Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Menikung?


__ADS_3

"Mandilah sana. Sepertinya kau masih ngelindur." Sunday menahan tawa.


"Aku tidak sedang ngelindur."


"Sudah mandilah sana." Sunday mendorong Faris ke arah rumahnya.


"Mandilah cepat, kau akan terlambat bekerja. Seorang bos tidak boleh memberi contoh yang buruk pada anak buahnya." Sunday membelokkan tubuh Faris ke pintu pagar rumahnya.


"Aku harus segera berangkat. Aku hampir terlambat."


"Tapi aku belum selesai bicara."


"Kita lanjutkan nanti." Sunday berjalan mundur menjauhi Faris yang terpaku di tempatnya. Setelah melambaikan tangan, Sunday membalik badannya dan berjalan semakin menjauhi Faris.


Sunday merasa pasti ada sesuatu hingga Faris tiba-tiba melamarnya seperti itu. Belum satu minggu mereka menjalin hubungan dan Faris sudah melamarnya. Ini sangat tidak masuk akal. Apa sesuka itu Faris padanya hingga terburu-buru untuk menikah. Sunday membatin sepanjang jalan menuju Font hingga tanpa sadar tempat kerjanya sudah ada di depan mata. Saat memasuki halaman Font, Sunday melihat Gina mengendarai mobilnya menuju tempat parkir.


Sunday menghela nafas berat. Bagaimana ia harus menghadapi Gina. Ia sangat berharap Gina tidak tahu apa-apa tentang bagaimana Faris membatalkan kepergian ke Bali bersamanya. Oleh karena itu Sunday jadi merasa bersalah. Ia sangat tahu Gina menyukai Faris, tapi sekarang dia malah berpacaran dengannya. Ia benar-benar merasa seperti teman yang makan teman, pagar makan tanaman, serigala berbulu domba, domba makan tanaman rumput tetangga, ahh kacau sekali.


"Kenapa kebetulan sekali kita menyukai orang yang sama. Ini sungguh membuat serba salah." Sunday memijat keningnya sambil memasuki lobi Font. Saat ini yang ia harapkan hanya tidak ingin bertemu Gina. Bukan, bukan tidak ingin tapi belum siap bertemu dengannya. Pasti Sunday akan canggung jika bertemu Gina.


Sebelum Gina sampai di lobi, Sunday segera memasuki lift yang kebetulan terbuka saat dirinya tiba di depan pintunya. Paling tidak pagi ini ia tidak bertemu muka dengan Gina jadi ia bisa bekerja dengan sedikit tenang.


Faris mengendarai mobilnya tapi bukan untuk ke Font melainkan ke tempat lain. Ia yakin tidak akan bisa berkonsentrasi jika bekerja pagi ini. Fikirannya masih terbebani tentang rencana pertunangannya dengan Gina. Ia sudah menghubungi papa Gina sebelum meluncur ke kantornya. Dan setelah tiba papa Gina menyambutnya dengan hangat seperti biasanya.


"Bagaimana kabarmu, Faris?"


"Seperti yang Om lihat, aku baik-baik saja. Om juga sepertinya sangat bugar. Pasti itu karena Om rajin berolah raga."


"Berolah raga apa. Om hanya sesekali bermain golf atau memancing dengan papamu. Sepak bola, bulu tangkis apalagi basket Om sudah tidak mampu. Tulang Om sudah mulai merenggang untuk melakukan itu." Lalu papa Gina tertawa.


"Om bisa saja."


"Jadi, ada perlu apa kau kemari?" Papa Gina merasa sudah cukup basa-basi mereka.


"Jadi begini, Om. Ini tentang Gina." Faris menghela nafas berat tapi perlahan.


"Om dan Papi menginginkan aku dan Gina bertunangan?"


"Ya, aku mau mempererat hubungan persahabatan dengan papamu jadi aku ingin kau dan Gina melangsungkan pernikahan." Papa Gina beralasan. Padahal itu bukan tujuan utama papa Gina ingin mereka menikah. Tapi lebih karena Gina memang menyukainya. Dan demi menjaga anak gadisnya agar tidak terkesan memiliki cinta mati kepadanya jadi papa Gina membuat dalih itu.


"Tapi Om, kami sama sekali tidak terlibat hubungan untuk bisa menikah pada akhirnya."


"Om faham dengan hal itu. Jadi dengan kata lain kau tidak ingin menikahi Gina?"


"Aku meminta maaf, Om. Bukan karena Gina tidak layak, tapi justru Gina adalah gadis yang baik. Hanya saja aku sudah memiliki orang yang ku suka jadi aku meminta maaf dengan sangat karena tidak bisa memenuhi keinginan Om dan Papi. Biarlah aku dan Gina seperti ini. Sejak sepeninggalan Robi memang aku merasa harus menyayangi Gina seperti Robi menyayanginya. Jadi aku memperlakukan Gina seperti adikku sendiri." Penjelasan Faris panjang lebar.


"Kau memang sahabat terbaik Robi. Andai tidak mengalami kecelakaan itu, pasti sekarang dia sudah menempati ruangan ini sekarang." Mata papa Gina berkaca-kaca.


"Robi juga sahabat terbaikku, Om"


"Ahh, maaf aku jadi sentimental setiap membicarakan tentang Robi." Papa Gina mengusap air matanya. Sangat jelas tergambar kesedihan dari mata pria paruh baya itu. Mengenang anak sulungnya yang meninggal dunia akibat kecelakaan 10 tahun yang lalu itu papa Gina selalu merasa sedih.


"Tidak apa-apa, Om. Saya yang harusnya meminta maaf karena mengungkit Robi dalam pembicaraan kita."


"Tidak apa-apa, kau tidak melakukan apapun."


"Tapi yang jelas sekali lagi aku meminta maaf karena tidak bisa melakukan keinginan Om dan Papi."


"Tidak apa-apa, Faris. Pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Kita harus benar-benar menginginkannya baru pernikahan bisa dilakukan. Karena menikah adalah tujuan untuk seumur hidup, bukan hanya sementara waktu."


"Terima kasih atas pengertiannya, Om. Rasanya lega sekali Om bisa mengerti maksudku." Faris tersenyum lebar karena sangat bahagia mendapati papa Gina yang bisa menerima penolakan perjodohannya. Setelah itu ia berpamitan untuk undur diri dari ruangan itu. Sampai di dalam mobil Faris menghubungi papinya.


"Hallo Papi."


"Ya, ada apa?"


"Aku sudah berbicara langsung dengan Om Rangga tentang pembatalan rencana perjodohanku dengan Gina."


"Apa?"


"Tenang Pi, Om Rangga bisa menerima keputusanku untuk tidak melanjutkan perjodohan. Jadi kita tidak perlu melamar Gina."


"Kau ini benar-benar. Mau ditaruh dimana muka Papi terhadap Om Rangga." Suara Papinya meninggi.

__ADS_1


"Tenang saja, Om Rangga bisa mengerti ini. Jadi Papi tidak perlu khawatir."


"Tidak khawatir bagaimana, kami adalah teman." Suara papi Faris masih dengan nada tinggi.


"Nanti datanglah ke rumah"


"Ada apa lagi, Pi?"


"Papi ingin sekali menghajarmu." Ancam Papi Faris. Tapi Faris hanya membalasnya dengan tawa kecil. Ia tahu Papinya tidak akan benar-benar menghajarnya secara fisik. Dia bukan anak kecil lagi. Biarkan saja nanti Papinya marah, akan jauh lebih baik mendapatkan kemarahan Papinya daripada harus terjebak pada hubungan pernikahan dengan orang yang tidak ia cintai.


Ruang kerja kantor papa Gina sepi di jam istirahat begini. Para pegawai pasti sedang makan siang. Gina memasuki ruangan papanya yang sebelumnya menyapa sekretarisnya lebih dulu. Kedatangannya kali ini seperti biasanya Gina terlihat ramah.


"Papa tidak makan siang?"


"Ya, ini baru saja akan turun. Ayo makan siang bersamaku. Baru saja Faris datang kemari."


"Faris? Untuk apa?" Gina heran.


"Aku kemari juga sebenarnya ingin menanyakan bagaimana dengan janji Papa. Apa Papa sudah menemui Om Sasono?" Wajah Gina memerah saat menanyakan itu.


"Sudah." Papa Gina sekarang duduk di samping Gina di sofa ruangan itu.


"Lalu?" Mata Gina berbinar tidak sabar menantikan jawaban papanya.


"Gina, kau mencintai Faris?" Gina mengangguk dengan senyum diwajahnya.


"Kalau begitu mulai saat ini lupakan dia. Kau bisa pergi ke Amerika untuk melanjutkan sekolahmu atau kau bisa berlibur keliling Eropa kalau kau mau."


"Kenapa Pa? Kenapa Papa menyuruhku melupakan Faris?" Gina mulai gusar.


"Karena Faris mengatakan kepada Papa dia hanya menyayangimu sebagai adiknya. Tidak lebih. Sehingga dia tidak bisa menjalani pertunangan apalagi pernikahan denganmu." Seketika mendung memayung di langit mata Gina.


"Pa, aku hanya meminta ini darimu. Aku tidak pernah meminta apapun sebelumnya. Tapi hanya ini saja Papa tidak bisa memberikannya kepadaku?" Mendung itu sudah mencair menjadi hujan deras sekarang.


"Gina, mintalah apapun tapi jangan minta Papa memaksakan cinta orang lain untukmu. Papa tidak bisa. Papa tidak sekejam itu." Suara Papa Gina lirih berusaha menyadarkan Gina bahwa cinta tidak bisa dipaksakan.


"Sebagai putri Papa, kau bisa mendapatkan pria lain yang juga mencintaimu."


"Tidak Pa, aku mau Faris. Hanya dia yang sangat mengerti diriku. Saat aku kesepian dialah yang selalu ada. Saat Papa dan Mama tidak ada untukku, dia yang walau hanya melalui suara selalu menguatkanku. Meyakinkan bahwa aku masih punya seseorang yang bisa kujadikan tempat bersandar." Gina terisak.


Pintu ruang kerja papanya terbuka dan terlihat mamanya masuk. Gina masih menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Ada apa, Pa?" Mama Gina mendekati putrinya yang lama tidak ditemuinya secara langsung itu. Menyentuh bahunya. Tapi mamanya menjadi kaget karena seketika itu juga Gina berdiri dari duduknya dan meninggalkan kedua orang tuanya yang memandangnya bingung.


🌸🌸🌸


"Kau dimana?" Suara Faris dari seberang telepon.


"Di cafetaria."


"Setelah selesai cepatlah ke ruanganku."


"Tapi ini masih jam istirahat."


"Kau membantah perintah bosmu?"


"Iya iya... aku akan ke sana setelah ini." Sunday kembali menikmati makan siangnya lagi. Perasaannya menjadi menciut setelah mendengar suara Faris. Sepertinya ia akan melanjutkan pembicaraan tadi pagi mereka yang tertunda.


Dengan ragu-ragu Sunday mengetuk pintu ruangan Faris. Faris memberinya aba-aba untuk masuk.


"Ada apa menyuruhku datang?" Suara Sunday ketus karena merasa makan siangnya terganggu.


"Kau bicara apa? Kau harus sopan saat berbicara dengan Bos."


"Bos mana yang mengganggu makan siang anak buahnya dan membuat perintah-perintah yang tidak sesuai dengan pekerjaan."


"Aku bos yang sangat spesial jadi aku bisa melakukan itu." Faris cengengesan.


"Kemarilah, jangan hanya berdiri saja." Faris menepuk sofa di sampingnya agar Sunday duduk. Karena ia sedari datang hanya berdiri di dekat pintu saja.


"Tidak mau, kau selalu menahanku setelah duduk disitu."


"Masih ada waktu 20 menit, ayo kita mengobrol dulu. Menikmati masa-masa indah pacaran kita yang backstreet ini." Sunday tersenyum kecut. Tapi lalu duduk juga di ujung sofa.

__ADS_1


"Kenapa kau jauh sekali. Kemarilah mendekat."


"Tidak, di sini saja. Kita tidak harus sedekat itu untuk mengobrol. Dari sini aku masih bisa melihat dan ndengarmu."


"Tapi dari jarak sejauh itu aku tidak bisa mencium aroma tubuhmu."


"Kau ini dasar. Aku mau di sini. Jadi jangan suruh-suruh aku kesitu."


"Baiklah aku saja yang kesitu." Faris menggeser duduknya mendekati Sunday. Sunday menegang saat Faris hanya ada sejengkal disampingnya.


"Kenapa harus sedekat ini. Ke sanalah, masih banyak tempat di sana."


"Aku mau dekat denganmu. Kau tahu, pura-pura menjadi bukan siapa-siapaamu itu rasanya menyiksa sekali."


"Hanya itu, aku bahkan harus merasa canggung saat bertemu Gina."


"Kenapa?" Tanya Faris santai.


"Bagaimana aku tidak canggung. Aku merasa sudah merebut pria yang ia sukai. Aku merasa menjadi wanita yang sangat jahat." Pandangan Sunday menerawang jauh tapi sorot matanya sendu.


Sunday teringat saat bertemu Gina sebelum istirahat tadi. Gina berdiri di depan lift saat Sunday hendak makan siang.


"Ha-hai, Gina."


"Sunday..." Wajah Gina seceria biasanya.


"Bagaimana liburanmu? Pasti sangat menyenangkan." Sunday mengumpulkan keberanian untuk menanyakan hal itu dan berpura-pura tidak tahu bahwa Faris tidak jadi pergi.


"Menyenangkan. Tapi sayangnya Faris tidak jadi ikut." Gina cemberut.


"Oh ya?" Jantung Sunday berdebar hebat menjalankan aksi sandiwara itu.


"Karena dia memiliki urusan penting katanya."


"Oooohhh..."


"Tapi tetap saja itu menyenangkan." Wajah Gina kembali ceria seperti biasanya.


Melihat itu Sunday agak merasa lega. Walaupun tetap ada rasa bersalah karena demi dirinya Faris membatalkan kepergiannya dengan Gina.


"Wah, kau ini benar-benar jahat. Bagaimana kau bisa menikung temanmu sendiri." Faris memicingkan mata pura-pura mengintimidasi Sunday.


"Tapi itu semua gara-gara kau. Karena kau menyukaiku itu membuatku harus berpacaran denganmu."


"Benarkah? Bukannya pacaran itu dilakukan oleh dua orang yang saling menyukai?"


"Tapi kau selalu saja mengatakan menyukaiku. Aku jadi tertular penyakit sukamu."


"Apa? Penyakit? Sejak kapan rasa suka bisa menjadi penyakit. Apalagi bisa menular. Kau ini yang benar saja."


"Buktinya karena kau terus saja mengejarku dengan perasaan sukamu, akhirnya aku suka padamu."


"Apa? Apa yang kau katakan?"


"Apa?" Sunday bingung dengan pertanyaan Faris.


"Tiga kata terakhirmu yang baru saja kau katakan."


"Aku suka padamu..." Sunday mengulangnya lagi.


"Aku juga suka padamu." Ujar Faris cepat dan membuat Sunday sadar telah dijebak olehnya agar mengatakan itu.


"Ahh, kau ini." Sunday menepuk bahu Faris. Wajahnya merona malu. Faris tersenyum senang melihat itu. Sebenarnya ia memang sesenang itu. Setelah berbincang dengan Papa Gina ia merasa bebannya hilang karena tidak lagi harus menjalani pernikahan dengan Gina. Dan Sunday bersyukur Faris tidak membahas tentang pernikahan yang ia katakan tadi pagi.


🌸🌸🌸


Gina sedang berada di dalam kamarnya sendiri. Hatinya patah dan hancur. Ia benar-benar merasa sendiri. Faris yang selama ini ia sukai, yang selama ini menjadi sandaran hatinya menolak untuk menikah dengannya. Dan papa yang ia diandalkan pun lebih memilih tidak memaksakan kehendak kepada orang lain daripada harus membahagiakan putrinya sendiri.


Perasaannya benar-benar kacau. Gina teringat saat Faris meninggalkannya di bandara. Diam-diam ia mengikutinya karena penasaran dengan apa yang membuat Faris tiba-tiba meninggalkannya begitu saja. Dan ternyata yang ia lihat adalah Faris yang memeluk Sunday. Ia langsung yakin bahwa diantara mereka memang memiliki hubungan.


Sejak ia melihat foto Sunday dan Faris, ia menyadari ada sesuatu diantara mereka yang ia tidak tahu. Lalu kemudian menemukan mereka berdua di dalam ruangan Faris. Ia bukan orang bodoh yang percaya dengan apa kata Sunday bahwa tidak ada apa-apa diantara mereka berdua. Pandangan penuh cinta keduanya cukup membuat Gina tahu bahwa mereka memang saling menyukai.


Oleh karena itu ia sengaja mengajak Faris dan memanfaatkan kebaikannya untuk berlibur ke Bali. Bukan Faris yang mengajaknya pergi bersama tapi Gina. Ia sengaja mengatakan kepada Sunday bahwa Faris yang mengajaknya adalah untuk mengacaukan hatinya. Agar Sunday berfikir bahwa Faris menaruh hati kepada Gina. Tapi semua itu tidak berjalan sesuai harapannya. Entah kenapa Faris malah meninggalkannya demi menemui Sunday.

__ADS_1


Bayangan itu berkelebat satu per satu. Sehingga selanutnya ia sudah tidak bisa berfikir jernih lagi. Lalu diraihnya obat dalam botol kemasan dan mengeluarkan beberapa butir isinya yang entah 5 atau lebih dan meminumnya sekaligus.


Beberapa saat kemudian matanya mulai mengabur, semakin kabur dan akhirnya benar-benar gelap. Sangat gelap.


__ADS_2