Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Dendam Lama


__ADS_3

Darwin dan Alee menuju ke istana. Di belakang mereka para kaum vampir milik Darwin mengikutinya. Mereka adalah kaum yang tersisa setelah peperangan kaum vampir dan manusia dulu. Hanya ada sekitar empat puluh orang saja.


Hari ini mereka ingin membunuh pria yang telah menguasai istananya. Dan dia yang selalu semena-mena pada kaum vampir.


"Kalian siap?" tanya Darwin penuh semangat. Sebagai seorang pemimpin, dia harus menjadi yang terdepan bagi kaumnya. Hidup dan mati di tangan mereka.


Para prajurit itu menganggukkan kepala.Kini mereka siap untuk berperang. Dengan sembunyi-sembunyi. Mereka bisa masuk menerobos istana.


"Kenapa sedikit aneh? Tidak ada penjagaan ketat di sini?" gumam Darwin melihat sekelilingnya.


"Benar kak? Apa mereka sengaja agar kita mudah masuk ke dalam istana ini," Alee juga merasakan keanehan itu.


"Entahlah, ayo kita masuk!" Darwin memberi kode dengan tangannya agar orang-orangnya itu masuk ke dalam istana.


Ketika mereka masuk, tiba-tiba mereka di kepung oleh prajurit lawan dari segala arah.Sebenarnya mereka tahu bahwa kaum vampir akan menyerang. Kaum manusia bersembunyi terlebih dahulu dan menyerang ketika mereka lengah.


"Tampaknya kita masuk jebakan mereka," ucap Darwin kesal.


Di tangan mereka sudah memegang senjata-senjata yang terbuat dari perak.Para kaum vampir sudah merinding melihatnya. Jika sampai terkena senjata-senjata itu. Jangan harap bisa hidup kembali.


Darwin dan Alee tahu bahwa mereka dalam bahaya. Tapi jika hanya diam tanpa melawan sama saja dengan merendahkan diri mereka sendiri.


"Kak, bagaimana ini?" tanya Alee.


"Bagaimana lagi, kita harus menghadapi mereka. Kalian aktifkan baju amor kalian," pinta Darwin.


"Baik!" mereka serentak mengaktifkannya. Untuk melindungi diri mereka dari senjata-senjata itu.


Seorang pria berbaju merah muncul di antara mereka. Dengan pedang panjang di tangannya. Pria itu menuju ke arah Darwin.


"Sang penguasa telah bangkit kembali? Sayangnya dia sekarang hanyalah penguasa yang lemah!" ucap pria itu.


Dia adalah tangan kanan pria yang dulu telah menyegel Darwin. Adron, dia sangat bersemangat untuk menghabisi Darwin kali ini.


"Jangan banyak bicara!" kesal Darwin


"Cepat habisi mereka!" ucap Darwin lagi pada para kaum vampir.


Para kaum vampir segera menyerbu kaum manusia itu.Alee membantu menghabisi mereka. Sedangkan Darwin harus melawan Adron.

__ADS_1


Para kaum vampir sudah bisa mengatasi senjata perak mereka. Dengan memakai baju amor di tubuhnya. Mereka bisa dengan mudah menghabisi prajurit kaum manusia.


Pertarungan antara Adron dan Darwin berlangsung sengit. Keduanya sama-sama kuat. Meski Darwin hanya memiliki setengah kekuatannya. Namun dia tidak kesulitan untuk melawan Adron.


"Tsk rupanya kamu masih saja kuat seperti dahulu!" ucap Adron kesal.


"Kamu bukan lah levelku!" Darwin tak mau merendah. Dia kembali menyerang Adron dari segala arah. Dengan kecepatan yang dia miliki dan permainan pedang yang sudah menjadi makanannya sehari-hari ketika bersama Rein. Membuatnya lebih kuat dari sebelumnya.


Alee yang menatap dari jauh sang kakak terlihat sangat bangga. Rupanya lama tidak bertemu pria itu, dia sudah banyak mengalami kemajuan.


Adron merasakan kekuatannya mulai melemah. Sebagai manusia memang dia tidak bisa sekuat pertahanan kaum vampir. Tapi pria itu tidak menyerah begitu saja.


"Rasakan ini!" Adron mengeluarkan jurus pedang terbaiknya. Dia mengincar jantung pria itu.


Untungnya Darwin bisa mengelak dengan cepat. Namun sayang bahu kanannya sedikit terkena oleh pedang perak milik Adron.


"Ssshh," Darwin merasa sedikit kesakitan.


Rein yang tengah berada di istananya tiba-tiba merasakan sakit di bahunya.


"Auhh kenapa tiba-tiba seperti terkena pedang?" gumamnya memegang bahu kanan gadis itu.


Sejak awal mereka bertemu dan Darwin menghisap darahnya. Keduanya seperti terikat. Jika Rein terluka, Darwin bisa merasakannya. Begitu pula sebaliknya.


Darwin ingin mengakhiri pertarungan ini dengan segera. Dia sudah hampir kehilangan kendali karena luka di bahunya.


Alee yang melihat sang kakak dalam bahaya segera membantunya. Dia menyerang Adron dari belakang pria itu. Sekarang posisi dua lawan satu di pertempuran mereka.


Suara pedang beradu terdengar.Alee sekuat tenaga membantu Darwin. Sayangnya gadis itu harus mundur ketika Adron menghempaskan tubuhnya ke arah pohon.


Alee merasa tulang punggungnya patah. Dia tidak bisa bergerak untuk sementara. Darwin yang melihat adiknya terluka, semakin naik amarahnya.


"Alee!" teriaknya sambil tetap melawan Adron.


"Ah menyebalkan!" Darwin mengeluarkan seluruh kekuatannya. Dia menyerang Adron dan mengenai perut pria itu.


Darah segar keluar dari mulut dan luka di perutnya. Adron terkapar setelah mendapat serangan dari Darwin barusan.


Tapi Darwin juga terluka, dia segera mendekat ke arah Alee. Memeriksa gadis itu, para kaumnya juga banyak yang terluka. Tapi masih bisa hidup dan kembali ke markas mereka.

__ADS_1


"Kalian cepat bawa Alee kembali!" pinta Darwin.


"Lalu pangeran bagaimana?" tanya salah satu dari mereka.


"Aku akan baik-baik saja! Cepat pergi sebelum mereka memanggil bala bantuan lagi!" usir Darwin.


"Baik," mereka pergi membawa Alee yang terluka. Kini tinggal Darwin yang di sana sendirian.


Plok


Plok


Plok


Suara seseorang bertepuk tangan dari arah depan Darwin. Sosok itu muncul dengan pakaian berwarna putih. Dia Zeun,pria yang dulu menyegel Darwin.


"Patut di panggil penguasa kaum vampir. Kehebatan mu masih sama seperti dulu!" ucapnya memuji Darwin.


"Kau!" Darwin seketika mengaktifkan aura vampirnya ketika melihat pria itu.


"Tenang! Tenang! jangan marah dulu, aku tidak suka menyerang vampir yang terluka. Lagi pula kamu juga akan hancur karena luka itu!" ucapnya.


"Sial,saat ini aku tidak bisa melawannya," batin Darwin.


"Kamu tunggu pembalasanku," Darwin dalam sekejap pergi. Dia memilih mundur dari pada harus tersegel kembali.


"Ah sayang sekali mainan baru ku pergi! Tapi sekarang auranya berbeda. Dia lebih kuat dari yang dulu," gumamnya ketika merasakan aura dari Darwin tadi.


"Apa dia menemukan seseorang yang bisa membuatnya lebih kuat," Zeun mulai berfikir tentang kemungkinannya.


Darwin tak bisa pergi jauh dari istana tadi. Dia kini tengah berada di dalam gua sebuah hutan tak jauh dari istana.


"Arrgh," erangan keluar dari mulut pria itu.


Luka di bahunya semakin melebar. Jika terkena pedang biasa vampir akan dengan mudah sembuh. Namun pedang yang di gunakan Adron tadi terbuat dari perak. Dan itu adalah kelemahan mereka.


"Aku butuh darahnya," Darwin teringat oleh Rein. Namun dia tidak bisa menemuinya saat ini. Kekuatannya sudah terkuras habis, dia tidak bisa berteleportasi sementara waktu.


Rein tidak bisa tidur nyenyak, bahunya semakin sakit. Seperti yang Darwin rasakan. Dia juga merasakannya.

__ADS_1


"Apa yang tengah kamu alami Darwin. Kenapa begitu sakit?" gumamnya sambil memikirkan pria itu.


__ADS_2