
Satu pesan masuk ke ponsel Sunday. Dia sedang membebat kakinya. Dihentikannya sejenak aktifitasnya dan menyempatkan diri membaca pesan.
Faris : hari ini ada kuliah?
"Mau tahu saja orang ini." Gumam Sunday. Lalu dibalas pesan itu.
Sunday : iya
Faris : jam berapa?
Sunday : jam 9
Kemudian tidak ada balasan lagi hingga Sunday selesai membebat kakinya. Sebentar kemudian dia masuk ke kamar mengambil tas, melihat cermin sekali lagi lalu keluar rumah.
Seseorang melambai dari luar pagar saat Sunday baru keluar dari pintu rumahnya. Faris.
"Kenapa ke sini? Aku mau berangkat kuliah." Suara Sunday sedikit berteriak karena ia masih berdiri di depan rumah dan baru akan menghampiri Faris
"Aku antar."
"Tidak usah."
"Kakimu masih belum pulih. Bukankah kata dokter kamu tidak boleh terlalu banyak menggunakan kakimu sementara ini."
"Kakiku baik-baik saja. Aku bisa memakai motor dengan baik." Sunday membuka pintu pagar rumahnya yang sudah tidak terkunci.
"Tidak, aku akan mengantarkanmu kemanapun kau pergi. Anggap saja aku jasa ojek bagimu."
"Bolehkah?"
"Iya, tentu saja."
"Tidak, aku tidak mau merepotkanmu."
"Aku yang mengajukan diri untuk kau repotkan."
"Tidak ada modus dari kebaikanmu kan?" Sunday menyelidik.
"Kalau ada, apa kamu mau?"
"Tentu saja tidak."
"Jadi, terima saja kebaikanku. Aku melakukannya tanpa pamrih." Faris tersenyum lebar sambil menepuk dadanya sendiri.
Akhirnya Sunday setuju untuk diantar pergi ke kampusnya. Kasihan juga Faris sudah jauh-jauh dari rumahnya lalu penawarannya ia tolak begitu saja. Tentu saja Sunday tidak tega.
"Jadi, saat kamu mengirim pesan, kamu sudah dalam perjalanan ke rumahku?"
"Tidak, aku sudah di depan rumahmu." Faris masih berkonsentrasi melihat ke arah jalan raya.
"Kalau tadi ternyata aku sudah berangkat ke kampus bagaimana?"
"Aku akan menyusulmu ke kampus."
"Kau begitu terobsesi kepadaku ya?" Sunday sekarang menghadap Faris.
"Tidak, aku hanya ingin membantumu. Aku terlalu kurang kerjaan. Aku butuh kesibukan. Sangat membosankan kalau hanya di rumah saja." Faris beralasan. Padahal dia memang suka jika menghabiskan waktu bersama Sunday.
"Kenapa tidak kembali pada pekerjaanmu saja?"
"Belum waktunya. Kali ini aku bahkan akan mengambil liburan lumayan lama."
"Oh ya?"
"Kenapa?" Faris memandang Sunday.
"Tidak kenapa-kenapa."
"Tapi kamu terlihat senang." Goda Faris.
"Tidak mungkin, kecuali aku sudah gila." Sunday manyun. Faris Tertawa.
__ADS_1
🌸🌸🌸
Sunday dan Faris memasuki halaman fakultas teknik. Faris menghentikan mobilnya tepat di depan lobi fakultas. Faris bermaksud keluar untuk membukakan pintu Sunday.
"Eits, tidak usah membukakan pintu." Cegah Sunday.
"Kenapa?" Sunday memutar badannya kembali.
"Aku bisa melakukannya sendiri." Faris tersenyum. Semua gadis suka diperlakukan begitu, tapi tidak dengan Sunday.
"Selesai jam berapa?"
"Tidak perlu menjemputku lagi."
"Tidak, aku akan menunggumu di kantin."
"Aku mungkin akan lama."
"Baguslah, aku rasa duduk di kantin tidak akan membuatku bosan dengan banyaknya mahasiswa cantik di sana."
"Dasar!" Kemudian Sunday keluar.
Di kelasnya sudah ada Windy, Suzan belum datang. Sunday mengambil duduk di sebelah Windy.
"Suzan belum datang?"
"Dia masih di kamar mandi." Sambil menunjuk tas di kursi sisi Windy yang lain. Lalu pandangan Windy tertuju pada kaki Sunday. "Hei, kenapa kakimu?" Saat Sunday masuk tadi ia tidak melihat Sunday yang berjalan pincang ke arahnya.
"Oh, ini... kakiku keseleo."
"Kok bisa?"
"Aku jatuh dari motor."
"Dimana?"
"Di perempatan menuju arah rumahku."
"Sepulang makan bakso kemarin."
"Sudah kamu bawa ke tukang urut?"
"Mama langsung menginstruksikan ke dokter ortopedi."
"Terus apa kata dokter?"
"Tidak apa-apa. Hanya sedikit terkilir jadi beberapa hari lagi juga pulih. Mama saja yang terlalu khawatir. Seharusnya kompres air hangat saja sudah cukup."
"Terus dokternya cakep?"
"Cakep banget, mirip Marshanda." Celetuk Sunday asal. "Kau ini sudah tertular Suzan." Sambil menyundul kening Windy. Windy cekikikan.
Dosen sudah masuk, semua mahasiswa tertib di tempat duduk masing-masing. Baru Dosen mengucap salam, pintu terbuka. Suzan muncul di balik pintu.
🌸🌸🌸
"Kalian tahu, aku sakit perut gara-gara bakso kemarin." Keluh Suzan saat sudah keluar dari kelas.
"Siapa suruh menuang sambel sebegitu banyak di baksomu." Windy mengomel.
"Aku melihat Sunday makan bakso dengan sambel sebanyak itu kelihatannya enak. Tapi ternyata itu malah membunuhku."
"Sunday itu ratu sambel tau." Windy nyolot. Sunday cekikikan.
"Ya sudah teman-teman, aku ke laboratorium ya." Pamit Sunday.
"Baiklah, kalau Victor Terminator menyiksamu terlalu kejam, kami ada di kantin. Panggil saja." Suzan terlihat tegas.
"Siaaapp..." Sunday tersenyum pada kedua temannya lalu berbelok di persimpangan koridor.
Laboratorium siang ini lumayan ramai meskipun tidak ada praktikum. Ada mahasiswa yang sekadar mengerjakan tugas dengan komputer, ada juga yang sedang demo program bersama asisten dosen, ada juga yang hanya browsing entah apa. Sunday menuju meja Victor meminta tugasnya.
__ADS_1
"Hari ini hanya jaga laboratorium saja, Sun."
"Baik Kak."
"Ini untukmu." Sambil menyodorkan softdrink dan snack.
"Untukku?" Victor mengangguk. "Terima Kasih, kak."
Di kantin...
Suzan dan Windy melihat ada Faris yang ada di kantin lalu segera menghampiri.
"Oppa..." Sapa Suzan.
"Hai, kalian..." Balas Faris. "Sunday mana?" Faris celingukan karena AB three kurang personil.
AB Three adalah kelompok vokal yang terdiri dari tiga orang gadis di tahun 90an. Yaitu Widi, Nola dan Lusy yang merupakan lulusan kontes menyanyi tingkat Asia, tepatnya Asia Bagus. Pada akhirnya AB Three berganti nama menjadi B3 dan salah satu personel yaitu Lucy keluar dan digantikan oleh Cynthia. Faris tahu grup vokal ini karena kakaknya adalah salah satu fans mereka.
"Masih magang." Jawab Windy.
"Oh..."
"Oppa menunggu Sunday?" Suzan duduk di sebelah Faris.
"Iya."
"Ada perlu apa?" Lanjut Suzan lagi. Windy sedang membeli minum dan camilan untuknya sendiri dan Suzan.
"Tidak ada, hanya menunggunya pulang saja. Kamu tahu kakinya terkilir kan?" Suzan mengangguk. "Nah, aku akan mengantarkannya pulang juga nanti."
"Mengantarnya pulang juga? Berarti Oppa juga yang mengantar Sunday berangkat tadi?"
"Hmm." Faris menyeruput minumannya.
"Wah... Oppa baik sekali."
"Lagipula aku sedang tidak sibuk."
"Oppa memang calon pacar yang baik." Suzan menggoda Faris.
"Uhuk... uhuk..." Faris tersedak minumannya sendiri.
"Pelan-pelan minumnya, Oppa."
"Calon pacarnya siapa?"
"Ahh, Oppa. Kau pikir aku tidak mengerti. Aku faham sekali dengan hal itu. Aku juga pernah punya pacar. Aku juga tahu bagaimana cara seseorang melakukan pendekatan."
"Jadi maksudmu aku sedang mendekati Sunday?"
"Hmm."
"Hahaha... aku sedang tidak mendekatinya." Faris mengelak tapi terlihat salah tingkah. Suzan bisa melihat itu lalu tersenyum. "Kau tahu kan dia itu anti-pelaut."
"Aku tahu."
"Jadi bagaimana mungkin aku punya peluang untuk itu?"
"Berusahalah, Oppa." Sahut Windy yang baru datang dari belakang mereka dengan dua botol minuman dan beberapa camilan. "Sudah lama kami tahu Oppa menyukai Sunday."
"Darimana kalian tahu?"
"Ya Tuhan, terlihat sekali itu. Sunday saja yang kurang peka. Dia terlalu cuek terhadap yang berbau asmara. Setelah tahu papanya yang meninggalkan mamanya dan juga pacarnya yang memutuskannya, dia jadi masa bodoh soal cinta." Jelas Windy
"Pacar? Sunday pernah punya pacar?"
"Iya." Jawab Windy, Suzan pun mengangguk. "Dulu waktu masih SMA. Tapi mereka putus karena pacarnya berselingkuh dengan temannya."
"Darimana kamu tahu?"
"Dia pernah bercerita tentang itu." Windy meminum minumannya.
__ADS_1
Jadi, Sunday juga pernah dihianati mantan pacarnya dulu. Pantas saja dia begitu menjaga jarak terhadapku.