
Rein tak habis pikir, sejak tadi keduanya sudah membunuh para gerombolan itu satu persatu. Namun mereka kembali datang dari segala sisi.
"Sial,ini sangat membosankan!" teriak Rein, pedangnya mulai membabi buta. Darwin hanya bisa menghela napas dalam. Lagi-lagi gadis itu tidak bisa bersabar.
Saat Darwin sibuk bertarung, tanpa dia tahu. Di belakang Rein muncul sosok pria yang merangkul gadis itu. Dia meletakkan pedangnya di samping leher Rein.
"Kamu menyerah lah! Atau nyawa gadis ini melayang?" ucap pria itu ke arah Darwin.
Darwin berdecak kesal, selama ini tak ada orang yang berani memojokkannya seperti sekarang.
"Jangan hiraukan Darwin,cepat habisi mereka!" pinta Rein. Namun tiba-tiba lehernya terasa perih. Pria di belakangnya itu ternyata tidak main-main.
Darwin yang melihat darah mengalir di leher Rein mulai naik pitam. Kedua mata Darwin perlahan berubah warna. Kuku dan taring di giginya mulai muncul.
Rein yang menyadari hal itu menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin Darwin menunjukkan wujud aslinya. Tapi pria itu sudah marah. Rein tidak yakin bahwa segerombolan pria-pria yang tengah mengepung mereka akan bisa selamat dari maut malam ini.
Sret sret sret
Satu persatu jantung dari mereka telah Darwin tusuk. Dengan kecepatan yang tak bisa dilihat dengan mata biasa saja. Darwin sudah menghabisi mereka. Dan yang terakhir adalah pria yang menggoreskan pedang di leher Rein.
Dia kini membalikkan keadaan, Rein bisa terlepas. Sedangkan pria tadi sudah hampir kehilangan nyawanya. Darwin menggoreskan pedang tajamnya ke leher pria itu hingga hampir putus.
"Aaah!" teriaknya.
Darwin merasa puas bisa melampiaskan amarahnya. Setelah semuanya mati,Darwin kembali ke wujud manusianya. Dia melihat Rein yang berlumuran darah di leher gadis itu.
__ADS_1
Darwin dengan cepat membopong tubuhnya. Dia membawa Rein ke sebuah gua tak jauh dari mereka.
"Rein bangunlah!" ucapnya khawatir. Darahnya tidak mau berhenti dari luka di leher.
Darwin tahu apa yang harus dia lakukan. Dia menjilati darah itu,juga luka yang ada di lehernya. Rein yang masih setengah sadar merasakan sensasi yang aneh.
Dia menikmati cara Darwin menjilat darahnya. Tidak seperti biasanya,ketika pria itu membutuhkan darah. Kali ini rasanya sangat baru bagi Rein.
"Uuh," lenguhan keluar dari bibir mungil Rein tanpa sadar.
Darwin yang mendengarnya tidak peduli.Dia tetap melanjutkan menjilat darah itu. Rein semakin melenguh, antara sakit dan rasa aneh yang dia rasakan saat ini.
Darwin membuka kancing baju bagian atas milik Rein. Karena gadis itu juga memiliki luka di bagian dadanya.
Di dalam gua itu,Rein semakin banyak mengeluarkan lenguhan. Ketika Darwin mengisap bagian atas dari payudara kanannya.
"Uhh Darwin hentikan itu!" pinta Rein tak lagi mampu menahannya.Jika hanya rasa sakit,Rein bisa menahan. Namun ada rasa yang lain yang membuatnya ingin merasakan lebih lagi. Rein takut akan hal itu.
Melihat luka yang sudah sembuh seperti semula. Darwin akhirnya menghentikan kegiatannya. Dia tahu bahwa Rein bereaksi berlebih. Dia juga bisa merasakannya. Namun Darwin harus menahan diri. Mereka hanya sebatas pengawal dan seorang putri yang harus di lindungi saja.
"Kamu akan segera pulih? Tetaplah tidur di sini," ucap Darwin, dia membenarkan pakaian milik Rein. Kulit gadis itu tampak putih dan mulus.
Darwin harus menelan ludahnya berkali-kali. Dia juga seorang pria, meski vampir. Dia juga memiliki keinginan itu.
"Ah sial, kenapa aku baru sadar kalau Rein itu sangat cantik!" batin Darwin.
__ADS_1
Keduanya yang lelah akhirnya bermalam di dalam gua itu. Darwin memeluk tubuh Rein yang kedinginan sepanjang malam.
Hingga pagi menjelang, Rein terbangun dan melihat Darwin memeluknya.
"Apa kamu memelukku seperti ini sepanjang malam?" bisik Rein, tangan kirinya ingin menyentuh bibir Darwin. Bibir yang sangat menggoda jika di perhatikan lagi.
"Kenapa? Bibirku sangat menggoda ya?" tanya Darwin yang tiba-tiba terbangun. Membuat Rein mengurungkan niatnya untuk menyentuh bibir itu.
"Ah siapa bilang!" Rein hendak berdiri agar terlepas dari pelukan Darwin.
"Mau kemana?" namun Darwin kembali mempererat pelukannya.
"Lepas!" Rein berusaha melepaskan diri.
"Aku sangat takut kamu terluka semalam. Jadi jangan memaksakan diri lagi menolong orang lain. Oke?" ucap Darwin di telinga Rein. Pria itu memeluk Rein dari belakang.
"Ya, aku tidak akan mengulanginya lagi," balas Rein.
Darwin tiba-tiba terjatuh ke tanah. Rein panik dan segera memeriksa pria itu.
"Hah tidur?" gumamnya heran.
"Apa kamu semalam tidak tidur?" Rein tak mungkin mendapatkan jawabannya. Karena Darwin sudah tertidur pulas. Sepertinya memang pria itu terjaga sepanjang malam karena dirinya.
"Terima kasih pengawal ku," ucap Rein.
__ADS_1