Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Gagal


__ADS_3

Upacara penobatan akan segera di mulai. Rein merasa sedikit gugup. Di depannya lautan manusia menantikan dirinya.


"Hidup putri Rein!" teriak mereka serentak. Rein merasa sangat bahagia. Akhirnya dia telah membalas dendam kematian kedua orang tuanya. Serta merebut kembali hak milik mereka.


"Putri Rein apakah anda sudah siap?" tanya tetua di istana itu.


"Sudah, silahkan di mulai," jawab Rein.


Ketika para tetua hendak memulai prosesi penobatan ratu baru. Tiba-tiba langit berubah menjadi gelap. Awan hitam tepat di atas istana sedang berkumpul.Membentuk lautan mendung.


Semua orang yang berada di sana saling memandang heran. Angin tiba-tiba datang begitu kencang.Disertai hujan lebat. Membuat para penduduk segera bergegas pergi dari lapangan istana. Mencari tempat untuk berteduh.


Rein dan Darwin masih bisa berdiri di tempatnya. Para tetua segera masuk ke dalam istana untuk berlindung.


"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba ada angin kencang?" tanya salah satu diantara ketiga tetua istana.


"Apa mungkin sang dewa marah karena penobatan ini?" yang lain mencoba menimpali.


"Tidak mungkin, putri Rein adalah darah daging raja. Hanya dia yang pantas menjadi pemimpin istana ini selanjutnya," bantah yang lainnya lagi.


Kursi-kursi dan meja saling berserakan karena tertiup angin yang sangat kencang. Rein bahkan harus berpegangan tangan dengan Darwin agar selamat.


Ketika anginnya sudah berlalu, tiba-tiba di tengah aula istana muncul beberapa orang dengan pakaian serba hitam. Kali ini mereka memakai topeng. Rein mengernyitkan dahinya, menebak siapa mereka.Hujan masih juga turun membuat pakaian mereka basah.


"Apakah kamu yang bernama Rein?" tanya salah seorang dari mereka.


"Siapa kamu? Kenapa mencari Rein?" tanya Darwin. Tatapan mata pria itu sangat tidak bersahabat. Darwin bisa merasakan bahwa mereka bukan orang yang baik.

__ADS_1


"Aku hanya mencari Rein, bukan kamu!" jawabnya angkuh.


"Aku Rein! Kenapa mencari ku?" Rein melangkah ke depan.


Para penduduk dan tetua yang berteduh memperhatikan mereka.


"Aku adalah Afron, penguasa kegelapan di dunia ini. Kau yang membunuh Daga bukan?" tanyanya menuduh.


"Dia pantas mati!" jawab Rein tenang dan tanpa ragu.


"Memang layak menjadi seorang ratu yang kejam. Tapi sayangnya itu tidak akan terlaksana!" Afron menjentikkan jari telunjuknya ke arah Rein. Memberi kode bagi para bawahannya untuk menyerang gadis itu.


Rein tidak tinggal diam, pedang yang berada jauh darinya segera dia tarik dengan kekuatan gadis itu. Kini dia siap untuk bertarung. Meski dengan pakaian seorang ratu. Tidak membuat Rein kesulitan untuk bergerak.


Dia melawan para musuhnya,dibantu oleh Darwin yang melawan Afron.


"Lawan mu adalah aku, bukan dia!" Darwin tak berhenti menyerang Afron. Kekuatan mereka seimbang. Keduanya juga saling bertahan dengan sekuat tenaga.


Rein sudah hampir kelelahan membunuh para bawahan Afron. Namun anehnya mereka tidak habis-habis. Mati satu tumbuh lagi yang lainnya.


"Sial, sebenarnya apa sih mereka ini?" tanya Rein kesal. Dia sudah hampir kehabisan tenaganya.


Trang


Trang


Trang

__ADS_1


Suara pedang beradu sangat keras di antara milik Darwin dan Afron.


Boooomm


Suara benturan keras terdengar jelas.Rein melihat Darwin terpental jauh ke ujung lapangan. Mengenai tembok istana.


"Darwin!" Rein hendak menghampiri Darwin namun orang-orang yang di dekatnya menyerang tanpa memberikan celah sedikitpun.


"Sial, ini sangat membosankan," Rein mengganti senjatanya dengan belati transparan.Dia memfokuskan pada kekuatannya yang selama ini jarang dia gunakan.


Dengan kecepatan penuh dan sisa tenaga yang dia miliki. Rein melesat seperti kilat ke lawannya. Menusuk mereka tepat di jantung.


Afron tertawa angkuh, ketika dia mengira Darwin sudah kalah.


"Aku pikir sekuat apa pengawal pribadi seorang putri kerajaan. Ternyata biasa saja!" ucapnya. Afron menuju ke arah Rein. Dia ingin membunuh gadis itu.


Tapi sebelum dia sampai di dekat Rein. Darwin sudah menaruh pedang di leher Afron. Gerakan pria itu bahkan tak bisa Afron lihat. Sangat cepat sekali.


"Sejak kapan dia keluar dari reruntuhan tembok itu?" batin Afron tidak percaya. Sekarang dia terpojok, bergerak sedikit saja. Lehernya pasti akan putus.


"Pertarungan kita belum selesai!" ucap Darwin dengan wajah yang tengah haus darah. Tanpa menunggu Afron melawan. Pedang yang telah di pegang Darwin sudah menggores leher Afron. Membuatnya tak lagi bernapas.


Darah segera bercucuran keluar dari leher pria itu. Darwin yang sudah seharian tidak minum darah merasa sangat tergoda dengan darah pria itu.


Rein yang melihat Darwin mulai berubah ke wujud aslinya.Segera menarik pria itu, untungnya Darwin belum sempat menghisap darah Afron.


Rein membawa Darwin melompat ke atap dan pergi entah kemana. Para penduduk dan tetua saling mencari ke sana kemari. Mereka heran sekaligus terkejut dengan apa yang barusan terjadi.Pertempuran yang luar biasa telah mereka lihat hari ini.

__ADS_1


__ADS_2