
Pak Ilham masuk ke dalam kelas dengan wajah penuh ceria. Darwin geli melihat pamannya itu. Benar-benar sedang bucin parah.
"Anak-anak, dengarkan bapak sebentar! Minggu depan kita akan ujian kenaikan kelas. Kalian bisa mulai mempersiapkannya dari sekarang," ucap pak Ilham memberitahu para murid di kelasnya.
"Ya pak," jawab mereka tanpa bersemangat sedikitpun. Apa lagi Rein,dia belum siap jika harus ujian dalam waktu dekat ini.
"Rein nanti setelah aku pulang kerja. Kamu datang ke rumah lagi ya,kamu harus belajar matematika," bisik Darwin di telinga Rein dari belakang kursi gadis itu.Gadis itu menganggukkan kepalanya setuju.
Setelah pulang sekolah, Darwin segera berangkat bekerja. Dia semakin sibuk di tempatnya bekerja. Sedangkan Rein dia hanya diam menunggu Darwin pulang.
Pak Ilham belum mengetahui bahwa Darwin pergi kerja,karena pria itu masih tinggal di rumah Karin.
Hari ini Ilham mampir ke rumahnya untuk mengambil sesuatu. Sambil memberi jatah bulanan untuk Darwin. Ketika pria itu masuk ke dalam rumah.
Darwin tidak ada di dalamnya. Ilham lalu menuju ke rumah Rein untuk bertanya pada gadis itu.
"Pak Ilham?" ucap Rein ketika membuka pintu rumahnya.
"Rein, kamu tahu dimana Darwin?" tanyanya.
"Itu, dia sebenarnya pergi bekerja pak," jawab Rein ragu-ragu. Darwin memintanya untuk menyembunyikan hal itu pada pamannya. Tapi Rein tidak bisa berbohong.
"Bekerja?" tanya Ilham terkejut
Rein menganggukkan kepalanya.
"Tapi pak Ilham jangan marah ya, Darwin bilang pada Rein tidak boleh mengatakannya pada siapapun," ucap Rein memohon.
"Sudahlah, bapak tahu maksud kamu. Dimana dia bekerja?" tanya Ilham.
"Di toko roti ujung jalan itu pak," balas Rein lagi. Dalam hati gadis itu tidak berhenti meminta maaf pada Darwin.
"Baiklah terima kasih Rein, oh iya nanti kalau dia pulang. Tolong bilang padanya kalau saya mencari dia," pesan Ilham pada Rein.
"Iya pak," jawab Rein. Ilham hendak melangkahkan kakinya. Namun sebelum jauh, dia berbalik badan lagi.
"Rein,ingat pesan saya yang dulu. Kalian berdua jangan sampai macam-macam ya?" ucapnya dengan suara tegas.
Rein menelan ludahnya dengan susah payah. Dia sedikit takut dengan pria itu.
__ADS_1
"Iya pak," jawabnya singkat. Ilham lalu pergi dari rumah Rein.
Ilham lalu melajukan motornya menuju ke yoko roti yang di katakan oleh Rein tadi. Dia ingin melihat dari jauh keponakannya itu.
Tak butuh waktu lama untuk Ilham sampai karena toko itu memang tidak jauh dari rumahnya. Dia menepi di samping jalan. Letaknya sedikit terhalang oleh toko-toko lain.
Ilham melihat Darwin yang di dikerumuni oleh para pembeli. Dia tampak sangat sibuk dengan pekerjaan yang baru dia tekuni itu.
"Sepertinya dia memang sudah besar. Aku tidak bisa memaksanya lagi." Gumam Ilham, dia kembali menggunakan helmnya. Dan melaju pergi dari sana. Setelah memastikan keponakan satu-satunya itu baik-baik saja.
Darwin merasa ada yang memperhatikannya dari jauh. Dia mengamati jalanan yang berada di depan toko itu. Tak ada siapapun selain para pelanggan yang silih berganti datang dan pergi.
"Apa hanya perasaanku saja ya?" batinnya.
Dia kembali sibuk menyiapkan pesanan para pembeli. Sejak dia datang di toko itu, pembeli sudah mengantri untuk membeli kue yang mereka sukai.
Waktu berlalu dengan cepat jika sedang melakukan sesuatu. Begitulah yang di rasakan oleh Darwin saat ini.Sebentar lagi sudah waktunya untuk pulang kerja. Dia tidak sabar ingin bertemu dengan Rein secepatnya.
Ketika membereskan kue-kue ke tempatnya. Darwin melihat satu kue yang unik dan terlihat manis.Dia ingin membelikannya untuk Rein sebagai camilan nanti saat belajar bersama.
"Pak, aku boleh membeli kue ini?" tanya Darwin ketika selesai dengan pekerjaannya.
"Boleh, bungkus saja," jawab Dedi pemilik toko itu. Darwin mengangguk dan segera membayarnya pada pak Dedi.
Rein keluar dari rumahnya untuk mengantar Guen pulang. Pria itu sejak sore tadi berada di rumahnya. Rein merasa tidak bebas jika di depan pria itu. Tapi dia tidak bisa begitu saja mengusirnya.
Sekarang, akhirnya dia pulang juga setelah Rein mengatakan akan les matematika.
"Sampai jumpa Rein!" pamit Guen sebelum dia masuk ke dalam mobilnya.
Dari arah berlawanan,Darwin datang. Dia melihat Guen yang tak berhenti tersenyum dan memandang Rein dengan tatapan ingin memiliki itu. Seketika Darwin menjadi kesal melihat keduanya.
Untungnya Guen tidak lama berada di depan rumah Rein. Dia segera pergi,tanpa melihat ke arah Darwin yang tidak berhenti menatapnya dengan tajam.
Rein melihat Darwin yang sudah pulang. Gadis itu berlari kecil untuk menghampirinya.
"Kenapa dia kesini?" tanya Darwin dengan nada ketus.
"Dia cuma main ke sini sih," jawab Rein santai.
__ADS_1
"Oh gitu!" jawab Darwin tak terlalu tertarik obrolan tentang Guen.
"Cepat pulang bawa buku mu ke rumahku, kita belajar malam ini!" pinta Darwin pada gadis.
"Baiklah, tunggu sebentar aku akan ke sana." Rein berlari kecil ke arah rumahnya untuk mengambil buku-buku yang sudah dia siapkan.
Setelah mengambilnya dia segera ke rumah Darwin. Sambil menenteng kotak nasi yang dia siapkan untuk Darwin.
Gadis itu masuk begitu saja ke rumah pria itu. Darwin berada di kamarnya sedang mandi.Rein membawa buku dan nasi kotaknya.Dia lalu berjalan ke lantai atas. Mencari dimana Darwin berada.
"Darwin!" panggil Rein pada pria itu di depan pintu kamarnya.
Tak ada jawaban, namun pintu tidak terkunci. Rein ragu-ragu membukanya. Namun tetap masuk ke dalam kamar pria itu.
"Darwin!" panggilnya lagi.
"Iya Rein, tunggu dulu. Aku sedang mandi!" jawab Darwin dari dalam kamar mandi.
"Baiklah!Aku akan menunggumu di ruang keluarga!" jawab Rein. Dia lalu menuju ke arah pintu kamar pria itu. Siapa yang menyangka,pintu itu tidak dapat di buka. Setelah Rein menutupnya tadi.
"Loh, kenapa sulit di buka?" gumam Rein panik. Dia berkali-kali mencoba mengutak atik kunci pintu kamar itu. Namun tidak berhasil juga untuk membukanya.
"Kenapa Rein?" tanya Darwin yang baru keluar dari kamar mandi. Dia hanya memakai handuk di bagian bawah tubuhnya. Rein menengok ke arah Darwin. Dan segera menutup mata ketika tidak sengaja melihat pria itu bertelanjang dada.
"Pintunya gak bisa di buka! Gimana nih?" tanya Rein khawatir.
"Masa sih?" Darwin lalu berjalan ke arah Rein. Bau sabun dari tubuh pria itu menyebar di sekitar Rein berdiri.
Darwin mencoba membuka pintunya. Dia tampak kesulitan juga.
"Tumben gak bisa? Apa rusak ya?" tanya Darwin.
"Hah rusak!Terus gimana dong?" tanya Rein panik.
"Gimana lagi? Nunggu seseorang mendobraknya dari depan!" ucap Darwin dia berjalan ke arah ponselnya.
"Kenapa baterainya habis juga?" gumam Darwin.
"Kenapa Win?" tanya Rein.
__ADS_1
"Aku mau menghubungi pamanku, tapi baterai ponselku habis. Dan chargernya berada di ruang keluarga." Jawab Darwin.
"Apa kamu bawa ponsel?" imbuh Darwin. Rein menggelengkan kepalanya. Darwin menghela napas berat. Mereka akan terkurung bersama di kamar itu. Bagaimana Darwin akan kuat jika berdekatan dengan Rein dalam satu ruangan seperti sekarang ini. Pria itu tampak berpikir keras, mencari cara agar bisa menahan diri.