
Taksi yang ditumpangi Faris melaju meninggalkan gang rumahnya tapi hatinya seperti masih tertinggal di sana. Bayangan wajah Sunday saat mengatakan padanya untuk tidak boleh pergi berkelabatan di matanya. Fikirannya dipenuhi tanda tanya. Ada apa dengan gadis itu. Kenapa dia tiba-tiba menjadi aneh.
Hingga sampai bandara pun fikirannya masih tertuju kepada Sunday. Hatinya terasa ganjil. Tiba-tiba ia menyesal kenapa tidak meminta penjelasan tentang larangannya tadi. Lalu ia seperti menyadari sesuatu.
Faris membuka ponselnya dan mencari nomor Sunday lalu meneleponnya.
"Katakan kau ingin aku tidak pergi. Katakan padaku kau ingin aku tetap disana bersamamu. Katakan kau melarangku untuk tidak pergi bersama Gina. Katakan saja kau tidak ingin aku pergi bersamanya. Katakan Sun." Setelah itu Faris menutup teleponnya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri terlihat Gina sudah menunggunya.
"Akhirnya kau datang juga." Gina berdiri menyambut Faris yang datang menghampirinya.
"Ayo kita masuk." Gina menggandeng lengan Faris dan mulai melangkahkan kaki.
"Gina, aku minta maaf." Faris memandang Gina lurus. Gina yang melihat tatapan aneh dan ucapan maaf tiba-tiba dari Faris segera menghentikan langkahnya dan berganti menatap Faris kembali. Perasaannya mendadak tidak enak.
"Kenapa?" Tanya Gina pelan.
"Aku tidak bisa pergi. Aku harap bisa pergi denganmu tapi aku rasa aku tidak bisa. Aku harus melakukan sesuatu."
"Sesuatu apa?" Hati Gina kecut.
"Sesuatu yang sangat penting. Maafkan aku." Faris menggenggam tangan Gina dan meminta maaf berkali-kali lalu berlari meninggalkan Gina dengan menarik kopornya. Gina terpaku di tempatnya. Tangisnya pecah. Sepertinya ia tahu kenapa Faris membatalkan kepergiannya.
Sementara itu Faris memasuki taksi dan meminta sopir mengantarnya ke suatu tempat. Ia tidak sabar untuk sampai kembali ke rumah kos Sunday. Ia tahu apa yang difikirkan Sunday. Ia menyadari bahwa Sunday menyimpan perasaannya selama ini.
Akhirnya sampai juga Faris di depan kos Sunday dan memanggilnya melalui panggilan telepon. Tak lama kemudian Sunday keluar dan untuk pertama kalinya Faris melihat Sunday memandangnya dengan pandangan berbeda.
Faris merasa dadanya hampir meledak saat Sunday menabrak dengan pelukannya. Beberapa saat ia terpaku dan bingung menterjemahkan arti tindakan Sunday yang diluar dugaan. Tapi selanjutnya Faris tahu apa yang sedang terjadi. Senyumnya mengembang dan membalas pelukan Sunday.
"Kenapa butuh waktu selama ini untuk kau mengakuinya." Ucap Faris setelah Sunday melepaskan pelukannya. Wajahnya masih tertunduk. Ia terlalu malu untuk menampakkan wajahnya yang sepertinya kali ini sewarna udang rebus.
"Hei, aku bicara padamu. Kenapa kau diam saja? Kau mau mematung lagi?" Faris sudah meletakkan tangannya di pinggang Sunday dan bersiap menggelitiknya.
"Tidak... tidak... jangan gelitiki aku. Itu sangat geli." Sunday menepis kedua tangan Faris.
"Jadi, apa sekarang kau mengakuinya?"
"Kenapa menanyakan itu? Itu membuatku malu tahu." Sunday tersipu-sipu dengan menundukkan wajah sehingga membuat Faris gemas sekali padanya.
"Baiklah, aku anggap itu adalah jawaban 'iya'." Faris tersenyum melihat tingkah Sunday.
"Aku merasa bodoh sekali karena tidak mengerti maksudmu."
"Memang seperti itulah dirimu." Celetuk Sunday.
"Hei, beberapa menit yang lalu kita baru saja melakukan adegan romantis, kenapa kau merusaknya dengan menganggapku bodoh?"
"Siapa yang menganggapmu bodoh? Kau sendiri yang mengatakannya. Aku hanya menimpali ucapanmu."
"Tapi tidak dengan mengiyakan ucapanku begitu."
"Lalu harus bagaimana? Aku hanya berkata jujur."
"Tidak bisakah kau berbohong untuk menyenangkanku?"
"Aku sudah terlanjur terbiasa berkata jujur jadi itu adalah spontanitasku."
"Spontanitas? Yang benar saja. Bilang saja kau memang sejahat itu padaku."
"Ehh, kau malah menuduhku jahat. Apa-apaan ini. Aku mau masuk." Sunday bersiap berbalik untuk memasuki halaman rumah kosnya.
"Mau kemana?" Faris menarik tangan Sunday sehingga badannya berbalik lagi. "Kau sudah menggagalkan liburanku, mana bisa meninggalkanku seperti ini."
"Lalu apa maumu?"
"Temani aku mengobrol. Seharusnya sekarang aku sudah ada di dalam pesawat dan menikmati penerbanganku." Faris duduk di depan pintu kos Sunday yang berupa tangga. Sunday mengikutinya.
"Jadi kau menyesal?" Sunday cemberut.
"Baiklah, pergilah sana. Susullah Gina." Faris menahan tawa melihat wajah Sunday yang manyun begitu.
"Yakin, aku boleh menyusulnya?"
"Iya, pergilah..." Sekarang Sunday duduk membelakangi Faris. Faris tidak tahan dan menjadi sangat gemas.
Sunday memang sangat menggemaskan baginya. Semua yang ada padanya seperti tampak manis dan mengundang untuk membuatnya gemas.
πΈπΈπΈ
Telepon berdering entah sudah yang keberapa kali. Tapi si pemilik ponsel masih tetap pada posisi tidur ternyamannya. Ia belum terusik untuk bangun dan mengangkat hingga akhirnya matanya mulai mengerjap oleh silaunya sinar matahari yang menerobos sela-sela gorden kamarnya. Akhirnya masih setengah nyawa Sunday mengangkat telepon berisik di sampingnya.
"Ya... halo..." Suara Sunday serak dan malas.
"Kau masih tidur? Ya Tuhan, sudah jam berapa ini?" Terdengar suara bass mengomel dari ponselnya.
"Kenapa meneleponku kalau hanya untuk mengomel. Kau seperti mamaku saja." Sunday menguap lebar. Rambutnya berantakan. Matanya masih enggan terbuka. Guling juga masih setia dipeluknya.
"Kau ini calon nyonya besar pemilik Font, bagaimana mungkin jam segini masih tidur."
"Hei, ini hari Sabtu. Aku mau menghabiskan seluruh waktuku untuk bermalas-malasan." Sunday masih berada di tempat tidurnya.
"Bangun. Kau harus bangun."
"Tidak mau. Aku mau tidur seharian ini. Kau tidak tahu bagaimana pekerjaanku saat weekdays. Jadi aku mau menggunakan waktu berkualitasku untuk mengistirahatkan badan dan fikiran."
"Tidak boleh. Kau harus ke rumahku sekarang."
__ADS_1
"Kenapa aku harus ke rumahmu?" Sunday mulai membuka matanya.
"Kau harus menghabiskan waktu berkualitasmu denganku."
"Tidak mau. Aku mau tidur. Sudah, matikan teleponmu."
"Tidak, kau harus bangun dan membantuku."
"Membantumu? Membantu apa?" Sunday sudah duduk dari tidurnya sekarang.
"Pokoknya cepatlah ke sini. Aku butuh bantuanmu."
"Bantuan apa?"
"Jangan banyak tanya. Kalau dalam 10 menit kau tidak datang, aku akan menculikmu di kos."
"Hah, seenaknya saja kau bicara. Baiklah, aku akan ke sana." Sunday bangun dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi, dilihatnya jam menunjukkan pukul 10 pagi. Setelah memakai body lotion, ia keluar dari kosnya menuju rumah Faris.
Pintu pagar rumah Faris terbuka. Sunday masuk begitu saja. Tapi dari arah samping rumah Faris memanggilnya.
"Ada apa? Sampai kau memanggilku datang." Sunday duduk di tepi kolam ikan di samping rumah Faris.
"Kenapa kau terlambat. Aku memberimu waktu 10 menit dan kau datang dalam waktu satu jam."
"Aku ini anak gadis, jadi membutuhkan waktu yang lama untuk mandi."
"Memang apa saja yang kau lakukan dikamar mandi hingga selama itu?" Faris mendekatkan wajahnya pada Sunday. Ia reflek memundurkan badan. Aroma harum masuk ke dalam hidungnya.
"Kau mau tahu saja. Dasar otak kotor." Sunday gugup mendapatkan tindakan tiba-tiba Faris.
"Hei siapa yang otak kotor. Aku hanya penasaran." Faris tertawa kecil.
"Ah sudahlah, jadi ada apa sebenarnya?"
"Aku ingin menghabiskan waktu denganmu. Aku rindu." Faris menatap Sunday lembut dan membuatnya tersipu.
"Apa-apaan. Baru semalam kita bertemu dan sekarang kau bilang rindu. Kau ini sungguh perayu yang buruk."
"Hei, aku tidak sedang merayumu. Aku berkata jujur."
"Jujur ayam atau jujur kacang ijo?"
"Kau ini wanita tipe apa sebenarnya. Saat aku merayumu, kau malah menertawakanku." Faris pura-punya cemberut.
"Baiklah, kau sudah melihatku. Jadi aku bisa kembali ke kosku sekarang."
"Tidak boleh, aku masih rindu. Kau tidak boleh pulang sampai rinduku terobati."
"Lagi pula aku ingin melakukan sesuatu denganmu hari ini."
"Melakukan sesuatu?" Sunday bergidik dan menggeser tubuhnya menjauhi Faris.
"Hei, apa yang kau fikirkan dengan otak kotormu itu." Faris menyipitkan mata menatap Sunday menyelidik.
"Aku hanya akan mengajakmu melakukan sesuatu tapi aku melihat imajinasimu sudah mulai liar kemana-mana."
"Memangnya kau mau mengajakku apa?"
"Kemarilah." Faris menarik tangan Sunday untuk dibawa ke suatu tempat.
"Apa ini?" Sunday menunjuk sebuah ember di dekat pintu luar dapur.
"Kau belum pernah melihat ikan ya?" Faris melirik Sunday yang bengong melihat ikan-ikan itu bergerombol di tempat yang terbatas.
"Bukan begitu, tapi kenapa ada ikan sebanyak ini? Kau memancing dimana?"
"Aku tidak memancing. Tadi pagi saat aku jogging memutari kompleks ada seorang ibu-ibu berjalan membawa ikan di ember. Dia menawarkannya padaku. Aku lihat dia sepertinya kelelahan. Ya sudah aku membeli semuanya."
"Lalu ikan sebanyak ini mau kau apakan?"
"Dia bilang ikan ini enak kalau digoreng atau dibakar."
"Iya, tapi siapa yang akan memakan semuanya?"
"Kau dan aku."
"Haduh, kau ini benar-benar." Sunday memukul kepalanya sendiri dengan telapak tangannya.
"Kau tahu caranya membersihkan ikan sebelum dimasak?"
"Tidak tahu." Jawab Faris polos.
"Sudah ku duga, pria playboy sepertimu tidak mungkin bisa melakukan hal itu. Karena satu-satunya keahlianmu adalah merayu para gadis."
"Hei, jangan ungkit masa laluku yang kelam. Aku sudah bertaubat sekarang."
"Sudah jangan banyak bicara. Bantu aku membawa ikan-ikan ini ke dapur."
"Iya baiklah." Akhirnya mereka berdua mengangkat ember itu bersama-sama. Setelah di dapur Sunday mulai membersihkan ikan di wastafel cuci piring satu persatu. Melihat Sunday sibuk, Faris tidak bisa menahan diri untuk mndekatinya.
"Kenapa ke sini lagi. Kau hanya akan menggangguku."
"Aku hanya akan menyelamatkan rambutmu agar tidak menutupi wajahmu." Faris menyelipkan rambut bagian depan Sunday kebelakang telinganya. Sunday terkesiap dan memandang Faris. Wajahnya bersemu lagi mendapat perlakuan manis pria tinggi disampingnya itu.
__ADS_1
"Aku suka rambutmu disanggul seperti ini. Kau terlihat imut."
"Oh ya? Tapi waktu itu kau bahkan ingin menggerai rambutku." Sunday masih membasuh ikan-ikan yang dibersihkan dari sisiknya.
"Aku sudah bilang, aku tidak mau berbagi penampilan imutmu dengan orang lain."
"Kau benar-benar posesif." Sunday tersenyum kecut.
Sunday sudah selesai membersihkan beberapa ikan lalu meniriskannya di sebuah wadah. Kemudian ia mencari-cari sesuatu di laci-laci kitchen set.
"Kau mencari apa?"
"Bumbu-bumbu masakan."
"Disini." Faris membuka kulkas dan mengeluarkan kotak berisi beberapa bumbu jadi.
"Kau memasak memakai ini?"
"Tidak, aku tidak pernah memasak. Itu kiriman dari Mami. Katanya biar asisten rumah tangga disini tinggal memasaknya. Agar aku tetap bisa merasakan masakan ala Mami."
"Ooohh..." Setelah itu satu per satu Sunday mencium aroma bumbu untuk memastikan komposisinya.
Sunday tampak masih sibuk. Faris menunggunya di ruang tengah sambil memainkan sebuah game di ponselnya. Sunday memang mengusirnya untuk menjauh. Bagaimana tidak, saat Faris di dapur bukan bantuan yang ia lakukan malah Faris selalu memandangi Sunday dan itu cukup mengganggu karena ia jadi salah tingkah dibuatnya.
Setelah semua selesai, Sunday meletakkan setiap hasil masakannya di meja makan. Lalu kemudian memanggil Faris untuk datang. Dengan semangat Faris mendatanginya.
"Wah... baunya sedap sekali." Faris duduk disalah satu kursi dan menghadapi semangkuk sup ikan. Faris lalu menyendokkan sepotong ikan ke dalam piringnya dan mulai menyuapkan bersama dengan nasi putih panas.
"Rasanya seperti masakan Mami." Mulut Faris penuh dengan makanan.
"Kan aku memakai bumbu yang ada di kulkas itu."
"Oh iya." Faris terkekeh.
"Tapi lain kali aku ingin makan masakanmu sendiri."
"Tidak mau, karena sekali kau makan masakanku kau akan memintaku memasak terus untukmu."
"Itu bagus."
"Kenapa bagus? Lalu kapan aku punya waktu bekerja kalau kau minta aku memasak untukmu terus."
"Kau tidak usah bekerja di Font. Kau adalah istri seorang owner, jadi aku tidak akan memperbolehkanmu bekerja lagi."
"Memangnya siapa yang mau jadi istrimu?"
"Baiklah, Gina pasti mau." Faris menyuapkan makannya lagi ke mulutnya dengan santai.
Oh, begitu?" Sunday meraih garpu dan menancapkannya di ikan dalam sup dengan penuh emosi. Faris kaget dengan bunyi benturan antara garpu dengan dasar mangkuk. Tapi lalu ia tersenyum melihat tingkah Sunday.
"Aku akan tetap memaksamu menjadi istriku walau kau tidak mau sekalipun. Karena apa artinya memiliki teman hidup jika itu bukan kau."
Cesssss... rasanya Sunday meleleh seperti es puter diatas penggorengan. Wajahnya seketika merona.
Acara makan siang selesai. Sunday mencuci piring terakhir lalu meletakkannya di rak samping wastafel. Faris sedang memainkan gitar di ruang tengah. Salah satu hobi terpendamnya adalah bermain gitar. Meskipun tidak mahir tapi Faris cukup bisa bermain menggunakan beberapa kunci dasar. Sunday menghampiri dan duduk disampingnya.
"Kau mau kunyanyikan lagu apa? Cicak-cicak di dinding, balonku ada lima? Atau naik kereta api?" Faris menawari Sunday.
"Semua itu lagu anak-anak. Memangnya aku anak TK. Kesinikan, biar aku saja yang memainkan."
"Kau bisa?" Nada bicara Faris meremehkan.
"Lihat dan dengarkan. Jangan banyak komentar." Sunday meraih gitar dipelukan Faris. Lalu ia mulai menyentuh dawai-dawai gitar itu dan mulai bernyanyi dengan iringan petikan gitarnya. Faris tersenyum mendengar lirik lagu yang dinyanyikan oleh Sunday.
Lihatlah sebuah titik
Jauh ditengah laut
Makin lama
Makin jelas
Bentuk rupanya
Itulah kapal api
Yang sedang berlayar
Asapnya yang putih
Mengepul di udara
Setelah bait terakhir yang dinyanyikan Sunday, Faris memandangnya lekat.
"Apa kau bisa bersamaku sekarang karena aku bukan pelaut lagi?" Pertanyaan Faris membuat Sunday tersenyum lebar.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
**Akhirnya, setelah proses audisi yang panjang dan lama aku berhasil menemukan visualisasi yang mirip dengan Sunday. Semoga Kakak-Kakak tidak kecewa dengan visual Sunday versi aku yaa π
Jangan lupa untuk selalu menyimak NONA HARI MINGGU di setiap episodenya. Berikan π dan jadikan β€ untuk membuat aku lebih bersemangat lagi menulis π
Selamat malam dan selamat beristirahat... π€**
__ADS_1