
Rein akhirnya sampai di rumahnya. Dia segera membersihkan diri,sambil berendam di bak mandi.
"Ah segarnya!" ucapnya.
"Rein! Ada yang mencari mu!" panggil sang mama dari luar kamar mandi.
"Siapa sih ma?" tanya Rein kesal. Ada aja yang mengganggunya saat tengah mandir seperti ini.
"Mama juga gak kenal. Dia bilang teman satu sekolah kamu," ucap sang mama.
"Iya ma,bentar lagi turun!" balas Rein. Sang mama kembali ke lantai bawah. Dia hendak memberi hidangan kecil pada teman Rein itu.
"Siapa sih? Ganggu aja deh!" gerutu Rein.
Dia segera menyelesaikan mandinya. Dan memakai baju, rambut Rein masih basah.Dia tidak sempat memakai hairdryer nya.
Rein turun ke ruang tamu dengan pakaian santainya. Dengan rambut yang dia bungkus dengan handuk kecil.
Ketika sampai di ruang tamu. Rein melihat seorang pria duduk di atas sofa.Pria itu menengok ke arah Rein.
"Kak Guen?" sapa Rein ketika melihat wajahnya.
"Rein," Guen tampak kagum dengan kecantikan alami Rein. Gadis itu terlihat segar setelah mandi.
Rein menghampiri pria itu, lalu duduk di sofa tak jauh dari Guen.
"Kak Guen kok tahu rumah ku?" tanya Rein heran.
"Ah kebetulan saja, pernah lewat daerah sini dan melihatmu keluar dari rumah," jelasnya.
"Oh gitu ya," Rein menganggukkan kepalanya.
"Aku dengan kemarin saat camping kamu tersesat ya? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Guen.
"Aku baik-baik saja kok kak," jawab Rein canggung. Dia tidak pernah berbicara dengan Guen hanya berdua seperti sekarang ini.
"Oh iya, aku ada sesuatu untukmu," Guen mengulurkan sebuah tas kecil pada Rein.
"Apa ini kak?" tanya Rein penasaran.
__ADS_1
"Hanya oleh-oleh kecil. Kemarin aku pergi ke luar negeri dan tidak sengaja melihat jaket ini. Kamu pakai ya? Saat ini sedang musim dingin," jelas Guen.
Rein membuka bingkisan itu, dari dalam bingkisan memang ada sebuah jaket berwarna abu-abu. Terlihat jaket itu bermerk.
"Kak Guen ini terlalu mahal. Rein tidak berani menerimanya," ucap Rein.
"Tidak kok, jangan lihat harganya,itu tidak terlalu mahal. Tolong di terima ya?" ucap pria itu memohon.
"Em baiklah, terima kasih kak Guen. Maaf membuat repot kakak," Rein merasa tidak enak karena Guen memberinya hadiah seperti sekarang ini. Mereka tidak terlalu kenal dekat.
"Oh iya kak, sambil di minum ya," Rein menawarkan kak Guen untuk segera meminum jus yang telah di sajikan oleh mamanya.
"Iya Rein."
Mereka akhirnya mengobrol berdua hingga pukul sebelas siang. Rein terlihat sangat lelah. Guen bisa melihatnya, pria itu memilih untuk pamit pulang.
Rein mengantar Guen sampai ke teras depan rumah.
"Terima kasih kak Guen, sampai jumpa!" ucap Rein pada pria itu.
"Tolong di pakai ya jaketnya, aku pulang dulu!" ucap pria itu.
Dari arah jendela kamar, Darwin tidak sengaja melihat keduanya.Dia memperhatikan cara berpakaian Rein. Lalu berdecak kesal pada gadis itu.
"Jadi dia yang bernama Guen?" gumam Darwin sedikit hilang rasa penasarannya.
"Tsk apa itu? Menerima tamu hanya menggunakan celana pendek dan kaos pendek juga. Rambut pun di balut handuk seperti itu? Dia sengaja ya menggoda pria itu?" gumamnya lagi semakin kesal.
Rein tidak sadar jika Darwin memperhatikannya dari kamar pria itu. Setelah Guen pergi,Rein segera masuk ke dalam rumah kembali.
"Rein kamu gak makan dulu?" tanya sang mama ketika gadis itu mengambil minuman di dalam kulkas.
"Gak ma, Rein capek banget. Ingin tidur dulu," jawab Rein.
Dia segera berjalan ke kamarnya kembali. Sambil menenteng bingkisan yang tadi di berikan oleh Guen.
Setelah sampai di kamar,dia meletakkan ke sembarang tempat bingkisan itu.
"Haih, kenapa sekarang tidak terlalu senang jika dia mendekatiku? Dulu aku yang sangat ingin mengejarnya,sampai tidak punya rasa malu!" batin Rein memikirkan tentang Guen.
__ADS_1
Dulu setiap ada hal yang berhubungan dengan Guen. Dia dengan cepat mengikutinya. Bahkan ekstrakulikuler apa saja yang pria itu ikuti. Rein pasti mengikutinya. Sekarang semuanya terlihat biasa saja bagi Rein.
"Apa karena sudah bertemu Darwin di dunia vampir, aku hanya memikirkan dia? Seandainya Darwin yang sekarang adalah dia?" batin Rein berandai-andai.
Rein berjalan ke arah jendela kamarnya. Membuka jendela itu lebar-lebar. Rein juga membuka handuk yang membungkus rambutnya.
Membiarkan rambut gadis itu berserakan begitu saja. Dia malah tambah cantik dengan penampilan yang apa adanya.
Darwin yang berada di balik jendela kamarnya tertegun melihat Rein. Dia mengambil gambar gadis itu dengan kamera ponselnya secara diam-diam.
Beberapa jepretan foto, Darwin dapatkan sebelum Rein masuk ke dalam kamar. Gadis itu tidak menutup jendela kamarnya. Dari kamar Darwin,pria itu bisa melihat Rein yang berbaring di atas ranjang.
"Sembrono sekali sih dia? Apa seperti itu cara seorang gadis tidur?" gumam Darwin pada Rein yang membiarkan begitu saja jendela kamarnya terbuka.
"Tapi lumayan cantik juga dia!" Darwin melihat hasil jepretan kamera di ponselnya. Beberapa foto pria itu simpan.
"Ya ampun Darwin? Apa-apaan sih kamu?" gumam pria itu ketika menyadari kesalahannya.
Dia tidak pernah penasaran seperti ini dengan seorang gadis. Apa lagi sampai mengambil fotonya secara diam-diam. Darwin memegang kepalanya lalu menggeleng dengan kuat.
Ponsel Darwin tiba-tiba berbunyi, sebuah panggilan dari papanya.Dia segera menerima panggilan itu.Berharap kabar baik yang dia terima dari pria yang berada di luar negeri dengan mama sambungnya itu.
"Halo pa! Ada apa?" tanya Darwin.
"Apa? Darwin tidak mau!" ucapnya lagi setelah mendengarkan papanya berbicara dari balik telepon sana.
"Tidak! Darwin tidak ingin di jodohkan!" ucapnya tegas dengan suara sedikit membentak papanya.
Darwin segera menutup panggilan itu. Dia melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Darwin juga ikut berbaring di samping ponselnya.
"Apa-apaan sih? Jangan sekarang masih saja ada perjodohan seperti ini? Papa benar-benar kolot sekali!" gerutu Darwin.
Hubungan dia dan papanya tidak baik-baik saja. Setelah mamanya meninggal, Darwin tinggal dengan pamannya. Pak Ilham. Sedangkan sang papa tidak lagi peduli dengan dirinya . Dia menikah lagi dengan wanita lain dan melupakan mama kandung Darwin.
Kini tiba-tiba dia ingin menjodohkan dirinya dengan gadis pilihan pria itu. Darwin tidak akan menuruti kemauan papanya.
Dia mengarahkan wajahnya pada ponsel pria itu. Lalu mengambilnya, membuka kembali galeri yang ada di ponsel keluaran terbatas itu.
Darwin melihat kembali foto Rein.
__ADS_1
"Jika kamu gadis itu? Mungkin saja aku bisa mempertimbangkannya. Tapi jika orang lain, aku memilih untuk melajang saja!" gumam Darwin. Dia memeluk ponselnya, mengingat kembali ketika dirinya mendekap erat tubuh Rein ketika mereka menggigil bersama.Tiba-tiba dia terlelap.