
Rein khawatir karena mereka tidak bisa keluar dari kamar itu. Darwin sudah berganti pakaian. Dia duduk di atas ranjang, sedangkan Rein masih berdiri di depan pintu. Mencoba beberapa kali membuka paksa pintu itu. Namun usahanya sia-sia saja.
"Sudahlah Rein! Duduklah di sini. Kita belajar dulu," ucap Darwin. Rein akhirnya melangkah dengan tanpa semangat ke arah pria itu.
Duduk di atas ranjang dan membuka buku yang tadi dia bawa.
Darwin mulai mengajarinya kembali. Rein sudah mulai mengerti tentang pelajaran itu.
"Gimana mudahkan?" tanya Darwin ketika selesai menjelaskan.
"Iya, kenapa kamu bisa dengan mudah menguasai pelajaran ini. Kenapa aku sangat sulit?" gumam Rein dengan suara pelan.
"Entah, mungkin memang setiap orang itu memiliki kelebihan berbeda-beda." Balas pria itu.
"Benar juga, mungkin kelebihan ku tertinggal entah dimana!" gumam Rein lagi. Darwin malah membalasnya dengan tertawa kecil. Rein senang bisa melihat pria itu tertawa seperti saat ini.
"Oh iya,kamu pasti lapar kan Darwin?"tanya Rein, teringat tentang kotak nasi yang dia bawa tadi.
"Ini makan lah!" pintanya lagi sambil memberikan kotak nasi tadi pada Darwin.
"Apa ini?" tanya Darwin.
"Aku membawakan mu makanan, barangkali tidak sempat memasak," balas Rein.
Darwin membuka kotak nasi itu. Ada nasi dan lauk lengkap di dalamnya. Sudut bibir Darwin terangkat. Dia sangat beruntung memiliki kekasih yang sangat peduli dengannya.
"Makasih ya Rein," ucap Darwin. Dia lalu menyantap makanan itu.
"Iya, makanlah!"
"Kamu mau?" tanya Darwin sambil mengarahkan sendok berisi nasi pada Rein.
"Tidak kamu saja! Aku sudah kenyang," balas Rein.
"Ayolah, ini terlalu banyak. Mari kita makan berdua!" ajak Darwin. Rein akhirnya membuka mulutnya. Dia baru kali ini di suapi oleh seorang pria. Wajahnya mulai merona, Darwin malah menertawakannya.
"Baru pertama kali disuapin ya?" tanya Darwin. Rein menganggukkan kepalanya.
"Aku juga baru pertama menyuapi seorang gadis." Imbuh Darwin semakin membuat Rein merona.
Keduanya lalu asik menikmati makanan itu berdua. Tak terasa hari mulai malam terlihat dari luar jendela kamar Darwin.
"Darwin, gimana kalau aku keluar lewat jendela saja?" ucap Rein memberi ide gila pada pria itu.
__ADS_1
Darwin menjentikkan jarinya ke dahi Rein. Gadis itu mengaduh karena sakit.
"Kamu bodoh ya? Rumah ini terlalu tinggi, mau jatuh dan patah tulang?" tanya Darwin.
"Nggak mau!" balas Rein.
"Nah kan, tunggu aja di sini. Nanti pasti ada yang mencari mu!" ucap Darwin.
"Siapa yang mencari ku, mama dan papa ke luar kota. Di rumah hanya ada Naren dan Tifo. Pria itu tidak mungkin mencari diriku!" balas Rein.
"Kalau gak ada ya udah,tidur di sini aja!" ucap Darwin santai.
"Hah, tidur di sini? Sekamar sama kamu?" tanya Rein. Darwin menganggukkan kepalanya.
Dia meletakkan kotak nasi yang audah kosong ke atas meja kecil di samping ranjangnya. Lalu minum air dari botol yang sering dia bawa ke kamar.
"Minum?" tawar Darwin pada Rein. Gadis itu mengangguk.
"Ini!" Darwin memberikannya pada Rein. Gadis itu segera meneguk air yang di berikan oleh Darwin.
Setelah kenyang, keduanya kembali belajar. Rein mulai mengantuk. Begitu pula dengan Darwin. Jika di perkirakan,sepertinya hari sudah pukul sepuluh malam.
"Rein ayo tidur, aku sudah mengantuk!" ajak Darwin.
Darwin sudah berbaring di atas ranjang itu. Sedangkan Rein masih duduk di samping Darwin.
"Kenapa duduk saja, tidurlah!" Darwin menepuk bantal di sampingnya. Rein sedikit gugup, mereka benar-benar harus tidur bersama kah malam ini. Rein takut hal-hal buruk akan mereka lakukan.
"Jangan takut Rein!" ucap Darwin membujuknya.
"Aku tidur di lantai saja!" Rein mengambil bantal dan selimut. Lalu berbaring di lantai dengan beralaskan selimut tadi.Darwin menghela napasnya.
"Selamat malam Darwin!" Rein mematikan lampu utama kamar pria itu. Tinggal lampu temaram di atas meja. Rein mencoba menutup matanya.
Tiba-tiba Darwin turun dari ranjang. Memutar menuju ke tempat Rein berbaring. Mengangkat tubuh gadis itu dengan kedua tangannya.
"Hei! Apa yang kamu lakukan?" tanya Rein panik.Darwin meletakkan tubuh Rein di atas ranjang.
"Tidur di sini!" ucapnya tegas.
Wajah Rein tampak menegang.Dia sangat takut jika Darwin macam-macam padanya.
"Iya," balas Rein kaku.
__ADS_1
Darwin lalu berbaring di samping Rein. Keduanya sama-sama saling memandang ke arah langit-langit kamar.
Keduanya juga saling gugup satu sama lain.Di cahaya yang remang-remang, mereka mencoba untuk menutup mata. Namun semakin mencoba semakin sulit.
"Bagaimana ini? Aku tidak bisa tidur jika gugup seperti ini?" batin Rein.
"Tahan Darwin,tahan dirimu!" batin Darwin menahan dirinya sendiri untuk tidak larut dalam suasana malam itu.
"Jedaar!" suara guntur tiba-tiba mengagetkan keduanya. Disertai hujan lebat di luar sana. Darwin lupa menutup jendela kamarnya. Dia segera bangun dan menutupnya. Dia melihat kamar Rein gelap gulita. Sepertinya Tifo benar-benar tidak mencari gadis itu.
Setelah menutup jendela dan tirainya. Darwin kembali ke atas ranjangnya. Di sana Rein masih belum bisa terlelap.
Hampir setengah jam keduanya memandang langit-langit kamar.
"Rein," panggil Darwin dengan suara pelan.
"Ya."
"Kamu belum bisa tidur?" tanya Darwin.
"Belum, kamu juga?" tanya Rein. Keduanya sama-sama gugup.
"Iya," Darwin tiba-tiba menarik pinggang Rein. Agar mendekat ke tubuhnya.
"Aah! Darwin apa yang kamu lakukan?" tanya Rein panik.
"Apa kamu tidak dingin?" tanya Darwin.
"Dingin,tapi-" ucapan Rein terhenti ketika pria di belakangnya tiba-tiba mengendus leher Rein.Rasa geli bercampur rasa aneh menjalar di tubuh Rein.
"Rein, aku tidak bisa menahannya lagi!" ucap Darwin hampir menyerah menahan dirinya.
"Tapi Darwin,bagaimana kalau keluarga kita tahu?" tanya Rein takut.
"Maaf Rein, aku tidak peduli itu. Sekarang hanya ada kita, aku pasti akan bertanggung jawab!" Darwin tak lagi menahan diri,dia membalik tubuh Rein,menghadap ke arahnya. Wajah mereka saling bertatap.
Suara hujan di luar menambah udara semakin dingin. Darwin mulai mencumbu bibir Rein. Gadis itu juga tidak bisa menahan diri lagi.
"Huh huh huh," suara nafas mereka beradu. Udara yang dingin perlahan berubah menghangat karena mereka berdua.
"Darwin aku takut?" ucap Rein, meski dahulu ketika keduanya berada di dunia vampir sudah pernah melakukannya. Namun dunia yang sekarang dan tubuh mereka yang sekarang berbeda. Rein masih berusia tujuh belas tahun, begitu pula Darwin yang belum genap delapan belas tahun itu.
"Jangan takut, aku akan melakukannya dengan pelan," jawab Darwin.Tangan Darwin mulai menyentuh bagian-bagian sensitif dari tubuh Rein.
__ADS_1
Di malam yang dingin mereka akhirnya melanggar aturan dari Ilham. Cinta yang menggebu membuat mereka larut dalam kenikmatan sepanjang malam.