Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Pergi Selamanya


__ADS_3

Sukma memegang kepalanya erat. Rasa sakit yang sering datang kini kembali dia rasakan. Di depan banyak orang dia tidak bisa menyembunyikan lagi.


"Ma,mama!" panggil Naren ketika sang mama merasakan sakit yang luar biasa itu.


Sukma jatuh pingsan, Naren menangis di samping mamanya. Semua orang di sana mendekati keduanya.


"Dokter, cepat panggil dokter!" teriak Hito.


Dengan cepat dokter menangani Sukma. Dia di bawa ke ruang gawat darurat.


Faro dan Rein menunggu di luar ruangan.Sedangkan Hito menunggu di ruang rawat Nadia.


Darwin dan Ilham memilih keluar dari ruang rawat mamanya Rein. Keduanya ingin memberi waktu bagi nyonya Nadia untuk berbicara dengan suaminya.


Hito terdiam di samping istrinya. Nadia juga begitu, ada banyak hal yang ingin dia katakan. Namun sulit untuk memulainya.


"Tolong maafkan aku Nadia, aku khilaf sayang," ucap Hito.


"Kamu sayang sama dia?" tanya Nadia.


Hito terdiam, mencerna pertanyaan dari Nadia.


"Tidak, aku akan jelaskan semuanya ke kamu.Apa yang terjadi saat itu," ucap Hito pada istrinya.


Nadia menganggukkan kepalanya. Dia harus siap mendengar penjelasan suaminya. Meskipun sekali lagi menyakiti hati wanita itu.


"Saat itu, kamu ingat aku ada pekerjaan di luar kota bersama dengan Kenz?" Hito memulai ceritanya.


"Ya aku ingat," jawab Nadia.


"Saat kami di sana, kami bertemu dengan Sukma. Aku dan dia tidak begitu dekat. Kami hanya bertemu karena dia anak dari pemilik tanah yang hendak aku beli waktu itu." Hito berhenti mengingat kembali masa paling tidak dia inginkan itu.


"Saat itu aku tidak tahu bahwa Kenz ternyata memiliki niat jahat padaku. Dialah orang yang sengaja memberiku obat perangsang dan memaksa Sukma untuk melayaniku. Aku di luar kendali Nadia. Setelah aku mengetahui perbuatan Kenz padaku, aku langsung memecatnya.Dan juga melaporkannya ke polisi. Namun dia kabur entah kemana. Hingga sekarang kami tidak pernah bertemu," jelas Hito. Sesuai apa yang terjadi saat itu.


"Aku tidak pernah berniat menduakan mu Nadia. Kamu tahu kan aku sangat mencintaimu dan juga anak-anak kita," ucap Hito tulus. Dari mata pria itu terlihat kejujuran dan ketulusannya.


"Tapi kenapa tidak pernah memberitahuku sebelumnya?" tanya Nadia.


"Karena aku pikir masalah ini akan berakhir. Aku memberinya uang untuk mengaborsi bayi, jika memang dia hamil karena kejadian malam itu. Tapi dia tidak melakukannya," balasnya lagi.


Nadia meneteskan air matanya. Hatinya terasa perih mendengar cerita dari pria itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Dia tidak bisa mengembalikannya ke semula kembali.


Sukma tak sadarkan diri, dia harus menggunakan alat-alat medis sebagai penunjang hidupnya. Dokter berusaha menanganinya dengan baik.


Rein menggenggam tangan Naren yang tak berhenti menangis ketika melihat mamanya kritis.


"Mama! mama!" panggilnya terus menerus.

__ADS_1


"Naren, jangan menangis lagi. Doakan mama mu baik-baik saja," ucap Rein sambil duduk di depan Naren. Anak itu masih terlalu kecil untuk mengalami semua masalah ini.


Darwin mendekati Naren dan Rein. Dia ikut berjongkok di depan anak itu.


"Hei, namamu Naren kan? Nama kakak Darwin. Mau ikut kakak belis es krim?" bujuk Darwin. Naren langsung berhenti menangis. Dia tampaknya anak yang penurut.


"Ayo!" ajak Darwin, pria itu membuka tangannya lebar-lebar. Agar Naren bisa memeluknya.


Naren menghambur dalam pelukan Darwin. Pria itu lalu menggendongnya keluar dari rumah sakit itu.


Rein menatap Darwin bangga, pria itu bisa dengan mudah merayu Naren yang sejak tadi menangis.


Di luar rumah sakit. Darwin dan Naren duduk di sebuah taman kecil.Darwin menatap Naren yang sedang menikmati es krimnya. Dia lalu teringat dengan masa kecilnya dahulu. Ketika dia kehilangan sang mama.


Sama seperti Naren, Darwin kecil tidak berhenti menangis ketika melihat mamanya masuk ke ruang gawat darurat.


"Naren? Berapa usiamu?" tanya Darwin.


"Tujuh tahun kakak," ucapnya dengan suara khas anak kecil.


"Wah pasti sudah sekolah kan?" tanya Darwin.


"Naren sudah sekolah kak, tapi sejak ke sini. Sekolah Naren harus libur," ucap Naren. Darwin mengerti maksud anak itu.


"Ya udah gak apa-apa. Naren mau lagi es krimnya?" tanya Darwin menawarkan es krim lagi pada Naren. Anak itu menggelengkan kepalanya.


"Naren mau lihat mama kak, mama sakit."


"Emang mamanya sakit sudah sejak kapan Naren," tanya Darwin.


"Sudah lama kak, mama sering pingsan. Mama juga bilang, Naren harus ikhlas kalau mama pergi nanti! Naren tidak mengerti mama mau pergi kemana kak," ucap polos Naren.


Darwin tersentuh dengan ucapan anak sekecil Naren. Meskipun dia belum mengerti maksud mamanya.


"Ya udah kita kembali ke dalam yuk!" ajak Darwin. Naren menganggukkan kepala. Kali ini anak itu tidak meminta di gendong. Hanya ingin di gandeng saja tangannya. Darwin menuruti keinginan Naren.


Keduanya segera masuk ke dalam rumah sakit. Kembali ke ruang gawat darurat tadi. Faro fan Rein masih menunggu di luar.


"Bagaimana? Dokter belum ada yang keluar?" tanya Darwin.


"Belum," jawab Rein dengan wajah khawatirnya.


"Kamu makan dulu Rein, nanti takutnya malah sakit," pinta Darwin.


"Aku gak lapar Win," jawab Rein dengan lesu. Tampak lelah dan kurang tidur terlihat dari wajahnya.


Setelah menunggu beberapa saat. Dokter keluar dari ruangan itu. Dia memanggil keluarga pasien.Naren yang mendengarnya segera melangkah maju.

__ADS_1


"Saya dokter, dia mama saya!" ucapnya.


"Kami semua keluarganya dok," Rein tidak tega melihat Naren yang melangkah maju sendirian mewakili keluarga pasien.


"Baiklah, silahkan masuk ke dalam sesuai permintaan pasien." Ucap dokter itu memberi tahu pada mereka.


Naren dan semua orang yang berada di sana masuk ke dalam ruangan. Naren segera berlari ke arah mamanya.


Nadia juga ingin bertemu dengan Sukma. Dengan memakai kursi roda dia di dorong oleh Hito masuk ke dalam ruangan itu.


"Mama!" panggil Naren.


"Naren," Sukma memanggil anaknya dengan suara pelan.


"Iya ma," Naren memeluk sukma.


"Jangan nakal ya nak, mama harus pergi!" ucap Sukma.


Rein dan semua orang di sana merasa sangat sedih.


"Mama jangan pergi, Naren tidak akan nakal kok. Asal mama jangan tinggalin Naren," ucap Naren.


Rein tidak bisa menahan air matanya. Melihat Naren yang tak rela kehilangan mamanya.


"Mas Hito, mbak Nadia, saya titip Naren ya. Dia hanya punya kalian. Saya mohon rawat dia. Dan tolong maafkan saya," Sukma menatap ke arah Nadia dan Hito.


"Iya Sukma, kami sudah memaafkan mu dan akan menjaga Naren," ucap Nadia. Dia sudah ikhlas tentang semuanya.


Meski kecewa dengan Hito. Tapi dia juga seorang ibu, melihat Naren tanpa seorang ibu. Pasti berat bagi anak itu. Nadia akan menganggapnya anak kandung sendiri.


Setelah mendengar itu, Sukma memeluk dan mencium Naren.


"Ma, Naren ikut mama! Mama jangan pergi ya?" ucap Naren sambil berlinang air mata.


Rein berkali-kali mengusap air matanya yang membasahi kedua pipi gadis itu.


"Jangan, Naren sama kakak-kakak ya. Mereka bisa nemenin Naren main."


"Mama sayang Naren," ucap Sukma sebelum napas terakhir dan menutup mata untuk selamanya.


"Ma!" Naren menggoyangkan tubuh mamanya.


"Mama bangun! Jangan tidur ma!" pinta Naren.


Rein mendekati adik tirinya itu. Memeluk dia dari belakang.


"Naren,mama mu sudah pergi nak."

__ADS_1


"Tidak,mama tidak boleh pergi kak!" Naren menangis histeris. Dia berulang kali mengatakan ingin ikut sang mama pergi juga.


__ADS_2