Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
CPR


__ADS_3

Sunday minggalkan Faris ditempatnya dan menuju ke cafetaria dimana teman-teman satu timnya sedang makan siang. Sunday duduk si meja dekat teman-temannya makan.


"Hei Sun, makanlah. Agar perlombaan berikutnya kau lebih bersemangat." Pak Dedi yang pertama kali menyadari kedatangannya.


"Iya Pak." Jawab Sunday santai.


"Pesanlah makananmu segera sebelum jam istirahat berakhir. Setelah ini kita harus mengikuti lomba berikutnya."


"Apa lomba berikutnya?" Tanya Sunday.


"Lomba makan kerupuk gendong." Jawab Lita.


"Oh..." Ekspresi Sunday datar lalu dia memesan bakso untuk kemudian dibawa kembali bergabung dengan teman-temannya.


Sunday membumbui bakso ala dirinya. Tanpa saos, tanpa kecap, sedikit jeruk nipis dengan sambal sesuai seleranya. Saat diaduk bakso didepannya menyebarkan aroma yang luar biasa sedap. Sunday merasa bakso di sini semakin ke sini semakin memiliki cita rasa yang sempurna. Berbeda dengan saat kali pertama Sunday mencobanya saat masih menjadi pegawai baru.


Sedang bersemangat Sunday menikmati bakso ketika Faris duduk disampingnya dan tiba-tiba meraih tangan Sunday yang sedang memegang garpu berisi bakso lalu menyuapkan ke dalam mulut Faris.


"Hei, kau ini apa-apaan?" Sunday reflek memukul bahu Faris. Teman-teman di meja sampingnya menoleh. Mereka seketika memasang wajah aneh melihat kedekatan Sunday dan Faris, kecuali Lita. Sunday berdehem untuk menutupi kesalah tingkahannya.


"Pak Faris, akan saya pesankan sendiri untuk Anda." Ujar Pak Dedi yang melihat Faris merebut kembali bakso dari tangan Sunday dan Sunday tampak keberatan.


"Tidak usah, Pak. Saya harus menjaga porsi makan Sunday agar tidak terlalu banyak makan." Ujar Faris sambil terkekeh. Sunday melotot. Bagaimana bisa dia melakukan itu padanya.


"Sudahlah, pesan sendiri makananmu. Jangan ganggu selera makanku." Bisik Sunday kepada Faris.


"Kau jangan terlalu kenyang, setelah ini kau harus makan semua kerupuknya dan juga agar aku tidak terlalu berat saat menggendongmu l." Faris menyendokkan lagi bakso dan memasukkan ke dalam mulutnya.


"Aku?" Sunday seperti tidak faham.


"Ya."


"Bukankah pertandingan kerupuk adalah bagian Lita dan Boby?"


"Tidak, Lita harus melakukan sepeda air nanti."


"Oh Tuhan..." Sunday menangkupkan kedua tangan ke wajahnya. Lita yang melihat itu jadi heran.


"Ada apa, Sun?"


"Kau mau bertukar lomba kerupuk?" Tanya Sunday.


"Kau bilang tidak bisa berenang. Jadi bagaimana bisa kau yang menggantikan aku bersepeda air?"


"Ahh iya..." Sunday menundukkan kepalanya dalam-dalam. Lita hanya tersenyum.


"Sudah, terima saja nasibmu." Ujar Faris sambil menyeringai. Sunday menatapnya tajam.


"Kenapa harus denganmu pertandingan kerupukku?" Bisik Sunday lagi.


"Kau pikir aku akan membiarkan orang lain menggendongmu? Jangan harap." Faris mengunyah bakso lagi. Sunday jadi mengerti. Faris memang mempunyai totalitas tinggi dalam berbagai hal. Termasuk saat dia harus total untuk menjadi posesif terhadapnya.


"Ngomong-ngomong, berapa banyak sambal yang kau masukkan ke dalam mangkukmu?"


"6 sendok." Jawab Sunday cuek. Faris yang mulai merasakan mulutnya terbakar berubah panik karena minuman di meja sudah semuanya di teguk oleh Sunday. Akhirnya Faris setengah berlari menghampiri showcase dan mengambil sebotol minuman ringan. Meneguknya hampir habis untuk menghilangkan sensasi pedas luar biasa pada mulutnya. Sunday yang melihat itu hanya bisa menahan tawa.


"Siapa suruh memakan makanan orang lain tanpa permisi." Gumam Sunday memandang Faris di ujung matanya.


Jam istirahat berakhir. Kompetisi akan dilanjutkan kembali. Sebagian besar peserta sudah mulai bersiap di garis start. Sunday dan Faris sudah berdiri berjajar dengan peserta lain. Gina juga ikut dalam perlombaan kerupuk gendong ini. Ia bersama rekan satu divisinya juga terlihat berdiri beberapa langkah dari tempat Sunday dan Faris. Pandangannya tidak lepas sama sekali dari arah Sunday berada.


Wasit tampak memberikan pengarahan tentang peraturan perlombaan. Hingga dirasa semua peserta faham, wasit segera mulai melaksanakan tugasnya memimpin pertandingan.


"1... 2... 3..." seketika Sunday melompat ke punggung Faris yang sudah merendahkan badan sebelumnya. Setelah berada pada tempat yang tepat, Faris segera membawa Sunday ke tempat kerupuk-kerupuk itu digantung. Peserta yang lain juga melakukan hal yang sama. Gina tidak mau kalah dan secepatnya memakan krupuk-krupuk di atasnya sambil mendongak.


Faris mencoba menahan berat badan Sunday dan menjaga agar tubuhnya tetap seimbang sehingga Sunday bisa tenang memakan kerupuk-kerupuknya. Masih ada sisa krupuk saat pembawa acara mengatakan bahwa sudah ada yang berhasil menghabiskan krupuk. Sunday melirik ke sebelahnya dan mendapati Gina bersorak senang karena menjadi yang pertama berhasil menghabiskan kerupuknya.


Akhirnya Sunday menarik kerupuk itu dengan tangannya dan meminta Faris menurunkannya. Selanjutnya Sunday melanjutkan memakan kerupuknya sambil berjalan menepi dari arena. Dari tepi arena Sunday melihat Gina mendekati Faris yang juga berjalan menuju tepi. Entah apa yang ia sampaikan kepada Faris tapi Sunday yakin itu pasti hanya usaha Gina untuk bisa bersama Faris saja.


Kemudian Sunday berjalan ke tempat dimana teman-teman satu timnya berkumpul. Tampak Lita sedang melakukan peregangan dengan menggerakkan badannya asal.


"Kau siap?" Tanya Sunday setelah ada di dekat Lita.

__ADS_1


"Ya, tentu saja." Lita masih dengan menggerak-gerakkan badannya.


"Semoga berhasil." Sunday menepuk pundak Lita lalu duduk di rerumputan tidak jauh dari tempat Lita berdiri. Faris tiba-tiba duduk di sebelahnya. Sunday meliriknya sebentar tanpa ingin menyapa.


"Kapan-kapan ku ajari kau berenang."


"Tidak perlu. Aku tidak hidup di air dan aku cukup senang hidup di darat." Jawab Sunday asal.


"Kau ini, suka sekali membantah."


"Masa bodoh." Gumam Sunday dan membuat Faris gemas melihat kecuekannya itu.


Lomba sepeda air sudah hampir dimulai. Semua peserta sudah bersiap di tepi kolam renang. Lita dan Boby juga sudah bergabung dengan peserta yang lain. Saat pemandu acara mengatakan mulai, maka peserta pertama mulai mengayuh sepeda di lintasan sempit di atas kolam. Dan setelah beberapa meter mengayuh, sepeda tercebur ke dalam kolam. Sorak sorai semua orang menjadi rium.


Beberapa peserta sudah melakukan tugas mereka dan tidak ada satupun yang berhasil, Lita bahkan Boby pun tidak bisa menjangkau dan hanya mampu mengayuh beberapa kali kayuh saja. Lita yang basah kuyup keluar dari kolam renang. Sunday menyodorkan handuk untuk mengeringkan tubuhnya.


"Kau tahu, itu lebih sulit daripada membuat desain project berbasis mobile." Gerutu Lita. Sunday tertawa kecil menanggapi omongan Lita.


"Yang terpenting kau sudah berusaha. Aku bahkan tidak bisa memenangkan lomba makan kerupuk."


"Ahh, kau bahkan lebih parah dariku." Lita mencibir. Sunday terkekeh.


Kali ini giliran Gina unjuk kebolehannya. Dengan percaya diri dia berdiri di atas sepeda di tepi kolam. Tampak sedang berkonsentrasi memandang lintasan kecil di depannya. Setelah pemandu memberi aba-aba, Gina mulai mengayuh sepedanya menaiki lintasan untuk menyeberangi kolam. Tapi hampir setengah perjalanan Gina gagal dan tercebur ke dalam kolam. Suasana kembali riuh. Peserta berikutnya juga sudah mulai bersiap-siap. Tapi Gina tidak juga muncul ke permukaan. Itu membuat semua orang penasaran dengan apa yang terjadi. Pemandu acara memanggil nama Gina tapi ia tidak muncul juga.


Faris mulai terlihat panik dan ikut memanggil namanya di tepi kolam. Tapi nihil. Gina tidak segera keluar. Sunday jadi ikut khawatir. Semua orang pun panik. Tanpa pikir panjang Faris menceburkan diri ke dalam kolam untuk mencari Gina. Beberapa saat suasanan hening. Sunday sampai menghemat nafas karena melihat Faris pun belum muncul dari dalam air.


Dan beberapa detik kemudian Faris menampakkan puncak kepalanya. Sunday bernafas lega. Dilengan kanannya ia menggandeng leher Gina lalu membawanya ke tepi. Dengan dibantu beberapa orang Gina diangkat ke atas kolan renang. Faris sangat khawatir. Ia mencoba memberikan pertolongan pertama pada Gina dengan menekan dada Gina agar jantungnya bisa kembali terpompa. Gina belum juga membuka matanya dan masih terkulai lemah. Faris masih berusaha menyadarkan Gina dengan berbagai cara tapi belum berhasil. Akhirnya ia mencoba untuk memakai teknik CPR lebih lanjut yaitu membuka saluran pernafasan dengan mendongakkan kepala Gina. Tapi itu masih belum berhasil. Lalu perlahan Faris menundukkan wajahnya ke wajah Gina yang masih belum sadarkan diri. Melihat itu rasa khawatir Sunday berubah menjadi perasaan panik setelah ia berhasil membaca isi pikiran Faris.


"Tunggu..." Sunday berlari menghampiri Faris. Faris sontak memalingkan wajahnya kepada Sunday.


"Tunggu... tunggu dulu..." Sunday sudah ada di samping Gina sekarang. Semua orang jadi bingung melihat tingkah Sunday.


"Biar aku yang melakukannya."


"Apa?"


"Ya, aku yang akan melakukan CPR. Kau minggirlah." Sunday menarik tubuh basah Faris untuk menjauhi Gina. Faris beranjak dari tempatnya.


Sunday mendekati Gina dan menekan bagian dada Gina seperti yang ia tahu saat mengikuti pelatihan di pramuka. Selanjutnya Sunday bermaksud untuk memberikan nafas buatan. Sunday sudah mendekatkan wajahnya ke wajah Gina saat tiba-tiba Gina menyemburkan air ke wajah Sunday dan mulai tersedak serta terbatuk-batuk. Sunday bernafas lega. Gina sudah kembali tersadar.


"Bagaimana, Gin?" Faris ganti bertanya. Gina hanya menggelengkan kepalanya lemah tanpa bicara apapun. Sunday lalu memanggil tim medis untuk membawa Gina ke klinik dengan membawa tandu.


Gina sudah dibawa oleh tim medis. Kerumunan pegawai dan peserta lomba mulai membubarkan diri. Acara dilanjutkan kembali. Sunday meletakkan handuk di pundak Faris dan bermaksud pergi tapi Faris menahan dengan menarik tangan Sunday.


"Terima kasih." Faris memamerkan senyumnya.


"Kenapa?" Sunday mengerutkan kening.


"Aku tidak harus merasa bersalah jadinya."


"Apa yang kau bicarakan?" Faris tidak segera menjawab tapi hanya menyunggingkan senyum penuh arti.


"Hahh, aku tahu sebenarnya kau juga ingin kan?" Cibir Sunday sambil berjalan pergi. Faris mengikutinya.


"Aku tahu kau tidak ingin aku mencium Gina, bukan?" Faris menggoda Sunday


"Aku tidak berfikir begitu." Sunday mengelak.


"Lalu, kenapa mencegahku saat aku akan memberikan nafas buatan padanya?"


"Aku tidak bermaksud mencegahmu tapi cara yang kau lakukan salah jadi daripada malah membahayakan Gina, lebih baik aku yang melakukannya."


"Oh ya? Apa kau sehebat itu? Apa kau anggota tim SAR?"


"Hei, aku pernah mendapatkan pelatihan saat pramuka."


"Benarkah, kapan itu? Bukankah itu sudah sangat lama."


"Tapi aku terlalu cerdas untuk melupakannya begitu saja."


"Iya iya... baiklah aku percaya." Faris mengembalikan handuk yang sudah dipakai mengeringkan rambut basahnya.

__ADS_1


"Ayo kita lihat Gina." Ajak Faris, Sunday mengikutinya.


Gina berbaring di tempat tidur klinik dengan seorang dokter memeriksanya. Lalu setelah dokter itu pergi dan memastikan Gina baik-baik saja, seorang perawat datang membawa baju pasien klinik untuk dipakai Gina mengganti pakaiannya yang basah.


"Mari saya bantu mengganti baju Anda." Perawat itu menawarkan diri.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Jawab Gina sambil menyahut tumpukan baju ganti di tangan perawat. Ia akan membuka baju basahnya tapi perawat masih berdiri di sana.


"Hei, kau mau melihatku berganti baju?" Gina memelototi perawat itu.


"Oh maaf, saya akan pergi. Jika butuh sesuatu, silakan panggil saja saya."


"Iya, sudah pergilah." Gina mengibaskan tangannya menyuruh perawat itu pergi sambil menutup gorden yang menutupi ranjang pasien tempat Gina berganti baju. Hatinya dongkol. Hampir saja ua berhasil membuat Faris menciumnya tapi Sunday malah mengacau dengan mencegahnya.


"Untung saja aku cepat tanggap, kalau tidak Sunday yang akan mencuri ciumanku dari Faris. Bisa-bisanya dia mau menggantikan Faris memberiku nafas buatan. Memangnya wanita mana yang mau dicium oleh wanita lain. Huhh, dasar perusak rencana." Gumam Gina kesal sambil mengganti bajunya.


"Gina..." Faris memasuki ruang perawatan Gina. Gina yang baru saja mengganti pakaiannya segera berbaring dan pura-pura tidur. Ia lempar baju basahnya ke bawah kolong tempat tidur. Faris lalu menyibak tirai penutup tempat tidur Gina. Saat itu untuk yang kesekian kali Gina kecewa, dibelakang Faris ternyata ada Sunday.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Aku merasa akan mati." Keluh Gina.


"Apa yang kau katakan. Kau baik-baik saja sekarang." Faris duduk ditepi tempat tidur Gina. Sunday duduk di tempat tidur kosong di samping tempat tidur Gina.


"Kenapa kau tiba-tiba tenggelam? Bukankah kau jago berenang?"


"Entahlah, aku tiba-tiba kram saat jatuh tadi."


"Baiklah, kalau begitu istirahatlah." Faris membenarkan selimut Gina.


"Jangan pergi." Gina menarik tangan Faris saat Faris hendak beranjak. Sunday memalingkan wajahnya saat melihat itu. Menyebalkan melihat Gina yang sok manja begitu.


"Ya, aku tidak akan pergi." Faris kembali duduk. Sunday mulai jengah lalu ia berdiri dari tempat duduknya.


"Kau mau ke mana?" Tanya Faris.


"Aku akan keluar dulu." Tanpa menunggu kata berikutnya dari Faris, Sunday melangkah pergi.


Sunday menutup pintu ruang perawatan Gina. Ia malas sekali melihat Gina bersikap manja kepada Faris seperti itu. Dia selalu tahu caranya membuat Sunday cemburu. Sunday membeli sebotol minuman di cafetaria dan membawanya keluar. Semua perlombaan sudah selesai. Hari sudah gelap. Puncak acara malam ini adalah penyerahan hadiah dan pentas seni. Tapi acara belum akan di mulai. Jadi Sunday memutuskan untuk duduk di bangku panjang taman Font. Meminum minumannya berharap hatinya yang dongkol bisa sedikit terobati.


Taman Font sudah sepi. Pentas seni akan digelar di sisi lain tempat parkir jadi pusat aktivitas sudah berpindah ke sana sekarang.


"Apa yang kau lakukan di situ?" Suara Faris mendekat. Sunday menoleh ke arah Faris.


"Kenapa kau ada di sini? Nanti Gina mencarimu." Ujar Sunday dingin.


"Dia harus beristirahat, jadi ku tinggalkan dia agar bisa tidur."


"Bukankah dia ingin kau temani."


"Tapi aku lebih ingin menemani seseorang yang sedang kesepian di sini."


"Dari mana kau tahu aku ada di sini?"


"Kau tidak tahu, aku sudah menanamkan GPS di tubuhmu jadi dimanapun kau berada aku pasti tahu keberadaanmu."


"Oh ya? Kapan?" Sunday menautkan alisnya mendengar kekonyolan Faris.


"Saat aku mencium keningmu." Mendengar kalimat Faris seketika wajah Sunday memerah dengan sensasi kupu-kupu timbul lagi di lambungnya. Belum hilang sensasi itu, tiba-tiba Faris berbaring dengan menggunakan pangkuan Sunday sebagai bantalnya.


"Hei, apa yang kau lakukan? Nanti akan ada yang melihat." Sunday terkesiap.


"Biarkan aku seperti ini." Sunday melihat wajah Faris dibawahnya.


"Kau tahu, aku selalu ingin melihat wajahmu dari sudut ini. Aku bosan melihatmu dari sisi atas." Faris tersenyum melihat wajah gugup Sunday dipandang seperti itu.


"Kau lebih cantik dilihat dari sini." Faris mendongakkan wajahnya.


"Kau ini apa tidak bisa sebentar saja tidak merayuku."


"Aku tidak merayu, aku berkata jujur." Sunday menahan senyum agar Faris tidak semakin menggodanya. Tapi hatinya menghangat. Faris selalu tahu bagaimana cara membuat Sunday merasa tersipu.

__ADS_1


"Jangan pergi walau apapun yang terjadi. Jangan terpengaruh apapun dan siapapun sehingga kau punya alasan harus meninggalkanku."


"Apa maksudmu?" Sunday memandang Faris dipangkuannya. Faris membalasnya dengan tatapan lembut khas ala dirinya, yang membuat jantung Sunday berdetak berisik.


__ADS_2