
Sunday benar-benar tertidur lelap dalam perjalanan pulangnya. Faris membiarkan Sunday melakukan itu. Ia tahu pasti melelahkan bagi Sunday dari kampus lalu ke rumah Novi, kakaknya. Seharusnya hari ini Sunday bisa menikmati waktunya bersantai tanpa jadwal magang yang menguras energinya tapi Faris malah mengajaknya pergi ke ulang tahun Rafael.
Seperti biasa, saat sampai dan Sunday tidak juga bangun maka Faris pun tetap membiarkannya tertidur hingga bangun dengan sendirinya. Dengan begini Faris jadi punya banyak waktu dan lebih leluasa memandangi Sunday. Untuk sementara dia bisa bebas menyusuri setiap sudut wajah Sunday tanpa perlu mencuri pandang lagi.
Memandang wajah Sunday benar-benar tidak pernah membosankan baginya. Seolah itu menjadi candu dan Faris selalu rela untuk terus sakau dibuatnya. Sunday tampak cantik dalam lelapnya. Seandainya ia adalah putri tidur, Faris rela menjadi pangeran berkuda yang hanya dengan ciumannyalah Sunday bisa terbangun.
Faris kemudian mengusap wajahnya sendiri sambil tersenyum kecut dengan apa yang ada di dalam imajinasinya. Benar-benar konyol dan kekanak-kanakan.
🌸🌸🌸
Sunday keluar dari ruang dosen. Wajahnya sumringah. Berhasil mendemokan programnya kepada dosen bukanlah hal yang mudah. Sebuah program persilangan antara Visual Basic dan Sybase Power Designer untuk membuat sebuah sistem informasi kependudukan. Sistem yang dibuatnya cukup kompleks. Interface-nya pun sangat menarik menarik.
Sunday menuju ke laboratorium setelah sempat mampir ke kantin untuk membeli minum.
Wajahnya masih berbinar saat menyodorkan minuman dingin kepada Victor.
"Terima kasih sudah membantuku." Sunday mengulas senyum lebar.
"Membantu apa?"
"Tugas pemrogramanku sukses dengan nilai A." Sunday girang sekali.
Victor teringat bantuannya untuk Sunday. Membantu menganalisa sistemnya agar menjadi baik serta penggunaan DBMS yang tepat. Belum lagi desain sistem yang juga adalah ide dari Victor.
"Wah, selamat..." Victor turut tersenyum.
"Kakak tahu kan Pak Jauhari seperti apa." Victor mengangguk. Memang dirinya hanya seorang laboran tapi dia cukup baik mengenal para dosen di fakultas ini. Interaksinya dengan para dosen tentu saja membuatnya bisa menilai satu per satu dari mereka.
Melihat keceriaan diwajah gadis itu, Victor seperti tertular untuk ikut bahagia juga. Sunday memang bukan tipe gadis yang ceria tapi sedikit banyak dari yang Victor tahu selama mengenalnya, Sunday adalah gadis yang sulit menyembunyikan perasaannya. Entah sedih atau bahagia, dia tidak segan untuk menunjukkannya.
Sedang menikmati suasana hatinya yang baik, Suzan menghampirinya.
"Sun, aku mau ngomong."
"Bagaimana demo programmu?" Sunday masih berbinar.
"Aku sedang tidak ingin membahas itu. Aku benar-benar butuh mendengar penjelasanmu."
"Penjelasan apa? Aku juga sedang magang. Nanti saja kita bicara setelah aku selesai." Tidak mengiyakan ataupun menolak, Suzan malah menuju meja Victor. Berbicara dengan laboran itu lalu kembali dan menarik tangan Sunday, membawanya ke sudut ruangan laboratorium yang tidak ada jadwal praktikum itu.
"Bagaimana mungkin aku melewatkannya begitu saja. Kau sungguh jahat sudah tidak menganggap kami sebagai temanmu. Kau bahkan tidak pernah lagi berbagi hal-hal bahagia dengan kami." Wajah Suzan tampak sedih dan membuat Sunday semakin bingung.
"Ada apa, Suz? Ada apa sebenarnya?"
"Kau... kenapa berpacaran dengan Oppa Faris tapi kami tidak tahu." Suzan cemberut. Sunday langsung mengerti alasan Suzan 'melabraknya'.
"Oh tentang itu..." Suzan memandangnya dengan penuh rasa ingin tahu.
"Itu... sebenarnya bukan seperti itu."
"Lalu seperti apa? Kemarin sangat jelas Oppa Faris mengatakan kalian pacaran."
"Jadi, itu hanya sebuah sandiwara saja."
"Sandiwara bagaimana?"
"Iya, Faris sedang mendapat deadline dari orang tuanya untuk segera menikah."
__ADS_1
"Jadi, kau dan dia juga akan menikah?" Suzan histeris membuat beberapa orang di sekitar mereka menengok seketika. Sunday salah tingkah dengan pandangan mereka.
"Bukan... bukan begitu, Suz." Sunday gemas karena Suzan seenaknya saja menyimpulkan tanpa mendengarkan ceritanya sampai akhir.
"Karena deadline orang tuanya itu jadi dia mengajakku untuk memainkan sandiwara ini. Kami hanya berpura-pura pacaran agar orang tua Faris tidak selalu mengejarnya agar cepat-cepat menikah."
"Aku jadi heran, kenapa harus denganmu? Kenapa tidak dengan pacar-pacarnya yang lain. Yang jauh lebih cantik darimu." Suzan menyelidik. Dia tau kalau Faris termasuk pria yang memiliki kedekatan dengan banyak gadis. Tentu saja itu awalnya ia tahu dari Sunday.
"Jadi, maksudmu aku tidak cantik?" Sunday tampak menampakkan kilatan dimatanya. Melihat itu, Suzan buru-buru meralat kalimatnya.
"Bukan... bukan itu maksudku." Bujuk Suzan sambil tertawa lebar dan memeluk pundak Sunday. "Kau cantik, cantik sekali, cantik dari hatimu. Oh iya, kau cantik mempesona. Pesonamu memang dahsyat." Suzan masih merayu Sunday agar tidak jadi marah.
"Aku tahu kenapa Oppa menjadikanmu sebagai pacar pura-puranya, itu pasti karena pesonamu yang sangat dahsyat." Suzan masih tersenyum lebar menutupi kegugupannya atas pandangan tajam Sunday.
"Salah... bukan itu. Walaupun pesonaku sangat dahsyat, bukan itu alasannya."
"Lalu apa?"
"Itu karena aku masih kuliah..."
"Maksudnya?"
"Makanya dengarkan dulu ceritaku. Jangan main srobot saja kalimatku." Selanjutnya Suzan memberi isyarat menutup mulutnya seolah menutup resleting.
"Karena aku masih kuliah, jadi orang tuanya tidak akan mengejarnya harus segera menikah. Pacarnya saja masih kuliah. Belum lagi saat lulus pasti aku harus mencari kerja dulu. Jadi, dengan itu akan masih banyak waktu untuk Faris mencari orang yang tepat yang ia jadikan sebagai calon istrinya nanti."
"Oh... begitu..." Suzan mengerti. "Kalian ini benar-benar mengagetkanku. Mana bisa Oppa Faris yang pelaut itu tiba-tiba menjadi pacarmu. Kalaupun itu benar pasti ada sesuatu yang janggal. Entah dia bermain pelet atau kau yang sudah terkena guna-guna darinya."
"Tidak mungkin, aku kan orang yang konsisten. Kau tahu itu kan." Sunday berjalan meninggalkan Suzan yang akhirnya membuntutinya.
🌸🌸🌸
Sunday dan Victor berjalan beriringan setelah keluar dari laboratorium sore ini.
"Kau tahu Sun, temanmu itu seram sekali." Ujar Victor yang berjalan di sebelah Sunday.
"Seram bagaimana?"
"Dia mengatakan kepadaku bahwa akan mengadukanku kepada rektor karena memberimu tugas terlalu banyak jika tadi aku tidak memberinya ijin untuk berbicara denganmu."
"Benarkah?"
"Hmm."
"Anak itu benar-benar pemberani." Gumam Sunday.
"Kau bilang apa?" Victor yang tidak mendengar jelas apa yang Sunday ucapkan jadi ingin tahu.
"Ahh, tidak. Bukan apa-apa."
"Dia itu benar-benar Suzana. Dia bilang aku sangat kejam karena telah memperlakukanmu seperti budakku." Lanjut Victor.
"Tapi memangnya apa kau pernah menceritakan tentangku padanya? Maksudku, tentang penilaian subjectifmu terhadapku."
"Oh tidak... tidak... aku tidak pernah melakukan itu." Sunday berbohong. Padahal dia sering bercerita tentang bagaimana Victor yang seperti sengaja memenjara dirinya di dalam laboratorium.
"Itu mungkin karena aku selalu magang dan mengerjakan tugas di lab makanya dia berfikir begitu." Sunday tertawa lebar tapi terlihat dibuat-buat.
__ADS_1
"Dia itu memang jelmaan Suzana. Melihatnya saja aku langsung merinding. Auranya begitu mistis." Victor sambil menahan tawa mendeskripsikan tentang Suzan. Sunday jadi ingin tertawa juga. Ia berfikir apa jadinya kalau sampai Suzan tahu bahwa Victor menjulukinya sebagai Suzana, aktris dari film-film horor era tahun 80an itu. Atau sebaliknya, apa yang akan terjadi jika Victor tahu Suzan sering menjulukinya Victor terminator, traktor, dan sebutan-sebutan aneh lainnya.
Akhirnya Sunday hanya bisa tersenyum sendiri membayangkan tentang dua temannya yang punya julukan masing-masing itu. Tapi kemudian dia pun memilih jalan lain menuju tempat parkir roda 2 setelah berpamitan kepada Victor.
Memasuki area parkir motor, Sunday melihat ada seseorang yang duduk di jok motornya. Faris. Kenapa orang itu ada disana?
"Hei, apa yang kau lakukan di sini?" Ujar Sunday saat sudah dekat ke arah Faris yang tersenyum padanya.
"Aku boleh kan menebeng motormu?"
"Mobilmu mana?"
"Kehabisan bensin."
"Ya Tuhan... kau ini ceroboh sekali. Bagaimana bisa sampai kehabisan bensin. Dasar kau ini." Faris hanya cengengesan mendengar omelan Sunday.
"Terus dimana sekarang?"
"Apanya yang dimana?"
"Kepalamu." Faris meraba kepalanya sambil memandang Sunday bingung.
"Tentu saja mobilmu. Untuk apa aku menanyakan kepalamu yang tentu ada di tempatnya." Faris jadi tertawa sendiri melihat kebodohannya.
"Kenapa kau ini suka sekali marah-marah. Nanti cepat tua baru tahu rasa."
"Bagaimana tidak marah melihatmu yang begitu bodohnya."
"Hei, aku tidak bodoh. Aku hanya sedang lapar. Aku sejak tadi menunggumu di sini."
"Oh ya? Siapa suruh kau jadi tukang parkir disini? Kenapa tidak ke kantin? Disana kau bisa makan apapun yang kau mau."
"Mana ada tukang parkir setampan ini." Faris tersenyum menggoda. Sunday memutar bola matanya, malas.
"Lagipula dompetku ketinggalan di rumah. Aku sampai ke sini karena menemukan uang receh disaku celanaku yang cukup untuk ongkos angkot. Berharap aku bisa meminjam motormu dan juga uangmu untuk membeli bensin."
"Ya Tuhan... kenapa tidak menghubungiku saja?"
"Sudah, tapi kau tidak menjawabnya."
"Oh ya?" Sunday merogoh ponselnya di dalam tas. Ia baru ingat telah merubahnya ke dalam mode: silence sejak demo program tadi.
"Aku menghubungimu sampai jariku hampir kriting."
"Itu bagus untukmu."
"Kau kejam sekali." Gerutu Faris.
"Sudah mengabaikan telponku lalu mencaci makiku juga. Kau sangat jahat." Faris menampilkan wajah gondok.
"Sudah-sudah, ayo ku antarkan kau membeli bensin."
"Tidak, belikan aku makanan dulu."
"Kau ini benar-benar banyak maunya." Faris hanya cengengesan. Sunday memakai helmnya. Faris tidak memakai helm karena memang tidak membawanya. Nanti kalau sampai kena tilang, biar dia saja yang jadi jaminannya. Pikir Sunday.
Mereka pun beranjak dari tempat parkir dengan Faris yang membonceng Sunday.
__ADS_1