
Rein berhenti berlari ketika bertemu dengan wanita yang telah menghancurkan keluarganya. Sukma juga terkejut ketika tidak sengaja bertemu dengan Rein.
"Kamu? Kenapa di sini?" tanya Sukma.
Rein memperhatikan wanita itu yang sedikit lebih pucat dari pertama mereka bertemu. Di tangannya sebuah kertas hasil pemeriksaannya.
"Mama ku hampir kehilangan nyawa karena tante!" balas Rein dingin.
Sukma merasa bersalah, tapi dia juga tidak bisa membiarkan Naren sendirian di dunia ini. Dia ingin anaknya mendapat keluarga yang lengkap juga.
"Kamu membenci tante?" tanya Sukma pada Rein.
"Ya, seandainya tante tidak muncul.Mungkin mama ku masih bisa tersenyum dan membuatkan ku kue seperti biasanya." Rein tidak menyembunyikan kebenciannya pada wanita di depannya itu.
"Ya kamu benar, kalian hidup bahagia selama ini. Selama hampir delapan tahun, tente menderita sendirian. Naren bahkan tidak pernah merasakan sentuhan seorang ayahnya," Sukma memperhatikan anaknya yang tengah bermain tak jauh darinya.
Rein terdiam, mencerna perkataan Sukma tadi.Dia sejak kecil sangat dekat dengan papanya. Apapun akan pria itu berikan pada Rein.
Perhatiannya kini tertuju pada kertas pemeriksaan di tangan wanita itu.
"Tante sakit?" tanya Rein.
"Tidak ini hanya kertas biasa!" Sukma berbohong. Rein merebut kertas itu dari Sukma.Lalu segera membacanya.
"Kanker otak stadium akhir," ucap Rein.
"Tante sakit, separah ini?" Rein membelalakkan matanya tidak percaya.
"Ya, itulah alasan tante untuk mencari ayahmu. Naren butuh orang yang merawatnya. Sedangkan tante sudah tidak memiliki siapa-siapa selain Naren." Wanita itu memandang iba pada Naren.
Sukma memegang tangan Rein. Memohon pada gadis itu sekali lagi.
"Tante mohon,Naren tidak salah apapun. Dia hanyalah anak kecil tak berdosa. Tante yang salah, maafkan tante. Tolong biarkan Naren bersama dengan ayahnya," ucap Sukma memohon.
Rein terdiam, dia bingung harus bagaimana.Dia lalu melepas tangannya dari sukma.
"Maaf tante, Rein tidak tahu apa yang harus Rein lakukan sekarang," balas Rein.
Di sisi lain Darwin yang mengejar Rein, tidak menemukan gadis itu.Dia melihat ke sekeliling rumah sakit. Mencari keberadaan Rein.
"Dimana dia?" gumam Darwin.
Darwin menyusuri setiap lorong di rumah sakit itu.Ketika sampai di sebuah ruangan,dia melihat Rein berbincang dengan seorang wanita.Darwin tidak mengenal wanita itu.
__ADS_1
Perlahan dia mendekati mereka. Ada anak kecil di samping mereka.
"Rein," panggil Darwin dengan suara pelan. Gadis itu membalikkan badan mencari sumber suara yang memanggilnya.
"Darwin," balas Rein.
"Siapa mereka?" tanya Darwin pada Rein.
"Nanti aku akan menceritakannya ke kamu, ayo kita kembali. Mama mungkin sudah siuman," ucap Rein pada pria itu.
"Baiklah."
"Maaf aku harus kembali, tentang apa yang tadi tante minta. Aku akan memikirkannya kembali," ucap Rein sebelum meninggalkan Sukma dan Naren.
Rein berjalan di depan Darwin. Pria itu sebelum pergi memandang Sukma dan anaknya.
"Siapa mereka Rein?" tanya Darwin penasaran.
"Dialah wanita itu, Darwin. Dan di sampingnya tadi adalah anaknya," balas Rein ketika mereka sudah jauh dari Sukma dan Naren.
"Kenapa mereka di sini?" tanyanya lagi.
Rein berhenti di lorong rumah sakit yang sepi. Dia membalikkan badannya menghadap Darwin.
Rein menyandarkan kepalanya pada dada bidang pria itu. Lalu perlahan terisak.
"Aku harus bagaimana Darwin? Masalah mama dan papaku belum juga membaik. Mama juga belum sadar,sekarang aku harus mengetahui kebenaran yang lebih menyakitkan lagi," ucap Rein terhenti.
Dia mendongakkan wajahnya pada Darwin.Pria itu berusaha menghapus air mata di kedua pipi Rein.
"Bolehkah aku tahu kebenaran apa itu Rein?" tanya Darwin.
"Wanita tadi, dia mengidap kanker otak stadium akhir. Dan anak kecil tadi bernama Naren, dialah alasan mencari papa ku. Dia ingin Naren hidup baik setelah dia meninggal," jelas Rein.
"Aku harus bagaimana Darwin?" tanya Rein.
Darwin memeluk Rein, mencoba menenangkan gadis itu.Masalah keluarga Rein lebih rumit dari yang Darwin bayangkan. Di tambah Rein yang baru pertama mengalami. Ini adalah guncangan besar bagi gadis itu.
Rein dan Darwin memutuskan untuk kembali ke ruang rawat Nadia. Ketika keduanya masuk, Hito masih berada di samping mamanya.
Rein berjalan mendekat ke arah Nadia. Memegang tangan mamanya yang tidak terluka.
"Ma, bangun ma! Rein pengen di peluk mama!" ucap Rein sedih.
__ADS_1
Masa kritis wanita itu sudah terlewati,namun mengapa belum juga siuman.
Hito memandang Rein dengan penuh iba. Ingin sekali dia memeluk putrinya itu. Namun takut jika sang putri akan menolaknya. Dia sangat tahu bagaimana jika gadis itu tengah marah.
Nadia mulai menggerakkan jari-jarinya. Kedua mata wanita itu juga perlahan terbuka. Nadia memandang langit-langit ruang rawat itu.
"Ma, mama sudah sadar?" Rein terlihat senang melihat mamanya sudah siuman.
Faro mendekati adiknya, Darwin dan Ilham masih berada di tempat mereka masing-masing.Sedangkan Hito mencoba mendekati istrinya itu, berdiri di sisi kanan ranjang Nadia.
"Sayang, tolong maafkan aku," ucap Hito ketika wanita itu sudah sepenuhnya sadar.
Nadia terdiam, di dalam hatinya dia masih mencintai pria di sampingnya ini. Namun di sisi lain hatinya juga terluka karena ulahnya.
"Ma,pa, ada hal yang ingin Rein katakan kepada kalian," ucap Rein, dia memandang Darwin sebelum melanjutkan ucapannya. Darwin menganggukkan kepala.
"Sebenarnya, alasan tante Sukma datang karena ingin Naren ada yang merawatnya. Tante Sukma sakit kanker otak stadium akhir,dokter sudah memvonisnya hidup tinggal beberapa bulan saja."
Semua orang yang berada di ruangan itu terkejut, kecuali Rein dan Darwin. Mereka tidak menyangka bahwa wanita yang hampir merusak hubungan keluarga Rein ternyata sakit parah.
"Dari mana kamu tahu itu Rein?" tanya Faro.
"Aku tidak sengaja bertemu dia tadi di rumah sakit ini kak," balas Rein.
Klek!
Suara pintu ruangan itu terbuka, seseorang hendak masuk ke dalam ruangan.Sukma sambil menggandeng tangan Naren. Dia masuk ke dalam ruang rawat Nadia.
Tatapan wanita itu tampak sayu, dia memandang ke arah Nadia. Ada rasa iba pada wanita itu.
"Bolehkah aku masuk?" tanyanya.
"Masuklah," balas Nadia.
Sukma masuk dan mendekat ke ranjang Nadia.
"Maaf aku telah membuatmu seperti ini, tapi aku benar-benar tidak ada pilihan lain," ucapnya pada Nadia meminta maaf.
Hito yang berdiri di sampingnya merasa semakin bersalah. Dia menatap Naren, putranya.
"Aku memang marah denganmu, dengan ulah kalian berdua!" Nadia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.
"Tidak masalah jika kamu marah, aku memang salah. Tapi kehadiranku di keluarga kalian. Hanya karena Naren! Tolong rawat dia mas Hito, dia juga anakmu!" pinta Sukma.Hito hanya bisa memandang Naren saat ini.
__ADS_1
"Apa benar kamu sakit parah?" tanya Nadia.
"Ya, aku tidak ingin menutupinya lagi. Hanya beberapa bulan lagi aku mungkin akan menghembuskan napas terakhir. Dan jika tiba waktunya, aku ingin Naren memiliki keluarga yang utuh dan menyayangi dia sepenuhnya," ucap Sukma, kedua mata wanita itu sudah berkaca-kaca.Dia sudah menyimpan semuanya sendirian sejak lama.