
Malam tiba dengan cepat, Ranya yang lelah setelah menangis dan juga karena obat yang dia minum. Membuatnya tidur lebih cepat.Rein menyelinap ke kamar gadis itu.
"Gadis yang malang, siapa suruh dulu menindas pemilik tubuh ini," gumamnya ketika dia berada di samping tubuh Ranya yang tertidur pulas.
Rein menaruh sebuah dupa perangsang di kamar milik Ranya. Lalu perlahan melompat keluar dari jendela.
Ranya yang tidur pulas tak menyadari bahaya yang akan menimpanya.
"Uh panas sekali!" Ranya mulai menggeliatkan tubuhnya karena dupa itu mulai bekerja.
Semakin lama semakin menjadi. Rein sebelumnya telah menaruh dua pengawal laki-laki di kamar Ranya. Dua pria itu dalam keadaan pingsan karena pukulan dari Rein.
Tapi setelah mencium aroma dupa perangsang itu. Keduanya juga akan bangun dan menyelesaikan rencana Rein.
"Aduh kenapa kita ada di kamar nona Ranya?" tanya salah satu pengawal yang terlebih dulu sadar. Laku dia membangunkan temannya.
"Hei bangun!" Pengawal yang satunya juga terbangun. Tapi dengan cepat keduanya terpengaruh oleh dupa yang telah di siapkan oleh Rein tadi.
"Uh kenapa badanku terasa panas sekali?" tanyanya.
"Aku juga," jawab pengawal yang lainnya.
"Ah," keduanya mendengar lenguhan dari Ranya. Seketika naluri sebagai lelaki terbangun. Keduanya menuju ke ranjang milik Ranya. Melihat gadis itu yang sudah membuka pakaian bagian atas dan bawahnya.
Dua pengawal itu dengan cepat tergoda.Di tambah lagi perangsang yang mengenai mereka. Membuat mereka tanpa sadar mendekati tubuh Ranya.
Ranya dalam keadaan setengah sadar melihat dua lelaki di samping ranjangnya. Tanpa berpikir panjang menarik keduanya untuk memuaskan dirinya.
Dengan cepat dua pria itu membuka seluruh pakaian di tubuh Ranya. Meski tengah memiliki penyakit aneh. Tapi masih ada bagian tubuh gadis itu yang menggoda bagi kedua pengawal itu.
"Cepat sentuh aku!" pinta Ranya seperti wanita yang kurang belaian.
Dengan senang hati keduanya menurutinya.
__ADS_1
Ketika orang itu tanpa sehelai benang pun. Satu demi satu keduanya bergantian melayani Ranya.
"Ah, uh, ah, eeemm!" ******* demi ******* keluar dari bibir Ranya. Gadis itu merasa kenikmatan yang tiada tara. Tanpa sadar meminta lagi dan lagi pada kedua pengawalnya.
Dengan senang hati mereka melampiaskan hasrat keduanya. Ketiganya sama-sama mencapai puncak kenikmatan. Ranya sampai lemas karena pelayanan dua pengawal itu.
Rein dari jendela menguping aktifitas malam yang di lakukan Ranya.Darwin tiba-tiba mendekati gadis itu dan menutup kedua telinga Rein. Lalu menarik Rein menjauh dari kamar Ranya.
"Aduh kenapa sih Darwin? Lagi seru tahu!" ucap Rein kesal.
"Anak kecil tidak boleh melihat dan mendengar hal seperti itu! Aku heran apa yang selalu kamu pikirkan di kepalamu ini?" tanya Darwin sambil menunjuk kepala Rein.
"Kamu tidak penasaran apa yang mereka lakukan tadi, Ranya akan hancur besok. Ketika semua orang melihatnya!" ucap Rein. Tapi bukan itu maksud Darwin. Poin utamanya adalah,telinga dan pikiran Rein serta mata gadis itu sudah tidak lagi suci.
"Apa kamu tidak terangsang juga mendengar mereka melakukan itu?" tanya Darwin. Rein menggelengkan kepala polos.
"Aku tidak terkena dupa perangsang itu. Kenapa harus terangsang?" jawabnya tanpa malu di depan Darwin.
"Tapi aku merasakannya!" Darwin tiba-tiba mengendong Rein dan melompat menjauhi kediaman Ranya. Membiarkan gadis itu bersenang-senang dengan kedua pengawalnya terlebih dahulu.
"Darwin lepaskan aku! Kamu mau bawa aku kemana?" teriak Rein.
Pria itu lalu menurunkan Rein di belakang gedung terbengkalai. Memojokkan gadis itu ke tembok di sana.
"Apa? Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Rein takut.
Darwin mendekat ke wajah Rein, seketika dua pipinya merona. Dia bisa merasakan nafas yang dingin dari hidung Darwin.
"Aku ingin mencium mu!" Darwin mendekatkan bibirnya ke bibir Rein. Gadis itu belum siap dan masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Tidaaaak!" teriak Rein sambil menonjok wajah Darwin ke samping dengan tangan kanannya. Seketika bibir Darwin meleyot karena pukulan itu terlalu keras.
Melihat Darwin yang mulai menjauh darinya. Rein segera berlari ke arah lain.
__ADS_1
"Kamu! Kamu berani memukulku?" tanya Darwin kesal.
"Hahaha lihat lah wajah kamu menjadi aneh sekali!" gadis itu malah tidak takut sama sekali dengan Darwin. Dia tertawa bahagia setelah memukul Darwin.
"Awas kamu!" Darwin hendak mengejar Rein untuk membalasnya. Namun malah terjadi aksi kejar-kejaran diantara mereka. Hingga keduanya lelah dan saling bersandar satu sama lain di punggung masing-masing.
"Hei Rein! Kenapa kamu sangat menyebalkan?" tanya Darwin.
"Kamu yang lebih menyebalkan dariku," balas Rein. Keduanya lalu tertawa bersama. Jarang mereka bisa bercanda seperti sekarang.
Keesokan pagi tiba, teriakan menggema terdengar di kamar milik Ranya. Tras yang berteriak hingga mengejutkan seisi kediaman. Bagaimana tidak dengan kedua matanya sendiri. Dia menyaksikan sang putri yang paling dia banggakan tanpa sehelai busana.
Di tambah dua pria yang tidur di samping gadis itu. Serta bekas ****** di seluruh tubuh Ranya membuatnya menjadi seorang ayah yang gila.
"Apa ini? Apa yang kamu lakukan anak kurang ajar!" Tras melemparkan buku-buku ke arah Ranya. Gadis itu seketika terkejut, lebih terkejut lagi melihat dirinya tanpa busana.Dan dua pria yang berada di sampingnya.
"Ayah,aku,aku tidak melakukan ini. Ini semua salah paham ayah!"Ranya memakai selimut menutupi tubuhnya dan memohon pada sang ayah
Tapi ketika hendak berdiri,dia merasakan nyeri di kedua pahanya. Ranya lalu setengah teringat tentang kejadian semalam. Dimana dirinya di layani oleh dua pengawal yang entah sejak kapan keduanya berada di dalam kamarnya.
"Kalian! Kalian yang menjebak ku kan?" Ranya menyalahkan dua pengawal yang sudah tersadar.
"Tidak tuan,kami tidak menjebak putri. Kami semalam di pukul oleh seseorang. Dan ketika bagun kamu seperti kesetanan melakukan hal itu dengan putri." Penjelasan pengawal itu membuat kepala Tras mau meledak.
"Pengawal!" panggil Tras pada pengawal pribadinya yang berada di luar ruangan.
"Siap tuan!" tiga pengawal masuk ke dalam ruang itu.
"Seret keluar dua pengawal kurang ajar ini dan bunuh mereka!" perintahnya.
"Dan bawa putri ke ruang bawah tanah. Kurung dan jangan biarkan dia keluar!" imbuhnya lagi.
"Tidak! ayah,jangan ayah!" teriak Ranya. Namun pengawal telah menyeretnya. Kedua pria yang akan di hukum mati juga meminta ampun pada Tras. Namun semua sudah terlanjut.Tras sangat marah dan tak peduli lagi dengan permohonan apapun.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa semuanya menjadi kacau seperti ini?" gumamnya marah, Tras membuang barang-barang yang ada di kamar Ranya ke sembarang arah.Amarahnya meluap hari ini.