
Rein menutup kedua matanya. Ketika Darwin hendak mencium bibir gadis itu. Bibir keduanya hampir menempel. Ketika tiba-tiba suara ketukan pintu menggagalkan keduanya.
Rein dan Darwin panik, keduanya bingung harus bersembunyi dimana.
"Darwin kamu sudah tidur?"tanya Ilham dari luar pintu.
"Aku sembunyi dimana?" tanya Rein dengan suara pelan.
Darwin bingung, di kamarnya masih belum ada apapun untuk bisa menyembunyikan Rein. Karena baru beberapa hari mereka pindah ke rumah itu.
"Di sini saja!" Darwin mendorong tubuh Rein ke ranjang. Lalu membentangkan selimut miliknya ke atas tubuh Rein. Menutupi seluruh tubuh gadis itu. Darwin lalu duduk di samping tubuh Rein dan menggunakan selimutnya juga.
"Belum kok paman," jawab Darwin. Tangan kanan pria itu mencoba menekan kepala Rein agar tidak terlihat oleh pamannya.
Rein yang berada di dalam selimut melihat dengan jelas bentuk perut Darwin.
Suara pintu terbuka,Ilham masuk ke dalam kamar keponakannya itu.
"Paman," ucap Darwin gugup.Di dalam hatinya berdoa agar jangan sampai ketahuan oleh pamannya.
"Maaf ya Darwin, bolehkah paman meminjam laptop kamu, Laptop paman sedang eror deh sepertinya," pinta pria itu.
"Oh boleh kok paman, ini laptopnya!" Darwin mengambil laptop miliknya yang berada di meja sampingnya.
"Baiklah, terima kasih. Paman pinjam dulu ya, oh iya kenapa siang-siang memakai selimut?" Ilham mendekati ranjang Darwin. Dia hendak membuka selimut itu.
Darwin sudah sangat gugup, dia dengan cepat mencari alasan yang tepat.
"Maaf paman,aku sedikit kedinginan," Darwin mempererat selimutnya. Rein yang berada di bawah selimut semakin dekat dengan perut Darwin.
"Kenapa perutnya begitu bagus?" batin Rein. Dia tidak bisa menahan lagi,Rein menyentuh perut datar milik Darwin. Otot-otot perut pria itu sangat terbentuk.
"Ah!" Darwin tiba-tiba merasa geli.
"Kenapa Darwin? Kamu sakit?" tanya Ilham melihat wajah Darwin yang pucat karena gugup.
"Tidak kok paman," jawab Darwin.
"Baiklah, kalau begitu paman kembali ke kamar dulu ya," akhirnya pamannya pergi juga dari kamar Darwin. Pria itu memegang tangan Rein yang berada di atas perutnya.
"Apa dia sengaja melakukannya untuk menggodaku?" batin Darwin tidak tahan.
"Kamu!" Darwin membuka selimut yang menutupi tubuh Rein. Gadis itu tersenyum sambil menatap ke atas,wajah Darwin.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?Kamu tahu tidak itu berbahaya?" ucap Darwin pada gadis itu.
"Hehehe perutmu bagus sekali!"ucap gadis itu masih ingin memegang perut rata Darwin.
"Rein, kamu sengaja ya?" Darwin memegang dua tangan Rein. Lalu mengurung tubuh Rein dengan kedua kakinya. Posisi Rein berada di bawahnya.
"Darwin apa yang kamu lakukan?" tanya Rein panik.
"Apa lagi? Melakukan yang seharusnya di lakukan sejak tadi!" balas Darwin dengan seringai di bibir pria itu.
Rein mulai sadar akan kesalahan yang dia lakukan tadi. Dia telah tanpa sengaja menggoda Darwin. Kini dia dalam bahaya, pria itu ingin menghabisinya.
"Tidak,jangan Darwin. Kita bisa bicarakan baik-baik kan?" Rein masih membujuk pria itu.
"Darwin!" sang paman kembali ke kamar Darwin.
Dengan cepat Darwin menutup tubuhnya dan Rein. Lalu membungkam mulut Rein agar tidak mengeluarkan suara.
"Ya paman ada apa?" tanya Darwin ketika pamannya berada di ambang pintu kamar.
"Kamu kenapa berbaring tengkurap seperti itu?" tanya Ilham heran kepada tingkah tidur keponakannya itu.
"Ah ini, lagi pengen saja paman. Ada apa ya?" tanya Darwin tidak sabar.
"Bisa kok paman!" jawab Darwin.
"Baiklah kalau begitu! Paman pergi dulu!" akhirnya pria itu benar-benar pergi.
"Huft!" Darwin melepaskan tangannya dari mulut Rein.Gadis itu akhirnya bisa bernapas lega.
"Siapa sebenarnya pamannya Darwin? Kenapa suaranya sangat familiar sekali?" Batin Rein sejak tadi bertanya-tanya.
Darwin masih berada di atas Rein. Kali ini keduanya juga masih berada di bawah selimut.
"Darwin awas! Panas sekali!" Rein hampir kehabisan napasnya karena pria itu. Di tambah selimut tebal yang melapisi keduanya.
"Kenapa? Ingin kabur? Tidak semudah itu!" Darwin tak lagi bisa menahan diri. Dia mencium bibir Rein. Kedua mata gadis itu membelalak. Pria di atasnya itu tengah mencium bibirnya.
Tapi kenapa Rein sulit untuk menolaknya. Tubuh Rein seperti menerima apapun yang di lakukan oleh Darwin.
"Uhmm," keduanya saling memanas.
"Hah hah hah," Darwin dan Rein mengambil napas kembali. Lalu pria itu melanjutkannya.
__ADS_1
Rein dan Darwin mulai terbuai dalam kenikmatan yang mereka ciptakan. Hingga tangan nakal Darwin mulai menyentuh bagian lain dari milik Rein.
Gadis itu membelalak, lalu segera mendorong tubuh Darwin.
"Cukup! Jangan di lanjutkan lagi!" ucap Rein pada pria itu.
"Kenapa?Bukannya kamu juga menginginkannya Rein?" tanya Darwin. Nafas keduanya masih memburu. Masih ada hasrat yang belum tersampaikan.
Rein menggelengkan kepala, mereka harus berhenti. Tidak boleh melanjutkan ini lagi.Ketika Darwin lengah, Rein segera berlari dari kamar Darwin. Menutup pintu kamar itu dengan keras.
Dia berlari sekuat mungkin untuk kembali ke rumahnya. Darwin hanya bisa memukul ranjangnya. Menyalahkan dirinya yang tidak bisa menahan diri.
Rein pasti sangat terkejut melih sisi liar darinya tadi. Darwin memegang bibirnya, masih terasa bibir Rein di sana.
Rein terengah-engah masuk ke dalam rumah. Sang mama masih tidak sengaja melihat gadis itu.
"Rein kenapa berlarian? Kamu belum makan loh? Makan dulu sini!" ajak mamanya.
"Nanti aja ma, Rein belum lapar."
Rein berlari ke kamarnya, menutup rapat pintu kamar gadis itu.
Sang mama hanya bisa menggelengkan kepala.
"Kenapa lagi tuh anak?" gumam sang mama.
Rein mengatur detak jantungnya.Memandang ke arah luar jendela. Gadis itu berada di bawah jendela. Ketika Darwin juga berada di dekat jendela. Mereka saling beradu pandang. Sebelum Rein menutup jendelanya.
Dia sangat malu ketika melihat Darwin. Rein juga menyentuh bibirnya. Dia tidak menyangka pria itu berani mencium bibirnya. Herannya Rein tidak menolaknya tadi.
"Bagaimana ini? Bagaimana besok jika bertemu? Apa yang harus aku lakukan?" gumam Rein takut.
Darwin menghela napas panjang,dia mengira Rein marah pada dirinya. Yang sebenarnya gadis itu hanyalah malu pada Darwin.
Keduanya hanya mengurung diri di dalam kamar. Sampai malam tiba, Rein merasa lapar. Akhirnya gadis itu turun ke lantai bawah untuk mencari makanan di dapur.
"Duh lapar sekali!" gumam Rein memeriksa tempat makanan. Masih ada beberapa lauk dan nasi untuk mengganjal perutnya saat ini.
Dia segera mengambil piring. Menambahkan nasi dan lauk di atasnya.
Ketika tangannya mulai menyendok, satu suapan mengingatkannya pada Darwin yang ditinggal oleh sang paman tadi.
"Apa dia sudah makan ya?" gumam Rein sambil mengunyah.
__ADS_1
"Ah sudahlah, kenapa memikirkannya lagi!" Rein menggelengkan kepalanya dnegan cepat, untuk mengusir jauh pikiran tentang Darwin.