
Sunday berjalan menuju kelasnya. Kuliah akan dimulai 10 menit lagi. Ditengah langkahnya tiba-tiba ponselnya berdering.
Faris Calling...
"Ada apa?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan ponselmu aktif." Suara Faris terdengar berat khas bangun tidur.
"Kau baru bangun?"
"Iya." Jawab Faris datar
"Ya Tuhan ini sudah jam berapa dan kau baru bangun?"
"Hei, aku baru tiba kemarin. Aku harus menempuh perjalanan dari luar negeri jadi aku masih lelah."
"Alasanmu ada saja. Filipina-Indonesia itu dekat sekali."
"Tetap saja itu adalah perjalanan antar negara."
"Terserah kau lah." Sunday malas berdebat lagi.
"Oh iya, ada apa meneleponku?"
"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mendengar suaramu."
"Kau ini benar-benar kurang kerjaan ya."
"Sudah ku bilang kalau sedang liburan aku selalu kurang kerjaan makanya aku selalu suka mengerjaimu." Suara Faris terkekeh di seberang sana.
"Hei, enak saja. Kau pikir aku ini apa?"
"Aku pikir kau kan pacarku jadi aku akan mengerjaimu sesukaku."
"Oh begitu... jadi kau pura-pura berpacaran denganku agar bisa mengerjaiku?"
"Ya, itu salah duanya."
"Salah satunya?"
"Poin akan dikurangi 10." Faris masih menjawab santai diujung sana.
"Kau pikir ini ujian sekolah?" Faris tertawa.
"Dasar!!! Cari saja gadis lain. Aku berhenti sampai di sini."
"Tidak boleh. Aku maunya kamu."
"Tapi aku tidak mau."
"Terserah, yang penting aku mau. Kau orang yang tepat."
"Kalau begitu Suzan atau Windy saja. Mereka juga masih berstatus mahasiswa." Bujuk Sunday.
"Tidak mau, mereka bukan tipeku."
"Apa pura-pura pun harus ada tipe?"
"Tentu saja, Papi dan Mami tidak akan percaya mereka pacarku kalau mereka tidak seperti tipe gadis yang aku suka."
Logika Sunday mengartikan kalimat Faris sebagai berikut : Sunday dalah tipe gadis yang Faris suka.
Menyadari itu tanpa sadar senyumnya mengembang. Pipinya pasti merona sekarang.
"Kalau begitu kau harus baik kepadaku kalau kau masih ingin aku membantu sandiwaramu."
"Apa selama ini aku kurang baik? Meski mengerjaimu pun aku mengerjai dengan cara yang baik."
"Oh ya? Cara yang baik apanya? Tiba-tiba meneleponku seperti ini tanpa alasan yang jelas kau bilang baik?"
"Hei, alasanku sangat jelas. Aku ingin mendengar suaramu. Aku ingin mengawali hariku dengan sesuatu yang indah. Dan meneleponmu adalah salah satunya."
Seketika hati Sunday bagai kesemutan. Cenat cenut membentuk irama lagu yang dinyanyikan oleh Smash.
"Kau ini daripada meracau tidak jelas lebih baik mandilah sana."
"Kenapa? Apa mendengar rayuanku hatimu jadi senang?"
"Tidak, tidak sama sekali." Sunday berbohong tentu saja. Padahal sejak ia mengangkat telepon tadi hatinya jadi menghangat mendengar suara Faris.
"Oh ya? Tapi aku rasa sekarang kau sedang senyum-senyum malu disana."
"Itu hanya imaginasimu saja." Sunday benar-benar gemas Faris selalu menggodanya.
__ADS_1
"Benarkah? Tapi aku yakin sekali tidak ada satu gadispun yang bisa menolak rayuanku. Mereka akan meleleh ditempat bahkan hanya karena aku tersenyum kepadanya."
"Oh... malas sekali mendengar kenarsisanmu." Sunday mengeluh
"Sudahlah, aku akan masuk kelas. Tutuplah teleponmu."
"Baiklah, jangan lupa untuk selalu memikirkanku dan merindukanku."
"Tidak mau. Itu tidak mungkin kulakukan."
"Kalau begitu aku akan menghipnotismu. Mulai saat ini kau akan memikirkanku terus dan hari-harimu penuh dengan segala hal tentangku."
"Kau ini ada-ada saja. Kau tidak pantas menjadi seorang mentalis." Sunday tergelak.
"Kita lihat saja apa itu berhasil atau tidak."
"Hah, sudah sudah. Aku sudah sampai di kelasku."
"Oke, aku akan terus menterormu dengan berputar-putar difikiranmu."
"Hei, sudah. Tutup teleponnya."
"Iya... iya... baiklah." Samar-samar masih terdengar tawanya saat Faris kemudian menutup telepon. Sunday lalu memasuki kelas. Semua temannya sudah berada di dalam kelas dan hanya tinggal menunggu dosen. Sunday duduk di sisi Windy. Suzan ada di sebelah cendela.
Beberapa menit berlalu dari jam kuliah. Dosen belum datang. Hari ini adalah kuliah yang akan diisi oleh dosen pengganti. Dosen sebelumnya harus menempuh studi di luar negeri jadi akan digantikan oleh dosen lain.
"Kau tahu siapa dosen pengganti kali ini?" Tanya Suzan.
"Tidak tahu." Jawab Sunday dan Windy bersamaan.
"Memangnya kau tau?" Tanya Windy.
"Kalau aku bertanya kepadamu itu artinya aku tidak tahu. Bagaimana sih kau ini. Aku tidak sedang memberikan tebakan." Rutuk Suzan. Windy nyengir. Lalu dari arah pintu seseorang memasuki ruang kelas.
"Selamat pagi, mmm... pagi hampir siang." Kata seseorang yang diduga kuat sebagai dosen pengganti itu."
"Pagi..." Jawab hampir seisi kelas.
"Ya benar, seperti apa yang kalian fikirkan. Saya adalah dosen pengganti untuk mata kuliah Pemrograman Web 2. Dan aku yakin kalian semua sudah sangat mengenal saya, apa sebaiknya saya tidak perlu memperkenalkan diri." Kata dosen baru itu dengan tersenyum.
"Tetap harus perkenalan dong, Pak. Kan kita bertemu di kesempatan yang berbeda dengan kepentingan yang berbeda." Celetuk Suzan.
"Oh begitu. Baiklah... kalau begitu meskipun kalian sudah cukup mengenal tapi saya akan tetap memperkenalkan diri sebagai Victor Abisatya Handoyo. Cukup panggil saja Victor. Saya masih single..."
"Huuuuuu..." Setelah kata single, isi ruangan menjadi riuh. Victor tersenyum lebar mendengar reaksi mahasiswanya. Sunday masih tertegun melihat Victor tiba-tiba berdiri dihadapannya dan sekarang adalah dosen yang mengisi kuliahnya.
Ya benar, begitu saja. Batin Sunday.
Teman-temannya masih riuh saling berbalas komentar dengan Victor yang sekarang adalah dosen. Bertindak seolah Victor adalah dosen baru yang juga baru mereka kenal. Victor yang tidak pandai berbicara di depan orang banyak itu terlihat agak gugup tapi sejauh ini ia menutupinya dengan tersenyum disela menjawab pertanyaan-pertanyaan mahasiswanya yang kadang bernada nyeleneh.
🌸🌸🌸
Kuliah hari ini ditutup Victor dengan tugas pertama darinya. Setelah itu ia meninggalkan kelas yang diikuti oleh mahasiswa di belakangnya yang juga mulai keluar.
"Kau benar-benar tidak tahu Victor menjadi dosen pengganti?" Suzan penasaran.
"Tidak, aku tidak tahu."
"Tapi kau kan hampir setiap hari bertemu dengannya di lab."
"Ya, tapi dia tidak pernah mengutarakan niatnya untuk menjadi dosen. Kau tau, dia itu orang yang sedikit tertutup. Jadi aku tidak begitu akrab dengannya."
"Tidak akrab tapi mengatakan cinta?" Cibir Suzan.
"Ehh, koq kau tahu tentang itu?" Sunday menatap Windy. Windy langsung memasang senyum lebar sambil menunjukkan lambang dua jari tanda damai kepada Sunday.
"Aku hanya tidak tahan untuk berbagi." Windy cengengesan.
"Lagipula aku juga berhak tahu." Suzan cemberut karena sepertinya Sunday merahasiakan itu darinya.
"Bukan begitu, maksudku aku memang belum sempat menceritakannya kepadamu karena memang kita sangat sibuk kan."
"Kita? Hanya kau." Suzan cemberut.
"Ayolah... aku tidak bermaksud begitu."
"Tidak bermaksud apa?"
"Aku tidak akan merahasiakan apapun darimu. Hanya saja aku memang belum sempat." Sunday memeluk bahu Suzan.
"Ayolah, kau terlihat sangat cantik saat marah begini. Itu membuatku semakin jatuh cinta kepadamu." Bisik Sunday sambil menyandarkan kepalanya pada Suzan yang masih dirangkul pundaknya. Tapi kemudian Suzan mendorong Sunday untuk menjauh. Windy yang melihat itu hanya tersenyum. Kedua sahabatnya itu memang lucu.
"Kau pikir aku pasangan lesbianmu. Itu sangat menjijikkan, kau tahu." Sunday lalu terkekeh menyaksikan Suzan yang sedang bergidik.
__ADS_1
"Eh tapi, kalau Victor. Oh maksudku pak Victor sekarang naik level menjadi dosen, lalu siapa laboran penggantinya?"
"Beberapa hari ini yang menjadi laboran adalah laboran dari lab hukum."
"Oh begitu ya?"
"Hmm..."
"Ayo kita kembali ke topik awal." Suzan mendekati Suday lagi.
"Lalu bagaimana kau dengan Victor?"
"Bagaimana apanya?"
"Kau sudah memberikan jawabanmu?"
"Belum, aku belum menerima lembar jawabannya."
"Ahh kau ini." Suzan menepuk pundak Sunday. Sunday pura-pura mengaduh pada pundaknya yang tidak sakit.
"Jadi kau belum memberikan jawaban apapun kepada pak Victor?"
"Bagaimana aku memberi jawaban kalau kami bahkan belum bertemu sejak dia mengungkapkan perasaannya. Kali pertama aku bertemu dengannya lagi adalah waktu kelas tadi. Masa iya aku memberi jawabanku di kelas. Kau mau aku jadi viral gara-gara kejadian itu?" Sunday mengecilkan volume suaranya karena mereka sekarang ada di area ramai, loby fakultas teknik.
"Kau tahu kan kita punya seorang vlogger di kelas."
"Ya, Doni." Jawab Suzan. Windy sekarang sibuk dengan ponselnya. Sepertinya ia sedang berbalas chat.
"Nah, kalau sampai kejadian, besok bisa dipastikan wajahku terpampang di youtube dan akan memiliki viewer yang sebagian adalah warga kampus kita. Bisa ****** aku tiba-tiba jadi artis youtube."
"Ya sudah, mari kita hentikan imaginasimu yang kebablasan itu. Aku hanya ingin tahu sebenarnya bagaimana perasaanmu kepada Victor?"
"Perasaan apa? Aku tidak pernah..." Tidak melanjutkan kalimatnya, Sunday terpaku pada seseorang yang berdiri sendirian di depan loby. Ia seperti sangat mengenal gadis itu.
"Sebentar, aku ke sana dulu."
"Kemana?" Sunday tidak menjawab. Ia hanya menuju ke depan loby. Suzan yang sedang duduk di bangku panjang dibawah tangga loby pandangannya mengikuti arah Sunday pergi. Windy juga.
"Mau ke mana dia?" Suzan mengangkat bahu.
"Kak Rima..." Sapa Sunday. Rima membalikkan badannya dan sempat terkejut melihat Sunday ada di dekatnya.
"Su-sunday? Kau kuliah di sini?" Rima terlihat kaget dan sedikit gugup.
"Iya..." Jawab Sunday dan baru ia akan menanyakan perihal kepentingan Rima dikampusnya, pak Herman menghampirinya.
"Ayo..." Ajak pak Herman yang langsung menggandeng tangan Rima. Tapi lalu ia menoleh kepada Sunday yang berdiri di samping Rima.
"Oh Sunday." Menyadari Rima dan Sunday terlihat bersama, Pak Herman memastikan.
"Kalian saling mengenal?"
"Iya." Jawab Sunday. Rima masih diam.
"Wah kebetulan sekali. Kalian kenal dimana?"
"Dia... teman Faris." Jawab Rima.
"Benarkah? Wah kebetulan sekali. Oh, aku tahu, waktu itu aku bertemu dengannya di sini dan dia bilang menunggu pacarnya. Apa itu kau yang dimaksud?" Pak Herman tersenyum lebar sedikit menggodanya.
"Ahh, tidak. Bukan begitu. Kami hanya berteman." Sunday menyangkal.
"Jadi, Pak Herman dan Kak Rima bisa bersama di sini karena..." Terus terang Sunday sangat penasaran dengan mereka berdua. Saat mengajak Rima tadi bagaimana bisa Pak Herman langsung menggandeng tangannya. Apa seorang teman bisa sedekat itu?
"Dia ini tunanganku."
"Oh ya???" Sunday terkejut hingga tanpa ia sadari meninggikan volume suaranya dan membuat beberapa orang disekitarnya yang sedang melintas jadi menoleh mencari sumber suara. Rima tampak menundukkan wajahnya.
"Wah, selamat, Pak."
"Selamat?" Herman heran dengan tingkah Sunday.
"Selamat atas pertunangan kalian."
"Pertunangan? Ini tahun kedua kami sebagai tunangan."
"Benarkah? Aku pikir kalian baru saja bertunangan." Sunday melirik tajam kepada Rima yang wajahnya sudah pucat. Sunday seperti meminta penjelasan atas apa yang Rima dan Faris lakukan selama ini.
Bukankah saat itu Faris memintanya menjadi pacar pura-pura karena untuk menolak perjodohannya dengan Rima? Lalu kalau Rima saja sudah bertunangan dengan Herman selama 2 tahun, bagaimana mungkin Faris dan Rima bisa bertunangan? Sunday benar-benar berfikir keras tentang hal itu dan sepertinya Rima menyadarinya.
"Baiklah, Sun. Kita pergi dulu ya..." Pamit Rima yang segera menarik pergi Herman dari tempat itu. Sunday mengangguk. Tapi yang ia tangkap dari wajah Rima adalah dia ingin menghindari Sunday.
Apa yang sebenarnya terjadi? Rima adalah tunangan Pak Herman. Tapi kata Faris waktu itu... Lalu yang benar bagaimana? Kenapa ini jadi memusingkan?
__ADS_1
Sunday merasa harus menanyakannya kepada Faris. Harus. Dia harus tahu tentang yang sebenarnya terjadi. Atau dia akan menjadi orang bodoh diantara Faris dan Rima.
Sunday menekan nomor Faris tapi nada di sambungan ponselnya sedang sibuk. Sunday mencobanya lagi dan masih tetap sama. Ia benar-benar tidak tahan dan ingin sekali segera mendapat penjelasan Faris tentang 'kejutan' yang dibawa Rima untuknya hari ini.