Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Cemburu


__ADS_3

Malam mulai merambat dengan pasti. Tapi sebaliknya dengan perasaan Faris yang menjadi tidak menentu. Diam-diam dia menyesali kenapa tadi harus pergi begitu saja. Bukankah seharusnya ia tanyakan dulu siapa pria yang mengantar Sunday pulang. Dan kenapa Sunday pulang bersamanya. Selama ini ia juga tidak pernah tahu Sunday memiliki teman pria. Faris benar-benar mengutuki dirinya sendiri karena terlalu mudah mengambil tindakan dan pergi. Ia tahu rasa cemburu yang sudah menguasai hatinya membuatnya bertindak tanpa berfikir lebih dulu.


Sebuah telepon masuk ke dalam ponselnya.


Mery Calling...


"Iya..." Sapa Faris setelah mengangkat telepon.


"Aku menagih janjimu yang kau tunda waktu itu." Suara Mery dari seberang to the point.


Sabtu kemarin Faris memang membatalkan janjinya dengan Mery saat mengajak Sunday ke rumahnya hingga sore hari dan itu berarti janjinya untuk menemui Mery harus ditunda.


"Baiklah, aku harus apa?" Jawab Faris dan ada rasa malas di sana. Saat ini ia benar-benar sedang tidak ingin melakukan apapun. Pikirannya penuh dengan pertanyaan tentang pria yang bersama Sunday.


"Besok siang ku tunggu di tempat biasa."


"Baiklah." Hanya itu yang Faris ucapkan lalu ia memutus percakapan. Ia masih mengendarai mobilnya dengan perasaan kusut.


Setelah membersihkan diri Sunday masuk ke kamarnya dan meninggalkan Mamanya yang sedang menonton sinetron kesayangannya. Diraihnya ponsel diatas meja kerja dan terlihat beberapa pesan yang masuk belum sempat Sunday buka.


Bang Joni : Sun, motormu sudah selesai


Faris : otw ke rumahmu


Ternyata Faris memang sudah memberitahunya akan datang. Itulah kenapa tadi dia ada di depan rumah Sunday. Sunday jadi sedikit penasaran ada apa Faris ingin menemuinya tapi setelah bertemu malah langsung pergi begitu saja.


Sunday membaca isi pesan lainnya tapi hanya pesan-pesan dari grup chat dan tidak ada yang serius.


Ia menekan nomor Faris bermaksud meneleponnya. Sejurus kemudian terdengar nada sambung. Ada suara dari seberang.


"Hallo, ada apa?" Suara Faris masih sedingin tadi.


"Ada apa tadi ke rumahku?"


"Tidak ada apa-apa."


"Tidak mungkin. Pasti ada alasan kamu datang."


"Aku hanya lewat di sekitar rumahmu lalu ku coba mampir." Faris berbohong. Karena mengatakan maksudnya yang sebenarnya pun tidak akan merubah suasana hatinya saat ini. Sebenarnya Faris sedang merindukan Sunday. Itulah kenapa dia pergi ke rumah Sunday.


"Lalu kenapa pulang begitu saja?"


"Karena memang tidak ada yang penting." Faris masih acuh.


"Benarkah?" Sunday menyelidik.


"Iya."


"Kamu marah?" Kata Sunday mendadak menyadarkannya.

__ADS_1


Marah? Iya, aku marah. Aku marah karena Sunday bersama pria itu. Tapi apa hakku marah? Aku memang menyukai Sunday tapi aku bukan apa-apa baginya. Ahh, ini sungguh benar-benar menyiksa. Batin Faris.


"Aku melihat sepertinya kamu marah, jadi..." Lalu yang terdengar selanjutnya hanya bunyi telepon yang diputus. Sunday memeriksa ponselnya. Benar, sambungan teleponnya terputus. Ia yakin Faris yang memutusnya.


"Ada apa dengan orang itu. Seenaknya saja memutus telepon orang lain. Bukankah aku yang menelponnya lebih dulu. Seharusnya aku yang menutup telponnya duluan. Dasar tidak sopan."


Setelah itu Sunday berpamitan kepada mamanya untuk mengambil motor di bengkel bang Joni. Besok ada kuliah pagi jadi harus malam ini mengambilnya agar besok pagi tidak terlalu banyak kesibukan. Bengkel bang Joni juga bengkel yang dibuka di depan rumahnya jadi bisa kesana kapanpun Sunday bisa dan tidak terikat jam kerja.


Sunday mencoba menstarter motornya. Bang Joni ada di sebelahnya.


"Terima kasih, Bang." Sunday sudah siap meninggalkan bengkel bang Joni.


"Iya sama-sama. Jangan tinggalkan lagi motormu dalam keadaan on. Berbusa lagi nanti AKInya."


"Hehehe... iya bang. Namanya saja lupa." Sunday terkekeh.


"Lupa saja kau ini."


"Ya sudah, pulang dulu, Bang." Sunday sudah tancap gas.


"Ya..." Bang Joni melambai pada Sunday yang berlalu.


Sunday girang karena motor kesayangannya sudah kembali bisa ia ajak jalan-jalan. Mengantarkannya kemanapun ia mau. Menemani setiap ia pergi. Dan tak butuh waktu lama, Sunday sudah membelokkan motor ke rumahnya. Tapi baru membuka pintu pagar, sebuah mobil menepi ke arahnya. Sunday menyipitkan mata terkena sorot lampu mobil itu. Lalu seseorang turun dan dengan tergesa menghampirinya.


"Siapa pria itu?" Faris sudah ada hanya selangkah di depan Sunday. Setelah menutup telepon Sunday tadi Faris langsung berbalik arah kembali ke rumah Sunday untuk membunuh rasa penasarannya.


"Siapa?" Faris mengulang pertanyaanya karena Sunday tidak juga menjawab.


"Si-siapa?" Sunday gugup karena Faris tampak sangat berbeda. Sikapnya dingin dan sorot matanya tajam.


"Pria yang mengantarmu." Suara Faris seperti membuat udara di sekeliling berubah menjadi sangat dingin. Suasana seolah mencekam.


"Oh... dia Victor. Laboran di tempatku magang." Sunday mengerjapkan matanya. Saat ini Faris ingin sekali memeluk Sunday dan mengatakan bahwa ia cemburu.


"Lain kali jangan pulang bersamanya. Jangan pergi dengan pria manapun."


"Apa?" Sunday mencoba mencerna kalimat Faris.


"Pergilah hanya denganku. Kemanapun kau pergi, apapun yang kau inginkan, minta saja aku yang melakukannya."


"Maksudmu apa?" Sunday masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Faris.


Faris maju selangkah lebih dekat kepada Sunday. "Aku tidak ingin kamu dekat dengan pria manapun selain aku." Suara Faris mulai melembut.


"Kenapa begitu?" Sunday heran.


"Karena aku pacarmu." Setelah itu Sunday tertawa. Faris mengerutkan keningnya. Sunday lalu duduk di jok motornya.


"Hei, kau ini bicara apa?" Sambil masih tertawa. "Berhenti bersikap kita benar-benar sedang pacaran. Itu membuatku geli." Sunday melipat rambut sepunggungnya ke atas membentuk cepol yang lucu. Faris gemas melihatnya berpenampilan seperti itu.

__ADS_1


"Maksudku... mmm... paling tidak mari kita benar-benar seperti sedang pacaran." Jelas Faris agak terbata.


"Dengan melakukan itu, kita mau menunjukkannya kepada siapa? Bukankah kita hanya butuh berpura-pura pacaran hanya di depan Papi Mamimu saja."


"Di depan Rima juga." Tambah Faris.


"Iya, kak Rima juga. Tapi kita tidak perlu bersandiwara kepada Mery atau teman-teman wanitamu yang lain bukan?" Sunday tersenyum sinis.


Ia ingat sekali bagaimana tadi siang Faris pergi dengan seorang gadis yang entah siapa lagi dia. Lalu sekarang dengan seenaknya saja dia melarang Sunday bersama pria selain dirinya. Sungguh egois.


"Kenapa membahas teman-teman wanitaku?" Faris mendekat kepada Sunday. Lagi.


"Tentu saja, bukankah itu akan buruk untukmu. Kalau mereka tau aku adalah pacarmu tentu saja akan membuat mereka jadi menjauhimu." Sunday sinis.


"Hei, jangan bawa-bawa mereka dalam pembicaraan kita."


"Atau lebih buruk lagi mereka akan patah hati dan bunuh diri karena menganggap telah kau hianati."


"Cukup. Kalau kau berkata lagi, aku akan melakukan sesuatu."


"Melakukan apa? Kau sangat egois. Melarangku bersama pria lain tapi kau sendiri bisa pergi dengan gadis manapun sesuka hatimu..."


"Jangan lanjutkan..."


"Lagipula kita hanya berpura-pura pacaran jadi tidak ada masalah sama sekali kalau aku bersama pria lain. Toh aku juga tidak pernah melarangmu bersama gadis-gadis itu. Aku hanya..." Selanjutnya Sunday tidak melanjutkan kalimatnya.


"Aku sudah memperingatkanmu." Faris memeluk Sunday dan seketika itu pula Sunday seperti membatu. Tidak bergerak sedikitpun. Yang ia sadari hanya jantungnya berdetak sangat sangat berisik dalam irama yang tak beraturan.


"Jangan lanjutkan kata-katamu. Cukup ikuti saja apa kataku. Aku ingin kita benar-benar melakukan sandiwara ini dengan serius. Aku mohon bantulah aku. Hanya kau satu-satunya yang bisa ku andalkan." Suara Faris lembut di puncak kepala Sunday. Sunday seolah berada dibawah pengaruh hipnotis Faris. Merasakan debaran hebat tapi dibalik itu ada kenyamanan yang tidak ia mengerti.


"Apa-apaan ini." Sunday mendorong tubuh Faris setelah kesadarannya kembali. Tapi jantungnya masih berdetak menggila. Faris tersenyum kepadanya.


"Baiklah, kalau memang kau ingin aku tidak menemui gadis-gadis itu, aku akan melakukannya."


"Hahh, tidak mungkin. Mana bisa kau tidak menemui mereka. Dasar playboy." Cibir Sunday.


"Terserah, tapi besok Mery ingin aku menemuinya dan akan ku buktikan aku serius tidak akan menemui mereka yang kumulai dari Mery." Faris tampak mengambil ponsel di saku celana jeansnya. Sunday tersenyum kecut.


"Hai, iya. Aku harus mengatakan padamu kalau besok aku tidak bisa menemuimu. Entahlah, aku rasa aku belum tau pasti kapan waktunya. Tapi yang jelas aku sangat sibuk. Baiklah. Bye..." Faris memandang Sunday sambil tersenyum.


"Sudah, aku sudah melakukannya. Aku mengikuti keinginanmu juga."


"Baiklah... kita lihat saja sampai kapan kau bisa melakukan ini."


"Selama kau minta."


"Bagus... lanjutkan." Sunday tersenyum. Ada rasa lega didadanya. Entah kenapa. Tapi mungkin karena detak jantung yang tadi tidak beraturan sekarang perlahan telah kembali normal. Atau karena Faris berjanji akan berhenti menjadi playboy?


Lalu kenapa kalau dia berhenti menemui teman-teman wanitanya? Itu bukan urusanku dan aku tidak pernah peduli tentang hal itu. Ahh, entahlah. Dia benar-benar membuatku merasakan banyak keanehan.

__ADS_1


__ADS_2