Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Penyakit Aneh


__ADS_3

Setelah sadar, Rein bersiap-siap untuk kembali ke kota. Setelah keduanya pulih, mereka akan melanjutkan rencana kedua.


"Oh ya Darwin bagaimana nasib Alex?" tanya Rein.


"Tenanglah, aku sudah mengirimnya ke tempat yang aman," balas Darwin. Rein tanpa curiga menganggukkan kepala. Dia harus fokus pada pembalasan dendamnya untuk saat ini.


"Baiklah, ayo kita membuat pertunjukan kembali!"ajak Rein.


Darwin tersenyum lalu keduanya segera kembali ke kota. Di sana mereka akan bersenang-senang.


Lompatan demi lompatan dengan cepat membuat keduanya sampai di perbatasan kota. Rein dan Darwin memilih untuk berjalan saja. Sambil mengamati keadaan kota.


"Awas minggir! Kalian rakyat jelata!" teriak seorang pria pengawal dengan menunggangi kuda.


Di belakang pria itu ada rombongan bangsawan. Rein mengenali siapa mereka. Para pengkhianat kerajaan, salah satunya adalah target kedua Rein.


"Ranya," ucap Rein.


"Oh dia target kedua kita," ucap Darwin.


"Benar," dengan menjentikkan jarinya ke arah Ranya. Gadis itu menebar sejenis racun kecil ke tubuh musuhnya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Darwin.


"Lihatlah, dia akan melakukan pertunjukkan hebat di tengah-tengah kerumunan ini," ucap Rein penuh dengan niat jahat.


Darwin penasaran apa yang tengah gadis itu rencanakan.


"Aaaaahh!" teriak Ranya dari kuda di belakang pengawalnya.


Kuda yang di tungganginya mulai bergerak tak beraturan.Ranya jatuh ke tanah dan kuda itu melesat pergi meninggalkannya.Para penduduk mengerumuni gadis itu.


"Ah tolong, gatal sekali!" Ranya berteriak meminta tolong. Seluruh tubuhnya terasa panas dan gatal. Dia tidak berhenti menggaruknya. Bahkan baju gadis itu hampir terbuka.


"Uh memalukan sekali," gumam Rein.


"Hei lihat itu, bukannya dia gadis paling cantik di kota kita. Kenapa dia seperti itu sekarang?" teriak salah satu warga di dekat Ranya.


"Benar dia kan putri bangsawan Ranya. Bukannya sebentar lagi dia akan menikah dengan pangeran kerajaan negara sebelah." Imbuh yang lainnya.


"Benar, wah lihat lah. Kulitnya seperti bernanah!" mereka tak ada yang membantu Ranya,malah saling membicarakan gadis itu.


Ranya yang tak tahu mengapa dirinya bisa seperti itu hanya bisa menahan malu. Pengawalnya membantu Ranya untuk naik ke kuda. Dan membawa gadis itu ke kediamannya.


"Non Ranya, bertahanlah.Saya akan membawa non ke tabib kerajaan segera!" ucap pengawal di depan Ranya. Dia menunggang kuda dengan cepat.


Setelah sampai di kediaman gadis itu. Sang pengawal membantu Ranya untuk ke kamarnya. Lalu memberi tahu kedua orang tuanya tentang keadaan Ranya.


"Apa? Ranya tiba-tiba gatal dan bernanah?" tanya ayahnya.

__ADS_1


"Benar tuan, silahkan iku hamba ke kamar nona Ranya," ajak pengawal itu.


"Baiklah," Tras mengikuti pengawal ke kamar putrinya. Dia juga meminta tabib untuk mengikutinya.


Ketiganya sampai di kamar milik Ranya. Penampilan gadis itu sudah sangat berantakan. Tras terkejut melihat putrinya yang biasa cantik kini sangat berbeda jauh.


"Apa yang terjadi padamu anakku?" tanya Tras pada Ranya.


"Ayah, ayah tolong Ranya! Sakit sekali ayah!" ucap Ranya meminta tolong.


Selain gatal itu meninggalkan bekas luka dan juga nanah yang entah dari mana dengan cepat muncul. Bau dari luka-luka itu juga sangat tidak enak. Tras harus menahan hidungnya. Begitu pula dua orang yang mengikutinya tadi.


"Tabib tolong putriku segera!" pinta Tras.


"Baik tuan," sang tabib mulai memeriksa Ranya. Namun dia baru menemui kasus penyakit seperti ini. Sebelumnya dia tidak pernah menemukannya.


"Bagaimana? Apa yang terjadi dengan putriku?" tanya Tras.


"Maaf tuan, saya tidak pernah menemui penyakit seperti ini sebelumnya," jawab tabib itu.


"Jadi, kamu tidak bisa menyembuhkannya?" tanya Tras mulai naik pitam.


"Tenang tuan, saya akan memberi obat penawar rasa sakit. Agar tidak terlalu sakit. Tapi saya perlu waktu untuk mencari obat penyembuhnya," jawab tabib itu berusaha agar dirinya selamat dari amarah tuan besarnya.


"Baik, berikan dia obatnya, agar dia bisa tenang."


"Ini tuan, biarkan air seduhan obat ini di minum noleh putri Ranya." Sang tabib memberikan resep obat pada Tras.


Seorang pelayan kediaman muncul dari belakang Tras. Dia segera menghadap ke tuan rumah itu.


"Iya tuan saya di sini," jawab pelayan yang terlihat masih muda itu.


"Kamu seduh obat ini dan segera berikan kepada putriku!" perintah Tras.


Sepanjang perjalanan, Rein tak berhenti tersenyum puas. Dia sangat senang bisa membuat Ranya malu.


"Apa yang kamu berikan pada gadis itu?"tanya Darwin.


"Bubuk gatal yang tidak ada penawarnya!" jawab Rein senang.


"Bagaimana kamu mendapatkan bubuk itu?" tanya Darwin penasaran.


"Aku meraciknya sendiri. Saat ini dia pasti tengah menciptakan bau untuk orang-orang di sekitarnya. Dan besok semua orang akan mendengar kabar baik itu!" Rein sudah bisa membayangkan bagaimana nasib Ranya selanjutnya.


Besok adalah hari dimana dia akan menikah dengan pangeran dari kerajaan sebelah. Lalu jika wajah dan kulitnya rusak,apakah pangeran itu mau menerimanya kembali.Rein tak sabar mendengar berita itu.


Keesokan harinya,Ranya tak berhenti menangis, hari ini dia akan menikah dengan pujaan hatinya. Bahkan sebentar lagi pria itu akan datang ke kediamannya. Namun dia takut menemuinya lantaran wajah dan kulitnya sangat buruk.


"Ayah bagaimana ini? Bagaimana kalau pangeran Atar tidak mau menerimaku lagi!" ucap Ranya sedih.

__ADS_1


"Ranya kamu tenang dahulu, dia pasti akan mengerti dan mau menerimamu," jawab Tras menenangkan putrinya.


"Maaf tuan besar, pangeran Atar sudah sampai bersama para rombongannya," seorang pelayan masuk untuk melaporkan kehadiran pangeran Atar.


"Biarkan dia masuk!" perintah Tras.


"Baik tuan."


Pelayan itu segera keluar dari kamar milik Ranya.


"Ranya cepat kamu tutup wajahmu dengan kain ini!" Tras memberikan kain penutup saat pernikahan akan di mulai.


"Baik ayah," Ranya segera menutup wajahnya.


Pangeran Atar masuk ke dalam ruang itu. Tras dengan senang hati menyambutnya.


"Pangeran silahkan masuk," sambut Tras.


"Sudah jangan berbasa-basi lagi. Aku mendengar putrimu terkena penyakit aneh! Apakah itu benar?" tanya pangeran itu. Dia mencium bau busuk di kamar dan segera menutup hidungnya.


"Tidak pangeran, berita itu tidak benar," Tras tidak rela jika pernikahan putrinya harus batal karena masalah penyakit Ranya.


"Kalau begitu biar aku memeriksanya terlebih dahulu!" Pangeran Atar tiba-tiba membuka kain tudung yang menutup wajah Ranya.


Pria itu sangat terkejut ketika mengetahui bahwa wajah wanita yang dulunya sangat cantik berubah menjijikkan.


"Ah siapa kamu?" tanyanya sambil melangkah mundur.


"Pangeran, ini aku Ranya pangeran," Ranya mencoba mendekati Atar. Namun pangeran itu terlanjut jijik dengan keadaan Ranya.


"Pergi! Jangan mendekat! Kamu sangat menjijikkan. Kita batalkan saja pernikahan ini!" ucapnya kejam.


"Tidak! Pangeran jangan lakukan itu. Aku sangat mencintaimu!" Ranya memohon di kaki pangeran Atar. Namun seketika dia mendapatkan tendangan dari pria itu.


"Lepas! Lepaskan tangan yang menjijikkan itu." Pangeran itu tak mau penyakit Ranya menular padanya.


"Pangeran saya mohon jangan membatalkan pernikahan ini. Ranya pasti akan sembuh," mohon Tras pada pangeran Atar.


"Dia sangat menjijikkan, aku tidak mau dia menjadi selir ku!" jawab pangeran Atar.


Dia segera memutuskan para pengawal sekaligus membawa kembali mahar yang hendak dia berikan pada Ranya. Dia membatalkan semua pernikahan mereka.


Ranya menjadi sangat frustasi karena masalah itu. Dia berteriak tak terkendali dan semakin sering menggaruk kulitnya. Hingga luka semakin parah. Tras bingung harus melakukan apa agar putrinya bisa kembali seperti semula.


Rein dan Darwin memperhatikan mereka dari atas pohon yang menghadap langsung ke jendela kamar Ranya.


"Kamu puas?" tanya Darwin pada gadis itu.


"Belum, masih harus di lanjutkan lagi kan?" ucapnya.

__ADS_1


Darwin hanya bisa membiarkan Rein sesuka hatinya. Selama dia baik-baik saja.


__ADS_2