
Rein membakar surat yang di tinggalkan oleh Darwin padanya.Amarahnya memuncak saat ini. Dia benar-benar kesal pada Darwin.
"Awas kamu Darwin! Jika bertemu lagi akan aku bunuh kamu!" teriaknya di dalam kamar. Sambil menghancurkan perabotan yang ada di dalamnya.
Dari luar para pelayan berhamburan. Mereka khawatir mendengar ratu mereka tengah mengamuk.
"Ratu Rein, apakah anda baik-baik saja?" tanya salah seorang kepala pelayan.
Tak ada jawaban, hanya suara perabotan yang sepertinya tengah di lempar oleh gadis itu.
"Duh gimana ini? Ratu kenapa ya?" tanya salah satu pelayan yang khawatir.
"Iya, jangan-jangan terjadi sesuatu di dalam sana?"
"Sebaiknya panggil tetua Tan saja. Dia pasti bisa membujuk ratu."
"Benar, kamu cepat panggil tetua Tan untuk segera kemari!" sang kepala pelayan meminta salah satu pelayan untuk memanggil tetua Tan.
Suara di dalam kamar semakin keras. Rein masih belum berhenti meluapkan amarahnya.
Tetua Tan segera berlari menuju ke depan kamar Rein. Dia ikut panik setelah pelayan memberitahu tentang keadaan ratunya.
"Ratu anda baik-baik saja?" tanyanya sambil mengetuk pintu.
Umpatan-umpatan terdengar dari dalam kamar. Rein benar-benar marah. Selang beberapa menit kemudian tidak ada lagi suara barang di pecahkan.
Rein keluar dengan dua pedang di tangannya. Semua yang melihat itu mundur beberapa langkah. Mereka sangat takut melihat aura Rein yang ingin membunuh orang.
"Ratu," tetua Tan sedikit ketakutan melihat ratunya.
"Tetua Tan!" panggil Rein. Pria paruh baya itu maju selangkah.
"Saya di sini ratu Rein," jawabnya dengan suara gemetar.
__ADS_1
"Perintahkan semua prajurit untuk mencari pengawal Darwin!" pinta Rein.
Tetua Tan dan kepala pelayan serta beberapa pelayan di sana saling menoleh bingung. Rein memperhatikan ekspresi wajah mereka. Ada yang aneh tengah terjadi.
"Tetua,apa kamu mendengar perintahku?" sentak Rein.
"Iya ratu, saya mendengar. Tapi saya minta maaf sebelumnya. Siapa pengawal Darwin itu?" tanya tetua Tan.
Rein terheran, bukannya para tetua sudah mengenal Darwin sebelumnya. Kenapa tiba-tiba tetua Tan melupakannya. Apa karena sudah tua jadi dia pikun.
"Tetua, apa kamu sudah pikun? Dia adalah pengawal pribadiku?" balas Rein tidak sabar.
"Tapi ratu, saya benar-benar tidak tahu siapa pengawal Darwin itu. Kalian juga kan?" tanya tetua pada para pelayan.
"Benar ratu, kami juga tidak mengenal siapa itu pengawal Darwin," jawab mereka serentak.
Pedang dari kedua tangannya jatuh begitu saja. Di susul Rein yang terduduk di lantai. Para pelayan semakin khawatir dengan dirinya.
"Tidak ratu," jawab mereka.
Rein tiba-tiba beranjak dari lantai. Dia berlari keluar dari kamarnya. Tetua Tan dan para pelayan mengikuti Rein.
Rein mencari tetua yang lain, juga para panglima prajurit yang selama ini sudah mengenal Darwin.
"Ratu," mereka membungkukkan badan ketika melihat sang ratu datang.
"Kalian, apakah mengenal pengawal Darwin?" tanya Rein pada para panglima itu.
"Maaf ratu, kami tidak mengenalnya," jawab mereka. Rein semakin panik.
Lalu dia pergi begitu saja membuat para panglima itu bingung. Rein pergi ke rumah dua tetua yang lain dan bertanya tentang Darwin pada mereka.
Jawaban mereka pun sama. Tidak ada yang mengenal Darwin.
__ADS_1
"Apa?Apa yang terjadi? Kenapa semua orang tidak mengingatmu Darwin? Kenapa hanya aku yang ingat?" teriak Rein di luar istana.
"Ratu ayo masuk ke dalam istana. Sepertinya akan hujan!" ajak tetua Tan yang khawatir dengan keadaan ratunya.
Tapi Rein tidak memperdulikannya. Langit memang tengah gelap di selimuti awan kelabu. Sama seperti hatinya sekarang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan menyesakkan.
Hujan pun turun membasahi tanah. Rein masih berada di luar istana,dia pun basah karena air hujan itu.
Tapi baginya itu bukan masalah besar. Rein bisa menangis sepuasnya tanpa ada yang tahu dia menangis. Air matanya itu turun bersama dengan air hujan yang mengenainya.
"Darwin!" teriak gadis itu mencari dimana Darwin berada.
"Bagaimana mungkin hanya aku yang mengingatmu? Mereka tidak mengenalmu? Hanya aku! Apa kamu ingin menyiksaku? Hei Darwin sialan!" teriak Rein sambil terduduk lemas di tanah. Membiarkan tubuhnya basah oleh air hujan.
"Aku bersumpah! Jika aku bertemu denganmu lagi. Akan ku bunuh kamu!" ucap Rein marah.
Dia tidak pernah semarah ini saat di tinggal pergi seseorang. Namun entah mengapa berbeda dengan Darwin.
Ada yang menyesakkan di dalam hati Rein. Mengetahui pria itu pergi begitu saja. Dia juga telah menghapus memori orang-orang tentang dirinya. Namun membiarkan Rein sendirian mengingatnya.
"Kamu membiarkanku seperti orang gila Darwin! Hanya aku yang mengingatmu!" teriaknya lagi.
Darwin yang sudah sampai di tempat tinggal Alee. Merasakan bulu kuduknya merinding. Tengkuknya tiba-tiba dingin.
"Haccciuu!" Dia bersin berkali-kali.
"Sepertinya dia tengah menyumpah serapah i ku!" gumam Darwin mengingat bagaimana Rein pasti marah karena ulahnya.
"Kak, sejak kapan kamu bersin-bersin seperti manusia?" tanya Alee.
"Entah lah sepertinya ada yang mengumpat i kakakmu ini!" balas Darwin.
Alee hanya bisa mengerutkan keningnya tidak paham dengan pembicaraan sang kakak.Dia memilih untuk membiarkan pria itu sendirian terlebih dahulu.
__ADS_1