Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Ketiduran


__ADS_3

Setelah makan malam selesai, Darwin dan Rein kembali ke ruang keluarga. Keduanya mulai belajar kembali.


"Cepat kerjakan soal-soal ini!" pinta Darwin pada Rein.


"Baiklah," Rein segera mengerjakan soal-soal yang di buat oleh Darwin tadi. Pria itu mengamatinya. Keduanya duduk di lantai dengan meja sedang di depan mereka.


Darwin menyandarkan kepalanya di atas meja, sambil mengamati Rein yang sedang mengerjakan tugas darinya.Rein yang serius tampak berbeda dari biasanya. Dia lebih cantik dan juga menarik.


"Ini seharusnya begini, ini begini! Seharusnya sudah benar," ucap Rein sendiri sambil mengerjakan soal matematikanya.


"Darwin, ini sudah benar kan?" tanya Rein namun gadis itu tidak melihat ke wajah Darwin. Hanya menunjuk jawaban yang telah dia tulis.


"Win!" panggilnya setelah tidak ada jawaban dari pria itu. Rein lalu menengok ke arah samping. Ternyata pria itu tertidur sambil wajahnya menghadap ke arah Rein.


"Ya ampun, ketiduran?" gumam Rein.


"Kamu pasti capek banget sehari ini," imbuhnya lagi mengerti keadaan Darwin.


Rein ikut menyandarkan kepalanya di atas meja. Wajahnya menghadap ke arah wajah Darwin. Dia memandang puas wajah tampan itu.


Lama Rein menatapnya hingga tanpa sadar dia juga ketiduran.


Di rumah Rein, Nadia tengah kebingungan mencari putrinya. Dia melihat ke kamar gadis itu, namun tak ada juga.


"Mama!" panggil Naren. Nadia menatap anak itu. Dia berada di ambang pintu kamar Rein.


"Kenapa Naren?" tanya Nadia.


"Mama mencari kak Rein ya?" tanyanya.


"Iya, kamu tahu dimana dia? Sejak pulang sekolah mama belum ketemu sama kakakmu itu," tanya Nadia.


"Kak Rein ke rumah kak Darwin ma. Katanya tadi mau belajar bersama," beri tahu Naren pada mamanya.


"Oh begitu, sudah malam kok belum selesai juga," Nadia melihat jam di dinding rumahnya. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Dia mulai khawatir jika Darwin dan Rein berbuat hal buruk.


"Naren, kamu tidur dulu di kamar ya, mama mau menyusul kakakmu." Pinta Nadia pada Naren.


"Iya ma," Naren segera menuju ke kamarnya. Dia besok juga harus bangun pagi untuk sekolah. Sekarang waktunya untuk dia tidur.


Nadia melangkahkan kakinya menuju ke pintu utama rumahnya. Dia keluar dari rumah dan menuju ke rumah tetangganya itu.


Ketika sampai di depan rumah, pintu pagar dan juga pintu utama rumah itu tidak di tutup rapat. Nadia masuk perlahan ke rumah Darwin. Setelah berkali-kali memanggilnya namun tak ada jawaban apapun.

__ADS_1


"Kenapa sepi sekali rumahnya?Jangan-jangan!" Nadia mulai berpikir hal-hal aneh. Dia segera melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu.


Mereka tidak ada di sana,Nadia lalu melanjutkan langkahnya menuju ke ruang keluarga.


"Ternyata di sini?" Nadia akhirnya menemukan keduanya. Dia lalu mendekati dan memeriksa sedang apa mereka.


"Astaga, ketiduran sambil memakai bantal buku?" gumam Nadia. Dia ingin sekali tertawa melihat pemandangan yang menyejukkan mata itu.


Nadia sebenarnya sangat ingin memiliki menantu setampan Darwin dan sebaik pria itu. Tapi dia tidak mau ikut campur urusan anak muda. Biarkan saja Rein dan Darwin saling suka selama berjalannya waktu.Nadia belum tahu kalau keduanya sudah berpacaran.


Nadia lalu memukul Rein dan Darwin tepat di pundak mereka dengan pelan.Agar keduanya tidak terkejut.


"Mama!" Rein sudah membuka mata kembali. Di susul oleh Darwin.


"Tante," Darwin mengusap kedua matanya agar lebih jelas dalam melihat.


"Kalian ini malah ketiduran," ucap Nadia.


"Maaf tante," jawab Darwin.


"Udah gak apa-apa, Darwin kunci dulu rumahnya sebelum kembali tidur." Pinta Nadia pada Darwin.


"Baik tante."


"Iya ma," Rein membereskan buku-bukunya. Lalu segera berdiri dan melangkah pergi. Darwin mengantar Rein dan mamanya ke depan.


"Selamat malam tante," ucap Darwin.


"Selamat malam juga Darwin, jangan lupa di kunci ya," balas Nadia.


"Iya tante."


Rein dan Nadia segera kembali ke rumah mereka. Rein langsung ke kamarnya dan tidur. Sedangkan Nadia masih menunggu suaminya. Pria itu belum pulang juga. Dia menjadi khawatir karena hal itu.


Darwin segera membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Dia sangat mengantuk malam ini.


Esok paginya, Darwin sudah bangun pagi. Dia bersiap untuk berangkat ke sekolah. Ketika mengeluarkan motornya dia kebetulan berpapasan dengan sepupunya Rein.


"Darwin! Kamu tolong bawa Rein ya, hari ini aku akan menjemput pacarku. Bisa kan?" tanya Tifo pada Darwin.


"Oh baiklah kak," balas Darwin. Rein keluar dari rumahnya. Sambil menenteng helm di tangan kanannya.


"Kak Tifo, aku udah siap?" ucap Rein.

__ADS_1


"Hari ini kami berangkat bareng Darwin ya Rein!" pinta Tifo.


"Hah, kenapa memangnya?" tanya Rein.


"Mulai hari ini aku akan menjemput pacarku,kamu numpang aja sama Darwin!" balas Tifo sambil senyum-senyum senang. Tampak sekali di wajahnya dia tengah berbunga-bunga.


"Rein cepat naik, sudah siang nih!" ajak Darwin.


"Baik!" Rein berjalan ke arah motor Darwin. Lalu memakai helmnya. Dan naik ke motor pria itu.


Darwin segera melajukan motornya di jalan menuju ke sekolahan. Rein merasa sedikit canggung ketika harus berangkat bersama dengan Darwin ke sekolah. Bagaimana kalau banyak yang mengetahui keduanya berpacaran. Rein bisa saja kena goda teman-temannya.


"Rein pegangan!" pinta Darwin.


"Ya," Rein memegang jaket yang di pakai oleh Darwin.


Darwin menatap kedua tangan Rein yang hanya memegang jaketnya. Dia lalu berhenti sebentar.


"Kenapa Win?" tanya Rein panik.


"Kalau pegangan yang bener!" ucap Darwin sambil menarik tangan Rein agar mempererat pegangannya.


Rein harus memeluk erat punggung Darwin.Pria itu tersenyum kecil. Lalu kembali melajukan motornya.


Rein ikut tersenyum melihat perlakuan Darwin padanya. Mereka hampir tiba di sekolah, Rein segera melepaskan pelukannya dari punggung Darwin. Dia tidak mau semua sisa disekolah bakal gempar. Jika melihat dirinya dan Darwin berangkat bersama.


Rein buru-buru turun dari motor Darwin dan meletakkan helmnya. Dia menghindari para murid yang menatap dirinya dengan tanda tanya.


"Hei Rein dan Darwin berpacaran ya?" gumam salah satu gadis yang merupakan fans Darwin.


"Kalau iya, hancur sudah hati ini!" ucap yang lainnya sambil memegang dada mereka masing-masing.


Rein berlari menjauh dari Darwin. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Apa dia malu?" gumam Darwin.


Rein berlari ke arah kelasnya. Di ikuti Darwin yang berjalan pelan di belakang gadis itu.


"Ah akhirnya sampai juga di kelas!" ucap Rein lega. Sambil mengatur napasnya agar kembali tenang seperti sebelumnya.


"Gawat,gawat! Banyak orang yang melihat kami tadi? Bagaimana ini?" batin Rein khawatir.


Darwin masuk ke dalam kelas dia mencubit pipi Rein. Untungnya kelas mereka masih sepi.

__ADS_1


"Kamu!" Rein membelalakkan kedua matanya kesal.


__ADS_2