
Pintu kamar Sunday di ketuk.
"Iya ma..." Jawab Sunday dari dalam kamarnya. Ia hentikan tangannya menggambar flow chart diagram sistem.
"Ada yang mencarimu." Mama Sunday muncul dari balik pintu.
"Siapa?"
"Victor."
"Victor?" Sunday sedikit heran kenapa Victor datang mencarinya.
"Baiklah, aku akan keluar menemuninya." Setelah itu mama Sunday melanjutkan menonton sinetron kesayangannya.
Sunday keluar dimana Victor duduk di teras.
"Ada apa, Kak?" Sunday duduk di kursi seberang Victor.
"Ini modul praktikummu." Victor menyodorkan sebuah buku berjilid.
"Oh tertinggal. Aku baru menyadarinya." Sunday cengengesan menyadari kecerobohannya sendiri.
"Terima kasih, Kak."
"Sama-sama."
"Kakak baru pulang?"
"Iya, rapat baru selesai."
"Oh rapat tentang perbaruan laboratoriun ya."
"Ya begitulah, tapi bukan perbaruan keseluruhan. Hanya mengganti beberapa PC yang sering rewel saja."
"Kakak tidak tertarik menjadi dosen?" Tanya Sunday iseng.
"Tidak. Terlalu terikat dan jamnya tidak pasti. Aku lebih suka menjadi laboran. Santai dan tidak harus berhubungan langsung dengan banyak orang. Kalau aku jadi dosen aku harus sibuk dengan urusan mahasiswa dan sebagainya dan sebagainya. Itu pasti sangat menguras energi."
"Oohh, begitu yaa."
"Aku rasa Kakak sangat mampu jika menjadi dosen."
"Benarkah?" Sunday mengangguk.
"Kalau seorang mahasiswa yang mengatakan itu, sepertinya aku akan memikirkannya lagi." Victor lalu tersenyum.
Tak lama kemudian, Victor pamit untuk pulang. Tapi sebelumnya ia sempat bertanya kenapa Sunday kenapa menyarankan dirinya untuk menjadi dosen.
"Aku pikir dengan kemampuan Kakak soal pemrograman dan segala yang berkaitan dengan itu sayang sekali kalau hanya berada di laboratorium. Kakak harus menyalurkan kemampuan kepada orang lain." Victor mengangguk mengerti.
🌸🌸🌸
Sebuah nada keluar dari ponsel Sunday. Ia melirik ponselnya. Melanjutkan mengetik laporan praktikum hingga selesai satu kalimat baru ia meraih ponsel yang ada disampingnya.
Windy : itu lirik lagu payung teduh - berdua saja
Sunday langsung mengerti maksud Windy. Ternyata syair di flashdisk Sunday adalah syair lagu Payung Teduh yang judulnya Berdua Saja.
Sejurus kemudian Sunday membuka youtube dan mencari lagu itu. Setelah ketemu lalu memutarnya.
__ADS_1
"Enak juga lagunya." Gumam Sunday saat mendengarkan lagu itu. Tidak cukup memutarnya di youtube, Sunday akhirnya men-downloadn-nya dan memutarnya berulang-ulang. Mencoba mencerna setiap bait lagunya.
Isinya memang tentang pengungkapan perasaan cinta secara diam-diam dari seorang pemuja rahasia. Tapi milik siapa folder berisi lirik lagu itu? Sunday sedikit penasaran walaupun ia tidak yakin itu ditujukan padanya. Karena ia tidak merasa spesial untuk memiliki seorang pemuja rahasia.
Tiba-tiba ia teringat Faris. Sudah beberapa hari ia di Filipina tapi mengirim pesan padanya hanya sekali. Sepertinya ia sibuk sekali. Biasanya setiap hari ada saja yang dilakukan untuknya. Entah mengirim pesan atau tiba-tiba datang menemuinya. Selalu saja ada kesibukannya untuk mengganggu hari Sunday. Lama-lama rindu juga.
"Ehh, aku pasti sudah gila kalau sampai merindukannya." Sunday menepuk jidatnya sendiri.
"Itu bukan rindu. Itu hanya kebiasaan. Jadi kalau tidak dijahili dan tidak diganggu Faris memang rasanya aneh. Ya rasa aneh ini bukan rindu tapi hanya sebuah rasa dari efek samping berhentinya kebiasaan." Sunday mencoba memperbaiki cara berfikirnya.
🌸🌸🌸
Suzan mengaduk-aduk baksonya, menambahkan bumbu-bumbu penunjang ke dalamnya. Saos, kecap, jeruk nipis dan sedikit sambel. Windy juga sama, sedang sibuk meracik bakso berdasarkan seleranya. Sedangkan Sunday masih diam. Terakhir ia makan bakso saat diacara pernikahan Dian, sepupu Faris. Karena menambahkan sambel terlalu banyak lalu ia diare. Dari situ ia jadi tahu seberapa perhatian Faris kepadanya. Bahkan merawatnya dengan cukup baik saat Sunday hampir kehabisan cairan. Faris sangat siaga, begitu kata teman-temannya. Dan itu memang benar. Tidak bisa melihat Sunday lemas, ia pergi membeli sejumlah obat & minuman isotonic agar kondisi Sunday bisa pulih dengan cepat.
"Sun... kau sudah berhenti menyukai bakso?" Suzan menyenggol lengannya.
"Ehh, apa?" Sunday sadar dari fikirannya.
"Kau dari tadi bengong saja. Kalau tidak mau bakso, sini berikan padaku." Suzan siap mengangkat mangkuk bakso di depan Sunday.
"Eits, apa yang kau lakukan?"
"Daripada bakso seenak ini dibiarkan dingin tak berdaya." Suzan mulai bermajas personifikasi.
"Itu bukan berarti aku tidak mau. Aku hanya... hanya menunggunya dingin saja." Sunday beralasan. Windy yang melihat kedua temannya seperti itu hanya menggeleng malas dan tetap melanjutkan menikmati baksonya.
Sunday akhirnya mulai memakan baksonya.
"Tidak kau siram sambel dulu, Sun?" Windy merasa heran dengan Sunday yang langsung menyendok baksonya tanpa membimbui dulu ala dirinya yang biasanya tanpa kecap, tanpa saos tapi sambalnya super banyak.
"Tidak, aku sedang diet."
"Diet? Diet apaan?"
"Kenapa bakso itu rasanya tidak seperti biasanya?" Celetuk Sunday saat mereka kembali ke kampus untuk mengikuti kelas selanjutnya.
"Masa sih? Tidak kok. Rasanya sama, tidak berubah." Jawab Suzan.
"Bagaimana harus sama. Hari ini kau makan bakso original tanpa sambel. Pasti saja rasanya berbeda bagimu."
"Oh iya..." Sunday cengengesan.
"Tumben tidak pakai sambel. Sudah bertaubat jadi ratu sambel ya?" Windy menyeletuk.
"Emm... tidak, hanya saja aku habis diare jadi masih agak trauma makan sambel."
"Kau? Diare? Tumben?" Suzan ganti menatap Sunday heran.
"Satu mangkuk bakso lawan satu mangkuk sambel." Sunday meringis.
"Sudah gila kau. Bagaimana ususmu tidak protes, kau kejam sekali terhadapnya." Windy memutar bola matanya. Sunday terkekeh.
"Kalau mau bunuh diri jangan pakai sambel. Itu terlalu menyiksa dan terlalu perlahan membunuhmu." Windy menambahi. Sunday mendorong Windy tanda protes. Windy terhuyung ke depan tapi lalu tertawa melihat Sunday melipat wajahnya seperti itu.
"Aku tidak bermaksud bunuh diri. Aku hanya sedang perlu makan sambel sebanyak mungkin."
"Oh aku tahu, itu kebiasaanmu saat sedang marah. Memangnya siapa yang membuatmu marah? Biar aku yang menangani. Iya kan, Suz." Suzan yang meminum air mineral di sampingnya jadi belepotan hingga airnya tumpah mengenai wajah dan bajunya karena Windy menyenggol bahunya tadi. Sejenak hening. Windy menoleh dan melihat Suzan yang baju bagian depannya basah kuyup.
"Windyyyyyyyyyy..." Melihat Suzan yang geram telah dibuat basah kuyup seperti itu, Windy berlari lebih dulu dan diikuti Suzan yang mengejarnya. Sunday tertawa. Melihat itu perasaannya seolah sedikit meringan.
__ADS_1
Ya, sejak kemarin Sunday merasa perasaannya berat entah kenapa. Ia juga merasa seperti kurang bersemangat. Harinya terasa hambar dan biasa saja. Tidak seperti hari-hari sebelumnya.
🌸🌸🌸
Hari sudah sore. Sunday pulang dari kampus mengendarai motornya. Melalui jalan raya yang ramai. Bersamaan dengan para pekerja yang pulang juga. Kebetulan untuk menuju rumahnya dari kampus, Sunday harus melewati beberapa pabrik dan jam-jam segitu adalah jam pulang para pegawainya.
Ia sempat melewati kedai es krim tempat biasanya nongkrong. Pelan-pelan ia hendak mampir untuk menikmati es puter. Siapa tahu es puter bisa membuatnya lebih bersemangat. Biasanya makanan manis selalu berhasil memompa kembali energinya.
Sunday memesan es puter rasa durian kesukaannya. Disuapan pertama, ia melihat disebelahnya duduk pasangan yang sedang mengobrol dengan es krim terhidang di mejanya. Mereka mungkin sepasang kekasih atau akan menjadi kekasih. Terlihat wajah mereka yang merona malu-malu sambil tertawa kecil saat mengobrol. Manis sekali.
Faris kira-kira sedang apa? Kenapa dia tidak menghubungi lagi? Ini sudah seminggu lebih. Apa dia sesibuk itu?
Melihat pasangan itu ia langsung teringat Faris. Seperti ada yang kurang memang karena Faris tidak juga mengabarinya apapun. Dia pasti sangat sibuk.
Hari ini es puter durian yang biasanya enak juga rasanya biasa saja. Sunday melarikan motornya keluar area parkir kedai es krim dan bergegas pulang. Senja semakin menurun. Jalanan masih ramai oleh sisa-sisa pegawai pabrik yang pulang dari tempat mereka bekerja. Banyak diantara para pengemudi motor masih memakai seragam kerja mereka.
Sampai di depan gang rumahnya tercium aroma nasi goreng langganannya. Ia teringat Faris yang suka sekali makan nasi goreng di sini. Kadang jauh-jauh dari rumahnya yang ditempuh dalam waktu satu jam perjalanan hanya untuk memesan satu porsi nasi goreng ini.
Akhirnya ia hentikan lagi motornya dan memesan dua porsi nasi goreng untuknya dan untuk mamanya. Ia memesan untuk dibawa pulang agar bisa makan bersama mamanya. Setelah pesanan selesai, ia langsung pulang ke rumahnya.
"Ma... ayo makan." Celetuk Sunday saat masuk ke dalam rumah. Mamanya yang ada di dalam kamar membuka pintu kamarnya.
"Makan? Datang-datang langsung mengajak makan." Mamanya heran.
"Aku lapar sekali." Sunday tidak menanggapi komentar mamanya dan langsung menuju kamar mandi untuk mencuci kaki. Lalu ke wastafel dapur untuk mencuci tangannya dengan sabun.
"Hei, mandilah dulu. Kau ini bau sekali."
"Makan dulu, Ma. Aku sangat lapar." Tanpa aba-aba membuka bungkusan nasi gorengnya. Menyendokkan ke mulutnya dan mengunyah. Mamanya pun ikut duduk disebelahnya dan ikut makan juga.
"Ma, hari ini nasi gorengnya tidak seperti biasanya ya?"
"Tidak seperti biasa bagaimana?"
"Kurang nendang rasanya."
"Enak kok. Sama seperti biasanya."
"Kurang nendang rasanya, Ma."
"Kalau kurang nendang, sini biar Mama yang menendangmu." Mamanya cekikikan.
"Ahh, mama..." Sunday membungkus kembali sisa nasi gorengnya dan masuk ke kamar mandi untuk mandi.
"Kurang enak, kurang nendang? Ini enak kok." Mamanya menyendok lagi dan melanjutkan makan tanpa menghiraukan Sunday.
"Katanya lapar tapi ini malah tidak dihabiskan. Dasar bocah yang aneh."
Selesai mandi, Sunday ke kamarnya. Mamanya sudah selesai makan dan masuk kembali ke kamarnya. Pasti mamanya sedang bersemedi mengerjakan laporan RPP lagi.
Hari ini fikirannya dipenuhi oleh Faris. Entah kenapa Faris seperti menempel terus diotaknya. Berlarian kesana kemari. Berputar-putar tiada henti.
"Tidak lelah apa dia seharian ada dikepalaku terus. Aku saja lelah selalu teringat padanya." Keluh Sunday sambil memeluk gulingnya.
"Eh tapi, kenapa aku memikirkannya terus? Aku tidak punya kepentingan apapun untuk memikirkannya. Aku juga tidak punya kewajiban untuk selalu ingat kepadaya. Ahh, sepertinya aku sudah mulai gila. Jangan-jangan ini karena dia sudah mengutukku? Wah, dia benar-benar jahat sudah mengutukku seberat ini. Tunggu sampai dia pulang. Aku akan menghabisinya sudah mengutukku untuk ingat kepadanya terus." Selanjutnya Sunday bangun menuju meja belajarnya. Mengambil modul praktikumnya dan mulai mengerjakan laporannya lagi.
Sunday mulai menata tempat belajarnya, mengeluarkan laptop, buku panduan dan tidak lupa modulnya. Karena meja yang tidak begitu lebar semua jadi berdesakan diatasnya. Akhirnya karena tergeser buku panduan, buku modul praktikumnya terjatuh. Sunday memungutnya. Tapi salah satu halaman terbuka. Dan disana terselip sebuah kertas. Sunday membaca isinya.
Bila cinta kita tak kan tercipta, ku hanya sekedar ingin tuk mengerti. Adakah diriku singgah dihatimu? Dan, bilakah kau tau, kaulah yang ada dihatiku? Kau yang ada dihatiku, adakah ku dihatimu?
__ADS_1
Ini lagu Maliq & D'Essential. Untitled. Siapa yang meletakkan catatan ini di sini? Sunday berfikir.
"Ya Tuhan, Victor?"