
"Apa yang membuatmu akhirnya bersedia mengisi posisi ini?" Tanya Dekan Fakultas Teknik di ruangannya suatu pagi.
"Entahlah, saya sudah merasa cukup mampu untuk melakukannya sekarang." Jawab Victor.
"Aku bahkan sudah tahu potensimu itu sejak kau memilih mengisi posisi laboran daripada menjadi dosen."
"Saya tidak mau menjadi seorang yang dengan mudah mendapatkan posisi karena hubungan relasi."
"Kau ini, siapa yang akan peduli dengan itu. Di zaman sekarang hal seperti itu bukan hal yang tabu. Nepotisme bukanlah sesuatu yang asing lagi."
"Tapi saya tidak mau melakukan itu hanya karena nepotisme semata. Saya akan menjadi seperti apa yang saya inginkan, Pak."
"Baiklah, kau ini memang keras kepala. Tapi syukurlah akhirnya fikiranmu terbuka untuk mengikuti tes seleksi penerimaan dosen baru kali ini. Dan aku tidak pernah salah menilaimu. Kau memang yang terbaik. Nilai hasil tesmu cukup menakjubkan."
"Terima Kasih, Pak."
Victor sudah ada di dalam pesawat sekarang. Di kirim oleh kampus, khususnya fakultas teknik untuk mendampingi tim robot mengikuti kontes se-Asia di Singapura. Itu adalah tugas pertamanya sebagai salah satu dosen teknik baru. Ia bersama 3 mahasiswa lain beranjak ke Singapura dengan membawa robot hasil buatan mereka.
Dekan fakuktas teknik merasa Victor adalah orang yang paling tepat karena ia sangat mampu dalam hal ini. Dia yang adalah lulusan S2 sekolah tinggi ilmu komputer menguasai sekali bidang itu. Dulu Dekan sangat menyayangkan saat membaca CV Victor yang mengagumkan tapi hanya melamar sebagai laboran.
Tentu saja Victor selalu beralasan karena ayahnya. Ayahnya yang adalah sahabat dekat pak Dekan. Mendapat info lowongan dari pak Dekan saja ia sudah sedikit merasa tidak fair, jadi saat itu dia menolak untuk mengisi posisi dosen dengan dalih menolak adanya nepotisme.
Tapi saat Sunday bertanya kepadanya tentang kenapa ia tidak menjadi dosen, Victor tiba-tiba termotivasi untuk menjadi dosen juga. Padahal Sunday hanya berfikir sangat disayangkan kemampuan Victor yang baik dalam bidang ilmu komputer itu hanya dipakai untuk mengoperasikan komputer laboratorium. Karena beberapa tahun bersama Victor, Sunday sangat tahu betapa mahirnya Victor jika sudah berhubungan dengan komputer.
__ADS_1
Pesawat Victor masih melayang mengikuti rutenya. Menatap ke luar kaca cendela, ia melihat gumpalan-gumpalan awan. Tadi pagi ia mengungkapkan cintanya kepada Sunday. Sudah lama ia menyukai gadis itu. Tapi ia tidak pernah bisa menunjukkannya. Itulah kelemahannya. Ia mahir dalam bidang komputer tapi cupu sekali soal cinta.
Sebenarnya Victor adalah pria yang pemalu. Jadi mendekati seorang gadis adalah hal yang mustahil baginya. Dia akan seketika gugup dan tergagap jika tidak bisa menguasai diri saat bersama gadis yang ia sukai. Oleh sebab itu butuh waktu yang sangat lama akhirnya Victor bisa mendekati Sunday yang bahkan hampir setiap hari ia temui. Ia ingat sekali pertama kali Sunday sebagai mahasiswa baru dan untuk pertama kali memasuki laboratorium.
Diantara banyak mahasiswa wanita, baginya Sunday yang paling menonjol. Entah gaya berpenampilannya yang cuek atau perawakan dan wajahnya yang imut tapi sejak pertama melihat Sunday, ia sudah mulai menyukainya.
Dan seperti sebuah kebetulan yang sangat memihaknya saat Sunday menjadi peserta magang dilaboratorium. Mulai saat itu Victor jadi semakin sering bertemu Sunday. Bisa melihatnya dalam jarak dekat. Bisa berlama-lama dan dengan leluasa memandang wajah imutnya. Dan juga bisa berbicara dengannya walau masih tentang masalah magang.
Sebenarnya Victor bukanlah seorang ginophobia, hanya saja dia memang seorang yang pemalu apalagi terhadap gadis yang ia sukai. Oleh karena itu demi bisa dekat dan berlama-lama bersama Sunday, ia sering memberi banyak tugas. Sering menyuruhnya mengerjakan banyak hal dan kadang tidak masuk akal. Tapi itu ia lakukan semata karena tidak tahu bagaimana mengawali untuk bisa dekat dengan Sunday. Baginya bersama Sunday sangatlah menyenangkan.
Bisa melihat wajah seriusnya saat men-scan atau menginstal program komputer atau saat ia mengerjakan tugasnya disela-sela magang membuatnya semakin suka. Ditambah lagi Sunday adalah gadis yang rajin dan penuh semangat. Itu membuatnya betah menjadi pengagum rahasianya.
Tapi, akhir-akhir ini ia sering melihat seorang pria yang datang ke kampus menemani dan menunggu Sunday dan membuatnya merasa harus melangkah lebih jauh untuk mendekati Sunday. Bergerak lebih cepat agar tidak kalah langkah dari pria yang belakangan ia tahu bernama Faris itu.
Dan ketika ia mulai merasa dekat dengan Sunday, ia merasa perlu untuk membuat pengakuan cinta. Paling tidak agar Sunday tahu bahwa Victor menyukainya. Ia tahu mungkin Sunday belum menyukainya tapi dengan Victor menunjukkan lebih dulu ia berharap Sunday bisa mempertimbangkannya untuk belajar menyukainya juga.
Ya, itulah yang Victor harapkan dengan menulis potongan-potongan lirik lagu. Awalnya ia ingin mengungkapkan cinta dengan membuatnya ke dalam kode atau program tapi kemungkinan Sunday malah akan mengabaikannya. Melihat kesibukan Sunday yang padat diantara kuliah dan magang, pasti ia akan malas memecahkan kode digital yang ia buat. Jadilah lirik lagu menjadi caranya mengungkapkan cinta.
Dan harapannya saat ia kembali nanti Sunday akan memberinya jawaban 'iya'. Victor tersenyum diakhir lamunannya karena kemudian ia memilih memejamkan matanya sejenak sebelum pesawat mendarat.
🌸🌸🌸
Bagaimana bisa Victor pergi tepat setelah melakukan pengakuan cinta. Lalu dengan santainya mengatakan aku boleh memikirkannya dulu. Tidak boleh terburu-buru menjawab. Padahal aku ingin secepatnya mengatakan padanya kalau aku tidak bisa menerima cintanya. Sunday duduk di meja biasa magang menghembuskan nafasnya kasar pertanda ia sedang kesal.
__ADS_1
"Faris sedang apa ya?" Disaat seperti ini fikirannya masih sempat mengingat Faris.
"Dia benar-benar tanpa kabar. Atau mungkin dia bertemu gadis Filipina dan memutuskan akan menetap disana lebih lama lagi. Mengingat sifatnya yang playboy, itu bisa saja terjadi. Tidak bisa melihat gadis cantik dan berpenampilan menarik, matanya seketika melirik." Sunday meletakkan kepalanya pada ujung meja komputer.
"Dia benar-benar telah berhasil mengutukku untuk memikirkannya terus. Aku belum pernah memikirkannya sesering ini dalam hidupku." Sunday menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Beni tidak memberinya tugas apapun. Hari ini tidak ada lagi kuliah jadi Sunday menunggu jam pulang hanya dengan bengong. Tapi ia harus tetap ada di laboratorium karena Beni harus ke laboratorium fakultas Hukum karena dia harus bertugas juga disana. Laboratorium fakultas teknik tidak ramai. Hanya ada beberapa mahasiswa yang sedang berdemo program pada asisten dosen. Sepertinya itu adalah mahasiswa tahun pertama. Terlihat wajah-wajah mereka yang masih segar dan imut.
🌸🌸🌸
"Baiklah kak, aku akan memberikan kuncinya ke security fakultas teknik." Setelah itu Sunday menutup teleponnya dan berjalan menuju pos security fakultas. Sesampainya di pos security Sunday memberikan kunci laboratorium kepada security seperti apa yang dikatakan Beni. Dia mengatakan akan mengambilnya setelah menutup laboratorium fakultas Hukum.
Sunday berjalan menuju motornya diparkir. Saat tiba disamping motornya lalu memakai helm, menstarter dan melajukannya pulang. Hari ini moodnya agak kacau. Jadi ia ingin segera sampai rumah, mandi lalu membaringkan tubuhnya. Sudah terbayang rencana indah itu dikepalanya.
Seperti biasa jalanan ramai pegawai pabrik yang pulang. Sunday melambatkan motornya diarea pabrik yang sedang memulangkan pegawainya itu. Setelah melewatinya, Sunday kembali mengendarai motornya sedikit lebih cepat. Bayangan kasur yang nyaman yang akan menopang badannya itu sudah sangat menggodanya.
Sudah sampai gang menuju rumahnya. Sunday memperlambat laju motornya. Tapi, ada mobil yang terparkir di depan rumahnya. Mobil yang sangat ia kenal. Seketika hatinya berbunga-bunga dan kupu-kupu mulai terbang-terbang lagi diperutnya. Sunday menghentikan motornya tepat disisi pemilik mobil bersandar.
Faris mendongak dari ponselnya lalu tersenyum melihat Sunday sudah datang. Senyum khas malaikat dengan pesonanya yang sempurna. Entah sudah lama tidak melihat senyum Faris atau dia tidak menyangka Faris sudah menunggunya, Sunday seperti meleleh dan tanpa bisa ia kendalikan tersenyum juga kepada Faris.
Beberapa detik mereka hanya saling pandang dan saling senyum. Belum ada yang ingin menyapa lebih dulu atau bahkan menanyakan kabar. Sunday seperti tidak butuh kata-kata untuk tahu bagaimana keadaan Faris. Faris terlihat sangat baik. Rambut lurusnya yang diterpa matahari senja menyisakan pantulan kilau yang menawan. Dada Sunday berdesir halus tapi rasa itu kali ini ingin tetap Sunday nikmati.
"Hai..." Akhirnya Faris mulai menyapa.
__ADS_1
"Hai..." Sunday menjawab dengan senyum yang sepertinya tidak bisa ia tanggalkan karena hatinya girang akhirnya menemukan sosok Faris dalam bentuk nyata. Bukan sekadar pengisi fikirannya seperti beberapa hari terakhir.