Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Dua Orang Menyebalkan


__ADS_3

Jalan raya malam minggu sudah bisa dipastikan ramai. Kendaraan berlalu lalang lebih padat daripada hari biasa. Semua tempat tongkrongan juga rata-rata hampir penuh. Itulah sebabnya kenapa Sunday tidak begitu menyukai malam minggu berada di luar dan lebih sering menikmatinya dengan berdiam diri di rumah menonton film dari situs nonton langganannya.


Mobil Faris melaju santai dan tidak tergesa sama sekali. Langit sudah sepenuhnya gelap sekarang. Sepasang remaja berboncengan melaju disebelah pintu mobil yang Sunday tumpangi. Mereka tampak dekat dengan si gadis melingkarkan tangan di pinggang si pria. Tanpa sadar Sunday menyunggingkan senyumnya. Suka melihat pasangan yang dimabuk cinta seperti itu. Yang mereka pikirkan hanyalah seolah dunia milik berdua.


"Seharusnya tadi bawa motor saja biar kita bisa seperti mereka." Faris menggoda seperti tahu apa yang difikirkan Sunday. Sunday tersenyum kecut menanggapinya. Faris memang sejak tadi memperhatikan Sunday yang banyak melihat ke luar mobil.


"Dasar, kau suka sekali dengan hal semacam itu." Faris lalu tergelak.


"Bagaimana mungkin pria tidak suka dengan hal seperti itu. Kau tahu, setiap yang saling mencintai juga pasti suka melakukannya. Bukan cuma aku atau para pria."


"Ahh, terserahlah. Mendengarkan berbagai teorimu hanya akan membuatku mual."


"Kau bilang kau pernah pacaran, tapi kau ini cupu sekali dalam hal itu."


"Hei, gaya pacaranku tidak seperti dirimu. Aku selalu menjaga pergaulanku."


"Wah... jangan-jangan kau bahkan belum pernah berciuman. Atau bahkan belum pernah bergandengan tangan?" Sunday seketika melotot mendengar kalimat Faris.


"Itu urusanku. Kenapa kau jadi ingin tahu."


"Bukannya ingin tahu, tapi aku menebak dan sepertinya tebakanku benar."


"Sok tahu."


"Dari caramu yang sangat cupu dalam hal pacaran, kau pasti belum pernah melakukan banyak hal saat pacaran."


"Melakukan banyak hal apa? Aku bukan kau yang suka bermain-main dengan para gadis. Aku juga harus menjaga diriku dari hal-hal yang 'membahayakan' diriku sendiri." Sunday mengisyaratkan dengan kedua jari tangannya saat mengatakan kata membahayakan.


"Jadi saat pacaran apa saja yang sudah kau lakukan? Hanya mengobrol dan jalan? Wah, kasihan sekali pacarmu itu. Pantas saja dia memutuskanmu. Kau terlalu pasif." Faris lalu tertawa lagi.


"Memangnya pacaran harus bagaimana? Aku yakin kau melakukan banyak hal. Bahkan lebih dari sekadar berciuman. Atau kau sudah melakukan..." Sunday tidak melanjutkan kalimatnya dan bergidik sendiri.


"Kau tau, pria dan wanita itu tidak sama. Ketika seorang wanita berjalan dengan pacarnya, yang mereka rasakan dikendalikan oleh hati dan perasaan. Tapi ketika seorang pria berjalan dengan pacarnya, otak dan itu yang bicara. Jadi pria lebih bisa melakukan kontak fisik dengan pacar mereka."


"Itu? Itu apa?" Sunday tidak mengerti.


"Ahh, kau ini bodoh sekali. Berapa nilai pelajaran biologimu saat sekolah? Bukannya kau ini anak IPA?"


"Memang, tapi tidak ada materi semacam itu saat sekolah bahkan tidak dijelaskan dalam bab reproduksi."


"Gurumu pasti tipe seorang pemalu makanya dia tidak menjelaskan secara detail tentang hal itu."


"Ahh, masa bodoh. Itu juga bukan hal penting bagiku." Gumam Sunday.

__ADS_1


"Memangnya kenapa dulu kau dan pacarmu putus?" Suara Faris terdengar serius menanyakan itu.


Sunday tampak berfikir. Apa benar dengan yang dikatakan Faris barusan. Pria menyukai kontak fisik. Sedangkan saat berpacaran dengan Revan dia adalah gadis manis tanpa inisiatif kontak fisik. Bisa dibilang dalam pengalaman berpacarannya, dia hanya mengobrol dan jalan saja. Saat dibonceng Revan pun Sunday tidak pernah memeluk pinggangnya. Saat berjalan tidak pernah bergandengan tangan. Dia menganggap ungkapan cintanya sudah cukup mewakili perasaan yang diberikan kepada Revan. Dan tidak butuh lebih dari itu.


"Hei, kau malah melamun." Suara Faris menyadarkannya kembali. Sunday berdehem sebentar sambil membenahi duduknya.


"Apa yang sedang kau fikirkan. Kau memikirkan mantan pacarmu?" Tebak Faris dan tepat sasaran.


"Ti-tidak... aku hanya sedang berfikir apa ada teori macam itu dalam pelajaran biologi? Sepertinya tidak ada. Itu hanya karanganmu saja." Kilah Sunday.


"Jadi kau masih memikirkan itu? Coba saja lihat di google. Kau akan menemukan fakta-faktanya." Faris menahan tawa dengan masih berkonsentrasi pada jalan di depannya.


Benar saja, malam minggu memang hampir seluruh tempat ramai dipadati para penikmatnya. Sejujurnya Sunday tidak terlalu menyukai keramaian. Ini benar-benar seolah belajar bermalam minggu. Belajar menyukai suasana ramai dan riuh.


Sunday berdiri disudut tempat yang menurutnya aman, aman dari keramaian. Faris sedang mengantri tiket. Sebenarnya Sunday tidak ingin menonton, tapi hari ini ada film baru yang akan tayang dan Faris ingin menontonnya. Jadi, Sunday mengiyakan.


Tempat ini benar-benar ramai. Ada yang bersama teman dan berramai-ramai, ada pula yang bersama pasangan. Entah benar-benar pasangan atau hanya pasangan pura-pura seperti dirinya dan Faris.


"Sunday..." Sapa seseorang. Sunday menoleh ke samping, ke sumber suara. Sunday agak terkesiap melihat gadis yang memanggil namanya.


"Ha-hai..." Sunday agak gugup.


"Kau disini juga?" Sapa gadis cantik bertubuh tinggi itu.


"Iya."


"Baik. Kau?"


"Seperti yang kau lihat. Aku baik. Revan juga. Iya kan, Rev?" Karin menggoyangkan lengan Revan ingin pacarnya itu juga bersuara.


"Iya." Revan menatap Sunday sekilas sambil mengulas senyum lagi.


"Kau sendirian?" Tanya Karin kemudian dengan suara yang diperhalus.


"Tidak, aku bersama seseorang." Hati Sunday mulai berasap melihat pasangan didepannya. Ada rasa sangat tidak suka tapi dia harus bisa menguasai diri agar tidak terlihat lemah.


"Sayang... kemarilah." Sunday melambai pada Faris yang membawa 2 kotak popcorn. Ternyata tidak hanya membeli tiket, ia juga membeli popcorn. Faris yang mendapat panggilan sayang mengerutkan kening merasa heran.


Baru ku tinggalkan sebentar dia sudah menjadi aneh. Apa dia kesambet? Batin Faris sambil terus melangkah mendekati Sunday. Dan setelah dekat ia menyodorkan popcorn ditangannya kepada Sunday.


"Kenalkan. Pacarku." Sunday memberi isyarat kepada Faris untuk menoleh kepada pasangan yang ada di depan Sunday.


"Oh, hai." Faris mengulas senyum pada pasangan itu.

__ADS_1


"Baiklah, filmku sebentar lagi mulai. Kami masuk dulu." Sekali lagi Sunday melakukan aksi diluar nalar dengan menggenggam tangan Faris dan meninggalkan pasangan itu. Merapatkan jarinya diantara jari-jari tangan Faris, bergandengan. Awalnya Faris sempat kaget merasakan tangannya yang sedang digandeng Sunday. Tapi kemudian Faris tahu pasti ini ada hubungannya dengan dua orang yang baru saja diperkenalkan Sunday.


"Kau sedang tidak kesambet kan?" Bisik Faris di telinga Sunday sehingga ia berjalan dengan sedikit membungkuk sambil menjauhi pasangan yang menurut Sunday menyebalkan itu.


"Sudahlah, biarkan kita tetap seperti ini." Sunday menoleh kepada Faris dengan senyum palsunya yang dibuat semanis mungkin. Faris tersenyum kecut dan melanjutkan apa yang diminta Sunday. Sampai memasuki pintu bioskop Sunday masih menggandeng tangan Faris dan melepasnya ketika sudah duduk di kursi masing-masing. Bayangan pada masa lalunya hadir kembali.


Flashback:


"Bagaimana aku bisa menolaknya, Sun. Dia bilang menyukaiku." Ucap Karin waktu itu. Sunday tidak mengatakan apapun. Hatinya sangat sakit.


"Aku memang sudah merebut pacarmu tapi apa aku salah? Kami saling mencintai."


Sunday juga belum mengatakan apapun. Mereka masih duduk berdua di bangku taman sekolah.


"Dan yang kau lihat semalam adalah benar." Bayangan Revan menggandeng tangan Karin di pusat perbelanjaan itu menjelma lagi di depan matanya. Sunday benci mengingat semua itu.


Ia bermaksud membeli sebuah buku di toko buku sebuah mall tapi saat pandangannya menemukan teman sebangkunya dan pacarnya bersama bergandeng tangan membuatnya berfikir macam-macam. Lalu pagi ini Sunday mengatakan apa yang dilihatnya. Dengan tidak ada elakan sama sekali Karin mengiyakan begitu saja apa yang dilakukan dengan pacar sahabatnya.


"Aku pikir kita adalah teman baik, tapi ternyata kau memang tidak sebaik itu." Sunday kemudian meninggalkan Karin dan bersusah payah agar kemarahan tidak menguasai dirinya.


Sepertinya Karin sudah memberi tahu Revan. Begitu Sunday masuk ke kelas dan duduk di bangkunya, Revan menghampiri.


"Maafkan aku, Sun. Aku merasa bersama Karin aku merasa jauh lebih nyaman." Sunday menarik nafas berat menahan diri agar tidak menangis dihadapan pria yang selama setahun ini menjadi pacarnya.


"Kau melakukannya dengan sangat baik. Kami sahabat, dan kau tega melakukan ini padaku." Suara Sunday bergetar menahan marah.


"Kita putus." Sunday segera pergi meninggalkan Revan. Air matanya terburai menyisakan pandangan beberapa siswa lain yang menatap heran ke arahnya.


Sejak saat itu ia meminta temannya untuk bertukar tempat duduk dengannya. Sunday tidak bisa lagi berteman dengan seseorang yang dengan sengaja menyakitinya seperti itu.


Karena pertemuannya dengan pasangan menyebalkan itu, Sunday merasa suasana hatinya berubah buruk. Film yang ada didepannya tidak mampu mengalihkan perhatiannya sama sekali. Hingga film berakhir pun ia belum bisa menguasai perasaannya. Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah lulus dari SMA. Sunday sempat mendengar jika setelah lulus Revan melanjutkan sekolahnya ke luar negeri dan begitu pula dengan Karin. Tapi entah dimana Sunday tidak tertarik untuk tahu. Baginya mereka berdua tidak ubahnya dari dua orang jahat yang tidak memiliki rasa kemanusiaan yang telah tega 'menghabisinya' bersama-sama.


Pintu bioskop terbuka. Sunday masih diam. Faris membiarkannya melakukan itu.


"Kita makan dulu." Ajak Faris.


"Tidak, aku ingin kita pulang."


"Tapi kau belum makan."


"Aku hanya ingin pulang." Mendung diwajah Sunday terlihat semakin gelap. Faris akhirnya menuruti apa yang diinginkan Sunday. Pulang.


Disepanjang perjalanan Sunday tetap diam, tak bersuara sama sekali. Itu sangat mengusik Faris untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya.

__ADS_1


"Jadi, siapa mereka tadi?" Kata Faris memecah kebisuan mereka. Sunday masih diam.


"Apa dia mantan pacarmu?" Faris memperjelas pertanyaannya. Selanjutnya yang ia lihat Sunday menutup wajahnya dengan kedua tangan. Pundaknya terlihat bergerak naik turun tanda ia menangis. Faris menepikan mobilnya. Menarik tubuh Sunday ke dalam pelukannya. Membiarkan gadis itu menangis sesukanya. Terisak dan membasahi kemeja depannya dengan air mata yang mengalir deras. Untuk waktu yang lama Faris akan membiarkan Sunday seperti ini. Faris hanya merasa harus memeluk gadis itu dan membuatnya merasa nyaman dalam tangisnya.


__ADS_2