Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Di Hukum


__ADS_3

Rein menundukkan kepalanya ketika berjalan ke lorong kelasnya.Dia juga memakai topi untuk menutupi wajah gadis itu.Rein berharap tidak bertemu dengan Darwin di sana. Jika di kelas nanti Rein ingin pindah dari kursi miliknya ke kursi milik Rora.


"Rein!" Rora menepuk pundak Rein dari belakang.


"Hei Rora," balas Rein pada teman sebangkunya itu.


"Kenapa pakai topi?" Rora hendak melepas topinya. Namun Rein menahan tangan gadis itu.


"Jangan!" Rein segera mempercepat langkah kakinya agar segera sampai di kelas.


"Eh kenapa buru-buru? Tunggu aku!" Rora berlari kecil untuk mengimbangi langkah Rein.


Keduanya sampai di kelas mereka. Suasana sepi karena masih terlalu pagi untuk para siswa datang.


"Aku di sini ya?" Rein duduk di kursi milik Rora.


"Hah tumben mau tukeran tempat? Kenapa Rein?" tanya Rora.


"Tidak apa-apa, boleh kan?" tanya Rein.


"Boleh,boleh kok Rein. Duduk aja!" Rora tersenyum seperti biasanya. Dia tipe cewek yang ceria kepada siapapun.


"Terima kasih,"Rein segera duduk di tempat Rora. Tapi dia masih menggunakan topi yang sejak pagi dia pakai.


Darwin masuk ke dalam kelas. Dia melihat ke arah bangku di depannya. Bukan Rein yang berada di sana. Sedangkan di bangku samping ada gadis yang sibuk menutupi wajahnya dengan topi.


Darwin sudah bisa mengiranya. Itu pasti Rein, gadis itu pasti malu karena Darwin tidak sengaja melihat dirinya kemarin.


"Jangan menatapku,jangan melihatku!" batin Rein sambil melirik ke arah samping Rora. Darwin baru saja melewati bangku mereka. Kini pria itu sudah duduk di belakang Rora.


"Syukurlah!" gumam Rein.


"Apanya yang syukur Rein? Kamu dengar apa yang tadi aku bilang?" tanya Rora dengan suara pelan.


"Hah, emang kamu bilang apa?" Rein tidak sadar bahwa Rora mengajaknya berbicara.


"Hari ini kabarnya ada guru baru. Dan kamu tahu dia mengajar pelajaran apa?" bisik Rora lagi.Rein menggelengkan kepalanya tidak tahu.


"Matematika,mata pelajaran yang paling menyebalkan," ucap Rora.


"Oh matematika!" ucap Rein santai. Rora terkejut mendengar Rein menyebut mata pelajaran paling mengerikan itu dengan biasa saja.


"Rein kamu gak panik?" tanya Rora heran.


"Panik kenapa?"


"Matematika loh Rein?Pelajaran yang paling kamu benci karena kamu peringkat satu dari belakang?" Rora akhirnya membuka kartu mati Rein.

__ADS_1


Rein segera teringat masa dia masih sekolah dahulu. Dia sangat buruk dalam mata pelajaran itu.


"Ah tidak bagaimana ini?" Rein baru panik sekarang. Rora tersenyum, begitulah seharusnya teman sebangkunya. Panik jika bertemu mata pelajaran itu.


Suasana kelas yang tadinya ramai kini berubah sepi ketika seorang pria seumuran dua puluh tujuh tahun masuk ke ruang kelas mereka. Wajahnya begitu tampan, namun terlihat garang dan tegas.Rein sekilas terpesona dengan wajahnya.


"Selamat pagi!" sapanya dingin.


"Selamat pagi pak!"


"Nama saya Arendi, panggil saja pak Ren." Pria itu mengeluarkan segepok buku materi matematika. Rein menelan ludahnya dengan susah ketika melihat buku-buku di atas meja guru itu.


"Kamu yang pakai topi!" tunjuk pak Ren pada Rein.


"Saya pak!" Rein berdiri di depan kursinya.


"Iya kamu, kenapa di kelas memakai topi. Cepat lepas!"* pintanya.


"Baik pak!" Rein segera melepasnya. Darwin tertawa kecil pada Rein.Gadis itu hanya bisa cemberut melihat Darwin menertawakannya.


"Yang di belakang kenapa tertawa-tawa. Cepat berdiri! Kamu tadi yang pakai topi juga berdiri di luar!"


"Kami?" tanya keduanya.


"Ya kalian!" Pak Ren mulai menertibkan anak-anak didiknya.


"Sial banget sih?" batin Rein kesal. Di hari pertama guru itu mengajar,malah mendapat kesan buruk padanya.


Rein dan Darwin keluar dari kelas. Keduanya berdiri di depan kelas mereka. Rein membuat jarak lumayan jauh. Darwin hanya berdiri dengan sikap dingin,seperti biasanya.


"Hei!" panggil Rein. Darwin menoleh pada Rein.


"Kenapa?" tanyanya.


"Yang kemarin? Lupakan saja!" pinta Rein.


"Sekilas melihat pun sudah bisa lupa. Semua datar!" ucap Darwin.


"Apa! Dimana bagian yang datarnya?" ucap Rein dengan suara agak meninggi.


"Semuanya!" balas Darwin.


"Hei kalian! Kenapa malah mengobrol?" Berdiri yang benar!" pak Ren berada di ambang pintu kelas. Memperhatikan keduanya yang malah tengah mengobrol.


"Iya pak!" jawab keduanya. Kembali melanjutkan hukuman mereka.


Setelah satu jam keduanya di perbolehkan masuk ke dalam kelas kembali.Sedikitpun penjelasan pak Ren tidak bisa Rein tangkap. Otaknya sangat sulit berfokus jika mata pelajaran matematika itu.

__ADS_1


"Aah tidak!" teriak Rein tiba-tiba.


"Apanya yang tidak? Kamu lagi!" pak Ren tampak kesal pada Rein.


"Ah itu bukan pak saya hanya itu," Rein malah terlihat bodoh jika hendak menjelaskan.


"Kami tidak menyimak penjelasan saya ya?" tanya pak Ren.


"Itu pak saya," Rein bingung harus menjawab apa.


"Kalau begitu kamu harus mengerjakan tugas di rumah dua kali lipat dari teman yang lain!" pinta pak Ren menghukum Rein kembali.


"Apa dua kali lipat pak?" tanya Rein tidak percaya.


"Kenapa?Masih kurang?" tanya pak Ren.


"Tidak-tidak,cukup pak," Rein tidak ingin membuat kesalahan lagi. Agar tidak di hukum pria itu.


Tapi sejak tadi mengapa hanya dirinya yang mendapat perhatian ekstra dari pria itu. Rasa-rasanya seperti menjadi target utama dari dia.


Mata pelajaran matematika akhirnya selesai juga. Rein merasa sangat tertekan oleh guru baru itu.


"Huft akhirnya pergi juga!" ucapnya sambil menyandarkan tubuhnya ke atas meja.


"Rein ayo ke kantin!" ajak Rora.


"Kamu sendiri aja lah Ra, aku ngantuk sekali!" jawab Rein sambil menguap.


"Dasar gadis pemalas. Ayo ikut!" Rora menarik lengan Rein agar ikut ke kantin bersamanya. Meski tampak tidak tertarik namun Rein tetap mengikuti langkah Rora ke sana.


Keduanya sampai di kantin sekolah. Setelah memesan makanan, Rein dan Rora memilih meja di bagian tengah.


"Hei lihat itu!" teriak beberapa gadis histeris, melihat seorang siswa yang tampan tiba di kantin itu.


"Ah tampan sekali!" yang lain menimpali, Rein tidak terlalu tertarik dengan pembicaraan mereka. Baginya hanyalah Darwin di dunia vampir yang paling tampan.


Rein tampak sedih ketika mengingat pria itu. Andai bisa kembali ke sana kembali. Rein ingin bisa membawanya ke tempatnya sekarang.


"Aaaah," teriakan para gadis itu semakin mengganggu Rein. Dia tidak bisa menikmati makan siangnya dengan nyaman.


"Issh berisik sekali mereka!" batin Rein kesal. Dia meletakkan sendok di atas piring dengan kasar.


"Kenapa Rein?" tanya Rora heran.


"Kenapa sih mereka teriak-teriak gitu? Mengganggu banget deh!" protes Rein.


"Biasa lah, tuh pangeran mereka muncul. Jadi ya gitu? Tutup aja telinganya Rein!" pinta Rora. Rein hanya bisa menghela napas.

__ADS_1


__ADS_2