Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Nala


__ADS_3

Guen duduk di atas ranjang.Dia mulai memijat tengkuknya yang terasa begitu kaku. Dia lalu memperhatikan sekitarnya. Ruang yang sangat asing baginya.


"Dimana ini?" gumam Guen. Dia memperhatikan dirinya sendiri.


"Hah kenapa aku tidak memakai pakaian apapun?" tanyanya pada diri sendiri.


"Sudah bangun?" tanya seorang perempuan yang baru saja keluar dari kamar mandi toilet.


"Siapa kamu?" tanya Guen tidak mengenali perempuan itu. Di depannya dia hanya memakai handuk yang menutupi bagian sensitif dirinya.


"Aku Nala,kamu pasti ingat kan semalam kita melewati malam bersama?" tanyanya sambil berjalan ke arah pria itu.


"Apa? Tidak mungkin?" Guen memeriksa bagian bawah tubuhnya. Dia memang telanjang bulat saat ini.


Guen berusaha mengingat kejadian semalam. Dia berada di bar dan akhirnya mabuk. Setelah itu dia tidak ingat jika bersama dengan wanita bernama Nala itu.


"Berapa uang yang kamu mau?Aku akan berikan! Asal segera pergi dari hidupku!" tawar Guen pada Nala.


Wanita itu mendekati Guen. Duduk di atas pangkuannya. Guen terkejut akan tindakan Nala. Harum sabun di tubuhnya sekejap membuat Guen terlena.


"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya setelah sadar. Bagian bawahnya tiba-tiba mengeras begitu saja setelah Nala duduk di pangkuannya.


"Menurutmu, apa aku terlihat kekurangan uang?" bisik Nala pada telinga pria itu.


Guen merasa geli akan tindakan Nala. Dia segera menghindarinya.


"Tolong menjauh lah!" Guen mendorong tubuh Nala. Namun wanita itu malah menarik Guen. Akhirnya keduanya jatuh di atas ranjang. Dengan posisi Nala berada di bawah tubuh Guen.


"Apa kah mau mengulang kejadian semalam?" goda Nala.


Guen mendelik mendengarnya. Baru kali ini ada wanita yang terang-terangan merayunya.


"Lepas! Kamu sebenarnya siapa? Kita tidak saling kenal!Jangan menggila seperti ini!" ucap Guen lalu bangun dari ranjang sambil menutup tubuhnya dengan selimut.


"Tsk, jangan munafik. Semalam kamu begitu liar!" ucapnya tanpa di saring sedikitpun. Guen merasa wanita itu pasti sudah gila. Dia buru-buru masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sebelumnya dia sudah memungut baju dan celananya.


Setelah selesai, dia segera meninggalkan Nala.


"Ambil lah ini sebagai kompensasi kejadian semalam," Guen melempar beberapa lembar uang pada Nala. Gadis itu tersenyum kesal.


Guen lalu pergi setelah itu. Tanpa berniat untuk bertemu lagi dengan Nala suatu hari nanti.

__ADS_1


"Tsk hari yang sial!" batin Guen.


Nala masih berbaring santai di atas ranjang. Dia mengamati uang yang di berikan oleh Guen tadi.


"Kamu pikir hanya dengan uang ini aku bisa melepaskan mu? Jangan mimpi, tunggu aku akan datang dalam hidupmu. Guen ku!" gumamnya sambil tersenyum kecil.


Darwin menatap Rein dengan penuh kerinduan. Semalam mereka tidak bisa tidur satu kamar karena sang mama meminta Darwin untuk tidur di rumahnya sendiri. Alhasil pagi ini semangat pria itu sudah mengendur.


"Ayolah Darwin! Kenapa sejak tadi menatapku dengan tatapan seperti itu?" tanya Rein,keduanya berada di dalam kelas.


"Siapa suruh mamamu mengusirku!" gerutunya kesal.


"Hahaha, kita terima saja lah sementara ini," ucap Rein santai.


"Menunggu satu tahun itu sangat lama Rein!" gerutunya lagi.


Rein hanya tersenyum melihat sisi kekanak-kanakan dari Darwin. Baru kali ini dia melihat pria itu seperti anak kecil yang tengah merajuk pada ibunya.


Seperti biasa, pagi ini mereka harus melakukan ujian kenaikan kelas kembali. Hari ini adalah hari ujian terakhir bagi mereka.


Rein sudah belajar semalam. Sedangkan Darwin tidak sempat belajar. Namun pria itu bisa dengan mudah mengerjakan soal-soalnya.


Beberapa jam kemudian ujian telah selesai untuk semua mata pelajaran. Rein merasa bebas bisa menyelesaikan ujiannya kali ini. Untuk hasilnya dia tidak mau memikirkannya saat ini.


"Rein, aku pulang dulu ya!" ucap Rora pamit.


"Ra tumben buru-buru pulangnya?" tanya Rein pada gadis itu.


"Ada hal yang terjadi di rumah. Aku harus segera pulang!" balas Rora serius.


"Ya, hati-hati. Kalau perlu bantuan telepon saja!" ucap Rein tapi Rora sudah tidak terlihat di balik pintu kelas.


"Kenapa dia?Apa ada masalah!" gumamnya.


Tuk


Darwin memukul kepala istrinya dengan pena yang sejak tadi dia mainkan.


"Aduh, kenapa memukulku?" gerutu Rein pada Darwin.


"Jangan terlalu sering mikirin masalah orang lain!" ucap Darwin.

__ADS_1


"Iya-iya aku tahu. Ayo pulang!" ajak Rein.


Darwin mengangguk dan segera mengambil tas miliknya. Menggendongnya sembari berjalan mengikuti Rein yang terlebih dahulu sudah melangkah di depannya.


Rora mempercepat langkah kakinya. Dia harus segera pulang karena mendapat kabar bahwa kakaknya pulang. Namun gadis itu tengah membuat keributan di rumahnya.


"Semoga mama baik-baik saja," gumam Rora sambil melangkah cepat ke dalam rumah. Dia sangat khawatir dengan mamanya. Setiap kakaknya pulang, sang mama pasti akan terkena serangan jantung. Rora berharap itu tidak lagi terjadi.


"Maa!" panggil Rora ketika dia sudah masuk ke dalam rumah. Terlihat sang kakak yang duduk di depan mama mereka.


"Rora!" panggil mamanya.


Rora segera berlari ke arah mamanya. Memeluk wanita itu dengan erat.


"Mama baik-baik saja kan?" tanya Rora khawatir.


"Tsk,kamu itu terlalu berlebihan deh, mama kamu baik-baik saja!" ucap Nala pada Rora.


"Kak Nala! Mama juga mama kamu!" balas Rora kesal pada kakaknya yang pendendam itu.


"Dia hanya mama sambung ku, bukan mama kandungku!" gumamnya mengejek.


Rora hampir saja memukul wanita itu jika saja sang mama tidak menghalanginya. Keberadaan Nala di rumah itu hanya membuat suasana rumah menjadi kacau saja.


"Untuk apa kamu pulang, kalau masih tidak bisa menghargai mama ku?" tanya Rora kesal.


"Kenapa pulang? Tentu saja aku lebih berhak di rumah ini dari pada kalian berdua!" ucap Nala kejam.


Dia sama sekali tidak pernah mau menerima kehadiran Rora dan mamanya. Rora adalah adik tiri dari Nala. Meski begitu sang papa menyayangi keduanya. Namun bagi Nala, pria itu seperti pilih kasih pada dirinya.


Nala menganggap kehadiran Rora dan mamanya hanya membuat dirinya kehilangan kasih sayang dari papanya. Karena itu dia sangat membenci keduanya.


"Sudahlah,malas meladeni kalian berdua.Lebih baik pergi ke kamar dan tidur saja!" ucap Nala sambil menguap di depan Rora dan mamanya. Dia mulai melangkah ke arah kamar wanita itu.


"Mama baik-baik saja kan?" tanya Rora pada mamanya.


"Mama baik-baik saja Ra. Kamu jangan khawatir." Jawab sang mama.


"Papa tahu ma, dia pulang?" tanya Rora.


"Sepertinya belum, papa juga belum pulang kerja Ra," jawabnya.

__ADS_1


"Dasar pembuat masalah, kenapa sih harus pulang segala!" kesal Rora menggerutu tentang kakak tirinya itu. Dia tidak membencinya. Namun hanya kesal dengan sikap wanita itu pada keduanya.


__ADS_2