Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Pernikahan


__ADS_3

"Bu Sunday, ini bagaimana?" Seorang anak berseragam putih merah memanggilnya. Sunday yang membantu murid lain di depannya lalu mendekati murid wanita berkepang dua dengan pipi chubi itu.


"Iya Tasya..." Sunday melihat ke layar monitor dihadapan murid wanita itu.


"Oh, untuk membuat lingkaran gunakan yang ini ya." Sunday menunjuk menu bar dengan kursornya. Murid yang bernama Tasya itu mengangguk mengerti.


Sunday berjalan memutari kelas komputer pagi ini. Hari ini ia harus mengajar anak kelas 4 SD untuk mata pelajaran TIK, Teknologi Informasi dan Komunikasi. Hari ini Sunday memberi materi menggambar menggunakan aplikasi Paint. Karena bagaimanapun juga dasar penggunaan komputer itu tidak melulu tentang microsoft office. Yang pemakaiannya sering pada microsofr word, exel atau power point. Belajar mengasah kemampuan grafis bisa sejak dini diajarkan dengan menggambar menggunakan Paint. Memperkenalkan bentuk dan garis, menggabungkannya menjadi sebuah gambar.


Murid-murid yang Sunday ajar tampak antusias. Ini adalah materi ketiga menggunakan Paint. Murid-murid sudah mulai bisa menggabungkannya menjadi bentuk menyerupai benda-benda dan binatang. Seperti kali ini Sunday yang memberikan tugas dengan tema sekolah menggunakan Paint. Ada yang menggambar buku, pensil, penghapus, tas dan beberapa perlengkapan sekolah lainnya. Meskipun baru kelas 4 tapi murid-murid jaman sekarang memang murid milenial. Mereka mudah sekali memahami dan mengimplementasikan apa yang diajarkan oleh Sunday. Walaupun bentuk yang dibuat belum sepenuhnya bagus dan benar, tapi paling tidak murid-muridnya mulai tahu bagaimana cara menggambar dengan aplikasi Paint.


Sebenarnya di sekolah ini ia mengajar komputer mulai dari kelas 4 hingga kelas 6 saja. Seminggu hanya butuh 1 kali pertemuan untuk masing-masing kelas. Jadi dalam satu minggu Sunday mempunyai jadwal mengajar sebanyak 3 hari.


Bagaimana Sunday bisa tiba-tiba menjadi guru komputer awalnya tidak pernah Sunday impikan sebelumnya. Dirinya yang adalah lulusan Teknik Informatika tentu saja berharap bisa bekerja sesuai bidang yang ia tekuni dibangku kuliah. Menjadi programer adalah bagian dari tujuannya belajar ilmu yang berhubungan dengan teknologi dan informsi itu. Tapi setelah memasukkan beberapa lamaran di perusahaan-perusahaan incarannya ternyata dirinya belum menjadi pelamar yang beruntung. Persaingan di dunia kerja zaman sekarang sangatlah ketat.


Oleh karena itu Sunday sempat menjadi pengangguran selama beberapa waktu. Selama itu setiap pagi ia menjadi ojek mamanya yang mengantarkan ke sekolah. Lalu saat pulang Sunday akan menjemputnya kembali. Jam diantara mamanya mengajar ia habiskan untuk melakukan hal-hal seperti memantau lowongan di koran-koran, grup-grup di media sosial tentang job fair atau kalau sedang stuck ia akan menghabiskan waktunya dengan hanya bersantai saja di rumah atau kedai es krim langganannya.


Lalu tibalah di sekolah mamanya seorang guru TIK lulus dalam ujian seleksi pegawai negeri. Jadilah guru itu mendapat tugas mengajar ditempat lain. Sehingga mama Sunday akhirnya menyuruh untuk melamar menjadi guru komputer di sekolah mamanya.


"Guru komputer di SD? Aku kan bukan lulusan ilmu keguruan, Ma."


"Ini hanya mengajar anak-anak SD jadi tidak harus memiliki ijazah keguruan. Lagipula kau kan juga tidak berniat menjadi guru selamanya. Mama hanya kasihan saat melihatmu hampir mati bosan karena tidak punya pekerjaan dan menjadi pengangguran." Omel mamanya saat sunday sepertinya menolak kesempatan baik itu.


"Tapi masa iya jadi guru SD? Lucu sekali ini, Ma."


"Kalau kau tidak mau ya sudah biar diisi oleh orang lain saja. Masih banyak pengangguran di luar sana yang butuh pekerjaan."


"Guru SD lho ini, Ma."


"Jangan fikirkan berapa gajimu tapi fikirkan kesehatan fikiranmu."


"Kenapa dengan fikiranku?"


"Kalau terlalu lama otakmu kau biarkan vacum bisa-bisa volumenya berkurang."


"Ahh, mama ada-ada saja." Sunday bergelayut pada lengan mamanya.


"Ya terserah kamu."


"Tapi kalau aku menerima pekerjaan ini berarti nepotisme dong, Ma."


"Kau ini sudah jadi pengangguran tapi masih sempat cerewet juga. Terserahlah..." Setelah itu kebisuan menyelimuti mereka berdua. Sunday masih bersandar dipundak mamanya. Suasana sore terasa semakin sejuk. Dua wanita beda usia itu masih sibuk dengan fikirannya masing-masing sampai mama Sunday mulai membuka suara lagi.


"Sun, seandainya mama menikah lagi bagaimana?"


Seketika Sunday mengangkat kepalanya lalu memandang wajah mamanya lekat. Dipandang seperti itu mamanya jadi salah tingkah.


"Mama mau menikah?"


"Mama bilang seandainya."


"Tidak tidak... ini pasti lebih dari sekadar seandainya. Om Rudi melamar mama?" Sunday mengintrogasi.


Melihat On Rudi yang selama ini selalu mendekati mamanya dan sepertinya dengan tulus mencintai mamanya, Sunday yakin kali ini mamanya luluh dengan usaha Om Rudi. Selama hampir 2 tahun Om Rudi berteman kembali dengan mamanya, mereka seperti mulai saling menjalin hubungan. Mamanya juga seperti sedikit demi sedikit mulai membuka hati. Tentu saja itu juga karena dukungan penuh dari Sunday yang ingin mamanya menikah lagi. Ia ingin mamanya bahagia merasakan cinta yang menjadi obat ketika kala itu hatinya dipatahkan oleh Papanya. Apalagi melihat kegigighan Om Rudi yang berusaha meyakinkan mamanya bahwa ia tidak akan mengecewakannya membuat Sunday merasa Om Rudi sepertinya orang yang tepat untuk mamanya.


"Iya..." Jawab mamanya dengan wajah tersipu.


"Ya Tuhan, Mama. Selamat yaa..." Sunday lalu memeluk mamanya.


"Mama menerimanya?" Sunday melepas pelukannya.


"Entahlah, aku kan harus bertanya pendapatmu."


"Ma... aku pasti setuju. Aku kan mak com..." Tidak melanjutkan kalimatnya, Sunday malah menutup mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya.


"Apa? Mak comblang maksudmu?" Mamanya menyipitkan mata menyelidik.

__ADS_1


"Bukan, bukan itu maksudku."


"Dasar kau ini. Tega-teganya mencomblangi mamanya sendiri." Sambil memencet hidung Sunday sampai ia mengaduh.


"Habisnya kalau tidak begitu mama tidak akan memberi respon apapun seperti sebelum sebelumnya."


"Kau ini..." Mama Sunday hampir memukul gemas Sunday tapi ia urungkan niatnya.


"Tapi aku sangat senang akhirnya mama bisa jatuh cinta lagi." Sunday memeluk mamanya dan dibalas dengan belaian di rambut Sunday oleh mamanya.


"Mama juga tidak menyangka bisa mengalami ini lagi. Padahal usia mama sudah tidak muda lagi." Mama Sunday sekarang memeluknya juga.


"Tapi apa pantas Mama menikah lagi saat sudah tua begini?"


"Siapa bilang mama tua? Mama masih secantik ini." Sunday mendongak memandang wajah mamanya masih dengan menyandarkan kepala di dada mamanya.


"Aku ingin mama hidup normal, memiliki pasangan dan berbahagia."


"Mama sudah cukup bahagia memilikimu."


"Tapi mungkin akan sangat membahagiakan bisa menua bersama seseorang."


"Kau ini seperti sudah pernah mengalaminya saja."


"Entahlah Ma, tapi sepertinya itulah kehidupan yang diimpikan banyak orang." Sunday mempererat pelukannya.


Dan malam ini adalah malam dimana mama Sunday melepas masa single-nya. Setelah mamanya mengatakan iya kepada Om Rudi, tidak butuh waktu lama untuk melangsungkan pernikahan. Mereka bukan pasangan muda jadi tidak butuh banyak persiapan. Akad nikah juga akan dilaksanakan di rumah Sunday. Tamu yang hadir hanya keluarga dekat dan tetangga sekitar saja. Tidak ada acara resepsi apalagi ritual adat dan kepengantinan. Semua dilakukan dengan sangat sederhana.


Sunday masih mendapatkan riasan saat Victor meneleponnya.


"Kau sudah selesai apa belum?"


"Sebentar, 5 menit lagi."


"Cepatlah..." Setelah itu Victor menutup teleponnya. Tak lama kemudian Mama Sunday muncul dari arah pintu.


"Iya Ma, ini tinggal merapikan sedikit." Mamanya juga lalu pergi.


Karena hampir semua persiapan Sunday yang mengurus, akhirnya ia terlambat untuk wajahnya di make up. Mulai dari dekorasi ruangan hingga hidangan, hampir semuanya Sunday yang mengatur. Mamanya sebagai pengantin hanya boleh tahu beres saja. Sunday senang melakukan semua itu. Apa yang dilakukannya ini belum sebanding sengan semua yang diberikan mamanya kepadanya. Sebenarnya Sunday tidak mau wajahnya dirias tapi karena mamanya memohon dengan alasan nanti fotonya bersama pengantin akan jelek kalau tidak bermake up jadinya Sunday pasrah saja. Demi mamanya hari ini Sunday mau menjadi apa saja, asal mamanya bahagia. Karena setelah ini selain membahagiakan Sunday, mamanya juga memiliki tanggung jawab lain membahagikan suaminya juga, Om Rudi.


Sunday keluar dari kamarnya dan melihat pengantin pria sudah duduk di depan penghulu. Mamanya keluar dari kamarnya setelah dijemput Sunday dan diantar ke sisi Om Rudi. Mereka sempat saling pandang lalu sama-sama merona tersipu. Sungguh pemandangan yang menenangkan bagi Sunday. Melihat mamanya sebahagia itu ia berharap selamanya mamanya semoga selalu bahagia. Setelah mamanya duduk, Sunday mengambil duduk di belakang mamanya. Disebelahnya adalah Victor yang telah lebih dulu ada disana.


"Kau cantik." Bisik Victor.


"Aku tidak pernah tidak cantik." Jawab Sunday narsis. Victor memalingkan wajahnya mengejek. Sunday cuek seperti biasanya.


Acara pun dimulai. Dan dengan satu tarikan nafas mama Sunday sudah resmi menjadi istri Om Rudi. Sunday bahagia dan terharu. Setelah sekian lama akhirnya mamanya bersedia dinikahi oleh seseorang. Setelah papanya pergi akhirnya mamanya bisa jatuh cinta lagi. Jatuh cinta pada orang yang tak terduga kata mamanya. Bagaimana tidak, Om Rudi adalah teman lamanya yang bahkan sebelum mengenal papanya sudah lebih dulu mengenal Om Rudi. Tapi takdir memang selalu lebih berkuasa. Tidak pernah ada rasa dan hanya berteman saja, sekarang saat sudah sama-sama pernah mengalami kegagalan berumah tangga mereka kembali dipertemukan dan malah saling jatuh cinta.


Om Rudi adalah pria yang istrinya meninggal karena kanker rahim stadium akhir. Selama bertahun-tahun pernikahan dengan almarhum istrinya ia tidak dikaruniai anak karena kanker yang diidap oleh istrinya. Selama kesendiriannya itu pula ia tidak pernah berusaha menjalin hubungan dengan siapapun. Tapi saat bertemu mama Sunday lagi waktu itu, ia pernah menceritakan kepada Sunday bahwa ia seperti kembali ke masa mudanya. Seperti menemukan kembali kebahagiaan yang sudah lama tidak dirasakannya yaitu jatuh cinta lagi.


"Entah ini puber kedua atau apa, tapi bertemu mamamu aku merasa seperti lebih bersemangat lagi menjalani hidupku." Om Rudi tertawa ringan menceritakan isi hatinya kepada Sunday.


"Mungkin Om sudah jatuh cinta kepada mama?" Sunday menggodanya.


"Oh mungkin saja." Pandangan mata Om Rudi berbinar memandang Sunday.


"Itu juga yang membuatku penasaran. Dan sepertinya memang itu yang aku rasakan. Tapi mungkinkah pria setua ini masih bisa mengalami jatuh cinta?"


"Jatuh cinta itu milik semua orang, tidak memandang usia, Om. Dan cukup normal juga untuk Om mengalaminya."


"Ya benar... kau benar sekali, Sun. Tapi apa mamamu juga merasakan hal yang sama?"


"Entahlah Om. Tapi waktu itu Om bilang akan berusaha keras jadi jangan patah semangat juga untuk mendapatkan hati mama ya." Sunday tersenyum lebar sambil mengepalkan kedua tangan memberi semangat.


Acara yang berlangsung sederhana itu kini selesai. Beberapa tamu tampak pamit untuk pulang. Tinggal beberapa keluarga dari pihak mama Sunday dan om Rudi yang tersisa. Itu pun hanya beberapa orang saja.

__ADS_1


"Mari kita melakukan foto keluarga." Celetuk Om Rudi tiba-tiba.


"Bukankah kita berencana untuk sekalian membuat foto keluarga." Lanjutnya.


"Ayok..." Mama Sunday berdiri disamping Om Rudi. Sunday tersenyum tapi lebih mirip seperti meringis.


Victor kebagian tugas untuk memfoto dengan kamera digital. Tidak ada fotografer profesional karena ini hanya acara sederhana. Sejak tadi seksi dokumentasi dipegang oleh Victor.


Setelah satu jepret foto Sunday, mamanya dan Om Rudi kemudian Sunday melihat hasilnya.


"Kenapa aku terlihat gemuk di situ." Protes Sunday.


"Mari kita ulang." Mamanya yang hampir duduk akhirnya berdiri lagi.


"Apa lagi, Sun. Sudah bagus kok."


"Aku terlihat gemuk, Ma."


"Bukankah memang seperti itulah dirimu."


"Mama... aku tidak gemuk. Ini pasti karena angle yang kurang tepat." Sunday beranalisa sendiri.


"Kak, tolong agak kebawah ya kameranya biar aku terlihat agak tinggi." Victor yang mendengar itu jadi tersenyum kecut.


"Akui saja kalau pendek, begitu saja mau memanipulasi foto." Gumam Victor sebagai fotografer.


"Kak, aku mendengar apa yang kau katakan." Sunday melotot kepada Victor. Victor tertawa.


"Sudah... sudah... mari kita berfoto dan dapatkan foto yang bagus." Om Rudi melerai agar tidak berkelanjutan. Victor kembali bersiap-siap memotret. Dan satu kilatan flash berhasil menciptakan gambar. Sunday melihatnya lagi lalu tersenyum puas karena kali ini sesuai harapannya.


"Bagaimana kalo Kak Victor juga ikut berfoto." Kata mama Sunday dan membuat Victor gelagapan.


"Tidak usah tante, saya kan fotografer. Lalu siapa yang akan memfoto?"


"Biar Yuda saja yang memfoto." Mama Sunday menunjuk salah satu saudara yang masih ada di sana. Lalu Yuda yang namanya dipanggil pun memghampiri Victor, menggatikan tugasnya. Sunday tidak berkomentar apapun. Bagaimana pun juga Victor juga ikut berperan dalam acara pernikahan mamanya. Membantu Sunday dan mengantarnya menemukan segala yang diperlukan untuk pernikahan mamanya.


"Satu... dua... tiga..." setelah hitungan ketiga kilatan flash membentuk sebuah potret. Mama Sunday dan Om Rudi diapit Sunday di sisi mamanya dan Victor di sisi Om Rudi.


🌸🌸🌸


Sunday bersiap berangkat ke sekolah. Dia berangkat sendiri tanpa mamanya. Sejak hari pernikahan itu mamanya memang pindah ke rumah Om Rudi. Sunday masih belum mau pindah dengan alasan tidak mau mengganggu bulan madu mamanya. Padahal bukan itu alasan sebenarnya. Ia hanya masih lebih nyaman tinggal di rumahnya sendiri yang sejak kecil menjadi tempat tinggalnya.


Pagi ini matahari tidak sempurna menghangatkan. Awan mendung menggantung dilangit. Sunday tergesa untuk sampai ke sekolah. Kelasnya dimulai setengah jam lagi. Butuh waktu 15 menit dengan motor kecepatan 60 km/jam hingga sampai ke sekolah.


Sunday sampai di sekolah. Sekarang setiap hari adalah hari baru bagi Sunday. Bertemu anak-anak yang lucu membuatnya bisa tersenyum dan tertawa setiap hari. Ada yang suka memanja kepadanya, ada yang pendiam, ada yang cuek dan bahkan ada yang jahil serta usil. Mereka lengkap ada dalam satu paket. Setiap melihat mereka ia jadi ingat masa kanak-kanaknya. Lamunannya buyar saat seorang anak menggandeng tangannya.


"Bu Sunday datang... Bu Sunday datang..." Sapanya riang sambil tertawa dan melompat lompat menampilkan gigi depannya yang tanggal dua biji.


"Selamat pagi, Tasya. Kamu tidak ada kelas?"


"Kan kami ada kelas komputer, Bu."


"Oh iya, sudah waktunya kelas komputer ya. Kalau begitu, ayo kita masuk ke ruang komputer."Ajak Sunday. Tasya dan beberapa temannya mengikuti. Murid lain juga tampak mulai memasuki kelasnya. Tasya termasuk dalam kategori siswa 'manja' bagi Sunday. Tapi meskipun begitu, anak itu manis sekali dan patuh. Ya beberapa bulan menjadi guru mereka, Sunday mulai mengenal karakter mereka satu per satu.


Ditengah Sunday mengajar, mamanya berdiri di depan pintu sambil memberi isyarat kalau akan menunggunya di depan kelas. Selesai menerangkan lalu Sunday memberi tugas seperti biasanya. Sementara muridnya mengerjakan tugas, Sunday keluar menghampiri mamanya.


"Ada apa, Ma?"


"Bagaimana mengajarmu?"


"Ini cukup menyenangkan. Aku suka anak-anak itu. Lucu-lucu dan menggemaskan, Ma." Sunday tersenyum lebar.


"Dulu kau bilang tidak mau menjadi guru dan memilih fakultas teknik, sekarang baru tahu rasanya jadi guru kan."


"Oh itu berbeda, Ma. Aku memang suka anak-anak dan mengajar tapi jiwaku hanya ada di segala yang berbau digital." Lalu Sunday terkekeh.

__ADS_1


"Kalau begitu berhentilah mengajar." Sunday menatap mamanya lekat. Apa sebenarnya maksud mamanya dengan tiba-tiba menyuruhnya berhenti. Bukankah jelas-jelas dia suka mengajar. Apa mamanya semarah itu hanya karena Sunday mengatakan dia tidak memiliki jiwa keguruan?


"Mama kenapa menjadi sesensitif ini?" Gumam Sunday dalam hati.


__ADS_2