno dari peradaban Minoan yang sempat terkubur akibat letusan gunung berapi pada 1500 SM. Sisa-sisa peninggalan peradaban di Akrotiri terlihat dari bangunan pemukiman yang ada di sana. Masih banyak juga ditemukan benda-benda seperti pot, tempat tidur, dan guci yang masih dalam bentuk aslinya. Menurut perkiraan para arkeolog, pada saat terjadi letusan, penduduknya sudah menyelamatkan diri terlebih dahulu. Peralatan dan harta benda ditinggalkan begitu saja dan sekarang menjadi daya tarik destinasi wisata yang menarik.


Karena sudah pernah ke Santorini saat masih berlayar, sedikit banyak Faris tahu tempat itu dan tidak perlu ditemani oleh tour guide jadinya.


Dan semalam adalah kedatangan mereka kembali ke tanah air setelah perjalan mereka dari Yunani. Itulah sebabnya Faris masih belum ingin beranjak dari tempat tidurnya pagi ini.


"Sayang, ayolah lepaskan aku. Aku harus menunaikan tugas negaraku sebagai istrimu." Rayu Sunday sambil memasang wajah sok manis.


"Kau ingin menjadi istriku yang baik?" Sunday menganggukkan kepalanya yang masih menempel pada bantal.


"Turuti saja apa kata-kataku."


"Apa itu?"


"Tetaplah seperti ini sampai instruksiku selanjutnya."


"Kau ini benar-benar diktator. Bahkan gerak gerikku pun harus kau yang menentukan." Sunday memasang wajah cemberut.


"Sudahlah... menurut saja padaku dan mari nikmati suasana pagi yang dingin ini di sini." Mendengar itu, Sunday semakin manyun.


"Kau tahu, aku masih sering tidak percaya kau benar-benar bisa ku miliki seperti ini." Faris memeluknya erat sesaat lalu melonggarkannya lagi.


"Kau tahu, aku sempat hampir putus asa mendekatimu karena kau selalu jual mahal terhadapku."


"Benarkah? Tapi yang ku tahu kau selalu sangat gencar mengejarku." Sunday menautkan kedua alisnya.


"Saat tahu kau bahkan tidak ingin ku dekati."


"Oh ya?"


"Ya, tapi saat tahu kau tidak ingin aku pergi dengan Gina, aku menyadari satu hal yang sebelumnya tidak sempat terbaca olehku. Dan saat sadar akan hal itu, aku tidak mau membuang waktu lagi karena ku rasa perjuanganku harus segera ku akhiri dengan indah sebagaimana seharusnya." Sunday tersenyum menatap Faris.


"Aku mencintaimu." Ucap Faris kemudian.


"Aku mencintaimu." Balas Sunday. Sejurus kemudian Faris menciumnya. Sunday tahu akan ada hal 'tidak baik' jika mereka seperti itu terus.


"Ahh, aku kebelet." Ujar Sunday tiba-tiba.


"Tidak, kau hanya berpura-pura."


"Sungguh, aku harus segera ke kamar mandi."


"Aku tidak percaya. Ini pasti akal-akalanmu untuk bisa lepas dariku." Faris mempererat lagi pelukannya.


"Aku tidak berbohong. Sebenarnya aku sudah menahannya sejak tadi tapi kau menguasaiku terus seperti ini."


"Benarkah? Aku tidak yakin dengan kata-katamu." Faris memicingkan mata.


"Apa kau yakin benar-benar mencintaiku?"

__ADS_1


"Tentu saja. Kenapa kau masih meragukannya?" Faris menatap Sunday lurus.


"Bagaimana bisa orang yang mencintai tapi tega menyiksa sekejam ini." Sunday memandang Faris penuh harap agar melepaskannya.


"Ahh sudahlah, jangan gunakan cara ini. Kau membuatku..." Faris lalu mengecup pipi Sunday dan melepaskan kungkungan lengannya.


"Kali ini kau ku lepaskan, tapi aku akan menerkammu kapan-kapan. Waspadalah." Sunday yang langsung bangun dari tidurnya setelah Faris melepas pelukan hanya menanggapinya dengan memanyunkan bibir ala duck face favoritnya.


Sunday masuk ke dalam kamar mandi saat Faris melihat ponselnya. Ada beberapa pesan masuk. Salah satunya dari Kak Novi. Menanyakan apakah dia akan segera ke Font atau masih ingin berbulan madu. Kata berbulan madu ditulis dengan huruf kapital sebagai penekanan. Ia pasti sangat kewalahan selama seminggu ini berada di Font sendirian mengggantikan tugas-tugasnya sambil merangkap tugasnya sendiri.


Faris membalas pesan Kakaknya hanya dengan sebuah emoticon senyum. Bisa dipastikan Kakaknya akan menyemprotnya setelah melihat isi pesannya itu.


Sunday menata hidangan sarapan di meja makan ketika Faris turun dari lantai dua dan menghampirinya.


"Roti panggang selai coklat, sempurna untuk pagi ini." Gumam Faris sambil mengambil duduk di salah satu sudut meja.


"Aku tidak menemukan apapun di dalam kulkas. Jadi hanya ini yang bisa ku siapkan." Sunday ikut duduk di sebelah Faris.


"Tenang saja, aku bukan suami cerewet dan akan memakan apapun yang istriku masak." Faris menghadap Sunday yang meletakkan roti diatas piringnya.


"Syukurlah, kalau berani bersikap cerewet aku akan membuatmu memasak sendiri makananmu." Ancam Sunday. Faris menanggapinya dengan senyum lebar.


"Nanti aku akan berbelanja untuk makan malam kita."


"Lalu makan siangmu?" Faris menoleh ke arah Sunday seperti mengkhawatirkan sesuatu.


"Gampang, aku bisa makan apapun."


"Furnitur kayu di sini berharga mahal, aku harap kau tidak menyentuhnya."


"Kau pikir aku ini rayap?" Sunday memukul lengan Faris yang lalu tertawa.


"Baiklah, tempat ini sekarang sudah memiliki seorang nyonya rumah, aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi. Lakukan apapun yang ingin kau lakukan pada rumah ini." Faris beranjak dari kursinya setelah menyelesaikan sarapan.


"Apa kau mau mengganti perabotan sesuai seleramu? Mungkin butuh renovasi dibeberapa bagian yang kau inginkan? Atau hal lain apapun itu?" Tawar Faris. Ia melakukan itu kepada Sunday karena ingin Sunday merasa nyaman tinggal di rumah mereka.


"Tidak, ku rasa rumah ini sudah sangat nyaman. Lagipula dimanapun dan bagaimanapun tempatnya, asal bersamamu aku merasa cukup." Sunday mengerlingkan mata setelah mengatakan itu dan seketika Faris membulatkan matanya. Sunday mulai pandai merayu sekarang. Tapi tentu saja itu membuatnya sangat senang.


"Kau membuatku berfikir untuk membolos saja hari ini." Faris memeluk tubuh mungil Sunday. Sunday membalasnya.


"Lupakan saja niatmu itu karena aku sendiri yang akan mengantarmu ke Font kalau sampai kau melakukannya." Faris tertawa lalu melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah pintu keluar. Sunday mengikuti disisinya.


"Bi Muti akan datang mulai besok. Aku sudah meneleponnya tadi. Dia akan membantumu di sini."


"Membantu apa? Kau memecatku dari Font dan 'memperkerjakanku' di sini, kenapa masih mempekerjakan Bi Muti? Kau tidak percaya padaku?" Sunday menatap Faris yang berjalan disampingnya.


"Aku memang 'mempekerjakanmu' di rumah ini. Tapi kau bukan asisten rumah tangga. Kau adalah nyonya rumah. Jadi jangan mengerjakan semuanya sendiri. Jangan terlalu lelah. Karena aku sedang mempersiapkanmu untuk tugas yang lebih penting lagi." Mereka sudah sampai teras rumah sekarang.


"Oh ya? Apa itu?" Sunday heran dan khawatir tugas apa lagi yang akan diberikan Faris kepadanya. Kenapa menjadi istrinya, Faris semakin suka mengatur hidupnya.


"Menjadi ibu dari anakku." Jawab Faris lalu mengecup keningnya. Sunday terkesiap dengan pipi yang memerah.

__ADS_1


__ADS_2