
Faris menikmati alunan lagu dari balik panggung sambil menekuni ponselnya sambil sesekali melihat ke arah Font melihat jika Sunday datang. Tapi ini hampir setengah jam dan Sunday belum juga menyusulnya. Faris penasaran apa yang sedang dilakukannya. Kemudian Faris berinisiatif untuk menghubungi ponsel Sunday.
Di seberang sana mulai terdengar nada sambung. Tapi Sunday tidak juga mengangkatnya. Faris mulai gelisah. Ia berjalan meninggalkan tempatnya dan bermaksud menghampiri Sunday. Tiba di depan toilet wanita Faris menghubungi ponsel Sunday kembali. Sayup-sayup terdengar sebuah nada dering.
"Sunday..." Panggil Faris dari luar toilet. Tapi Sunday tidak menyahut. Ia berfikir Sunday terlewat berkonsentrasi dengan aktivitas toiletnya hingga tidak sempat mengangkat telepon.
"Sun..." ulang Faris memanggil lagi sambil melongok ke dalam pintu toilet dan suara dering ponsel semakin jelas. Ragu-ragu Faris memasuki toilet wanita dan menemukan ponsel berdering di balik pintu. Faris mengambilnya dan tahu itu adalah ponsel Sunday.
Faris keluar dari pintu toilet. Melihat ke sekitar. Bagaimana bisa Sunday meninggalkan ponselnya di toilet. Lalu kemana dia pergi? Faris tampak bingung dan merasa ada yang tidak beres. Ia memasuki lift dan menuju ruang kerja Sunday di lantai 4. Sampai di sana ruangan itu kosong. Sunday tidak ada. Ia masih panik. Mencari di beberapa tempat yang mungkin didatangi Sunday tapi semua tempat tidak menunjukkan adanya Sunday. Sebuah pesan masuk di ponsel Faris. Dari nomor tak di kenal.
"Jangan khawatir. Sunday ada di tempat penuh kehangatan sekarang." Isi pesan yang dibuka Faris diponselnya. Ia bertanya-tanya apa maksud isi pesan itu.
"Kebakaran... ada kebakaran..." Saat sampai di lantai dasar Faris mendengar seseorang berteriak.
"Gudang terbakar..." Tampak kepanikan oleh beberapa orang dan segera menuju ke arah gudang di belakang gedung Font.
"Sunday..." Gumam Faris lalu segera melesat ke arah gudang yang oleh seseorang dikatakan terbakar.
Beberapa saat sebelumnya...
Sunday mengerjapkan matanya. Kepalanya terasa sangat berat. Ia merasakan udara di sekelilingnya lembab dan berdebu. Samar-samar ia menangkap bayangan seseorang dari pandangannya yang masih sedikit kabur karena efek baru sadar dari pingsan.
"Apa yang terjadi?" Gumam Sunday dengan tingkat kebingungan yang tinggi tapi gerak tubuh yang masih lemah meraba kepalanya.
"Kau sudah bangun." Suara serak seorang pria. Sunday menajamkan penglihatannya yang sedikit kabur di tengah cahaya temaram di ruangan penuh sesak barang-barang itu.
"Kau, siapa?" Sunday memicingkan mata mencoba memperjelas penglihatan dalam posisi miring tidurnya di lantai itu. Badannya terasa lemah saat ini. Ia berusaha bangun tapi kepalanya terlalu berat bahkan hanya untuk sekadar duduk.
"Kau tidak mengenaliku?" Pria itu masih pada tempat duduknya di kursi lusuh tidak jauh dari tempat Sunday tergeletak.
"Kau..." Sunday mencoba mengingat-ingat siapa pria yang ada di hadapannya itu. Perlahan penglihatannya mulai kembali normal.
Sebuah ingatan muncul di dalam kepala berdenyut Sunday.
"Aku Roni."
"Sunday." Jawab Sunday di dalam lift.
"Sebagai apa?" Tanya Roni.
__ADS_1
"System analyst."
"Kita mungkin akan menjadi satu tim nanti."
Lalu berkelebat lagi dimana Sunday bertemu Roni di kantin dan menyapanya. Dan lagi saat bertemu Roni di tempat parkir waktu itu dan membuat Sunday bertanya-tanya apa yang membuat Roni melakukan hal itu kepadanya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sunday penuh keheranan. Ia merasa tidak dekat dengan Roni. Mereka hanya sekadar kenal dan hanya saling sapa saat berjumpa. Tapi kenapa dia menyakitinya seperti ini. Membawanya ke tempat aneh yang tidak Sunday kenal sama sekali keberadaannya.
"Kau mau tahu kenapa aku melakukan ini?" Roni bangun dari duduknya dan menghampiri Sunday yang sekarang sudah duduk bersandar tumpukan barang-barang setelah bersusah payah memaksakan diri untuk bangun.
"Kau mau tahu?" Ulang Roni sambil memperlihatkan seringainya di depan Sunday. Dalam jarak sedekat itu Sunday bisa melihat wajah Roni yang biasa terlihat ramah sekarang jadi berubah sangat menyeramkan. Sunday menciut.
"Apa yang membuatmu melakukan ini padaku?" Suara Sunday parau menahan tangis karena sangat takut.
"Tanyakan pada kekasihmu." Jawab Roni cepat. Mendengar itu Sunday menegang.
"Kekasih?" Ujar Sunday lirih. Ia heran dari mana Roni tahu ia memiliki seorang kekasih.
"Ya..." Roni menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah video. Sunday terbelalak karena itu adalah video saat ia dan Faris berada di tepi kolam renang Font waktu itu. Dimana mereka terlihat mesra disana.
"Kau... darimana kau dapat ini?" Sunday hendak meraih ponsel Roni tapi secepat kilat Roni menariknya dan memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
"Bagaimana kalian melakukannya. Berpacaran secara sembunyi-sembunyi seperti itu kau pikir tidak akan ada yang tahu?" Roni menjauhi Sunday dan kembali duduk di tempatnya.
"Lalu kenapa?" Sunday memandang Roni masih bingung.
"Bagaimana rasanya menjadi pacar Faris?" Roni kembali menunjukkan seringainya.
"Apa sebenarnya yang kau inginkan?" Sunday sedikit frustasi dan mulai berbicara dengan nada tinggi.
"Apakah semenyenangkan itu menjadi pacarnya? Apakah kau sangat bahagia? Atau kau sangat mencintainya?" Tatapan mata Roni seperti menguliti Sunday.
"Aku tidak mengerti apa maumu. Jadi tolong biarkan aku pergi." Suara Sunday melunak kembali.
"Sebaiknya kau putus saja dari Faris." Kalimat tegas Roni dan sekali lagi ia tidak menghiraukan kalimat Sunday.
"Apa?" Sunday menatap Roni tak mengerti.
"Ya, kau tahu harga yang akan kau bayar ketika mencintainya?"
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Kau akan ditinggalkan olehnya nanti. Kau akan dicampakkan saat dia tidak membutuhkanmu lagi. Dia akan membuangmu saat sudah mendapatkan apa yang dia inginkan darimu. Dan percayalah, kau akan berterima kasih saat ini karena aku menyelamatkanmu."
"Menyelamatkanku?"
"Ya, aku akan menyelamatkanmu dari ditinggalkan olehnya. Karena setelah ini kaulah yang akan meninggalkannya. Aku bisa pastikan itu." Roni tertawa setelah mengatakan itu.
"Apa maksudmu, cepat katakan." Bentak Sunday. Sayup-sayup di kejauhan masih terdengar sebuah band menyanyikan lagu mereka. Sunday tahu ia masih ada disekitar Font.
"Kau tahu, Faris adalah penjahat paling kejam."
"Penjahat?" Sunday mencoba mencerna kalimat Roni.
"Ya, dia sangat senang mempermainkan hati para gadis. Dia akan memperlakukan dengan sangat manis awalnya, lalu meninggalkannya begitu saja saat sudah bosan dan berganti dengan gadis lain yang baru. Berganti gadis baginya seperti mengganti pakaiannya. Saat sudah gerah dengan satu pakaian, dia akan menggantinya dengan yang lain." Mendengar itu sedikit demi sedikit Sunday mulai memahami arah pembicaraan Roni.
"Ahh, Desy yang malang. Kenapa Faris begitu tega meninggalkan dia yang sangat mencintainya." Wajah Roni berubah sendu.
"Siapa Desy?"
"Siapa Desy? Kau tidak tahu Desy?"
"Ti-tidak." Sunday masih mendongak memandangi Roni.
"Tanyakan kepada Faris siapa Desy." Roni menyeka air matanya. Sunday melihat itu dan Roni memalingkan wajahnya membelakangi Sunday.
"Baiklah. Sebaiknya kau pergi sekarang. Lebih cepat kau pergi, itu akan lebih baik bagimu karena hatimu akan terselamatkan dan kau tidak perlu merasakan sakitnya dicampakkan." Sunday berusaha bangun dari duduknya tapi kemudian dia terhuyung dan jatuh. Kepalanya masih terlalu berat. Ia meraba pada bagian yang sakit dan mendapati sesuatu yang basah di sana. Kemudian ia melihat ada darah di tangannya. Sunday sedikit panik tapi ia tidak tahu harus bagaimana. Roni tahu itu dan tersenyum penuh kemenangan.
"Setelah ini, Faris akan merasakan bagaimana rasanya kehilangan. Kehilangan orang yang dia cintai." Gumam Roni di dekat Sunday. Sunday tidak mengerti maksudnya. Dan belum sempat Sunday menanyakan pada Roni, ia keluar dan mengunci pintu ruangan itu.
"Hei, jangan pergi. Jangan pergi." Sunday berusaha bangun dengan tertatih. Ia jatuh bangun menuju pintu. Hingga saat sampai depan pintu, ia berusaha membukanya hingga menggedor-gedor berharap ada seseorang yang mendengar suaranya. Tapi ia hanya mendengar suaranya sendiri. Lalu tiba-tiba dia mencium bau asap dari sebuah pembakaran dan mulai terbatuk-batuk.
Semakin lama asap semakin menebal masukdi ruangan itu. Sunday tidak bisa menahannya lagi. Nafasnya perlahan semakin berat seiring batuk-batuk yang mulai memaksannya untuk menahan nafas. Sunday semakin tersengal. Ruangan semakin panas. Dan dipojok ruangan itu mulai terlihat rona api yang menjalar hampir menyentuh asap. Sunday panik dan sekuat tenaga berteriak meminta pertolongan. Badannya melemah. Nafasnya semakin sesak. Ia tumbang dan tidak bisa menahannya lagi. Matanya perih karena asap yang mengepul diruangan itu.
Dalam tingkat kesadarannya yang menurun tiba-tiba ia melihat seberkas cahaya dan seolah ada sebuah pintu terbuka. Lalu berdirilah seseorang di sana dan mendekatinya.
Jika ini adalah akhirku, aku harap semua orang merelakan kepergianku. Suara batin Sunday. Lalu badannya semakin lemah seiring nafasnya yang semakin berat hingga ia merasakan kerongkongannya tercekat dan tidak mampu lagi mengucapkan kata-kata, walaupun itu hanya sebuah kalimat tolong.
Sesosok itu semakin dekat dan ia telah pasrah jika malaikat maut membawanya pergi meninggalkan dunianya saat ini.
__ADS_1