Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Don Juan


__ADS_3

Sunday berdiri di depan layar plasma di lobi. Hari ini layar itu menampilkan gambar sebuah pemandangan laut biru dengan pantai yang memiliki pasir putih. Sunday tertarik untuk berlama-lama memandanginya. Pemandangan itu sungguh menenangkan. Rasanya Sunday sekarang seperti ada di sana. Bertopi lebar, berkaca mata hitam, berjalan di tepi pantai dengan sesekali ombak kecil menyentuh kakinya di pasir putih yang hangat. Suara deburan ombak dan cuitan burung camar mengalun lembut di telinganya.


Benar kata Gina, sesuka apapun bekerja, pada saatnya seseorang pasti butuh liburan. Butuh menyegarkan fikiran.


Apa seperti ini juga yang dirasakan Gina waktu itu. Merindukan waktu luang dan ingin berhenti sejenak dari rutinitas. Tapi aku malah merusak semua rencana liburan romantisnya bersama Faris. Aku benar-benar teman yang jahat. Sunday pmenundukkan kepala dan memutar tubuhnya berbalik.


"Brukk." Sunday menabrak seseorang di belakangnya. Ia mendongak ke arah pria tinggi didepannya.


"Maaf..." Sunday menunduk meminta maaf lalu mendongak memandang wajah orang yang ditabraknya.


"Oh kau." Ujarnya lirih.


"Apa yang kau fikirkan?" Tanya Faris yang sejak beberapa saat lalu mengawasi Sunday dari belakang.


"Tidak ada." Sunday belum berani menatap Faris untuk menghindari kontak mata dengannya agar tidak terlihat dia sedang berbohong.


"Kau ingin liburan?"


"Tidak... tidak... aku tidak sedang memikirkan itu." Sunday berbohong.


"Pulau Cocoa, Maldives. Mari kapan-kapan kita ke sana." Ucap Faris. Sunday mengerjapkan matanya.


"Aku mengambil foto itu ketika bersandar di sana." Sunday mengangguk mengerti bahwa gambar itu hasil bidikan kamera Faris.


"Di Indonesia juga ada pantai yang tidak kalah indahnya."


"Dimana?"


"Pantai Selong Balanak yang ada di Lombok. Berpasir putih dan memiliki ombak yang tenang. Sangat cocok untuk merelaksasi badan dan fikiran. Hanya saja untuk ke sana medannya tidak begitu bagus. Jalan berkelok dan juga jurang-jurang menjadi tantangannya."


"Kau pernah ke sana?" Tanya Sunday polos.


"Aku tidak akan menceritakannya padamu kalau aku hanya melihatnya di tv." Faris menahan tawa.


"Atau mungkin kita harus ke Santorini suatu saat nanti."


"Untuk apa?" Sunday menautkan alisnya.


"Untuk berbulan madu."


"Ah, iya... dalam mimpimu saja." Sunday mencibir dan berlalu meninggalkan Faris yang lalu mengikutinya. Lobi pagi ini lumayan ramai. Ada banyak orang sehingga mereka tidak terlihat menonjol melakukan percakapan itu.


Sunday memasuki lift diikuti Faris, kemudian ada beberapa orang masuk juga. Sebagian besar diantaranya mengucapkan salam kepada Faris. Karena masuk lebih dulu, Sunday terjebak ke bagian lift paling ujung. Sunday berdiri diam hampir menempel pada dinding lift. Tiba-tiba ia merasakan ada yang menyentuh jarinya. Sunday menunduk untuk memastikan. Kemudian ia memandang Faris yang tersenyum lurus bahkan tidak meliriknya sama sekali. Jantung Sunday berdebar diatas normal. Ia berusaha melepasnya karena khawatir pegawai lain melihat itu tapi Faris terlalu kuat menggenggam jemarinya. Hingga di lantai 4 akhirnya Faris melepaskan genggaman dan membiarkan Sunday keluar dari lift serta bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Sebelum pintu lift tertutup, Sunday sempat menoleh kepada Faris. Dengan nakal Faris mengerlingkan sebelah mata sambil memamerkan seringai senyumnya. Mendapat kerlingan itu Sunday memelototinya sebelum pintu lift kembali tertutup.


"Dia itu sudah seperti Don Juan saja. Perilakunya benar-benar..." Sunday memejamkan matanya berfikir kata yang tepat untuk sikap Faris barusan terhadapnya.


"Suka sekali membuat jantungku berdebar-debar." Sunday memegangi dadanya yang masih ada sisa debaran diatas normal.


Sunday memasuki ruang kerja disambut oleh Lita.


"Kau sudah tahu, Gina masuk rumah sakit."

__ADS_1


"Oh ya?" Sunday meletakkan tas di atas mejanya dan pura-pura tidak tahu serta tidak banyak bertanya. Ia takut jadi keceplosan kalau berbicara terlalu banyak.


"Ya. Sepulang kerja mari menjenguknya."


"Baiklah." Lalu Gina kembali ke mejanya.


🌸🌸🌸


Seperti yang sudah disepakati, sore ini Sunday dan Lita menjenguk Gina. Walaupun tidak satu divisi tapi Lita juga memiliki kepedulian kepada Gina karena mereka sering bersama.


"Kau tahu dari mana Gina di rawat di rumah sakit?"


"Temanku di divisi kepegawaian yang memberitahuku. Dia tahu kita sering bersama." Sunday mengangguk mengerti.


Taksi mereka berhenti tepat di pintu masuk rumah sakit. Mereka turun dan menuju kamar inap Gina berdasarkan info dari teman Lita. Sunday masih berlagak tidak tahu apa-apa.


Sampai di depan pintu kamar inap Gina, Lita mengetuk pintu. Suara seorang pria terdengar mempersilakan. Benar tebakan Sunday, itu adalah suara Faris. Begitu pintu terbuka terlihat Faris sedang menyuapi makan Gina. Sunday mendadak mengalami suasana hati buruk. Sangat buruk hingga seperti ada badai di dadanya. Tapi sebisa mungkin ia bersikap biasa dan tidak memandang kepada Faris sedikitpun. Lita sempat memberi salam kepada Faris sebagai bosnya.


"Hei kalian. Kenapa harus repot-repot datang? Aku tidak apa-apa dan hanya kelelahan saja." Gina memasang senyumnya semanis mungkin walaupun wajahnya masih terlihat pucat. Faris masih telaten menyuapinya. Sunday benar-benar merasa gerah melihat sikap Faris yang santai solah dirinya tidak ada.


"Ku pikir kau sangat sehat dan tidak akan pernah sakit. Tapi ternyata kau masih bisa sakit juga." Lita berbicara agak canggung dan tidak seperti biasanya karena ada Faris di sana.


"Kau ini, aku juga manusia, bukan robot." Gina tersenyum lebar dan kali ini menolak suapan Faris.


"Sunday, kenapa kau diam saja?" Gina memandang Sunday yang tidak banyak bicara.


"Ahh, iya aku sedang sariawan. Sakit sekali. Itu membuatku malas menggerakkan bibirku. Sakit sekali." Sunday berpura-pura kesakitan saat berbicara. Ia sempat melirik Faris yang masih acuh dengan pembicaraan mereka.


"Desain sudah diselesaikan olah Lita dan Boby sudah mulai mengerjakan programnya." Lita mengangguk mengiyakan.


"Jadi, bahasa pemrograman apa yang dipakai Boby?"


"Kesepakatan kami saat meeting kami cukup memakai delphi karena itu sangat sederhana." Jawab Lita.


"Baguslah. Ku tunggu hasil jadinya."


"Iya, Pak." Timpal Lita lagi. Sunday diam lagi. Hatinya terasa dongkol hingga sebesar gunung dan itu membuatnya berat untuk sekadar menjawab Faris.


"Sepertinya aku harus belajar ilmu komputer juga. Melihat kalian berbicara tentang itu aku merasa paling bodoh diantara kalian."


"Kau pandai dalam ilmu managemen bisnis karena itu bagianmu. Sudah, jangan terlalu pandai dalam banyak hal, nanti aku yang jadi iri." Timpal Lita. Gina tersenyum kecil.


"Tapi mengambil kursus pemrograman sepertinya bagus. Siapa tahu aku bisa beralih divisi ke tim kalian."


"Wah, ide bagus. Untukmu pasti mudah sekali melakukan itu." Kini Sunday mulai bicara.


"Ya, tentu saja. Jika aku pandai pemrograman, apa aku bisa pindah ke tim Sunday?" Gina memandang ke arah Faris yang duduk di kursi dekat tempat tidurnya.


"Kita lihat saja seberapa pandai dirimu." Faris memberi Gina senyum. Melihat itu Sunday kebat kebit.


"Kalau begitu, paling tidak aku bisa mulai belajar dari kalian."

__ADS_1


"Denganku. Kau bisa belajar denganku." Sunday buru-buru menawarkan diri.


"Kau?" Gina membulatkan bola matanya.


"Ya, kita bisa belajar bersama. Kita sering bersama jadi lebih banyak kesempatan jika kau belajar denganku. Lagipula tim kami banyak sekali project-project sederhana jadi lebih mudah untukmu belajar."


"Baiklah. Terima kasih, Sunday. Kau memang baik. Beruntung sekali siapapun yang jadi pacarmu."


"Begitulah." Sunday tersenyum.


"Pacarmu yang waktu itu kan?" Lita menowel bahu Sunday.


"Yang mana?"


"Yang menunggumu di depan Font waktu itu." Lita memperjelas.


"Oh dia. Apa menurutmu dia cocok bersamaku?" Sunday tiba-tiba mempunyai ide untuk tidak mengelak.


"Kulihat dari jauh dia cukup tampan. Kurasa dari dekat pasti lebih tampan lagi." Puji Lita.


Sunday sempat melirik ke arah Faris dan sudah terlihat ada kilatan di sudut matanya saat mencuri pandang kepadanya.


"Dia memang setampan itu. Penglihatanmu sangat tajam, Ta." Puji Sunday dengan memamerkan seringainya kepada Faris.


"Pasti dia baik sekali sampai menjemputmu sepulang kerja." Timpal Gina membumbui. Ia tahu Faris sudah mulai terbakar. Melihat Sunday memanasi, Gina menjadikan dirinya bensin yang siap mengguyur Faris hingga meledak. Ini kesempatan baik baginya. Sunday jadi sadar dengan buah dari perbuatannya. Ia sedikit menyesal melakukan itu di depan Gina. Tapi lalu dia tidak peduli.


"Ya, begitulah." Sunday masih tetap dengan senyum lebarnya.


"Beruntungnya..." Tambah Gina.


"Tapi aku sudah pernah mengatakan kepadamu kalau dia hanya temanku." Ujar Sunday kepada Gina seolah ingin memberi tahu bahwa Gina sudah tahu hal itu dan kalimatnya hanya untuk memanasi Faris.


"Oh iya, aku lupa." Lalu Gina tertawa kaku.


"Ehh, aku mau ke kamar mandi. Bisakah kau membantuku?" Gina memandang Faris. Faris mengerutkan kening.


"Biar ku bantu. Sepertinya sesama wanita akan lebih nyaman untukmu." Sunday menawarkan bantuan sebelum Faris merasa kasihan kepada Gina lalu membantunya.


"Iya baiklah." Gina tidak punya alasan untuk menolak bantuan Sunday. Ia membantu Gina turun dari tempat tidur, menopang tubuhnya serta membawakan infusnya. Beberapa saat di kamar mandi, akhirnya Sunday dan Gina kembali. Memapah Gina dan menuntunnya naik tempat tidur.


"Ya sudah, ini sudah hampir malam. Sebaiknya kita pulang, Ta." Ajak Sunday yang sudah malas sekali ada diantara Faris dan Gina.


"Oh benar. Kalau begitu, kami permisi dulu." Setelah berpamitan lalu keduanya keluar dari kamar inap Gina.


Hati Sunday memar rasanya melihat kedekatan mereka. Ada dirinya saja Gina semanja itu kepada Faris, apalagi ketika mereka hanya berdua saja. Ia menyusuri koridor rumah sakit dan berjalan beriringan dengan Lita. Tapi mereka berpisah saat Lita menaiki taksi. Sunday masih harus menunggu taksinya. Rumah Lita dan tempat kosnya berbeda arah sehingga mereka tidak bisa pulang bersama.


"Kenapa akhir-akhir ini aku sehat sekali. Sistem imunku juga kuat. Aku bahkan sudah lama tidak terkena flu." Sunday cemburu kepada Gina yang diperlakukan dengan baik oleh Faris. Mengingat Gina yang bisa manja kepada Faris seperti itu Sunday benar-benar iri.


Sebuah taksi berhenti di depan Sunday. Lalu ia naik ke dalamnya. Sebuah pesan masuk ke ponselnya saat taksi baru saja berangkat.


Faris : ku tunggu kau nanti di rumah

__ADS_1


Menunggunya di rumah? Sekarang saja dia bahkan masih di sana. Masa bodoh. Seenaknya saja memerintah. Memangnya aku bekerja di IGD, yang harus 24 jam jadi pegawainya. Batin Sunday. Lalu ia memasukkan ponselnya kembali tanpa ingin membalas. Hatinya masih sesak mengingat Faris dan Gina berduaan di sana. Berkali-kali ia menghela nafas panjang.


__ADS_2