
Rumi memberi amplop pada Dedi pemilik toko roti yang memperkerjakan Darwin. Mereka tengah melakukan kesepakatan.
"Bagaimana? Anda bisa melakukannya kan? Ini bayaran buat anda jika bisa memecatnya," ucap Rumi pada Dedi.
"Baik, akan aku lakukan," ucap pria itu. Dia telah menerima uang dari Rumi.
Seketika gadis itu tersenyum licik. Dia ingin menghancurkan Darwin agar pria itu mau berlutut padanya. Memohon agar bertunangan dengan dirinya.
"Ini baru permulaan Darwin? Siapa suruh malah memilih gadis itu dari pada denganku!" batin Rumi dengan penuh dendam.
Darwin berangkat kerja setelah pulang sekolah. Namun ketika baru masuk ke dalam toko.Dia sudah di sambut oleh pemiliknya. Wajah pria itu tampak serius ketika menatap Darwin.
"Selamat siang pak," sapa Darwin padanya.
"Siang! Ambil ini, mulai hari ini kamu tidak perlu bekerja lagi," Dedi meletakkan amplop berisi gaji Darwin.
"Apa maksudnya pak?" tanya Darwin bingung.
"Kamu di pecat!" ucap Dedi tega.
"Tapi kenapa pak?" tanya Darwin tidak terima. Dia merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Tapi tiba-tiba dia malah di pecat seperti ini.
"Tidak ada alasannya, terlalu banyak karyawan di sini," balasnya.
Para teman kerja Darwin memandang kasihan pada pria itu. Mereka tidak bisa membantunya.
__ADS_1
Darwin mengambil gaji miliknya. Gaji pertama sekaligus terakhir di toko itu.
"Baiklah," Darwin pergi dengan rasa kesalnya. Tanpa memberi ucapan terima kasih pada Dedi.
"Kenapa tiba-tiba memecat ku, rasanya terlalu janggal!" gumam Darwin ketika dia keluar dari toko roti itu.
Darwin tampak kecewa, tapi dia tidak bisa melakukan apapun saat ini. Pekerjaan itu memang bukan yang terbaik. Namun Darwin membutuhkannya untuk saat ini. Dirinya masih berstatus pelajar. Akan sulit mencari pekerjaan di luar sana.
"Sudahlah, lebih baik pulang dulu menemui Rein," gumamnya sambil segera melajukan motornya ke jalanan.
Rein membuka pintu rumahnya ketika Darwin membunyikan bel. Dia terperanjat melihat wajah Darwin yang sangat masam.
"Darwin? Kenapa pulang lebih awal?" tanya Rein.
"Ini untukmu!" ucapnya tanpa membalas pertanyaan dari Rein tadi.
"Apa ini?" tanya Rein,dia lalu memeriksa isi di dalam amplop tadi.
"Uang?" tanya Rein bingung.
"Iya, itu gaji pertama dan terakhir dari toko itu." Jawab Darwin pada Rein.
"Kamu di pecat?" tanya Rein. Darwin menganggukkan kepala.
"Sudahlah, jangan terlalu memikirkannya Darwin," Rein berusaha menghibur Darwin.
__ADS_1
"Ya,tapi sebagai suamimu. Aku berkewajiban menafkahi kamu Rein,"ucapnya membuat Rein tersentuh.
"Darwin," Rein tiba-tiba memeluk pria itu. Darwin tersenyum mendapatkan pelukannya.
"Jangan sedih, aku akan mencari pekerjaan lagi. Meskipun tidak seberapa. Aku juga tetap harus memberikannya pada istriku," Darwin mencium kening Rein. Gadis itu menganggukkan kepalanya.
"Ehem!" suara pria berdehem mengagetkan keduanya.
"Papa," Rein dan Darwin segera melepaskan pelukan mereka. Rasa canggung kini hadir di antara ketiganya.
"Kalian ingat pesan papa sebelumnya," ucap pria itu.
"Iya pa," jawab Rein dan Darwin. Untungnya Rendra segera pergi, dia hendak kembali ke perusahaannya lagi.
"Rein akhir pekan ini, mari kita pergi berkencan!" ajak Darwin.
"Kencan?" tanya Rein.
"Iya, kita jarang pergi kencan kan?"
"Benar juga, baiklah. Kamu pikirkan saja tempat yang bagus untuk berkencan nanti," ucap Rein.
"Siap, kamu dandan yang cantik ya," pinta Darwin menggoda Rein.
Keduanya bercanda gurau bersama. Melupakan masalah pemecatan Darwin hari ini untuk sesaat.
__ADS_1