Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Lawan


__ADS_3

Rumi tengah mencari Guen. Pria itu berada di dalam kelasnya. Dia datang menghampiri Guen,saat jam istirahatnya.


"Rumi? Tumben datang ke kelasku?" tanya Guen,ketika gadis itu sudah berdiri di depannya.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu?Bisakah kita mencari tempat yang lain?" tanya Rumi.


"Tentang apa itu?" tanya Guen.


"Tentang Rein!" jawab Rumi.


Guen langsung mengiyakan, dia segera keluar dari ruang kelasnya. Di ikuti oleh Rumi di belakang pria itu.


Mereka berjalan ke arah taman sekolah tak jauh dari kelas Guen. Keduanya duduk di kursi panjang di sana.


"Ada apa dengan Rein? Rumi!" tanya Guen.


"Kamu ingin mendapatkan dia bukan?" tanya Rumi.


"Ya, tapi apa hubungannya dengan kamu?" balas Guen belum mengerti arah pembicaraan Rumi padanya.


"Kamu seharusnya tahu bahwa Rein menyukai pria lain."


Rumi tidak bisa membaca isi pikiran dari Guen. Bagaimana pria itu masih saja tenang ketika melihat gadis yang dia sukai bersama pria lain.


"Maksud kamu?" tanya Guen heran.


"Maksud aku,dia dan Darwin. Keduanya akhir-akhir ini semakin dekat. Apa kamu hanya diam saja?" tanya Rumi.


"Benarkah? Darwin? Siapa dia?"


"Dia satu kelas dengan Rein," jawab Rumi.


Guen tampak berpikir sebentar, dia lalu mengerti arah pembicaraan Rumi sekarang.


"Jadi,Darwin itu pria yang kamu sukai?" tebak Guen. Rumi mengangguk.


"Aku ingin kamu membantuku, membuat mereka saling menjauh," pinta Rumi.


"Jadi kamu ingin aku lebih gesit mendekati Rein. Dan kamu bisa mendapatkan Darwin?" tebaknya lagi. Rumi menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, mari kita bekerja sama!" Guen akhirnya menyetujui ajakan Rumi untuk membuat Rein dan Darwin saling menjauh.Keduanya tersenyum licik, mereka segera membuat rencananya.


Ketika pulang sekolah, Guen menunggu Rein di depan gerbang sekolah. Guen tahu bahwa Tifo sedang ada kegiatan tambahan sepulang sekolah. Jadi Guen datang untuk menawarkan diri mengantar gadis itu.


"Rein!" Guen melambaikan tangannya ke arah Rein.Gadis itu tengah berjalan dengan Rora keluar dari kelasnya.


"Kak Guen?" sapa Rein heran.


"Pulang bareng aku yuk, sekalian mau mampir ke rumahmu!" ajak Guen.


"Hah, Rein dia sering ke rumahmu?"bisik Rora pada Rein.


"Gak kok," jawab Rein juga dengan suara pelan.


"Tapi kak, aku tengah menunggu kak Tifo sekarang," jawab Rein.


"Oh kakak sepupumu kan masih ada kegiatan sepulang sekolah ini kayaknya," balas Guen.


"Benarkah?" Rein segera memeriksa ponselnya. Benar saja ada pesan masuk dari pria itu. Memintanya untuk naik bus atau taksi saja ketika pulang sekolah.


"Eh Rein, aku udah di jemput nih. Kamu bareng kak Guen aja!" Rora melihat sopir keluarganya tiba.


"Atau mau bareng aku?" tanya gadis itu.

__ADS_1


"Lebih baik bareng aku saja. Rumahku kan searah dengan rumahmu Rein." Guen tidak ingin menyerah.


"Gimana Rein?" tanya Rora.


"Kamu pulang dulu gak papa Ra. Aku bareng kak Guen aja," Rein meminta sahabatnya itu untuk pulang terlebih dahulu.


"Kamu yakin?" tanya Rora. Rein menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, aku pulang dulu ya," Rora akhirnya pergi, membiarkan Guen bersama dengan Rein.


"Ayo Rein aku antar kamu pulang," ajak Guen.


Guen sengaja mengajak Rein bersama karena dia tahu Darwin sedang sibuk juga dengan ekstrakulikuler pria itu.Tifo dan Darwin satu tim di ekstra basket sekolah.


"Baiklah," jawab Rein. Dia merasa tidak terlalu nyaman bersama dengan Guen. Namun menolak ajakan pria itu juga tidak mudah.


Keduanya segera menuju ke mobil, Guen membukakan pintu mobil untuk Rein. Setelah memastikan gadis itu sudah masuk ke dalam mobil. Kini Guen masuk ke bagian pengemudi.


Dia segera menyalakan mesin mobilnya. Dan melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang di jalanan.


Sepanjang jalan, Rein hanya terdiam. Dia tidak tahu harus berbicara apa. Hingga akhirnya Guen yang memulai pembicaraan mereka terlebih dahulu.


"Rein? Kenapa jaketnya tidak di pakai? Kamu tidak suka ya?" tanya Guen.


"Ah itu kak, nanti Rein akan memakainya," ucap Rein canggung.


"Bener ya? Aku tunggu loh. Kamu pasti sangat cantik dengan jaket itu."


Rein hanya membalasnya dengan senyum tipis di bibirnya. Mereka akhirnya sampai di depan rumah Rein.


"Kakak mau mampir dulu?" tanya Rein memastikan. Berharap pria itu tidak perlu mampir ke rumahnya.


"Iya Rein. Ada sesuatu yang ingin aku berikan pada mamamu, beliau ada kan di rumah?" tanya Guen berbasa-basi.


"Oh mama, ada kayaknya," jawab Rein asal.


Guen mengangguk dan mengikuti langkah Rein untuk masuk ke dalam rumah gadis itu. Di dalam rumah sang mama tengah sibuk di dapur.


Wanita itu membuat masakan untuk menyambut anaknya.


"Maa!" panggil Rein.


"Iya Rein mama di dapur!" jawab sang mama.


"Ada tamu ma, nyari mama!" ucap Rein. Gadis itu meletakkan tasnya di atas sofa ruang tamu.


"Kak Guen duduk dulu saja, aku akan membuatkan minum. Sekalian memanggil mama," pinta Rein.


"Baiklah, maaf merepotkan mu Rein," balas Guen.


"Gak apa-apa kok," Rein segera berjalan ke arah dapur. Melihat sang mama yang sibuk dengan berbagai bahan-bahan makanan.


"Ma, buat apa sih?" tanya Rein sambil mengambil dua gelas dan menuangkannya dengan jus jeruk.


"Hari ini kakakmu akan pulang, jadi mama masak makanan kesukaan dia," jawab sang mama.


"Kakak pulang?Dia pasti bawain hadiah buat Rein deh! Oh iya di depan ada kak Guen, dia mencari mama tuh!" ucap Rein memberi tahu.


"Guen? Yang kemari ke sini itu?" tanya mamanya.


"Iya ma," jawab Rein.


"Ngapain mencari mama, suruh nunggu sebentar deh.Mama cuci tangan dulu," ucap mamanya.Rein menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Dia segera membawa dua gelas jus yang tadi dia buat untuk Guen dan dirinya.


Guen memperhatikan foto keluarga milik Rein. Ternyata gadis itu memiliki seorang kakak laki-laki yang sangat mirip dengan Rein. Ketika gadis itu masih kecil.


"Kak Guen, ini minum dulu," Rein menaruh satu gelas jus jeruk di meja depan Guen.


"Makasih Rein, kamu ternyata punya kakak kandung laki-laki ya?" tanya Guen.


"Iya, dia sedang kuliah di luar negeri kak. Katanya nanti malam akan pulang," jawab Rein.


"Wah pasti kakakmu sangat pandai,bisa kuliah di luar negeri," puji Guen pada kakak Rein.


"Begitulah, sayangnya aku tidak sepandai dia."


"Haha, kamu juga pandai kok Rein.Buktinya bisa masuk ke sekolah elit kita," jawab Guen. Pembicaraan keduanya membuat Rein bosan.


Sang mama akhirnya tiba di ruang tamu. Guen menyalami wanita itu.


"Nak Guen, maaf ya, tadi tante masih sibuk masak," ucap mamanya Rein.


"Gak apa-apa kok tan, malah Guen minta maaf mengganggu tante."


"Gak kok nak Guen.Tante malah seneng kalau temannya Rein sering main ke sini. Anak ini jarang sekali berkumpul dengan teman-temannya. Tante takut kalau dia tidak punya teman," ucap sang mama.


"Apa sih mama ini, orang Rein banyak kok temannya!" gerutu Rein.


Ketiganya saling mengobrol bersama. Guen juga memberikan hadiah yang sudah dia siapkan untuk mamanya Rein.


"Ya ampun,kenapa repot-repot membawakan hadiah buat tante sih."


"Gak apa-apa kok tan. Guen malah senang bisa mengenal keluarga tante. Kalian sangat ramah-ramah," ucap Guen memuji.


"Makasih ya Guen," jawab sang mama. Rein hanya mendengarkan keduanya yang dengan mudah sangat akrab. Rein berharap Darwin juga bisa begitu akrab dengan mamanya.


Satu jam kemudian, Guen pamit untuk pulang. Rein mengantar pria itu sampai ke depan rumahnya.


"Sampai jumpa Rein di sekolah besok!" ucap Guen sebelum mengemudikan mobilnya.


"Iya kak," balas Rein.


Dari arah berlawanan, Darwin melihat Rein dan Guen yang sangat akrab. Hati pria itu mulai di bakar api cemburu. Dia menatap ke arah Rein dengan tatapan dingin.


Rein merasa dirinya seperti tengah ketahuan selingkuh dengan pria lain. Padahal Rein dan Darwin belum resmi bersama sebagai sepasang kekasih.


"Darwin memarkirkan motornya di depan gerbang rumah pria itu. Dia berjalan ke arah Rein yang masih berdiri di depan rumahnya.


"Kenapa dia kesini lagi?" tanya pria itu dengan nada kesal.


"Ah dia cuma mengantarku pulang saja. Sama ketemu mama tadi," jawab Rein jujur.


"Mengantarmu?" Darwin tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.


"Ya, kak Tifo kan ada kegiatan lain tadi. Jadi dia yang mengantarku pulang," jelas Rein.


"Oh gitu!" Darwin hanya mengatakan itu dan segera berbalik menuju ke rumahnya.


"Eh, kenapa dia? Aneh sekali!" ucap Rein,gadis itu tidak sadar jika Darwin tengah cemburu pada Guen. Pria itu berhasil mengantar Rein pulang. Sedangkan Darwin belum pernah mengajak Rein pulang bersama.


Gadis itu masuk ke dalam rumah begitu pula dengan Darwin. Dia juga segera masuk ke dalam rumahnya.


Darwin melemparkan tas miliknya ke sembarang arah di dalam kamar. Hatinya tengah tidak baik-baik saja. Dia teringat Guen yang mencoba mendekati Rein.


"Dia benar-benar polos atau bodoh sih? Jelas-jelas pria itu ingin mendekatinya? Dia tidak sadar itu!" gumam Darwin kesal.

__ADS_1


Tapi Darwin tampak khawatir juga jika Guen berhasil mendapatkan hati Rein. Pasalnya sebelum Darwin mengenal Rein, ternyata gadis itu juga pernah mengejar Guen.Mengagumi pria itu.


"Sial! Aku tidak boleh membiarkan mereka lebih dekat lagi!" ucap Darwin sambil memukul tembok di depannya.


__ADS_2