Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Menuju Pertandingan


__ADS_3

Rein menatap dirinya dalam cermin besar di depan gadis itu. Senyumnya merekah, dia sangat puas dengan penampilannya pagi ini.


"Yang mulia, sebaiknya anda urungkan saja niat anda untuk mengikuti pertandingan itu," tetua Tan khawatir akan keselamatan ratunya.


"Tenang saja tetua Tan, aku akan baik-baik saja."


Rein menenangkan pria paruh baya itu. Di samping gadis itu, Darwin menatapnya dengan penuh kagum.


Rein tampak cantik dengan baju biru berlapis amor itu. Rambutnya yang panjang dia ikat tinggi. Sebagian poninya dia biarkan di kening.


Rein tampak berbeda dari biasanya. Entah apa yang membuatnya mengganti model rambutnya. Tapi Darwin akui Rein lebih cocok dengan tampilan itu.


"Ayo berangkat!" ajak Rein menarik Darwin yang masih termenung tadi.


Dia melangkah mengikuti Rein. Gadis itu tampak senang sekali. Akhirnya dia bisa keluar dari istana. Meski untuk pertandingan, tapi Rein lebih suka menganggapnya sebagai waktu untuk bermain.


"Kamu tampak cantik Rein dengan rambut dan baju itu!" ucap Darwin memuji.


"Benarkah?" tanya Rein. Sudut bibirnya mulai tertarik.Darwin mengangguk.


Rein tidak melepaskan tangannya dari lengan Darwin.Sepanjang perjalanan dia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


"Rein, kenapa kamu terlihat bahagia sekali hari ini?" tanya Darwin.


"Kamu coba tebak?" pinta Rein.


"Kamu sedang jatuh cinta." Tebak Darwin.


"Bisa di bilang begitu," Rein membuat Darwin penasaran.


"Dengan siapa?" ingin sekali Darwin mendengar namanya yang di sebutkan.


"Siapa ya? Mau tahu?" tanya Rein.


"Ya, siapa?"

__ADS_1


Rein tersenyum ke arahnya. Lalu membisikkan sesuatu pada Darwin.


"Guen semalam menyatakan cinta padaku," bisik Rein. Seketika Darwin kesal mendengarnya.


"Guen? Dan kamu menerimanya?" Wajah dingin Darwin telah kembali. Rein senang melihat Darwin terpancing. Pria itu tidak bisa menyembunyikan ketidaksukaannya. Dia tengah cemburu.Dan itu membuat Rein semakin bahagia.


"Alasan apa seorang perempuan untuk menolaknya?" Rein melepas tangannya dari lengan Darwin. Berjalan terlebih dahulu dan membiarkan Darwin merasakan api gejolak kecemburuan.


Darwin berhenti melangkah, dia mengepalkan kedua telapak tangannya untuk menahan amarah.


Setelah pertandingan nanti selesai, Darwin akan membuat perhitungan dengan Guen.


Keduanya sampai di kuda masing-masing. Rein memilih kuda karena untuk menghemat energi.Sekalian dia akan menikmati pemandangan sambil berkuda.


"Naik kuda?" tanya Darwin.


"Ya, apa kamu tidak pernah menunggang kuda?" tanya Rein.


Darwin langsung naik ke kuda pilihannya. Rein juga begitu, keduanya mulai perjalanan ke tempat pertandingan.


"Rein!" panggil Darwin.


"Ya, ada apa?" Rein mengurangi kecepatan kudanya.


"Hati-hati sepertinya ada yang mengikuti kita," ucap Darwin memberitahu Rein.


"Siapa?" tanyanya.


"Entahlah, mereka tengah bersembunyi tak jauh dari kita," jawab Darwin.


Rein menganggukkan kepala, lalu keduanya memacu kuda mereka lebih cepat lagi.


Ketika melewati hutan bambu, seseorang memanah kuda milik Rein.Membuat keseimbangan gadis itu terganggu.


"Darwin tolong aku!" teriak Rein.

__ADS_1


Melihat Rein yang hampir jatuh bersama kudanya. Darwin dengan cepat menarik gadis itu. Dia menaikkan Rein di depannya. Satu kuda berdua.


"Lebih cepat lagi Darwin!" pinta Rein.Keduanya akhirnya bisa meloloskan diri. Perlahan kuda mereka mulai berjalan pelan.


"Siapa mereka?" tanya Rein.


"Entahlah," Darwin juga tidak mengetahui siapa yang tengah mengejar mereka tadi.


Keduanya terdiam di atas kuda. Saat ini tubuh mereka begitu dekat. Rein dan Darwin sama-sama merasa detak jantung mereka lebih cepat dari biasanya.


Wajah Rein memerah karena merasa gugup sekaligus malu. Tangan Darwin berada di pinggang gadis itu. Sedangkan tangannya memegang tali kuda.


"Hei, mesum. Bisakah jangan memegang pinggang ku!" peringat Rein pada Darwin.


"Kenapa? Apa ini juga bisa membuatmu gugup?" Darwin malah sengaja mempererat pegangannya.


"Kamu!" Rein mulai merasa kesal.


"Atau seperti ini?" Darwin tiba-tiba memeluk Rein dari belakang. Membuat gadis itu kehilangan konsentrasinya dalam mengendalikan kuda.


Mereka akhirnya terjatuh bersama diantara semak-semak yang mereka lewati.


"Ah sakit sekali!" ucap Rein karena Darwin menindih tubuhnya.


"Nyaman sekali!" Darwin malah menikmati posisinya saat jatuh.Kepala pria itu berada di antara dua aset milik Rein.


"Ah dasar mesum!" Rein menendang Darwin sekuat tenaga.


"Pelan sedikit dong,dasar cewek galak!" protes Darwin.


"Siapa suruh kamu menikmatinya!" Rein membersihkan bajunya dari tanah yang menempel.


"Sedikitpun, pelit sekali kamu Rein!" ucap Darwin. Rein tidak mau menanggapinya. Dia segera berjalan ke jalan utama. Melihat apakah kuda mereka masih ada di sana atau tidak.


"Sayang sekali kudanya kabur," Darwin ikut memeriksanya, ternyata kuda itu sudah entah kemana.

__ADS_1


Keduanya harus segera sampai di tempat pertandingan itu. Darwin menarik tubuh Rein. Dan dengan cepat keduanya berteleportasi ke sana.


__ADS_2