Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Ketahuan


__ADS_3

Rein membuka matanya perlahan. Saat pertama yang terlihat adalah langit-langit kamar itu. Tubuhnya terasa begitu berat.


"Ah kenapa berat sekali?" Rein lalu melihat ke arah samping kanannya.Ternyata tangan Darwin tengah memeluk dirinya.


"Bagaimana ini? Kami sudah melakukannya!" gumam Rein teringat kejadian semalam ketika melakukan hal yang tidak boleh di lakukan bersama Darwin.


Rein ingin ke kamar mandi di kamar itu. Namun tangan Darwin menghalanginya. Dia perlahan mengangkat tangan itu. Agar Darwin tidak terbangun.


"Umm Rein, mau kemana?" tanya Darwin, akhirnya dia terbangun juga.


"Darwin, aku ingin ke kamar mandi," ucap Rein.


"Nanti saja!" Darwin malah semakin erat memeluk Rein.


"Darwin lepaskan, kita harus ke sekolah!" ucap Rein.


"Kamu benar, tapi bagaimana kita keluar dari kamar ini?" tanya Darwin.


"Brak!" suara pintu di dobrak dari luar. Rein dan Darwin terkejut. Tapi lebih terkejut lagi orang yang berada di luar kamar itu.


"Darwin!Rein!" teriaknya pada dua sejoli itu.


Rein segera menutup tubuhnya dengan selimut sampai ke leher.Sedangkan Darwin duduk di atas ranjang itu.


"Paman!" panggilnya.


Wajah Ilham sudah merah menahan amarahnya. Dia ingin sekali memukul keponakannya itu.


"Apa yang kalian lakukan?Hah!" teriaknya pada Rein dan Darwin.


Rein sangat ketakutan kali ini. Darwin juga,namun dia harua berani membela dirinya dan Rein juga.


"Paman aku bisa jelasin!" ucap Darwin.


"Cepat pakai baju kalian dan turun ke ruang tamu!" pintanya sambil menutup pintu lagi.


Kedua mata Ilham memerah.Pria itu turun ke ruang tamu. Menunggu keduanya selesai memakai baju terlebih dahulu.


"Darwin bagaimana ini?Aku takut!" ucap Rein.


"Jangan takut Rein,ayo kita turun!" ajak Darwin setelah keduanya selesai memakai baju mereka kembali.


Rein menganggukkan kepalanya. Dia dan Darwin perlahan menuruni anak tangga menuju ke ruang tamu.


Sepanjang langkahnya ke ruang tamu, Rein hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia pasrah jika harus kena marah pada pak Ilham.

__ADS_1


"Paman!" panggil Darwin.


Ilham menatap keduanya dengan wajah marah.Terutama untuk Darwin, dia sangat kecewa dengan keponakannya itu.


"Duduklah!" pinta Ilham pada keduanya.


Rein dan Darwin duduk di depan Ilham. Keduanya saling menundukkan kepala.


"Paman tidak tahu harus menghadapi kalian bagaimana lagi!" ucapnya memulai percakapan.


"Maaf paman!" ucap Darwin.


"Maaf saja tidak cukup Darwin, kamu harus mengatakan hal ini pada keluarga Rein." Pinta Ilham pada Darwin.


"Baik paman, Darwin siap!" jawabnya yakin. Ilham hanya bisa menarik napas panjang.Baru saja dua hari dia tidak mengawasi anak itu, dia sudah berani bermain api dengan anak gadis orang. Ilham merasa gagal dalam mendidiknya.


"Baiklah,ayo kita ke rumahmu Rein!" ajak Ilham.


Rein pasrah,jika sampai kedua orang tuanya marah besar padanya. Rein sudah siap, karena memang dia dan Darwin sudah salah.


"Baik pak," Rein berdiri begitu pula dengan Darwin. Keduanya berada di belakang Ilham.


Rein menatap Darwin yang berjalan di sampingnya. Pria itu juga begitu. Darwin menggenggam tangan Rein kuat. Dia ingin menunjukkan pada Rein bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Ketiga orang itu telah sampai di rumah. Jika di lihat dari garasi mobil, papa dan mamanya Rein sudah pulang.Pagi-pagi seperti ini mereka pasti tengah makan.


"Masak sih tan dia gak ada? Semalam Tifo nggak ngecek dia sih?" ucap Tifo jujur.


"Dia gak ada di kamar?" Rendra juga ikut bertanya.


"Gak ada pa," jawab Nadia khawatir.


"Mungkin Faro tahu om," balas Tifo.


Faro turun dari kamarnya setelah memakai pakaian kerja rapi. Pria itu bersiap untuk sarapan bersama para anggota keluarga yang lain.


"Faro, kamu lihat dimana adikmu?" tanya Nadia.


"Rein?Bukannya dia di kamarnya?" Faro malah balik bertanya.


"Tidak ada, mama udah mencarinya. Bukannya semalam kalian di rumah bertiga?" ucap Nadia. Karena memang Naren mereka ajak semalam. Sedangkan mereka bertiga di rumah.


"Faro malah gak tahu ma, semalam Faro kecapekan pulang kerja. Jadi langsung tidur di kamar!" jawab Faro santai, lalu dia duduk di kursi yang biasa dia duduki.


"Ya ampun, kemana anak itu?" tanya Nadia khawatir.

__ADS_1


Suara bel rumah tiba-tiba berbunyi.


"Siapa pagi-pagi seperti ini bertamu?" gumamnya.


Nadia segera menuju ke arah pintu utama rumahnya. Ketika membuka pintu itu dia terkejut karena tetangga sebelah sepagi ini sudah datang.


"Ilham, Rein,Darwin?Ada apa ini?" Nadia bingung melihat ekspresi wajah dari ketiganya. Di tambah lagi Rein dan Darwin yang saling berpegangan. Membuat Nadia berfikir yang tidak-tidak.


"Bolehkan kita masuk?" tanya Ilham.


"Oh iya, silahkan masuk!" Nadia mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah. Hatinya sudah was-was.Karena wajah Ilham tidak seperti biasanya.


"Kita sedang sarapan, ayo kalian sekalian sarapan!" ajak Nadia. Ilham menganggukkan kepalanya.


Dia ingin berbicara dengan semua orang yang berada di keluarga itu. Agar jelas dan dapan mencari jalan keluar bersama.


"Siapa ma?" tanya Rendra para istrinya.


Rendra menatap siapa tamu yang di bawa oleh Nadia ke meja makan. Ternyata tetangga mereka.


"Wah ternyata tetangga kita, ayo sini kita sarapan bersama," ucapnya pada mereka.


"Terima kasih pak Rendra." Jawab Ilham, Darwin dan Rein diam saja. Mereka ikut duduk di kursi yang masih kosong. Suasana menjadi canggung seketika.


"Rein kenapa kamu bisa dari luar rumah?" tanya Nadia mencoba mencairkan kecanggungan itu.


"Darwin jelaskan lah!" pinta Ilham pada keponakannya. Nadia dan Rendra saling menatap bingung. Begitu pun yang lainnya.


"Maaf tante, om Rendra. Semalam saya dan Rein telah terkunci di kamar saya. Kami hendak belajar bersama. Tapi kami berdua khilaf dan melakukan hal itu. Darwin minta maaf dan siap untuk bertanggung jawab pada Rein," ucap Darwin.


Sendok dan garpu yang berada di tangan Rendra dan yang lainnya tiba-tiba terjatuh ke piring. Mereka semua terkejut dengan pengakuan Darwin di pagi-pagi seperti ini.


"Apa maksudnya ini?" tanya Rendra bingung.


"Papa, maafkan Rein dan Darwin. Kami saling mencintai pa!" ucap Rein memohon pada papanya.


Nadia tampak terkejut mendengar apa yang telah keduanya lakukan. Faro pun begitu, sedangkan Tifo terlihat lebih santai.


"Brak!" Rendra menggebrak meja makan di depannya. Dia sangat marah kali ini. Terlihat dari wajahnya yang mulai memerah.


"Kalian tahu apa yang tengah kalian lakukan itu?" tanya Rendra. Rein dan Darwin saling diam menunduk dan bergandengan tangan.


"Kalian benar-benar!" Rendra mencoba menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan. Dia harus bisa menenangkan dirinya.


Suasana menjadi tegang seketika.Naren hanya mendengarkan mereka saja, dia tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Rein tidak bisa menahan air matanya. Dia sudah mengaku salah. Begitu pula dengan Darwin. Pria itu siap jika harus kena marah dari Rendra.


__ADS_2