Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Pesonaku Sangat Dahsyat


__ADS_3

Faris terlihat rapi siang ini. Maminya baru saja keluar kamar dan mendapati putranya yang rapi serta wangi langsung mengintrogasi.


"Mau kemana, Ris?"


"Biasa, mi." Faris tersenyum.


"Bertemu gadis mana lagi?" Maminya menyelidik.


"Mami ini selalu saja ingin tahu." Faris melipat kemeja lengan panjangnya hingga ke siku.


"Sudah, akhiri saja petualanganmu. Mami sudah lelah melayani teman-teman wanitamu yang bahkan mami tidak tau yang mana pacarmu."


Faris tertawa kecil dengan masih sibuk melipat lengan satunya. Memang tidak jarang gadis-gadis yang menaruh hati pada Faris datang dan membawa berbagai makanan dan oleh-oleh untuknya. Bersikap manis kepada maminya seakan melakukan pendekatan.


"Apa kamu akan menemui Gina?" Tanya maminya menebak. "Sepertinya dia gadis baik. Dia juga pandai menjaga sikap. Sopan dan cantik." Mami Faris menilai salah satu teman wanita Faris yang baru kemarin datang ke rumahnya. Entah kedatangannya yang ke berapa kali. Karena setiap Faris pulang dari kapal gadis itu selalu datang ke rumahnya.


"Tidak, bukan Gina." Jawab Faris singkat sambil mendekati maminya.


"Siapa lagi?" Maminya mulai kesal dengan tingkah laku putranya yang seenaknya sendiri mendekati gadis-gadis tanpa ada komitmen pasti.


"Tenang saja mi, untuk mendapatkan teman hidup yang tepat itu butuh seleksi ketat."


"Dulu mami sama papi bahkan dijodohkan, tanpa saling mengenal lebih dulu tapi sampai sekarang kami baik-baik saja. Seleksi apanya." Maminya mulai bersungut-sungut.


"Jangan pakai alasan seleksi untuk mempermainkan hati para gadis, karma itu ada."


"Kenapa mami jadi menyumpahiku?" Sekarang Faris sudah memeluk maminya yang duduk di kursi teras rumahnya.


"Mami bukan menyumpahi." Maminya ketus.


"Iya iya mami... tenang saja, nanti pada saatnya aku akan memilih menantu yang baik untuk mami. Tunggu saja. Mami baik-baik saja yaa, tetap manis seperti ini agar kecantikan mami tidak berkurang gara-gara sering memarahiku." Rayu Faris.


Maminya melengos mendapat rayuan putra bungsunya ini.


"Kalau kamu tetap seperti ini, mami sama papi akan menjodohkan kamu saja dengan gadis pilihan kami."


"Jangan... jangan, mi. Mami sama papi tidak perlu repot dalam hal ini. Serahkan semuanya padaku, aku akan datang membawa calon menantu." Faris mempererat pelukannya kepada maminya.


"Benar yaa... Mami tunggu segera. Pokoknya kalau kamu masih juga bersenang-seperti ini, mami akan menjodohkan kamu."


"Iya... iya, mi. Ampun mi..." Faris memohon.


Faris memang tidak akan bisa menolak jika maminya sudah berkehendak. Jadi dari pada dia sulit menolak maka sebaiknya maminya tidak menjodohkan dirinya dengan gadis pilihan maminya.


🌸🌸🌸


Sunday menggulung kabel LAN yang berserakan. Baru saja selesai memperbaiki salah satu komputer di laboratorium teknik yang mengalami kerusakan.


Baru saja dia akan bangun dari duduknya, seseorang berdiri di dekatnya. Sunday mendongak tapi dia lupa bahwa dia sedang berada di bawah meja saat ini. Alhasil kepalanya terjedat bawah meja.


"Aaww!" Keluh Sunday.


"Hati-hati, Sun" Victor melongok ke bawah kolong meja.


Sunday akhirnya keluar dengan mengelus kepalanya yang masih terasa sakit.

__ADS_1


"Ada apa, kak?" Sunday bertanya.


"Mana yang sakit. Sebelah sini? Atau sini?" Victor seperti tidak menghiraukan pertanyaan Sunday dan malah mengelus-elus kepalanya mencari mungkin ada yang benjol. Sejurus kemudian Sunday mundur selangkah menghindari Victor. Victor mengerutkan kening.


"Sudah, tidak apa-apa."


"Kesini aku lihat mana yang benjol. Jangan sampai benjolnya tambah besar. Nanti dikira kamu pakai konde kalau benjolnya semakin membesar." Victor sambil menahan tawanya sendiri saat berucap.


"Tidak mungkin, Kak. Aku baik-baik saja. Kelihatannya benjolnya juga tidak terlalu besar. Sebentar lagi juga akan kempes." Sunday meraba kepalanya yang terdapat benjolan. Sakit memang. Tapi sangat memalukan jika Victor tau kepalanya benjol karena kecerobohannya sendiri.


"Lagi pula, mungkin gara-gara aku mengagetkanmu jadinya kamu terjedat."


"Tidak apa-apa, aku yang ceroboh."


"Baiklah. Sebenarnya aku ada tugas lagi untukmu." Kata Victor kemudian.


"Apa Kak?" Sunday mulai gusar kalau tugasnya akan lebih berat lagi daripada membongkar motherboard dan memisahkan setiap perangkatnya untuk dianalisa.


"Ehhem... " Victor berdehem lalu melanjutkan kalimatnya. "Tolong belikan aku obat kutu."


"Obat kutu?" Reflek Sunday menunjuk rambutnya sendiri memberi isyarat bahwa obat kutu itu untuk rambut.


"I-iya, tapi jangan keras-keras." Victor takut orang disekeliling mereka mendengarnya. Sunday menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Bukan untukku, tapi untuk kucingku. Aku terlalu malu untuk membelinya sendiri." Victor memasang wajah memelas.


Dia pikir aku tidak malu apa membeli obat kutu. Batin Sunday.


"Ehh tapi, beli saja di pet shop obat kutu khusus binatang peliharaan. Pasti ada,kak." Usul Sunday.


"Ya... tolonglah..." Victor sekarang bahkan memasang wajah memohon. Sungguh pemandangan fenomenal. Victor yang biasanya bermuka masam dan terlihat sedikit kejam itu kini memelas memohon belas kasihnya agar bersedia membelikan obat kutu untuknya.


"Kenapa tidak membelinya secara online saja." Usul Sunday lagi.


"Aku juga terlalu malu untuk membelinya secara online." Keluh Victor lagi. Sunday tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menuruti perintah si laboran yang berkuasa memberi nilai pada magangnya itu.


"Baiklah, besok pagi akan aku bawa obat kutunya." Kata Sunday malas.


"Benarkah? Terima kasih, Sunday." Mata Victor berbinar memandang Sunday.


Sunday bertemu Suzan ketika baru keluar dari laboratorium.


"Kenapa wajahmu sekusut itu? Tugas apalagi yang diberikan Victor padamu?" Suzan tampak kesal.


"Tugas yang lebih berat daripada men-scan seluruh komputer di kampus ini."


"Berani beraninya dia bertindak semena-mena begitu. Mentang-mentang kamu anak magang." Suzan sudah mulai emosi. Sunday masih berjalan lesu disampingnya.


"Memangnya apa tugas yang kali ini dia berikan?"


"Membeli obat kutu."


"Whaatt!!! Pria setampan dia kutuan?"


"Apa? Tampan?" Giliran Sunday yang heran menatap Suzan.

__ADS_1


"Iya, pria setampan dia bisa kutuan. Ini sungguh tidak bisa dipercaya."


"Hei, bagian mananya Victor yang tampan?"


"Katamu Victor memang kejam dan selalu memberi tugas-tugas yang kelewatan, tapi mataku juga masih sehat untuk bisa melihat setampan apa dia."


"Setampan apa?"


"Kalau aku lihat-lihat dia itu mirip Gong Yoo tahu."


"Gong Yoo siapa?" Sunday penasaran apakah dia mengenal pria yang disebut Suzan.


"Yang main di film Goblin." Jawab Suzan polos seolah penglihatannya sangat benar.


Sunday menepuk jidatnya sendiri, frustasi menyaksikan sahabatnya yang saking seringnya menonton drama korea hingga sering memirip-miripkan orang disekitarnya dengan aktor-aktor K-drama.


Mata memang sama sipitnya karena Victor memang keturunan tionghoa. Tinggi badan, iya, postur Victor memang tinggi. Tapi garis mukanya sangat jauh berbeda. Jadi bagaimana seseorang bisa dikatakan mirip kalau mereka bahkan tidak memiliki kesamaan fisik yang signifikan. Sunday.


Saat Sunday masih mencoba mencari tahu kemiripan apa yang dipunyai antara Victor dan Gong Yoo, mereka telah sampai tempat parkir dan tidak begitu memyimak apa yang dicelotehkan Suzan.


"Sun, kamu bawa motor?" Tanya Suzan.


"Tentu saja."


"Aku pikir Faris menjemputmu."


"Tidak. Sejak kapan dia menjadi kurang kerjaan dan menjemputku."


"Bukannya tadi pagi dia mengantarmu?"


"Oh, kemarin aku langsung diantarnya pulang, jadi motorku bermalam di sini."


"Ahh, baik sekali Oppa Faris." Mata Suzan berbinar. "Dia perhatian sekali kepadamu. Jangan-jangan dia menyukaimu." Goda Suzan.


"Hah, menyukaiku? Dia bisa melakukan itu kepada semua wanita. Jadi jangan mudah GR kalau mendapat perhatiannya. Dia itu play boy sejati. Semua wanita akan diperlakukan dengan sangat manis. Lalu mereka akan menyukainya. Setelah menyukainya, dia akan mengatakan bahwa dia pria yang menghormati wanita sehingga apa yang dilakukan hanya ingin menghormati wanita itu." Jelas Sunday berapi-api.


"Benarkah? Apa benar Oppa Faris seperti itu?". Pandangan Suzan menerawang jauh seolah tidak percaya dengan penjelasan Sunday. "Setauku selama ini dia adalah pria yang baik, lembut, sopan, penyayang dan penuh perhatian."


"Itu hanya topeng saja baginya." Celetuk Sunday.


"Tapi kenapa kamu betah berdekatan dengannya?" Suzan menyelidik tajam.


"Itu, tentu saja, aku sudah tahan banting. Aku tidak akan baper alias terbawa perasaan terhadapnya. Aku cukup mengenal pria macam dia. Kau tahu kan semua pelaut itu sama. Mereka semua mata keranjang, berhati banyak, play boy..."


"Oh jadi itu sebabnya kamu bisa berteman dengannya tanpa tergoda perlakuan manis dan wajah tampannya?"


"Iya, tentu saja. Aku selalu menarik garis agar dia tahu dimana dia harus memposisikan diri dan jaga jarak terhadapku."


"Kenapa dia harus menjaga jarak denganmu? Bukankah dia pria yang tampan dan penampilannya sangat keren. Tidakkah pernyataanmu harus dibalik."


"Hei, sekeren apapun dia, aku tidak akan pernah tertarik padanya. Kau sangat tahu aku tidak akan mudah menyukai seorang pelaut. Sedangkan pesonaku sangat dahsyat."


"Huweeekkk." Suzan mencemooh Sunday. Sunday terbahak-bahak melihat Suzan yang muak terhadap bualannya. "Sudahlah, semakin lama bersamamu perutku semakin mual." Suzan meninggalkannya yang masih menyisakan tawa. Suzan sudah mendekati mobilnya ketika Sunday memanggilnya.


"Suz, berhati-hatilah. Pesonaku sangat dahsyat." Teriak Sunday sambil mengendarai motornya, meninggalkan Suzan yang menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


__ADS_2