Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Dijodohkan


__ADS_3

Suara bel rumah berbunyi, Darwin yang sudah selesai bersiap turun ke lantai bawah. Memeriksa apakah pamannya telah membuka pintu itu atau belum.


"Iya sebentar!" teriak Darwin ketika melihat sang paman yang belum membukanya. Darwin berlari kecil menuju ke pintu utama rumah itu.


Dia segera membuka pintunya. Darwin terdiam ketika melihat siapa yang datang bertamu.


"Darwin!" pria itu memeluk tubuh Darwin yang mematung tanpa membalas pelukannya.Dia adalah papa kandung Darwin.


Ada tiga orang lagi selain dirinya. Darwin mengenali salah satu dari mereka. Ada Rumi dan dua orang lagi yang tidak dia kenal.


Darwin segera melepaskan pelukan papanya. Menatap pria itu dengan tatapan tidak suka.


"Kenapa kemari?" tanya Darwin dingin.


"Dimana paman kamu?" tanya sang papa tanpa menjawab pertanyaan dari Darwin.


Ilham muncul dari belakang Darwin.


"Kak Rendra? Kamu sudah datang?" Ilham melihat selain kakaknya ada tamu yang lain lagi.


"Silahkan masuk! Silahkan!" Ilham mempersilahkan mereka berempat masuk ke dalam rumah. Darwin menutup kembali pintu rumah itu.


Dia merasakan akan ada berita buruk jika sang papa muncul.


"Berulah apa lagi dia datang kesini?" batin Darwin tidak suka dengan papanya.


"Mari silahkan!" Ilham mempersilahkan mereka untuk menikmati hidangan makan malam yang tadi dia buat. Pria itu tidak tahu bahwa sang kakak membawa tamu lain ke rumahnya.


Untung saja, Ilham membuat banyak makanan hari ini. Dia merasa ada hal aneh yang hendak di sampaikan oleh sang kakak ipar pada mereka.


Mereka mulai menyantap makan malam yang telah di hidangkan. Darwin hanya membisu sambil menikmati makanannya. Dia tidak terlalu berselera.


"Ada apa papa ke sini?" Suara berat Darwin memecah kecanggungan diantara mereka. Ilham tahu bahwa keponakannya itu mulai tidak bisa menahan amarahnya.


"Darwin, kamu masih saja sama seperti dulu. Ayolah maafkan papa nak?" ucap pria itu.


Darwin tidak meresponnya dia tetap menatap dingin pada pria di hadapannya.


Rendra menghela napas panjang, sambil meletakkan sendok dan garpu yang berada di tangannya. Dia lalu mengusap sisa makanan di bibir pria itu.


"Darwin, papa ke sini sebenarnya ingin memberi tahu padamu. Dia Rumi, kalian pasti saling mengenal bukan?" tanya Rendra pada anaknya.


"Langsung saja pada intinya!" jawab Darwin. Rumi tidak berani menatap wajah Darwin, kedua mata pria itu sudah tampak menahan amarah.

__ADS_1


Kedua orang tua Rumi juga masih diam, belum mengatakan apapun sejak mereka datang. Keduanya menyadari datang di waktu yang kurang tepat.


"Papa dan kedua orang tua Rumi memutuskan untuk menjodohkan dia dengan mu Darwin!" Rendra akhirnya memberi tahu tujuannya.


"Brak!" Darwin meletakkan dengan kasar sendok di tangannya. Rumi terkejut ketika melihatnya.


"Sejak papa meninggalkan ku, sejak saat itu pula. Papa tidak bisa mengatur hidupku! Aku tidak mau dijodohkan dengan dia!" ucap Darwin marah.


Di waktu yang sama, Rein di minta oleh mamanya untuk mengantar kue yang dia buat untuk tetangga baru mereka. Sebenarnya Rein tidak mau tapi sang mama memaksanya.


"Apa sih mama ini? Sedikit-sedikit memaksa ku?" gumam Rein sambil berjalan ke arah rumah Darwin. Dia bingung harus mengatakan apa pada pria itu jika mereka bertemu.


"Ah gak jadi aja deh!" Rein sudah berada di depan rumah Darwin. Dia hendak kembali saja ke rumahnya. Namun ketika baru berbalik, dia mendengar suara Darwin yang meninggi.


Pria itu tampaknya tengah marah. Rein tidak sengaja untuk menguping, dia hanya kebetulan berdiri di depan pintu rumah Darwin.


"Darwin! Kamu jangan tidak sopan pada papa!" bentak Rendra.


"Terserah apa yang papa bilang, yang jelas Darwin tidak mau di jodohkan dengan dia!" ucapnya menunjuk ke arah Rumi.


Rein yang mendengar dari luar pintu rumah Darwin hanya bisa menutup mulutnya. Dia tidak menyangka Darwin tengah di jodohkan dengan seorang gadis. Dan pria itu sepertinya tidak setuju.


Darwin yang marah segera pergi meninggalkan meja makan. Dia berjalan ke arah pintu utama, ingin keluar rumah untuk sementara waktu. Menghindari papanya.


"Hei,mama aku memintaku untuk membawakan ini pada mu," Rein menunjukkan kotak kecil berisi kue yang dia buat oleh mamanya tadi.


Tanpa membalas gadis itu, Darwin menarik lengannya untuk ikut bersama dia.


"Eh mau kemana?" Rein hanya bisa mengikuti langkah pria itu sambil tetap membawa kue dari mamanya.


"Darwin kita mau kemana?" tanya Rein panik. Karena pria itu membawanya lumayan jauh dari perumahan mereka. Meski keduanya berjalan kaki, Rein belum pernah ke jalanan itu sebelumnya.


Mereka tiba disebuah taman kecil.Darwin tiba-tiba memeluk Rein erat. Gadis itu hanya bisa diam sambil memikirkan kenapa tiba-tiba Darwin berbuat seperti itu.


Di taman itu hanya mereka berdua. Rein mendorong tubuh Darwin agar melepaskan pelukan mereka.


"Kamu kenapa?" tanya Rein menatap wajah Darwin yang tampak menahan kesal.


"Bukannya kamu tadi sudah mendengarnya?" tanya Darwin pada Rein.


"Mendengar apa? Aku tidak dengar apapun!" Rein berbalik badan menghindari kontak mata dengan pria di dekatnya itu.


"Kamu bohong? Kamu tahu kan tadi kalau aku tengah di jodohkan dengan Rumi?" ucap Darwin sengaja memberi tahu Rein.

__ADS_1


Kedua mata Rein membelalak, dia memang mendengar bahwa Darwin akan di jodohkan. Namun Rein tidak tahu bahwa gadis yang di jodohkan dengannya adalah Rumi.


"Bukannya bagus, kamu dan dia sangat serasi. Dia sangat cantik!" ucap Rein berpura-pura tenang.


Darwin menyeringai, dia bisa melihat ucapan dan hati Rein berbanding. Darwin ingin menguji gadis itu lagi.


"Benar juga, dia sangat cantik!" balas Darwin. Rein masih memunggungi pria itu. Dia tidak berani menatap wajahnya. Mendengar ucapan Darwin barusan. Mengapa hati Rein sedikit terasa perih?


"Dan cocok denganku! Sebaiknya aku kembali dan menerimanya?" Darwin mencoba melangkahkan kaki pria itu. Dia hendak pulang ke rumahnya.


Rein mengerucutkan bibirnya, ucapan pria itu membuatnya begitu kesal. Rein segera membalikkan badan dan berlari untuk menggapai Darwin.


Rein memeluk punggung pria itu. Darwin tersenyum senang, akhirnya Rein mengakui perasaannya sendiri.


"Jangan! Kamu tidak boleh menerima dia!" ucap Rein ingin sekali egois kali ini.


"Kenapa? Kamu bilang kami sangat cocok?" tanya Darwin. Rein masih memeluknya erat dari belakang.


"Aku bohong!" balas Rein. Kali ini Darwin segera berbalik badan. Rein mengendurkan pelukannya.


"Jadi siapa yang cocok denganku?" tanya Darwin. Lagi-lagi Rein tidak berani menatap kedua mata Darwin. Sejak kejadian kemarin, dia takut melihat wajah pria itu.


"Yang jelas bukan dia!" Rein mengucapkannya dengan kepala menunduk.


Darwin menjadi gemas karena gadis itu. Dia memegang kedua pipi Rein. Mendongakkan wajah cantiknya.


"Kenapa menghindari tatapanku terus?" tanya Darwin.


Rein menggelengkan kepalanya, jantung gadis itu seperti tengah berlari di tempatnya.


Deg! Deg! Deg!


"Lihat aku!" ucap Darwin menatap kedua mata Rein.


Darwin mendekatkan wajahnya pada wajah Rein. Gadis itu semakin gugup. Lagi-lagi Darwin ingin mencium dirinya.


Ketika jarak mereka sudah sangat dekat. Rein menggunakan dahinya untuk memukul hidung Darwin.


"Ah kamu!" teriak Darwin kesakitan. Rein berhasil melepaskan diri. Dia tampak begitu senang setelah melakukannya.


"Hahaha, siapa suruh sembarangan mau mencium ku!" Rein berlari menghindari Darwin. Pria itu menjadi semakin gemas. Dia mengejar Rein yang berlari di taman itu. Mereka tampak bahagia bersama.


Dari jauh Rumi tidak sengaja melihat mereka. Dia yang hendak pulang ke rumahnya bersama kedua orang tua gadis itu.

__ADS_1


"Jadi karena dia? Kamu menolak perjodohan kita?" batin Rumi kesal melihat Rein yang bahagia bersama calon tunangannya. Dia mengepalkan kedua tangan gadis itu.


__ADS_2