
Darwin perlahan menciumi leher Rein. Gadis itu mulai merasakan panas di sekujur tubuhnya karena ulah Darwin.
"Kamu, ja-jangan lakukan ini!" Rein merasa seluruh tubuhnya merinding. Darwin tak lagi bisa menahan dirinya.
Dia tidak peduli dengan yang di katakan oleh Rein. Darwin mulai mencium bibir Rein. Keduanya larut dalam perasan masing-masing. Menikmati ciuman mereka. Hingga Rein akhirnya sadar bahwa ini tidak benar.
Dia mendorong Darwin agar menjauh darinya. Lalu menarik baju yang tak jauh bak mandinya.
"Kenapa?" tanya Darwin heran mengapa Rein tidak mau melakukan itu. Mereka sama-sama tengah bergairah. Tapi tiba-tiba Rein menghentikannya.
"Aku tidak akan menyerahkan keperawanan ku pada pria yang tidak mencintai ku! Kamu sebaiknya keluar lah dari sini!" Darwin yang mendengarnya keluar dari bak mandi. Dia mendekati Rein.
"Kenapa mengatakan hal tentang cinta?" tanya Darwin.
Rein menatapnya dengan serius.
"Apa kamu terbiasa melakukan hal seperti ini pada gadis di luar sana?" tanya Rein. Dia tidak mau jatuh ke dalam jebakan Darwin.Rein tidak ingin terluka jika mengetahui dia hanyalah pelampiasan untuk pria di depannya itu.
"Aku, memang pernah melakukannya dengan seseorang dahulu," jawan Darwin jujur. Ketika Rein mendengar itu rasanya hatinya sakit sekali.
"Benar juga dia sudah hidup beratus tahun. Tidak mungkin dia tidak memiliki gadis dahulu, kenapa hatiku merasa sakit mendengar kejujurannya," batin Rein.
"Tapi itu dulu, dia sudah meninggal," jelas Darwin lagi.
"Sudah lah, kamu keluar saja. Aku ingin menyendiri," pinta Rein.
Darwin perlahan memeluk gadis itu dari belakang.
"Maaf Rein, jika kamu mungkin terluka karena ini, aku-" Rein membalikkan tubuhnya ke arah Darwin.
Jari telunjuknya menyentuh bibir Darwin. Menghentikan pria itu untuk bicara.
"Jangan katakan apapun, aku ingin tahu apakah kamu mencintai ku?" tanya Rein.
Darwin terdiam,tak langsung menjawabnya. Rein sudah tahu jawabannya.
"Aku," ucap Darwin ragu.
"Sudahlah,tidak perlu menjawabnya." Rein meninggalkan Darwin sendirian di kamar itu.
"Apa dia mencintaiku?" tanyanya ketika menyadari tatapan Rein berbeda dari sebelumnya.
Tapi di hati Darwin hanya ada Rumi seorang. Pria itu sangat sulit melupakannya.
Rein yang keluar dari kamarnya pergi ke sebuah taman di istana itu. Malam memang sudah membuat taman itu sedikit gelap. Tapi masih ada sinar rembulan yang meneranginya.
Setetes air tiba-tiba mengalir dari kedua matanya. Semakin lama semakin banyak saja. Rein mengusapnya berkali-kali.
__ADS_1
"Hei berhentilah! Kenapa harus cengeng seperti ini?" gumamnya.
Rein merasa sakit ketika pria itu tak mencintai dirinya.
"Apa yang kamu harapkan Rein?" gumamnya lagi.
"Apa aku sudah jatuh cinta padanya," batin Rein menyadari bahwa ini rasanya seperti dia menyukai seniornya dahulu.
"Kenapa seorang gadis malam-malam menangis?" suara itu membuat Rein waspada.
Seorang pria dengan baju berwarna biru muda muncul entah dari mana. Dia mendekati Rein.
"Siapa kamu? Jangan mendekat!" Rein khawatir jika pria itu adalah musuhnya.
"Tenanglah, apa kamu melupakanku?" jawabnya.
Rein memperhatikan wajah pria itu dengan seksama. Mengingat memori yang tertinggal di tubuh Rein sesungguhnya.
"Wajah itu? Kenapa bisa?" batin Rein terkejut.
Wajah pria di hadapannya itu sangat mirip dengan kakak senior di dunianya.
"Aku tidak ingat,pergilah jangan menggangguku!" ucap Rein malas meladeninya.
"Astaga, aku pangeran Guen. Sahabatmu ketika masih kecil, bagaimana kamu bisa lupa?" Pria itu memukul kepala Rein dengan ranting kecil yang sejak tadi dia bawa.
"Guen?" tanyanya tidak percaya. Bahkan nama saja bisa sama dengan kakak seniornya dahulu.
"Ya aku sudah ingat, kenapa kamu ke sini malam-malam begini?" tanya Rein.
"Karena aku sangat merindukan sahabatku ini," ucapnya.
Rein tak menanggapinya, dia masih belum mengingat semua tentang pria di hadapannya ini.
"Tapi sayangnya kamu tengah bersedih. Baru kali ini melihatmu sangat murung,ada apa?" tanya pangeran itu.
"Bukan urusanmu," jawab Rein tak acuh.
"Rein masih sama seperti dulu. Kejam dan keras kepala," ucapnya.
Rein tidak memperdulikan ucapan Guen. Dia memilih untuk menikmati cahaya rembulan malam ini.
"Apa karena seorang pria?" tanya Guen. Tidak ingin menyerah.
"Apa semua pria itu menyebalkan? Seperti kamu juga?" tanya Rein.
"Hei, dimana nya aku menyebalkan, bukannya dari kecil kamu sangat senang mengikuti ku. Kenapa sekarang sangat jarang bisa bertemu denganmu," jelasnya.
__ADS_1
"Itu dulu, sekarang aku seorang ratu. Apa kamu bisa dengan bebas menemui ku," jawab Rein.
"Benar juga, ratu yang sangat sibuk sekarang."
Keduanya duduk di sebuah batu sambil menikmati udara malam."
Dari belakang keduanya, Darwin memperhatikan mereka. Rein tampak akrab dengan pria itu.
"Siapa dia? Kenapa sangat akrab dengannya," gumam Darwin.
Dia merasa kesal melihat kedekatan keduanya. Ingin sekali menemui mereka. Namun baju Darwin saat ini basah kuyup. Dia harus mengganti bajunya terlebih dahulu.
Darwin memilih kembali ke kamarnya. Mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Laku berbaring di atas ranjang. Dia tidak ingin memperdulikan Rein bersama siapa.
"Sudahlah, lebih baik tidur!" ucap Darwin dia sudah memejamkan kedua matanya.
Tapi pikirannya tak bisa berhenti memikirkan Rein dan pria yang bersamanya.
"Malam-malam berdua saja dengan pria lain.Kenapa dia sangat menyebalkan sekali?" gumamnya. Darwin segera bangun dan pergi keluar dari kamar.
Dia kembali ke taman yang tadi dia lalui. Rein masih saja di sana bersama pria itu.
Darwin mendekati keduanya. Lalu menarik lengan Rein. Guen terkejut melihat seseorang dengan kasar menarik lengan Rein.
Dia mencoba membantu Rein untuk melepaskan pegangan dari tangan Darwin.
"Hei jangan kasar dengan seorang gadis," ucap Guen pada Darwin.
"Darwin lepaskan aku!" Rein meronta.
"Diam, kamu siapa?" tanya Darwin pada Guen.
"Aku Guen,sahabatnya Rein!" jawab Guen. Tatapan keduanya saling membunuh.
"Sahabat, malam-malam begini bersama seorang gadis dengan pakaian tipis. Apa kamu gila?" tanya Darwin sarkas.
Rein mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Darwin. Entah mengapa dia tiba-tiba marah seperti itu.
"Apa yang kamu katakan Darwin,kami hanya mengobrol saja!" Rein mencoba membela diri.
"Kembali lah ke kamarmu, dan pakai pakaian dengan baik!" Darwin menatap Rein yang hanya memakai pakaian tipis.
Rein kesal dan berlari ke arah kamarnya. Tinggal Darwin dan Guen.Keduanya saling menatap penuh dendam.
"Siapa kamu? Kenapa aku baru melihatmu?" tanya Geun.
"Aku Darwin. Mulai saat ini jangan mendekati Rein lagi. Kalau tidak kamu akan melawanku!" ancam Darwin sebelum dia meninggalkan Geun sendirian di taman itu.
__ADS_1
Geun tertawa kecil, dia menemukan musuh barunya dalam mendapatkan Rein.
"Aku pikir bisa dengan mudah merebut hati Rein. Rupanya ada pria lain yang mencintainya," gumam Guen. Tapi dia tidak akan menyerah untuk mendekati Rein. Perasaan sejak kecil sudah dia simpan lama. Kali ini Geun tidak akan menyerah lagi.