
Rumi menggenggam erat pedang miliknya. Di depan mata gadis itu dia melihat Darwin dan Rein tengah berpelukan. Keduanya tampak begitu mesra.
Rumi berjalan ke arah keduanya. Menarik bahu Darwin agar kedua orang itu tidak lagi berpelukan.
"Rumi!" Darwin terkejut karena seseorang tiba-tiba menarik bahunya.
"Aku ingin bicara sebentar hanya denganmu!" Rumi menekankan kalimatnya, sambil melirik ke arah Rein.
Rein merasa tidak nyaman mendapatkan tatapan seperti itu dari Rumi.Sepertinya wanita itu sangat marah pada dirinya.Di tambah rasa cemburunya yang begitu kentara.
"Tentang apa? Biarkan saja Rein di sini!" ucap Darwin.
"Darwin!" Rumi mulai kesal di buat tidak penting bagi pria itu.
"Ah aku akan pergi mencari makanan. Kalian bicaralah dahulu," Rein merasa Rumi hendak mengusirnya. Lebih baik memberi Darwin waktu untuk menjelaskan pada wanita itu.
"Tapi Rein?" Darwin takut jika hal buruk terjadi pada gadis itu.
"Tenang saja, aku akan baik-baik saja!" Rein mulai melangkah pergi membiarkan keduanya di sana.
"Mau bicara apa?" tanya Darwin pada Rumi setelah Rein benar-benar menjauh.
"Jangan di sini! Ayo kita mencari tempat yang nyaman!" ajak Rumi. Darwin hanya bisa mengikuti wanita itu berjalan ke sebuah tempat tak jauh dari tempat sebelumnya.
"Darwin? Apa kamu tidak lagi mencintaiku?" tanya Rumi.
"Kenapa harus bertanya seperti itu?Kamu sudah tahu jawabannya kan?" Darwin malah bertanya balik.
"Kenapa Darwin? Apa aku sudah berbeda. Tak lagi menarik seperti dulu?" tanya Rumi.
"Bukan itu masalahnya Rumi. Di hatiku sudah tidak ada rasa untukmu lagi," balasnya.
"Lalu bagaimana janji kita dahulu? Bahwa akan selalu bersama?" Rumi mulai memohon.
"Jiwa mu yang sekarang tidak utuh Rumi.Tubuh itu juga tidak akan bertahan lama. Kamu tahu itu kan?Aku tidak bisa membiarkan diriku berharap pada hal yang nyatanya kosong?" ucapan Darwin menusuk perlahan hati Rumi. Dahulu pria itu yang mengejar-ngejar dirinya. Namun kini Darwin bahkan tanpa Ragu menolak dia.
"Darwin lihat aku?" Rumi memegang wajah Darwin agar pandangan mereka bertemu. Wanita itu hendak mencium bibir Darwin agar pria itu bisa kembali pada dirinya.
"Hentikan itu Rumi!" Darwin melepaskan kedua tangan Rumi dari wajahnya.Menjauh dari wanita itu dengan cepat.
"Jangan pernah lagi mengingat masa lalu. Apa kamu lupa dia yang masih menunggumu?" tanya Darwin mengingat tentang orang itu.
"Aku tidak ingin dia.Aku hanya ingin bersamamu Darwin." Rumi memeluk punggung Darwin ketika pria itu hendak pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Sekarang sudah berbeda Rumi," ucap Darwin.
Rein berjalan tidak tentu arah tujuan. Dia memakan jajanan yang dia beli tadi tanpa bisa menikmati rasanya. Pikirannya terbang ke kedua orang tadi.
Entah apa yang tengah mereka bicarakan. Atau mungkin mereka tengah melakukan sesuatu. Rein terlalu berpikir berlebihan.
"Bagaimana aku tidak berpikir berlebihan. Mereka adalah sepasang kekasih di kehidupan yang dulu," batin Rein khawatir jika Darwin akan kembali pada Rumi.
Ketika berada di jalanan yang sedikit sepi. Tiba-tiba beberapa pria datang kepada Rein. Mereka adalah pria mabuk yang ingin mengganggu gadis itu.
"Hai gadis cantik!" ucap salah satu diantara ketiga pria itu. Dia ingin menyentuh dagu Rein. Namun dengan cepat Rein menghindarinya.
"Cepat pergi dari hadapanku!" pinta Rein memperingati ketiganya.
"Hahaha ternyata galak juga gadis cantik ini!" Kali ini pria yang lain yang berbicara. Dia bahkan hendak merangkul pundak Rein.
"Jangan macam-macam atau belati ini akan melukai kalian!" Rein mengeluarkan belati miliknya.
Ketiganya tampak tidak ketakutan. Mereka malah mengeluarkan pisau juga.
"Dasar gadis murahan! Ayo serang,bunuh saja dia!" Ketiga pria itu hendak menyerang Rein.
Rein sudah waspada dari awal.Akhirnya mereka bertarung, satu lawan tiga. Karena ketiganya tengah mabuk, Rein tidak terlalu khawatir karena mereka bisa dengan mudah di kalahkan.
"Dasar pria hidung belang!" ucapnya mengumpat ketiganya.
Plok plok plok
Suara tepuk tangan dari arah belakang Rein. Gadis itu segera membalikkan badannya.
"Kamu!" Rein mengenal pria itu.
"Seorang wanita cantik, tengah malam sendirian.Dan di ganggu pria hidung belang. Apakah kamu belum memiliki kekasih?" tanya Zeun diiringi oleh senyum khas pria itu.
"Itu bukan urusanmu," Rein hendak pergi, melewati Zeun.
Ketika mereka berpapasan, Zeun menghentikan langkah Rein. Seperti di kendalikan, Rein berhenti begitu saja.
"Bunuh Darwin!" bisik Zeun pada telinga Rein.
Rein yang sebelumnya sudah ditanam pengendali oleh Zeun. Hanya bisa mengangguk, perintah itu sudah menyatu dengan pikirannya.
Zeun lalu pergi menjauh dari Rein. Gadis itu masih berdiri di sana tanpa sadar.
__ADS_1
"Rein!" panggil Darwin tak jauh dari tempat Rein berdiri. Darwin tidak melihat Zeun yang tadi di sana.
Mendengar panggilan dari Darwin, Rein segera tersadar.
"Apa yang terjadi?Kenapa rasanya ada yang aneh?" batin Rein.
Darwin berlari ke arah Rein.Memegang tangan gadis itu.
"Ayo kita pulang!" ajak Darwin.
"Darwin, sudah selesai berbicara dengan Rumi?" tanyanya ingin tahu masalah apa yang mereka bicarakan
"Sudah! Kamu tenang saja. Aku dan dia tidak melakukan hal aneh!" jelas Darwin seolah mengerti kegelisahan Rein.
"Ah begitu, baiklah ayo kita pulang," Rein mencoba percaya pada Darwin demi hubungan baik mereka.
Tapi gadis itu tidak berhenti memikirkan pria yang tadi menemuinya. Seperti dia mengatakan sesuatu pada Rein.
"Ada apa Rein?" tanya Darwin melihat wajah Rein yang tampak bingung.
"Ah tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah saja," jawab Rein.
"Kalau begitu agar lebih cepat sampai istana.Sebaiknya-" Darwin tiba-tiba membopong Rein.
"Darwin apa yang kamu lakukan?" Rein tampak malu.
"Biar lebih cepat sampai!"
Darwin membawa Rein berteleportasi bersama. Keduanya bisa sampai dengan cepat di istana.
"Ini terlalu membuang energi Darwin. Kita bisa jalan saja!" gerutu Rein ketika keduanya sudah sampai di dalam kamar milik Rein.
"Terlalu lama, aku sudah sangat merindukanmu!" Darwin meletakkan tubuh Rein hati-hati ke atas ranjang. Senyum pria itu tampak nakal. Tatapannya juga sama seperti tadi malam.
Rein kembali gugup melihat Darwin yang seperti sekarang. Itu artinya pria itu hendak melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan semalam.
"Darwin kamu mau apa?" tanya Rein panik.
"Apa lagi? Tentu saja mengulang malam indah semalam Rein!" jawabnya.
"Ta-tapi baru semalam kita melakukannya, kenapa sekarang melakukan lagi?" tanya Rein.
"Karena tidak pernah cukup semalam jika dekat denganmu." Darwin mulai melepas pakaian Rein. Gadis itu hanya bisa pasrah karena Darwin sudah mengendalikan semuanya.Dua kekasih itu sedang di mabuk cinta. Tak lagi ada batasan diantara keduanya.
__ADS_1