
"Kalau begitu berhentilah mengajar."
"Apa yang Mama katakan. Aku bahkan baru mulai menyukai tempat ini."
"Kau bilang jiwamu bukan untuk mengajar."
"Iya tapi mengajar juga tidak terlalu buruk."
"Berhentilah dan bekerjalah di tempat Om Rudi."
"Tidak mau. Itu nepotisme namanya, Ma."
"Mengajar di sini pun kau melalui proses nepotisme. Kau ingat?"
"Iya, tapi sekolah ini sangat membutuhkan guru sepertiku." Sunday membela diri.
"Kau ini selalu beralasan. Sudah akui saja kau cukup menikmati kenepotismean ini." Mamanya tertawa kecil.
"Baiklah baiklah, Mama... Aku menikmati semua ini. Tapi bekerja di tempat Om Rudi? Apa yang akan dikatakan semua orang kalau anak tiri seorang Project Manager bisa dengan mudah masuk ke sebuah Software House. Yang muncul difikiran mereka adalah sebuah tindakan nepotisme yang mencolok. Ahh, tidak. Aku tidak mau, Ma."
"Siapa bilang akan memasukkanmu ke sana dengan sangat mudah? Kalau kau ingin itu menjadi sulit, maka lakukanlah sendiri. Ikutilah tes awalnya."
"Tes awal?"
"Ya, lusa akan ada tes awal perekrutan pegawai. Kalau kau tidak mau menikmati kenepotismean, ikutilah tes itu."
"Benarkah, Ma?" Mata Sunday berbinar. Mamanya mengangguk.
"Terima kasih informasinya." Sunday mencium pipi mamanya.
"Hei, seenaknya saja mencium pipi istri orang."
"Ya Tuhan, mentang-mentang sekarang sudah menjadi istri seseorang." Sunday manyun melihat sikap mamanya. Tapi tentu saja itu adalah candaan mamanya semata. Bahwa sampai kapanpun mamanya tidak akan pernah menduakan Sunday. Meskipun sekarang dia memiliki tanggung jawab lain tapi tugasnya sebagai ibu tidak akan pernah ia tinggalkan. Mamanya hanya menahan tawa melihat putri satu-satunya manyun seperti itu.
🌸🌸🌸
"Nona laboran, sedang apa kau sekarang? Sudah makan siang?" Sapa Victor di ponsel Sunday melalui percakapan teleponnya.
"Ini sedang makan siang di kantin sekolah."
"Bukankah jam mengajarmu sudah habis. Kenapa masih betah ada disekolah?"
"Aku menunggu Mama. Hari ini mama akan pulang ke rumah."
"Oh iya, weekend." Victor tahu jadwal weekend Sunday adalah menghabiskan waktu bersama mamanya dan Om Rudi yang akan menginap di rumahnya. Semakin ke sini Victor semakin mengenal Sunday dan semakin dekat dengan keluarganya. Sunday menjadi sangat akrab dengan Victor. Meski akhirnya Sunday harus meminta maaf berkali-kali karena tidak bisa menerima cintanya.
Victor memang pria yang baik, dia juga cukup tampan tapi memang itu tidak bisa membuat Sunday menyukainya. Bahkan sampai sekarang Victor hanyalah menjadi teman baiknya, tidak lebih.
"Aku merindukan kampus. Apa kabar disana?"
"Kau merindukan kampus atau merindukan seseorang?" Goda Victor.
"Maunyaaaaa..." Cibir Sunday. Tepat saat itu ada satu panggilan menunggu. Sunday melihat namanya. Suzan.
"Kak, ada telepon lain masuk. Sudah dulu ya." Setelah Victor menutup teleponnya, lalu Sunday menerima telepon Suzan.
"Aku benar-benar populer hari ini." Kalimat pembuka Sunday.
"Hei, apa maksudmu menyombong seperti itu?"
__ADS_1
"Telepon yang masuk padaku hingga mengantri."
"Memangnya siapa yang baru saja meneleponmu?"
"Ada saja." Sunday sengaja tidak mengatakan kepada Suzan.
"Halah, siapa lagi kalau bukan Victor." Sunday lalu tertawa.
"Siapa lagi yang meneleponmu selain aku dan Windy kalau bukan pacarmu itu."
"Hei, dia bukan pacarku." Sunday buru-buru meralat.
"Oh iya, bukan pacar. Teman tapi mesra."
"Ya Tuhan, mulutmu benar-benar minta dicium buaya. Sembarangan saja kau bicara." Terdengar suara cekikikan di sana.
"Eh, kenapa tiba-tiba meneleponku?"
"Oh iya, aku mau bertanya apa tante Ana akan di rumahmu hari ini?"
"Iya, rutinitas akhir pekan, Mama akan pulang ke rumah."
"Baiklah, nanti sore aku akan ke rumahmu bersama Windy. Kami harus mengucapkan selamat secara resmi kepadanya."
"Benarkah? Atau itu hanya alasanmu saja karena merindukanku dan ingin bertemu denganku?" Goda Sunday
"Hei miss narsis, kau tidak sepenting itu untuk ku rindukan."
"Wah, baiklah kalau begitu. Awas kalau kau datang ke rumahku. Aku tidak akan menerima kedatanganmu."
"Baik. Aku akan menemui tante Ana saja. Aku akan meminta tante Ana membukakan pintu."
"Memangnya rumahmu memiliki berapa pintu sampai semua kunci ada padamu."
"Siapa bilang kunci rumah. Aku mau bilang kalau itu adalah kunci jawaban ulangan muridku di sekolah." Setelah mengatakan itu Sunday lalu tertawa receh. Suzan sebenarnya ingin tertawa juga tapi ia tahan.
Ya begitulah mereka selalu punya cara saling mencibir bahkan menggoda satu sama lain. Diantara mereka bertiga memang hanya Sunday yang bekerja seolah hanya paruh waktu dan hanya menjadi seorang guru honorer. Suzan sejak lulus langsung mengikuti tes di sebuah bank swasta. Wajahnya yang cantik dan perawakannya yang proporsional membuatnya sangat mudah untuk lolos di tes tahap pertama yaitu interview. Sunday yakin saat melihat penampilan Suzan para juri pasti langsung tertarik.
Sedangkan Windy yang anak tunggal pemilik restoran franchise yang cabangnya ada di banyak tempat tidak perlu melamar pekerjaan karena begitu lulus ia langsung diangkat menjadi owner oleh orang tuanya. Dan walau mereka cukup sibuk tapi pasti menyempatkan diri untuk bertemu, seperti sore ini.
"Tante... "Sapa Suzan begitu bertemu dengan mama Sunday.
"Ya Tuhan aroma pengantin baru bisa sewangi ini ya." Goda Suzan. Mama Sunday tergelak.
"Kau ini paling bisa, Suz."
"Kami minta maaf karena tidak bisa hadir waktu itu." Windy turut bicara.
"Tidak apa-apa. Tante tahu itu." Masih dengan senyum khas mama Sunday.
"Hei, apa kalian mau berdiri dipintu saja?" Sunday yang dari tadi seperti tidak dianggap keberadaanya pun mulai menunjukkan kalau dia ada disana juga.
"Oh iya, ayo masuklah. Tante hari ini memasak kepiting asam manis. Kalian harus makan di sini."
"Wah, pasti enak itu tante."
"Entahlah, tante kan tidak pandai memasak."
"Tidak, aku sudah mencicipinya dan rasanya enak." Puji Sunday.
__ADS_1
"Sebenarnya itu karena Sunday adalah asisten kokinya, dia pandai menilai makanan dan membumbui apa yang kurang. Jadi sentuhan terakhir adalah Sunday yang melakukannya."
"Wah, kau bisa masak juga?" Tanya Windy antusias. Karena dia yang pemilik restoran franchise saja tidak bisa memasak. Dan semua ia serahkan kepada koki.
"Apa yang aku tidak bisa? Semua aku bisa."
"Mulai sombongnya." Suzan menimpali. Sunday cekikikan.
"Ya sudah, bantu mama menyiapkannya, Sun."
"Oke Ma." Sunday mengikuti mamanya mempersiapkan meja makan untuk menjamu dua temannya.
Makan malam mereka selesai. Suzan dan Windy sudah sangat kenyang sekarang. Mereka kembali duduk di ruang tengah bersama mama Sunday. Sedangkan Sunday masih mencuci piring bekas makan mereka. Setelah mencuci piring Sunday bergabung dengan kedua temannya sambil membawa potongan buah semangka dan melon.
"Tante benar-benar cantik. Make up artis mana yang membuat tante bertambah cantik begini?" Tanya Suzan sambil membuka album foto pernikahan mama Sunday.
"Oh, dia tetanga di sini. Punya salon di seberang jalan di depan gang itu."
"Oh salon itu. Sepertinya saat menikah nanti aku harus menggunakan jasanya saja." Kata Windy.
"Hei, kau lihat tante Ana bahkan sudah cantik walau tanpa riasan apapun jadi siapapun yang mendandaninya pasti tetap cantik juga." Suzan mebgomentari.
"Jadi maksudmu aku tidak cantik jadi siapapun make up artisnya aku akan tetap jelek?"
"Aku tidak mengatakan itu." Suzan lalu membuka halaman lainnya.
"Wah, kalian benar-benar seolah keluarga sempurna." Suzan mengalihkan pembicaraan sebelum Windy semakin cerewet memgomelinya. Dan berhasil, Windy ikut melihat foto dihalaman berikutnya.
"Tante, Sunday sangat serasi dengan Victor. Apa tante setuju kalau Victor menjadi menantu tante." Kata Windy.
"Tentu saja. Kalau Sunday menyukainya, aku pasti menyetujui." Mama Sunday tersenyum kepada Sunday yang pura-pura cuek sejak tadi dan lebih memilih menikmati buah yang ia bawa tadi.
"Wahhh... lampu hijau, Sun. Tunggu apa lagi?" Suzan menowel bahunya.
"Lanjutkan..." Mulut Sunday masih penuh dengan buah didalamnya. Sunday memang secuek itu. Teman-temannya sudah hafal padanya. Kalau dia seperti itu berarti memang Sunday tidak begitu peduli.
"Wah, ada tamu ternyata." Seseorang dengan suara berat membuat semua orang di ruang tengah menoleh ke arah pintu.
"Eh, Om..." Sapa Suzan & Windy hampir besamaan.
"Sudah lama?"
"Iya tadi sore, Om."
"Aku tertinggal berarti." Om Rudi dengan sikapnya yang ramah membuat siapa saja tidak merasa canggung bersamanya. Ia yang baru pulang menemui temannya jadi ikut bergabung dan membicarakan banyak hal.
🌸🌸🌸
Sunday mengemasi gelas dan piring bekas suguhan untuk Suzan dan Windy yang baru saja pamit untuk pulang. Mamanya sedang di dapur memanasi masakan untuk makan malam Om Rudi. Setelah mencuci gelas & piring, Sunday pamit mamanya untuk masuk ke kamar.
Didalam kamar ia meletakkan tubuhnya di kursi meja belajarnya. Melihat kalender dan melingkarinya. Memberi catatan kecil bahwa hari itu Sunday akan melakukan tes awal di software house Om Rudi. Setelah itu Sunday mengembalikan kalender meja ke tempat semula. Tapi saat mengangkatnya tiba-tiba jatuh selembar kertas. Sunday yang melihat itu lalu memungutnya. Fotonya bersama Faris saat berada di pesta pernikahan saudaranya.
Sunday ingat foto itu terselip disana karena waktu itu juga terjatuh dari jurnal pribadinya. Lupa untuk mengembalikannya lagi Sunday menyelipkannya di tengah kalender itu. Ia pandangi fotonya dan Faris yang tampak manis. Ekspresi alami mereka berdua dengan senyum yang hanya mereka yang memahami maknanya.
Faris benar-benar menghilang begitu saja dari kehidupannya. Entah bagaimana kabarnya sekarang Sunday juga tidak tahu. Mungkin saja ia masih berlayar dan memiliki banyak gadis di sampingnya seperti dulu. Sejak memutuskan pertemanan dengannya, Sunday juga meng-unfriend serta meng-unfollow semua media sosialnya. Ia benar-benar tidak ingin Faris ada di sekitarnya lagi. Tapi setiap mengingat itu kenapa perasaannya selalu sakit? Apa dipermainkan bisa membuatnya seterluka ini?
Sunday masih memandangi foto itu. Tiba-tiba dadanya menghangat memandang senyum manis Faris. Terselip rindu yang tanpa sadar mengetuk pintu hatinya. Menginginkan masuk dan membangunkan semua ingatannya tentang Faris. Sunday menghela nafas berat. Tapi lalu ia sadar bahwa sudah lama ia tidak merasa seperti ini. Dan hanya dengan Faris, Sunday seperti merasa benci sekaligus rindu dalam satu waktu juga.
"Tidak mungkin. Aku membencinya dan aku tidak mungkin merindukannya. Dia sudah lama pergi dan aku sudah melupakan semua tentangnya. Aku hanya sedang sedikit mengingatnya karena foto ini." Sunday lalu membuka laci dan memasukkan foto itu ke dalamnya. Tapi hatinya seperti masig berdenyut dalam irama yang membuatnya gelisah.
__ADS_1