
Gina memasuki gedung perkantoran milik papanya dengan terburu-buru. Wajahnya merah padam menahan rasa marah dan kesal di dadanya. Ia tidak menghiraukan dan hanya melewati orang-orang disana yang menyapa hormat kepadanya. Padahal biasanya ia cukup ramah kepada para pegawai di sini.
Dengan kasar Gina membuka pintu ruang kerja papanya. Air matanya berderai mewakili kegalauan hatinya. Ia benar-benar sudah tidak bisa memahannya sendiri.
"Papa, aku tidak pernah meminta apapun padamu. Aku bahkan tidak pernah mengharapkan kau selalu ada disisiku. Aku hidup sendiri. Aku melakukan segalanya sendiri. Aku hanya bertemu Papa dan Mama saat ulang tahunku. Itu pun jika kalian tidak sibuk. Aku tidak apa-apa kalian memperlakukanku seperti itu tapi untuk kali ini aku meminta padamu. Aku mohon penuhilah permintaanku." Ucap Gina sambil terisak didepan meja kerja Pak Rangga yang terpaku melihat anaknya yang tiba-tiba datang berurai air mata. Gina masih berdiri dan berusaha mengusap air matanya berkali-kali.
Pak Rangga bangun dari duduknya dan mendekati putri semata wayangnya itu. Memeluk pundaknya yang bergerak naik turun karena terisak oleh tangis.
"Ada apa, Gina?" Suara Pak Rangga heran.
"Pa... aku menyukai Faris. Aku sangat menyukainya. Bisakah aku menikah dengannya?" Ucap Gina lirih dengan air mata yang membasahi pipi. Ia menyekanya berkali-kali walaupun air mata itu masih terus saja mengalir. Serta merta papanya tertawa mendengar penuturan putrinya itu. Putrinya yang tidak pernah menangis walau menginginkan mainan pun sekarang malah tersedu karena ingin menikah.
"Anak gadisku ingin menikah?" Gina mengangguk pelan.
"Lalu kenapa kau menangis? Kau tinggal mengatakan saja kepada Papa. Lagipula Faris juga bukan orang asing. Kenapa? Kau takut Papa tidak merestui?"
"Tidak." Gina menggeleng.
"Lalu?"
"Faris sudah memiliki pacar."
"Ku kira selama ini kau adalah pacar Faris?" Papanya membulatkan mata karena kedekatan Gina dengan Faris memang diterjemahkannya sebagai hubungan yang lebih dari teman.
"Tidak, aku memang menyukainya. Tapi Faris menyukai orang lain." Air mata Gina jatuh lagi.
"Itulah sebabnya aku minta Papa melakukan sesuatu agar aku bisa menikah dengan Faris. Aku tidak mau Faris bersama orang lain."
"Tapi Faris menyukai orang lain jadi bagaimana bisa Papa membuatnya menikah denganmu?"
"Aku mohon Pa, lakukan sesuatu. Aku minta sekali ini saja. Aku tidak pernah meminta apapun padamu. Tapi untuk kali ini aku membutuhkan bantuanmu." Gina memeluk papanya. Menenggelamkan wajahnya seperti seorang bocah yang baru saja jatuh dari sepeda.
Pak Rangga memeluk putrinya yang sepertinya sangat sedih. Baru kali ini memang Gina memohon hingga menangis kepadanya. Sejak kecil Gina adalah anak yang ceria dan tidak cengeng. Orang tuanya jarang bersamanya pun ia tidak begitu mempermasalahkannya. Dia memiliki pengertian tentang kesibukan orang tuanya walaupun kadang ia harus tersiksa dalam kesepian yang teramat dalam. Dan kali ini seorang Regina menginginkan sesuatu hingga harus meminta papanya yang memberikan.
Oleh karena itu demi memenuhi permintaan putrinya, Pak Rangga menemui Pak Sasono untuk mencari solusinya.
"Kalau begitu mari kita berbesanan saja." Wajah Pak Sasono sumringah.
"Tapi kata Gina Faris sudah memiliki kekasih."
"Ahh, Faris itu memang begitu. Teman wanitanya banyak. Dia tidak pernah serius dengan mereka. Nanti biar aku bicara padanya."
"Aku akan sangat senang jika benar-benar kita berbesanan. Kita sudah lama berteman, alangkah bahagianya jika Gina menjadi menantu di keluarga ini."
"Tentu saja, jika Gina menjadi menantuku aku juga akan menganggapnya sebagai putriku sendiri."
🌸🌸🌸
Faris menutup telepon dari papinya dengan perasaan tak menentu. Bagaimana bisa papinya ingin melamar Gina untuknya. Faris menjadi panik.
Papi terinspirasi dari mana tiba-tiba ingin menjodohkanku dengan Gina? Faris tampak berfikir hingga membuat Sunday menjadi penasaran.
"Ada masalah?" Sunday memandang Faris khawatir karena melihat ekspresinya yang berubah tegang begitu.
"Tidak, hanya ada sedikit... ya, sedikit masalah saja." Faris tersenyum tapi lebih mirip meringis.
"Tentang apa?"
"Biasa, urusan ayah dan anak."
"Ohh..." Sunday lalu berdiri dari duduknya.
"Sudah malam. Aku pulang dulu."
__ADS_1
"Iya baiklah. Tidurlah dengan nyenyak dan jangan lupa mimpikan aku."
"Tidak janji." Sunday tersenyum mengejek.
"Baiklah, aku akan memaksa masuk ke dalam mimpimu."
"Dasar pemaksa." Faris tertawa. Kemudian Faris mengantar Sunday hingga depan pagar kosnya. Kebiasaan baru Faris setelah menjadi pacar Sunday.
"Selamat malam."
"Selamat malam." Balas Sunday yang lalu melambaikan tangan kepada Faris dan memasuki kosnya.
Faris menghela nafas berat dan kembali ke rumahnya sendiri. Tapi setelah masuk ia ambil kunci mobilnya dan melarikan ke rumah orang tuanya. Pukul 9 malam. Ia merasa rumahnya pasti belum sepi jika jam segini.
Dan benar saja setelah sampai di rumah orang tuanya, terlihat papi dan maminya masih di depan tv dan mengobrol.
"Hei Ris, ku bilang besok saja. Kenapa kau sangat tidak sabaran. Aku tidak akan ke rumah Gina sekarang." Sambut papinya.
"Jangan Pi, jangan melamar Gina." Kalimat Faris tegas saat sudah duduk di ujung sofa.
"Kenapa? Kau masih suka berpetualang?" Papi Faris meletakkan poselnya di meja. Mami Faris hanya menyaksikan suami dan anaknya berbicara.
"Hentikan petualanganmu itu. Kau sudah tidak pantas melakukan itu. Kau harus menikah dan memiliki anak-anak. Aku sudah lelah melihatmu hidup tidak jelas begitu."
"Pasti Pi, aku akan melakukannya. Aku pasti akan menikah tapi bukan dengan Gina."
"Setahu Mami, Gina gadis yang cantik dan baik. Lalu apa lagi yang kurang?" Mami Faris ikut angkat bicara.
"Tidak ada yang kurang dari Gina, hanya saja aku memiliki gadis lain yang kusukai."
"Oh ya? Berapa banyak gadis yang kau sukai? Apa kau akan melamar semua gadis yang kau sukai itu?" Papi Faris tersenyum sinis.
"Aku tidak lagi seperti itu, Pi." Faris menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.
"Seberapa serius kau dengannya?"
"Kami memang baru memulai hubungan tapi aku serius kepadanya."
"Apa dia serius kepadamu?" Faris diam tidak memiliki jawaban. Ia belum tahu seberapa serius Sunday menganggap hubungan itu dengannya.
"Kami sudah memulainya, Pi. Setiap hubungan pasti memiliki tujuan. Dan perlahan-lahan kami akan menuju pada kata serius itu."
"Tapi Gina adalah orang yang sudah lama kau kenal. Lalu apa lagi yang meragukan darinya?
"Aku tidak meragukan apapun yang ada pada diri Gina, tapi pada kenyataannya aku tidak menyukainya sebagai wanita. Aku hanya akan selalu menjadi sahabatnya saja."
"Papi sudah memastikan kepada Om Rangga kau akan menikahi Gina." Suara tegas Pak Sasono seperti sebuah bom yang meledak di telinganya. Faris dikuasai perasaan panik dan gelisah mendengar penuturan papinya.
"Bagaimana Papi membuat keputusan tanpa membicarakannnya denganku terlebih dulu?"
"Karena kau putraku dan aku tahu apa yang terbaik untukmu."
"Pi, biarkan aku yang mengurus ini sendiri."
"Tidak bisa, Om Rangga adalah sahabat Papi. Mana mungkin Papi mengecewakannya."
"Lalu bagaimana dengan Om Rudi? Om Rudi juga sahabat Papi. Papi mau membuanya tersinggung?"
"Apa maksudmu?" Papi Faris menautkan alisnya. Heran.
"Pacarku adalah putri Om Rudi."
"Kau mau bercanda? Om Rudi tidak memiliki seorang anak pun."
__ADS_1
"Dia adalah putri tiri Om Rudi. Dan beliau menyayanginya seperti anaknya sendiri."
"Maksudmu pegawai di Font itu?"
"Ya..." Jawab Faris. Mami Faris yang sejak tadi diam menjadi agak gusar melihat dua pria itu berdebat.
"Aku menyukainya, Pi. Aku baru saja menjalani hubungan dengannya. Apa Papi akan membuatku meninggalkannya begitu saja. Meninggalkan hubungan yang baru ku mulai dengan putri sahabat Papi demi bersama putri sahabat Papi yang lain." Papi Faris masih diam. Suasana di rumah itu seketika membeku. Mami Faris mengelus punggung putranya. Ia tidak tahu harus bagaimana tapi sebagai ibu ia bisa merasakan apa yang di rasakan oleh putranya.
🌸🌸🌸
Pagi ini terlihat matahari masih malas menampakkan diri dan memilih bersembunyi di balik langit mendung. Sunday membuka pintu kos dan mendapati Faris berdiri di depan pintu pagar.
"Hei, kenapa di sini?" Sunday juga heran Faris masih memakai t-shirt dan celana jogernya.
"Kau tidak bekerja hari ini?" Sunday gelagapan karena tiba-tiba Faris memeluknya.
"Mari kita seperti ini 5 menit saja."
"Hanya 5 menit? Tidak mau menambahnya menjadi 10 menit?" Sunday tertawa kecil setengah bercanda.
"Tidak, 5 menit saja. Jika lebih dari itu aku takut tidak bisa mengendalikan diriku lagi dan tidak mau melepaskanmu karena terlalu nyaman."
"Kau ini." Sunday tersenyum mendengar kalimat Faris dan balas memeluknya.
"Baumu harum, aku suka."
"Ahh, sepertimya bau harumku akan tercemari oleh bau belum mandimu." Gumam Sunday pura-pura kesal.
"Bau ini yang akan sering kau rindukan nanti."
"Kenapa? Apa enaknya merindukan bau belum mandimu?"
"Karena bau belum mandiku mengandung feromon."
"Hahh, malas sekali denganmu. Kau suka sekali menciptakan dalil-dalil sesat untuk merayuku."
"Lihat saja, nanti kau akan benar-benar sering merindukan bauku." Sunday menertawakan ucapan Faris.
"Ngomong-ngomong ini sudah lebih dari 5 menit. Kau bisa melepaskanku sekarang."
"Iya aku tahu."
"Jadi, lepaskan aku."
"Sudah ku bilang jika lebih dari 5 menit inilah akibatnya. Aku akan sulit melepaskanmu." Faris malah mempererat pelukannya.
"Hei Bos, aku bisa terlambat masuk kerja kalau kau begini terus."
"Tidak akan ada yang bisa memecatmu selain aku."
"Mentang-mentang kau bosnya." Sunday mencibir.
"Sudah." Faris melepaskan pelukannya.
"Memelukmu itu seperti mood booster bagiku."
"Oh ya?" Wajah Sunday memerah.
"Ya, kurasa aku mulai sering kecanduan terhadapmu." Sunday selalu tidak sempat menghentikan senyumnya jika Faris sudah mulai menggombal.
"Mari kita menikah saja."
"Apa? Menikah?" Sunday mengerutkan keningnya.
__ADS_1