Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Hal Tertunda


__ADS_3

Rein keluar dari ruang rahasianya. Dia harus segera kembali ke istana utama. Jika tidak para pelayan dan pengawalnya akan kebingungan mencari dirinya. Apa lagi tiga tetua yang setia pada kerajaannya itu.


"Hoaaaaamm!" Rein menguap lebar sambil merenggangkan kaki dan tangannya.


"Yang mulia, dari mana saja? Saya sudah kebingungan mencari anda," ucap Ris pelayan pribadi Rein.


"Aku jalan-jalan Ris, jangan terlalu khawatir."


Rein berjalan ke arah kamarnya. Di belakang Ris berlari kecil agar bisa lebih dekat dengan ratunya itu.


"Tapi para tetua tengah mencari anda. Mereka ada yang ingin di sampaikan yang mulia," ucap Ris lagi. Langkah Rein terhenti, dia menoleh ke arah Ris.


"Tetua? Ada masalah apa?" tanya Rein.


"Entah lah yang mulia,mereka tidak mengatakannya pada hamba," Ris tidak tahu apa yang sedang terjadi pada para tetua itu.


"Baiklah,nanti biarkan mereka menemui ku di ruang kerja," jawabnya.


"Baik yang mulia."


Rein pergi ke kamarnya terlebih dahulu untuk mengganti pakaian gadis itu.Sedangkan Ris pergi menemui para tetua untuk memberi tahu mereka.


Rein bersenandung kecil, hatinya sedikit merasa bahagia hari ini. Setelah menemukan kembali kekuatannya.


Rein perlahan membuka kamarnya. Lalu menutup pintunya kembali.


Rein membuka satu persatu pakaian yang dia kenakan. Sambil tetap bersenandung.


"Ehem!" suara Darwin berdehem di dalam kamar itu.


Rein membelalak karena tidak menyadari bahwa ada seseorang di dalam kamarnya.


"Aaaah!" teriak Rein namun segera di tutup oleh tangan Darwin.


Gadis itu malu karena sebagian pakaiannya sudah terbuka. Memperlihatkan dua gunung kembarnya.


"Jangan berteriak!" ucap Darwin. Rein menganggukkan kepala.Dia dengan cepat menutup kedua aset berharganya dengan kain yang sudah dia buang ke lantai tadi.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Rein kesal.


"Melihat pemandangan yang bagus," ucap Darwin mengingat lekuk tubuh Rein tadi.


"Kamu mesum!" Rein ingin memukul pria itu dengan kedua tangannya. Darwin menahan kedua lengan Rein agar tak mengenai wajahnya.


Namun kain yang menutupi tubuh Rein jatuh ke bawah. Memperlihatkan kembali milik Rein lebih jelas.


Gadis itu menarik lengannya dengan paksa. Tapi Darwin lebih kuat darinya. Darwin sengaja ingin melihat lebih lama aset milik Rein.

__ADS_1


"Darwin lepaskan! Kamu kurang ajar, mesum!" umpat Rein. Darwin malah tersenyum nakal. dia mendorong tubuh Rein ke dinding di kamar. Memegang dua tangan Rein dengan satu tangannya. Sedangkan tangan yang lain menuju ke aset Rein.


"Darwin, jangan! Kamu mau apa?" tanya Rein takut melihat pergerakan tangan Darwin.


Tiba-tiba pria itu mencium bibir Rein. Lalu tangannya yang lain meremas aset Rein. Gadis itu merasa seluruh tubuhnya membeku.


Ada aliran yang aneh yang dia rasakan. Rein mencoba menggigit bibir Darwin.


"Ah kenapa mengigit!" Darwin kembali mencium bibir Rein, kali ini dia beralih ke leher jenjang milik Rein.


"Uh!" suara itu akhirnya lolos dari bibir Rein. Dia ingin menolak tapi tubuhnya sangat menerima sentuhan dari Darwin.


Pria itu juga tidak bisa menahannya lagi. Dia seperti singa yang kelaparan.


"Tok tok tok. Yang mulia!" panggil tetua Tan sambil mengetuk pintu kamar.


Rein dan Darwin menghentikan kegiatan mereka. Gadis itu mendorong Darwin. Lalu memakai pakaiannya dengan cepat.


"Iya tetua Tan. Tunggu sebentar," jawab Rein. Dia merapikan rambut dan pakaiannya. Lalu mendorong Rein ke jendela.


"Cepat pergi!" bisik Rein.


"Tidak mau!" pria itu merasa kesal karena keinginannya terganggu oleh tetua itu.


Rein menatapnya tajam, pria itu lebih sulit di hadapi saat terangsang seperti sekarang.


"Yang Mulia, apa terjadi sesuatu?" tanya tetua yang lainnya.


"Ah tidak, aku sedang berganti pakaian. Tunggu sebentar lagi tetua," balas Rein.


Darwin dengan wajah cemberut, akhirnya mau keluar kamar lewat jendela. Rasanya sangat ingin menghajar ketiga tetua itu. Mereka datang di waktu yang tidak tepat.


Darwin mengusap kasar wajahnya, dia menatap ke arah bawah di antara dua kakinya itu.


"Sayang sekali kamu harus menunda dulu bersenang-senangnya," ucapnya.


"Masuklah tetua," perintah Rein. Ketiga tetua masuk ke dalam kamar.Mereka memberi hormat pada ratunya.


"Ada apa tetua Tan?" tanya Rein.


"Yang mulia, besok ada acara pertandingan antar pangeran negara." Tetua Tan ragu untuk menyampaikannya.


"Lalu?" tanya Rein.


"Negara kita tidak memiliki siapa pun untuk di wakilkan. Karena para pangeran belum ada," lanjut tetua Tan.


"Jadi?" Rein bisa menebak pembicaraan itu.

__ADS_1


"Istana kita tidak akan ikut serta yang mulia."


"Kenapa tidak bisa mengikutinya? Aku bisa ikut serta," ucap Rein.


"Tidak yang mulia, anda tidak boleh ikut. Karena terlalu berbahaya bagi perempuan," jelasnya.


"Bagaimana kalau pengawal Darwin yang ikut serta yang mulia. Dia bisa mewakili istana kita," Tetua yang lain mengusulkan idenya.


Rein mengerutkan keningnya. Kenapa tiba-tiba mereka meminta Darwin yang ikut serta. Rein penasaran rencana apa yang ada di balik pertandingan antar negara itu.


"Baiklah, akan aku pikirkan terlebih dahulu. Kalian boleh kembali," pinta Rein.


"Baik yang mulia," mereka akhirnya pergi. Rein memijit keningnya.


Dia pernah mendengar acara pertandingan itu adalah acara setahun sekali. Dan setiap negara wajib mengikutsertakan pemimpin atau pangeran yang masuk rekomendasi untuk bertanding.


Hadiahnya tidak main-main. Yaitu posisi dari negara yang kalah akan menjadi negara milik pemenangnya.Sama seperti pengambilan kekuasaan tanpa perang besar.


Jika tidak ikut, maka negara yang ikut serta berhak menyerang negara yang tidak ikut tersebut secara bersamaan.


"Sial,aku pikir menjadi pemimpin negara sangat mudah. Ternyata menyusahkan sekali!" gumamnya sambil duduk di kursi samping jendela.


"Benar, memang menyusahkan. Jika kita tidak kuat makan yang lebih kuat akan menindas kita," ucap Darwin dari balik jendela.


Rein terkejut mendengarnya, dia baru sadar Darwin ternyata belum pergi dari sana.


"Kamu menguping urusan negara? Kamu tahu kan itu tidak benar?" tanya Rein.


"Urusan negara hanyalah urusan kecil buatku. Kamu lupa kalau aku adalah pangeran," ucapnya percaya diri.


"Baiklah aku percaya," Rein malas menanggapinya.


"Bagaimana kalau kita lanjutkan yang tadi saja," Darwin mulai kembali menggoda Rein.


"Apa?" Rein tidak percaya pria itu masih saja menginginkannya.


Rein dengan cepat menutup jendela. Membuat hidung Darwin terkena jendela itu.


"Ah sakit! Dasar gadis galak!" ucap Darwin.Rein tidak peduli itu.


Darwin akhirnya pergi dari sana. Dia akan kembali saat Rein tidak dalam keadaan waspada. Niat pria itu sudah buruk. Tapi sangat senang saat menggoda Rein.


"Apa ini? Aku jatuh cinta lagi?" gumam Darwin sambil menggelengkan kepalanya. Dia tidak percaya hatinya yang dulu beku. Akhirnya mencair karena ada Rein di sampingnya.


"Kenapa aku merasa kamu seperti Rumi dalam tubuh yang berbeda."


Sikap dan sifat Rein hampir sama dengan Rumi. Meski saat ini tubuh Rumi hidup kembali. Tapi sikap dan sifatnya tak lagi sama seperti dulu.

__ADS_1


__ADS_2