
Sunday menutup pintu kamarnya. Rambut basahnya masih terbungkus dengan handuk. Pikirannya masih kacau. Masih tertuju pada perbincangannya dengan Faris sore tadi.
“Apa tindakanku sudah benar?” Sunday duduk di kursi meja belajar sambil melepas handuknya.
“Seharusnya aku tidak menyanggupinya. Ahh, kenapa aku menyanggupinya. Kenapa aku bodoh sekali.” Sunday mengacak rambut basahnya kesal.
“Tapi, melihat wajah melasnya begitu siapa yang akan tega coba? Ya, tindakanku sudah benar. Bukankah aku temannya. Jadi apa salahnya dengan membantu. Toh itu hanya pura-pura." Sekarang wajah Sunday berubah sumringah lagi karena berhasil menghibur dirinya sendiri.
🌸🌸🌸
"Sun, bagaimana final projectmu? Sudah sampai mana?" Mulut Suzan masih mengunyah baksonya.
"Tinggal finishing." Sunday menyeruput es tehnya.
"Apa? Bagaimana mungkin kamu hampir menyelesaikannya sementara aku masih ada di tahap database."
"Ada masalah memangnya?" Tanya Sunday yang sekarang sudah menyelesaikan baksonya. Wajahnya merona merah karena sambal ukuran maksimal yang dituang ke dalam baksonya tadi. Bibirnya juga tidak kalah meronanya.
"Aku selalu gagal mengkonversikan database-nya."
"Sudah memakai software DBMS terbaru apa belum?" Celetuk Windy yang juga sudah selesai menghabiskan baksonya.
"Sudah."
"Itu dia, bahasa pemrogramanmu tidak suport dengan DBMS versi terbaru." Windy menjelaskan. Sunday mengangguk membenarkan.
"Benarkah? Aku pikir dengan DBMS baru akan membuat sistemnya terkoneksi dengan lebih baik."
"Salah, justru itu membuatnya tidak seimbang." Sunday menambahi.
"Lalu bagaimana?"
"Pakai saja DBMS versi lama. Aku rasa Pak Jhoni tidak akan mempermasalahkan itu. Asal programmu bisa running dengan sempurna dan bekerja dengan baik itu sudah layak dalam penilaiannya." Windy memberi saran.
"Baiklah." Suzan lemas. Membayangkan harus uninstall software dan instal ulang software yang akan dipakai membuatnya lelah sebelum bekerja.
"Tenang, nanti aku bantu." Sunday menepuk pundak Suzan.
"Benarkah?" Mata Suzan berbinar.
"Bantu doa. Hahaha..." Sunday & Windy berbarengan. Suzan cemberut.
Mereka memang seperti itu. Suka sekali saling mengerjai satu sama lain. Dan sekarang giliran Suzan yang menjadi korbannya. Tapi ketika Sunday mengatakan akan membantu, dia serius akan melakukannya.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Sunday.
Faris : sedang apa sayang?
Sunday terbelalak melihat isi pesan itu.
"Ada apa, Sun?" Windy melongok ponsel Sunday karena penasaran dengan ekspresinya yang seperti itu.
"Tidak, tidak apa-apa." Sunday gugup dan lamgsung membalik ponselnya agar Windy yang ada di sebelahnya tidak melihat juga isi pesan Faris.
"Dari Vicktor?" Tanya Windy kemudian.
"I-iya." Sunday berbohong agar tidak banyak pertanyaan lagi.
"Kenapa dia? Memberi tugas berat lagi?" Kali ini Suzan ikut bicara.
"Ya, biasalah." Sunday mengibaskan tangannya.
Tepat setelah itu sebuah telepon masuk.
Faris calling...
__ADS_1
Sunday mengangkatnya.
"Iya, ada apa?" Sambil keluar dari warung bakso langganannya. Siang ini tempat itu sangat ramai jadi Sunday memilih keluar agar pendengarannya tidak terganggu.
"Kenapa tidak membalas pesanku?" Suara Faris dari seberang.
"Baru saja mau ku balas."
"Kamu dimana?"
"Sedang makan bakso di Pak Tofan." Bakso pak Tofan adalah bakso langganan Sunday dan teman-temannya.
"Aku ke situ." Faris juga tahu tempat ini karena pernah beberapa kali makan bakso bersama Sunday di sini.
"Jangan, aku mau pulang. Ada apa?"
"Aku kangen." Lalu terdengar Faris tertawa.
"Hah, tidak penting sama sekali." Sunday cemberut. Malas dengan tingkah Faris yang seolah mereka benar-benar pacaran.
"Baiklah... berkendaralah dengan hati-hati, sayang." Faris masih cekikikan.
"Sudah, aku tutup teleponnya." Tanpa mendengar suara Faris lagi, Sunday langsung menutup telepon.
Menyebalkan. Seenaknya saja memanggil sayang. Dia pikir dia siapa. Gerutu Sunday dalam hati dan kembali masuk ke dalam warung bakso menemui teman-temannya.
"Pulang yukk." Ajak Sunday.
"Oke." Jawab Suzan yang diikuti Windy berdiri dari kursinya.
Cuaca siang ini sangat menyengat. Iklim tropis begitu terasa di musim kemarau seperti ini. Sunday sampai mecingkan mata karena matahari seolah hanya sejengkal di atas kepalanya. Bahkan helm yang ia pakai seperti tidak bisa melindunginya kepalanya dari sengatan matahari.
Tiba di sebuah perempatan, tiba-tiba ada sebuah motor melaju dari arah kanan jalan. Spontan Sunday mengerem dan begitu juga diikuti motor dibelakangnya. Tapi sayangnya motor yang ada dibelakang Sunday berada dekat dengan motornya jadi tanpa aba-aba dan walaupun pengendara sudah menarik rem, motor itu tidak bisa menghindari Sunday. Motor Sunday tertabrak oleh motor dibelakangnya.
Sunday beserta motornya pun roboh. Badan Sunday tertimpa motor. Pengendara motor dibelakangnya pun sama jatuhnya.
Sunday di papah menepi, demikian pula pengendara motor itu. Sunday meminta maaf kepada pengendara motor dibelakangnya itu karena sudah membuatnya ikut terjatuh juga. Untung saja pengendara motor yang seorang Bapak-bapak separuh baya itu tau kejadiannya juga. Jadi dia memaklumi.
Kerumunan sudah tidak ada, Bapak itu juga sudah pergi. Bapak yang baik itu bahkan menawari akan mengantarnya ke rumah sakit untuk beobat tapi ditolak oleh Sunday. Dia hanya lecet dan sedikit keseleo di pergelangan kaki kirinya yang terhimpit motor tadi.
Sunday melihat motornya sedikit lecet tapi untunglah masih bisa distarter dan berjalan dengan baik. Sunday mengendarai motornya lagi menuju rumahnya.
Sampai rumah mamanya sedang memasak. Mengetahui Sunday yang berjalan sambil mengeluhkan sakit, mamanya panik.
"Kamu jatuh dari motor?"
"Iya ma." Sunday meringis menahan kakinya yang keseleo sambil duduk di ruang makan.
"Koq bisa jatuh, Sunday?"
"Sudah takdir, ma." Kelakar Sunday.
"Kamu ini!" Mamanya memukul bahu Sunday yang membuatnya mengaduh.
"Tunggu, biar mama kompres dengan air hangat." Sambil menyalakan kompor satunya dan memanaskan air di dalam panci. Kompor satunya masih digunakan mamanya untuk memasak.
"Tidak apa-apa, ma. Cuma keseleo sedikit. Nanti juga sembuh."
"Paling tidak, ini bisa jadi pertolongan pertama untuk mengurangi pembengkakan." Bujuk mamanya.
"Nanti sore kamu harus ke dokter."
"Tidak usah, ma. Cuma begini saja. Besok pasti sembuh sendiri."
"Jangan menganggap enteng ya. Pokonya harus." Mamanya tegas. Sunday pasrah akhirnya.
__ADS_1
🌸🌸🌸
Sore harinya...
"Yakin mama tidak usah ikut?" Mamanya memastikan karena Sunday bersikeras ingin pergi ke dokter sendiri.
"Iya mama, aku bukan anak kecil yang takut disuntik saat bertemu dokter." Sunday memundurkan motornya.
"Apa tidak sebaiknya naik ojek online saja. Nanti kakimu bisa kenapa-kenapa." Mamanya khawatir.
"Tidak ma, aku baik-baik saja. Kalau bukan mama yang memaksa, aku sebenarnya tidak perlu ke dokter."
"Kau ini." Mamanya memukul pundak Sunday.
"Mama... kalau terus memukulku, nanti bisa-bisa aku benar-benar akan dirawat di rumah sakit." Sunday mengusap pundaknya.
"Salah sendiri jadi anak bandelnya minta ampun."
"Ya sudah... sudah... aku berangkat dulu, Ma."
"Jangan lupa minta rontgen ya."
"Iya ma..." Sunday sudah keluar pagar, tapi tiba-tiba mobil berhenti di depannya. Mobil Faris.
"Mau ke mana?" Tanya Faris hendak turun dari mobilnya.
"Hei, tidak baca ya tulisan 'Dilarang Parkir Di Depan Pintu?" Sunday masih diatas motornya.
"Mana?" Faris celingukan mencari tulisan itu.
"Besok ku tempel."
"Sialan!" Faris tersenyum kecut menyadari Sunday hanya mempermainkannya.
"Singkirkan mobilmu."
"Mau kemana?" Ulang Faris.
"Ke dokter."
"Siapa yang sakit?"
"Tuh, demi memenuhi amanat nyonya besar." Sunday menunjuk mamanya yang masih berdiri di teras.
"Sore tante..." Sapa Faris ramah kepada mama Sunday. Mama Sunday tersenyum juga kepada Faris.
"Jadi, kenapa ke dokter? Kamu sakit?"
"Tidak, tadi siang aku jatuh. Jadi mama ingin aku memeriksakan ini." Sambil menunjukkan kakinya yang dibebat.
"Jatuh gimana?"
"Ya jatuh. Jatuh dari motor."
"Kok bisa?"
"Banyak tanya. Sudah minggirkan mobilmu. Aku mau lewat."
"Tidak, biar aku mengantarmu."
"Tidak usah, aku bisa sendiri."
"Sudah, turun dari motormu. Ayo naik ke mobilku." Faris menarik badan Sunday agar turun dari motornya.
"Sudah ku bilang aku bisa naik motor sendiri."
__ADS_1
"Baiklah..." Dalam sekali tarik Sunday sudah ada dalam gendongan Faris. Badan mungil Sunday memang cukup mudah untuk Faris angkat begitu saja. Spontan Sunday berteriak lalu meminta turun. Tapi Faris tidak menghiraukannya dan membawanya masuk ke mobilnya. Mama Sunday hanya tersemyum melihat tingkah mereka.
Setelah memasukkan kembali motor Sunday ke halaman rumahnya dan berpamitan kepada mama Sunday, Faris melarikan mobilnya ke rumah sakit yang diinstruksikan Sunday.