Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Jangan Menggoda ku


__ADS_3

Darwin menggores lengan Rein dengan kuku panjangnya. Dia sangat lapar setelah sekian lama tidak menghisap darah milik Rein.


Gadis itu tampak kesal, bayangan sebelumnya yang terlintas di kepalanya tiba-tiba hilang begitu saja.


Rein ingin sekali memukul kepala pria yang tengah menikmati darahnya. Sangat lahap sekali.


"Hei!Berapa lama kamu tidak meminum darah?" gumam Rein.


"Bukannya kamu tahu kapan itu?" balas Darwin. Dia hanya meminum darah milik Rein. Bukan yang lainnya.


Di area peperangan, panglima milik pangeran Kun terpaksa harus menarik mundur pasukan mereka. Karena melihat luka serius yang berada di tubuh pangerannya.


Sang raja sangat marah besar melihat anak pertamanya terluka seperti itu. Dia mengirim ultimatum perang untuk negara milik Rein. Bahkan akan lebih besar pasukan yang mereka bawa.


Rein merasa tertantang, dia juga menyiapkan pasukan khusus yang terlatih untuk menghadapi mereka nantinya.


"Yang mulia, bukan kah ini tidak terlalu baik? Sebaiknya kita berdamai saja dengan mereka." Tetua Gam memberikan pendapatnya.


"Benar yang mulia," tetua Tan ikut menyetujuinya.


"Tidak, jika harus berdamai. Mereka tetap akan memaksaku untuk menikah dengan pangeran Kun itu," Rein tidak mau menuruti kemauan mereka.


Jika harus berperang, Rein sangat siap. Demi harga dirinya, dia tidak mau menyerah begitu saja. Lagi pula memang sudah lama negara itu mengincar negaranya.


Tiga hari kemudian, para pasukan bertemu di perbatasan. Mereka sudah siap bertarung. Kali ini Rein ikut turun tangan, juga Darwin.


Para tetua tidak habis pikir bagaimana sikap ratu mereka.Rein terlalu pemberani untuk seorang gadis.


"Apakah kalian siap?" tanya Rein pada para pasukannya.


"Siap yang mulia!" teriak mereka serentak. Rein sangat puas dengan semangat para prajuritnya.


"Baiklah,ayo kita serang!" Rein memberi aba-aba untuk menyerang. Di kubu lawan,mereka juga sudah siap menyerang.


Kedua kubu bertemu,mereka saling menyerang. Rein dan Darwin dengan mudah bisa menghabisi mereka.Bahkan keduanya pasukan musuh kabur.


Rein dan Darwin bersama pasukannya menuju ke istana negera pangeran Kun. Mereka harus membuat negara itu tunduk dan ikut ke negara milik Rein.


Ketika mereka sampai di istananya. Rein dan Darwin melawan sang raja. Keduanya memenangkan pertempuran itu.


"Menyerah lah kalian! Dan tunduk pada negera ku!" ucap Rein.

__ADS_1


Pangeran Kun yang belum sembuh hanya bisa pasrah juga pada mereka. Begitu pula sang raja yang sudah tidak bisa melawan. Mereka akhirnya mau bergabung dengan negara milik Rein.


Rein dan Darwin pulang dengan kemenangan telak. Mereka di sambut baik oleh para penduduk di sana. Sudah lama para penduduk kesal dengan negara sebelah. Yang selalu sombong dan semena-mena.


Setelah peperangan yang panjang. Rein memutuskan untuk beristirahat dahulu.


"Ah capek sekali, sepertinya harus berendam air hangat dahulu!" ucapnya ketika berada di kamar.


Dia meminta pelayannya untuk menyiapkan air hangat untuknya. Rein menunggu beberapa menit untuk mereka menyiapkan itu.


"Silahkan yang mulia, air hangatnya sudah siap." Ucap pelayan pribadi Rein.


"Baiklah, kamu keluar saja dari kamar. Aku bisa melakukannya sendiri," ucap Rein.


"Baik yang mulia," pelayan itu undur diri dan segera menutup pintu kamar Rein.


Rein bersiap untuk berendam. Perlahan dia menanggalkan pakaiannya. Dan masuk ke dalam bak berisi air hangat itu.


"Wah nyamannya," ucap Rein ketika berendam.


Dengan harum yang berasal dari bunga-bunga di air itu. Rein merasakan ketenangan.


"Seandainya bisa kembali ke dunia ku yang sebelumnya. Aku sangat rindu mama dan papa. Bagaimana kabar mereka saat ini?" gumam Rein merindukan mereka.


Tak ada kasih sayang dari orang tua. Apa lagi pria yang mencintainya. Rein lalu teringat dengan seniornya yang dahulu pernah dia sukai.


"Kak Guen, sayang sekali dulu aku belum mendapatkan hatimu. Sekarang mungkin saja kamu sudah menikah," ratap Rein.


"Siapa yang menikah?" suara Darwin memecah lamunan Rein.


"Kamu! Kenapa masuk? Aku sedang berendam!" Rein segera masuk ke dalam air karena merasa malu jika terlihat tanpa busana oleh Darwin.


"Sejak tadi kamu tidak menjawab panggilan ku dari luar pintu. Makanya aku masuk. Ternyata kamu malah melamun di sini," jawab Darwin.


"Dasar mesum. Keluar lah dahulu. Aku akan memakai baju!" pinta Rein pada Darwin.


"Siapa yang mesum, bagaimana kalau kita berendam bersama?" goda Darwin.


"Hei! Jangan macam-macam ya?" Rein kesal. Darwin malah tertawa terbahak-bahak. Rein segera menutup mulut pria itu.


Agar tidak ada yang mendengarnya berada di dalam kamar seorang gadis. Di tambah gadisnya tengah berendam. Tapi Rein lupa dia saat ini tidak menggunakan busana. Sedangkan dia berdiri menutup mulut Darwin.

__ADS_1


Darwin menyaksikan semuanya. Dia juga terkejut, Rein menyadari kesalahannya.


"Aaaaah!" Rein malah berteriak kencang. Dia segera masuk ke dalam air.


Dia sangat malu, Darwin juga merasa canggung. Tapi dia sudah terlanjut melihatnya.


"Kamu,keluarlah!" teriak Rein ketika kepalanya muncul dari bawah air.


"Yang mulia anda baik-baik saja?" tanya pelayan yang berada di luar. Mereka baru saja meninggalkan Rein sebentar dan mendengar gadis itu berteriak.


Rein panik karena pelayannya sudah membuka pintu.


"Gawat kenapa mereka masuk?" batin Rein. Melihat Darwin yang masih belum pergi membuat Rein semakin panik.


"Kamu, cepat masuk ke sini!" Rein malah menarik Darwin masuk ke dalam bak air.


Pelayan yang tadi masuk ke dalam kamar.


"Yang mulai anda kenapa berteriak?" tanyanya.


Darwin berada di dalma air hanya bisa terdiam. Pasalnya dia bisa dengan mudah melihat tubuh Rein. Dia hanya bisa menahan diri.


Rein sambil menekan kepala Darwin agar tidak muncul ke permukaan air. Dia dengan gugup menjawab pertanyaan pelayannya.


"Kan aku sudah bilang tadi. Jangan masuk jika tidak aku panggil! Cepat keluar!" ucapnya mengusir si pelayan itu.


"Ah maaf yang mulia,saya khawatir karena anda berteriak," jawabnya.


"Sudahlah aku baik-baik saja. Cepat keluar dan jangan masuk kalau aku tidak meminta." Rein memberi perintah.


"Baik yang mulia." Pelayan itu segera undur diri.


Darwin yang hampir kehabisan nafas segera muncul ke permukaan.


"Huuft hampir saja aku mati karena kehabisan nafas," protesnya.Rein malah cemberut kesal.


"Tapi lumayan juga tubuhmu," ucap Darwin. Rein memerah karena malu sekaligus menahan marah.


"Rasakan ini! Dasar tukang mesum" Dia memukul Darwin berkali-kali di dada pria itu dengan kedua tangannya.


Darwin menahannya, jarak mereka sangat dekat saat ini.

__ADS_1


Entah mengapa jantung keduanya mulai tidak beraturan.


"Siapa yang memulainya. Kamu yang menggoda ku. Jangan salahkan aku jika aku di luar kendali," ucap Darwin nakal. Rein mendelik kaget.


__ADS_2