
Faris memarkir mobilnya di tepi jalan sebuah komplek perumahan. Ada banyak mobil yang sudah terparkir di sana. Faris mengajak Sunday turun. Tapi sebelumnya Faris mengambil benda terbungkus kertas kado di jok belakang. Sunday baru menyadari keberadaan benda itu dan yakin jika Faris mengajaknya ke sebuah pesta ulang tahun.
"Ini, bawalah." Sunday menerima benda berkertas kado warna biru metalik itu dari Faris. "
Nanti, berikan kado itu kepada yang berulang tahun." Sunday mengangguk faham. Selanjutnya yang Sunday rasakan tangannya sudah berada dalam genggaman Faris. Sekali lagi Sunday menarik tangannya tapi Faris memberi isyarat untuk jangan melepaskannya.
"Kita mulai lagi drama kita. Drama romantis. Jadi mari kita tetap seperti ini." Bisik Faris lalu menarik langkah Sunday menuju sebuah rumah yang pintu pagarnya terbuka.
Sebenarnya sangat menjengkelkan harus bergandengan tangan dengan Faris. Itu selalu berhasil membuat jantungnya berdenyut tak biasa. Memberi rasa hangat pada dadanya lalu naik ke pipinya yang akhirnya membuatnya gelisah tak menentu.
Sebuah rumah dengan desain modern minimalis adalah tempat yang dituju Faris. Tidak masuk ke dalam rumah itu, Faris mengajak Sunday langsung menuju ke bagian lain rumah melalui halaman samping. Sayup-sayup terdengar suara lagu ulang tahun dinyanyikan dengan serempak. Tepat dibelakang rumah itu ada sebuah halaman luas, lebih luas daripada halaman depannya. Tampak disana sebuah kerumuman anak-anak sedang mengelilingi kue ulang tahun dan bernyanyi dengan suara dan nada khas anak-anak.
"Anak temanmu ulang tahun?" Sunday menerka.
"Bukan, temanku yang sedang berulang tahun." Jawab Faris sambil terus berjalan memandang si pemilik pesta di ujung sana. Sunday mengerutkan kening.
Menurut analisanya yang sedang berulang tahun adalah anak-anak. Tapi apa benar Faris berteman dengan anak-anak. Semakin dekat semakin terlihat dari lilin dengan angka 6 di atas kue tart itu.
Tapi Sunday terkesiap saat melihat ada Mamy Faris di sana, ada Rima juga. Ya Tuhan, ada orang yang akan dijodohkan dengan Faris juga. Bagaimana Sunday harus bersikap nanti? Pikirannya menjadi tidak fokus. Terbanyang adegan demi adegan drama selanjutnya.
Kemungkinan akan ada insiden dengan dialog yang penuh dengan kata julid dari para pemeran antagonis. Sedangkan dirinya yang mengandaikan sebagai pemeran protagonis membayangkan akan ditolak, dihina bahkan dianiaya secara verbal oleh si pemeran antagonis. Ahh, ini akan menjadi episode dramatis. Buka romantis seperti kata Faris. Sunday pernah melihat adegan yang seperti itu di sinetron yang mamanya tonton. Jadi fikirannya seolah teracuni oleh hal itu.
"Hei." Tepuk Faris dibahu Sunday.
"Ehh i-iya." Sunday gelagapan dan tersadar dari lamunannya yang sangat imajinatif. Mereka telah masuk ke dalam kerumunan itu sekarang.
Lilin telah ditiup, semua bertepuk tangan. Termasuk Sunday. Seorang bocah laki-laki dengan perawakan sedang itu tampak tersenyum bahagia. Lalu orang tuanya menciumnya bergantian. Selanjutnya yang terjadi adalah ritual ulang tahun pada umumnya. Memotong kue, memberikan kepada orang yang disayangi dan begitulah pesta itu berlangsung.
Faris memberikan kode agar Sunday ikut mendekati anak laki-laki yang sedang berulang tahun itu. Faris menerobos kerumunan dan diikuti Sunday untuk bisa mendekati anak itu.
"Hai bro, selamat ulang tahun." Faris tampak akrab dengan anak itu yang lalu bertoas dan menggendongnya. Anak itu tampak senang dengan kedatangannya. "Ya Tuhan, kau berat sekali." Faris menurunkannya kembali. "Kau sudah besar sekarang." Anak itu tertawa lebar.
"Makanku banyak sekali." Anak itu sangat tampan. Berkulit putih kemerahan seperti Faris.
"Benarkah?" Anak itu mengangguk sambil memamerkan senyumnya yang menampilkan gigi depannya yang sudah tanggal. "Pantas saja kau berat sekali. Tapi jangan makan terlalu banyak. Nanti kau bisa jadi gendut seperti mamamu."
"Apa katamu tadi. Aku tidak gendut, aku hanya sedang sedikit bertambah berat badan." Sahut wanita disebelah anak itu.
"Sedikit? Tapi tampaknya bertambah banyak." Wanita itu memukul kepala Faris yang seketika membuatnya mengaduh. Tapi lalu Faris memeluknya.
"Walupun gendut, kau tetap cantik." Goda Faris. Sunday yang melihat itu melengos kecut.
Bahkan wanita yang umurnya lebih tua pun dia goda juga. Dia memang playboy sejati. Batin Sunday.
"Siapa ini?" Wanita itu baru menyadari keberadaan Sunday.
"Pacarku." Faris memperkenalkannya dengan senyum jumawa.
"Waw, kau punya pacar sekarang?" Ejek Wanita itu.
__ADS_1
"Hei, apa maksudmu. Adikmu ini terlalu tampan untuk menjadi seorang jomblo."
"Maksudku, pacar yang serius." Bisik Kakaknya di telinga Faris. Lalu Faris terbahak.
Dari pembicaraan mereka akhirnya Sunday tahu kalau wanita cantik dengan rambut berpotongan cepak itu adalah kakak perempuan Faris.
"Hei, dia kakakku." Faris memperkenalkan.
"Novi."
"Sunday."
"Nikmatilah pesta kecil ini. Maaf tempatnya agak terbatas. Oh, disana ada Mami dan Papi. Duduklah saja di teras." Novi mempersilakan.
"Baik." Sunday menyunggingkan senyum. Tapi sebelum meninggalkan kerumunan, Sunday menghampiri anak laki-laki yang masih dikerumuni teman-temannya itu.
"Hai, selamat ulang tahun." Sunday menyapa sambil menyodorkan kado yang sedari tadi dibawanya. Anak kecil itu hanya memandangi Sunday karena merasa asing.
"Kak Sunday. Panggil saja Kak Sunday. Nama kamu siapa?"
"Rafael."
"Nama yang bagus. Semoga panjang umur dan bahagia selalu ya." Sunday memegang pipi Rafael dan anak itu mengangguk.
Setelah itu Faris mengajak Sunday bergabung dengan para orang dewasa di teras. Para tamu yang adalah teman-teman Rafael yang diantar orang tua mereka memiliki tempat dihalaman yang luas itu dengan kursi-kursi memutari meja-meja berisi hidangan.
"Sunday." Sapa Rima.
"Sore Tante... Om..." Mami Sunday membalas senyum Sunday ramah. Papi Faris juga memberinya senyum tapi kemudian kembali menekuri PC tablet ditangannya dan kembali sibuk dengan itu.
Faris memberinya tempat duduk di dekat pintu samping rumah kakaknya itu. Rima mendekatinya setelah Faris berpamitan mengambil minum.
"Apa kabar?" Rima sudah duduk tepat di sampingnya.
"Baik, Kak."
"Ku dengar kau berpacaran dengan Faris." Rima to the point
"Dari mana Kakak tahu?"
"Kau tahu, aku sangat dekat dengan keluarga ini jadi kalau hanya untuk hal seperti itu tentu tidak akan luput dariku."
"Oh..." Hanya itu yang mampu Sunday katakan. Memang benar, Faris sudah pernah bercerita kepadanya bagaimana kedekatan Rima dengan keluarga Faris. Itulah kenapa Papinya lebih ingin menjodohkan Faris dengan Rima daripada dengan gadis lain manapun.
"Kamu yakin berpacaran dengan pria yang sering berganti-ganti gadis? Yang pacarnya ada dimana-mana?" Mendengar kalimat Rima hati Sunday menciut entah kenapa.
"Mmm... memang tidak mudah bagi seseorang untuk berubah dalam waktu singkat tapi Faris berjanji akan berhenti melakukan itu." Sunday seolah percaya diri mengatakan hal itu. Ia teringat olah apa yang dikatakan Faris waktu itu. Akan berhenti menemui gadis-gadis dan mengajak mereka jalan. Lagipula Sunday hanya pacar pura-pura Faris, jadi dia tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Dia tidak punya ikatan pasti untuk merasa terintimidasi atas kata-kata Rima.
"Tapi apa yang ditentukan orang tuanya tidak akan bisa ditolaknya. Seperti perjodohan misalnya." Rima tersenyum.
__ADS_1
"Oh, kami hanya menjalani apa yang saat ini kami hadapi. Tentang nanti, akan kami pikirkan nanti." Sunday tersenyum simpul.
"Kalian tampak akrab. Senang sekali melihatnya." Faris datang dengan dua gelas minuman. Lalu menyodorkan kepada Sunday yang ada di tangan kanannya.
"Memangnya apa yang kau harapkan? Apa kami harus saling jambak atau saling banting?" Celetuk Rima.
"Wah, pasti akan jadi tontonan tidak baik bagi teman-teman Rafael." Faris terkekeh. Sunday hanya tersenyum melihat perdebatan dua sahabat akrab itu.
"Baiklah, aku harus pulang. Sudah terlalu sore." Pamit Rima. Sunday dan Faris mempersilahkan.
Faris menempati tempat duduk yang ditinggalkan Rima.
"Yang disebelah Mami itu Papiku." Sunday mengangguk mengerti. Itu juga yang sudah Sunday fikirkan tadi. "Sebenarnya dia tidak galak. Tapi hanya saja dia suka cuek." Faris menjelaskan karena takut Sunday salah faham dengan sikap Papinya yang cuek seperti itu.
"Yang bersama Kak Novi itu, Kak Farhat, suaminya. Kau tahu kan." Faris memberi tahu Sunday karena mereka belum berkenalan secara langsung tadi. Sunday mengangguk lagi. Dia tidak banyak bicara. Jujur, berada di tengah keluarga Faris membuatnya sedikit canggung.
Acara ulang tahun itupun selesai. Semua anak sudah pulang bersama orang tua mereka masing-masing. Kak Novi dan suaminya serta tidak ketinggalan Rafael melepas kepulangan tamu mereka di gerbang rumah mereka.
"Ayo pulang." Ajak Faris. "Mi, Pi, kami pulang dulu." Faris berpamitan yang diikuti Sunday.
"Hati-hati mengantarkan Sunday." Ujar maminya. Papi Faris menatap Sunday dan tersenyum padanya. Wajahnya tidak secuek saat pertama mereka bertemu tadi.
"Siap grak." Faris berhormat ala tentara. Lalu mereka beranjak dari tempat itu dan bertemu Kak Novi yang bermaksud masuk ke dalam rumah. Rafael dan Papanya sudah masuk lebih dulu lewat pintu depan. Sehingga tidak sempat bertemu Sunday dan Faris.
"Mau pulang?"
"Iya Kak." Jawab Faris.
"Terima kasih, Sunday." Beralih kepada Sunday.
"Sama-sama, Kak." Sunday mengulas senyumnya.
"Pastikan Sunday pulang dengan selamat, Ris."
"Pasti."
Mobil Faris berjalan menuju arah rumah Sunday. Sunday tampak tidak banyak bicara. Ia masih berfikir tentang apa yang dikatakan Rima. Seharusnya Sunday tidak perlu memikirkan itu. Sunday hanya pacar pura-pura Faris. Jadi tidak perlu khawatir jika Faris mengingkari janjinya dan masih menjadi playboy. Atau kalau Faris pada akhirnya harus benar-benar bertunangan dengan Rima, itu juga diluar kuasanya. Dia tidak harus merasa tersakiti dengan hal itu. Sekali lagi, Sunday hanya pacar pura-pura Faris.
Melihat Sunday yang diam sejak mobil berjalan, Faris menepikan mobilnya.
"Ada apa?" Sunday heran dengan tindakan Faris yang berhenti. Padahal rumah Sunday masih jauh. Tanpa meminta izin Sunday, Faris menarik tuas yang ada disamping jok Sunday dan seketika sandaran kursi berubah lebih menurun. Membuat tubuh Sunday sedikit rileks.
"Apa yang kau lakukan."
"Istirahatlah. Masih ada beberapa waktu untukmu beristirahat." Jelas Faris
"Aku tidak ingin tertidur. Kau tahu kan bagaimana kebiasaanku." Faris tersenyum. Tadi dia menolak mati-matian saat Faris mengatakan bahwa dia adalah tukang tidur setiap naik mobilnya. Dan sekarang dia malah menyatakan bahwa itu adalah kebiasaannya.
"Tidak apa-apa. Tidurlah." Sunday yang memang lelah sejak berada di rumah Novi segera mematuhi Faris. Memejamkan matanya, mengistirahatkan fikirannya juga.
__ADS_1
Faris memutar lagu-lagu pelan sebagai teman perjalanannya. Dan, agar Sunday merasa nyaman selama dalam perjalanan.
Maaf sudah mengajakmu masuk dalam sandiwara ini dan melakukan semua yang aku inginkan. Tapi aku melakukan ini karena aku sangat menyukaimu. Aku berharap suatu saat nanti kau akan menyukaiku juga. Bagaimanapun caranya. Faris melirik Sunday yang sepertinya mulai tertidur.