Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Mendapat Restu


__ADS_3

Semua tamu undangan yang berada di depan rumah Karin berteriak histeris ketika melihat gadis itu jatuh dari ketinggian tiga lantai.


"Aaah pengantinnya jatuh dari jendela!" teriak salah satu dari mereka ketika melihat Karin di atas jendela. Para tamu saling melihat ke arahnya.Tapi tak ada yang berusaha menangkap tubuh gadis itu.


Karin merasa tubuhnya berhenti di udara. Tidak sampai jatuh ke tanah. Dia perlahan membuka kedua matanya.


Para tamu yang melihatnya merasa lega. Karena Karin di selamatkan oleh seseorang yang berada di bawah jendela itu.


Karin membuka perlahan kedua matanya. Tampak wajah Ilham di depan wajah gadis itu.


"Di alam lainpun aku tetap mengingat wajahmu? Ilham!" batin Karin.


"Sudah bosen hidup ya? Ngapain loncat dari jendela!" ucap Ilham.Karin terdiam sejenak, lalu mencubit pipi Ilham.


"Auh!" Ilham merasa kesakitan.


"Ilham, ini beneran kamu?" tanya Karin tidak percaya.


"Iya bener lah," Ilham menurunkan tubuh Karin.


Dedi menghela napas lega. Untung putrinya baik-baik saja.Jika sampai terjadi sesuatu pada Karin. Dedi tidak tahu harus bagaimana lagi.


Dia segera turun ke lantai dasar rumahnya. Menghampiri Karin dan memeluk putrinya itu.


"Karin, kamu baik-baik saja kan?" tanya Dedi khawatir dengan keadaan Karin.


"Aku baik-baik saja pa," jawabnya.


"Syukurlah, papa mohon kamu jangan lagi seperti tadi." Pinta pria itu pada Karin.


"Karin gak sengaja kok pa," jawabnya.


Dedi melepaskan pelukannya, laku beralih menatap Ilham yang berdiri di samping Karin.


"Terima kasih sudah menyelamatkan Karin Ilham. Tapi tetap saja, dia harus menikah dengan pria lain!" ucap Dedi tanpa memikirkan perasaan Karin.


"Paman, saya mohon! Jangan pisahkan kami!" Ilham memohon pada pria itu.


Tapi Dedi tetap kukuh pada keinginannya. Dia ingin Karin mendapat pria yang kaya dan memiliki masa depan baik. Tidak seperti Ilham.


"Tidak, pergilah!" ucap Dedi.Semua orang yang sudah berada di sana menyaksikan ketiganya. Mereka saling berbisik-bisik tentang kemungkinan masalah yang terjadi.

__ADS_1


"Paman, Ilham mohon. Ilham sangat menyayangi Karin." Ilham bahkan berlutut di depan Dedi. Dari arah samping, Darwin dan Faro menyusul Ilham. Keduanya khawatir pada pria itu. Karena tiba-tiba pergi begitu saja tanpa memberitahu Darwin.


Darwin lalu memberitahu Faro tentang masalah itu. Faro membawa Darwin menuju ke rumah Karin. Dan ternyata memang Ilham berada di sana.


"Papa, Karin mohon,jangan pisahkan kami!" kini giliran Karin yang ikut memohon pada papanya.Dia juga berlutut di samping Ilham.


Darwin tidak tega melihat pamannya sampai berlutut seperti itu.Hanya karena tidak mendapat restu dari calon mertuanya.


Dedi menatap keduanya dengan marah. Dia sangat tidak rela jika Karin bersama dengan Ilham.


Dari dalam rumah,asisten pribadi Dedi mendekati pria itu.


"Tuan, ada hal buruk yang ingin saya sampaikan sekarang," ucapnya pada Dedi.


"Apa itu?" tanya Dedi.


"Calon menantu tuan masuk penjara karena kasus narkoba tuan, polisi menangkapnya pagi tadi!" beritahu asisten itu pada Dedi.


"Apa?" tanya Dedi tidak percaya. Pria yang dia kira baik-baik ternyata pemakai narkoba. Dedi memegang jantungnya. Dia duduk lemas di kursi tak jauh darinya.


"Papa!" Karin dan Ilham memapah Dedi.


"Papa baik-baik saja. Kalian berdua, menikahlah hari ini.Maafkan papa Karin telah memaksamu menikah dengan pria itu. Sekarang papa merestui kalian berdua," ucap Dedi berubah pikiran. Ilham yang dia kira tidak baik, malah selalu ada buat Karin dan dirinya.


"Papa gak bohong kan?" tanya Karin tidak percaya.


"Tidak nak, papa tidak mau kamu menikah dengan orang yang salah. Semoga Ilham benar-benar tulus pada mu," ucapnya.


"Paman, aku tidak akan membuat Karin sedih. Aku akan berusaha membahagiakannya," janji Ilham pada Dedi dan Karin.


"Baik, aku serahkan putriku padamu. Jika sampai kamu menyakiti dia. Aku tidak akan mengampuni kamu Ilham!" Dedi akhirnya memberi restunya.


"Baik," ucap Ilham mantap. Darwin dan Faro ikut tersenyum melihat mereka akhirnya mendapat restu dari sang ayah.


Sang penghulu pun sudah tiba. Para tamu dari keluarga Karin pun begitu. Meski dari keluarga Ilham hany Faro dan Darwin saja. Namun acara pernikahan itu sudah bisa di lakukan.


Ilham sebelumnya telah menyiapkan mahar untuk Karin. Meski sederhana tapi wanita itu menerimanya dengan ikhlas.


"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya pak penghulu ketika ijab kabul telah di ucapkan.


"Sah!" ucap mereka serentak. Dan hari ini Ilham resmi menjadi suami dari Karin. Dedi merasa ikut bahagia,melihat putri semata wayangnya bisa tersenyum kembali.

__ADS_1


"Papa, terima kasih banyak ya! Papa udah mau menerima Ilham sebagai menantu papa," ucap Karin senang, setelah para tamu pergi.


"Iya Karin, maafin papa. Sudah membuatmu sedih beberapa hari ini," ucap pria itu memeluk putrinya.


Ilham bisa merasakan sebenarnya sang ayah mertua sangat menyayangi Karin.


"Ilham bisa kita bicara empat mata terlebih dahulu," ucap Dedi setelah Karin pergi untuk berganti pakaian. Darwin dan Faro yang berada di dekat Ilham hanya bisa memberi waktu keduanya.


"Baik pa, kalian tunggu di sini sebentar ya?" pinta Ilham pada Darwin dan Faro.


"Iya paman." Balas Darwin. Faro hanya menganggukkan kepalanya saja.


Ilham berjalan mengikuti langkah kaki Dedi. Tepat di taman belakang rumahnya, mereka kini duduk di sebuah kursi panjang.


"Ilham, setelah kalian menikah. Mau tinggal dimana?Kamu tahu kan kalau Karin anak satu-satunya yang aku miliki," ucap Dedi dengan berat hati.


"Iya pa, Ilham boleh membawanya ke rumah milik Ilham sendiri atau tidak?" tanya Ilham.


Dedi menatap Ilham, dia memang harus merelakan Karin bersama suaminya. Tapi dia takut kesepian.


"Lalu papa bagaimana?" tanya Dedi dengan wajah sedih. Ilham tidak tega melihat papa mertuanya memasang wajah seperti itu.


Tapi bagaimana dengan Darwin. Pria itu tidak mungkin bisa hidup sendirian tanpa dirinya.


"Ilham juga bingung pa, bagaimana dengan keponakan Ilham. Dia masih sekolah menengah atas. Tidak mungkin membiarkannya tinggal sendirian di rumah itu." Ilham mulai kebingungan.


"Sudahlah, dimana saja kalian tinggal. Yang penting selalu bersama. Jangan membuat Karin sedih, kamu tahu kan itu?" ucap Dedi memperingati Ilham.


"Ya, Ilham tahu pa. Papa tenang saja. Kami akan sering mengunjungi papa."


Ilham tidak boleh membuat pria itu khawatir pada putrinya.


"Baik, papa percaya kepadamu!" Dedi menepuk pundak Ilham. Keduanya lalu kembali ke ruang utama. Di sana Darwin dan Faro serta Karin yang sudah berganti pakaian sedang berbincang bersama.


"Ilham, papa!" panggil Karin ketika melihat dua pria yang paling dia sayangi itu datang.Ilham dan Dedi mendekati ketiganya.


"Kalian dari mana?" tanya Karin.


"Urusan seorang pria!" ucap Ilham dengan disertai senyum tipis di bibir pria itu.


"Beneran pa?" tanya Karin. Sang papa menganggukkan kepalanya. Rein hanya menatap curiga pada dua pria itu.

__ADS_1


__ADS_2