Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Les Pribadi


__ADS_3

Di dalam kelas, pak Ren tidak berhenti menatap hasil ujian mingguan milik satu muridnya. Yaitu Rein, gadis itu tidak ada perubahan sejak kelas dua. Sebentar lagi akan kenaikan kelas. Pak Ren pusing memikirkan nilai matematika gadis itu.


"Rein! Sebenarnya apa masalah kamu? Dari semua mata pelajaran, hanya matematika saja yang nilainya di bawah standar. Sedangkan nilai yang lain luar biasa?" tanya pak Ren.


Rein menelan ludah, mendengar guru matematika itu menanyakan tentang nilainya.


"Itu pak, sebenarnya saya sedikit kesulitan saja dengan pelajaran bapak," ucap Rein jujur.


Keduanya tengah berada di ruang guru. Pak Ren menghela napas berat.


"Banyaklah belajar lagi, kalau perlu les tambahan juga," perintahnya sambil memberikan kertas ujian mingguannya pada Rein.


"Baik pak Ren," jawab gadis itu dengan suara pelan.


"Sudahlah, kamu boleh kembali ke kelas lagi," ucap guru berusia dua puluh sembilan tahun itu.


"Baik pak," Rein akhirnya bisa sedikit lega setelah keluar dari ruang guru.


Tapi masalah sesungguhnya belum terselesaikan. Dia memandang nilainya di kertas ujian tadi pagi. Sungguh nilai yang buruk sekali.


Ketika di dalam kelas, Darwin mengambil kertas milik Rein itu. Memperhatikan wajahnya yang sejak masuk ke dalam kelas selalu dia tekuk.


"Aku bisa membantumu!" bisik Darwin di telinga Rein dari belakang kursinya.


Rein membelalakkan kedua matanya karena terkejut. Mendengar bisikan dari Darwin.


"Benarkah?" tanya Rein serius membalikkan badan menghadap Darwin. Pria itu menganggukkan kepalanya.


"Benar juga! Kamu kan paling pintar di kelas ini! Kalau begitu bagaimana kamu bisa membantuku?" tanya Rein.


"Aku bisa menjadi guru les mu, tapi ada syaratnya?" ucap Darwin.


"Syarat? Apa itu?" tanya Rein.


"Syaratnya masih belum aku pikirkan, kalau mau nanti malam bisa kita mulai belajarnya," ucap Darwin pada gadis itu.


"Baiklah kalau begitu, aku setuju," balas Rein. Setelah itu para murid yang lain masuk ke dalam kelas. Rein mengambil kertas ujiannya yang berada di tangan Darwin. Lalu menyembunyikannya ke dalam tas.


Sora harinya, Rein meminta izin pada sang mama. Dia akan belajar bersama dengan Darwin.Untungnya sang mama menyetujuinya. Asal bisa menjaga sikap di rumah tetangganya.


"Baik ma, memang mama yang terbaik," ucap Rein mencium pipi kiri mamanya.


"Kamu ini, tapi ingat tidak boleh lebih dari jam delapan malam ya?" ucap sang mama memperingati anaknya itu.


"Iya ma."


Rein mengambil semua buku tentang matematika. Memeluk buku-buku itu dalam dekapannya.Rein pamit untuk ke rumah Darwin.

__ADS_1


Ketika sampai di depan rumah. Rein mengetuk pintu dan Darwin yang membukanya. Kedua mata Rein membelalak ketika melihat Darwin hanya menggunakan celana pendek saja. Tanpa menggunakan baju atasan.Sepertinya pria itu baru saja mandi.


"Kenapa tidak memakai baju?" Rein menutup kedua matanya. Tapi juga sedikit mengintipnya.


"Kalau mau lihat,lihat aja!" ucap Darwin sambil menyunggingkan senyumnya.


"Huh, siapa juga yang mau lihat!" Rein masuk ke dalam rumah,berjalan melewati Darwin.Pria itu lalu menutup pintu rumahnya.


"Pak Ilham belum pulang?" tanya Rein.


"Belum, dia kan jadi dosen juga," jawab Darwin.


"Sibuk sekali ya pak Ilham," ucap Rein.


"Duduklah dulu, aku akan memakai baju dulu," pinta Darwin. Rein menganggukkan kepalanya,lalu duduk di atas sofa ruang tamu.


Setelah Darwin memakai baju, dia kembali ke ruang tamu dengan beberapa buku besar di tangannya. Rein melihat tumpukan buku itu merasa merinding.


"Astaga, jangan bilang itu berisi soal-soal matematika. Dan dia memintaku untuk menyelesaikannya," batin Rein khawatir.


Darwin duduk di samping Rein. Bau sabun mandi dari pria itu membuat Rein merasa nyaman.


"Harumnya,pengen banget nempel ke dia!" batin Rein lagi, dia malah tidak fokus pada tujuannya.


"Aku sudah membuat beberapa soal untukmu. Coba kamu kerjakan terlebih dahulu. Kalau ada yang tidak di mengerti bisa bertanya padaku," jelas Darwin. Tapi Rein malah tidak memperhatikannya,dia memperhatikan wajah Darwin yang semakin tampan setelah mandi.


"Eh iya! Kenapa?"


"Kamu tidak mendengarkan ucapan ku ya?" tanya Darwin.


"Heheh,apa tadi yang kamu katakan?" ucap Rein terkekeh. Darwin menepuk dahinya menghadapi Rein kali ini.


Dia lalu mengatakan apa yang tadi dia katakan pada gadis itu.


Rein akhirnya mengikuti perintahnya. Dia segera mengerjakan soal-soal yang di berikan oleh Darwin padanya.


Baru saja dia membaca soalnya. Rein sudah merasa kepalanya pusing.


"Ah kenapa sulit-sulit sekali!" gerutu Rein dengan wajah memelas.


"Apanya yang sulit! Semua ini soal dasar saja! Cepat kerjakan!" ucap Darwin sambil memukul kepala gadis itu dengan penggaris tipis.


"Iya-iya, kenapa cerewet sekali!" Rein akhirnya mencoba mengerjakan soal-soal itu. Entah hasilnya nanti bagaimana. Yang terpenting dia sudah berusaha.


Darwin memperhatikan Rein yang sedang serius mengerjakan soal itu. Rambut gadis itu di ikat ke atas asal-asalan. Beberapa helai rambutnya tampak jatuh ke lehernya yang putih bersih.


Darwin ingin sekali menggigit leher itu. Tapi dia harus menahan diri. Darwin takut Rein akan membencinya.

__ADS_1


"Sudah belum?" tanya Darwin. Dia lalu mendekati Rein, melihat hasil dari soal yang dia kerjakan.Darwin mengernyitkan kening ketika melihat hasilnya.


"Astaga, kenapa banyak yang salah?" gumam Darwin.


Rein merasa malu pada Darwin. Dia sangat payah dalam pelajaran yang satu itu.


"Huhu apa aku benar-benar bodoh?" ucap Rein frustasi.


Darwin lalu mengelus puncak kepala Rein.


"Tidak, kamu tidak bodoh. Hanya saja belum menemukan cara untuk mengerjakan soal ini dengan mudah saja," ucap Darwin menghibur Rein.


"Benarkah?" tanya Rein serius. Darwin mengangguk yakin.


"Sino aku jelasin," Darwin duduk lebih dekat dengan Rein. Jarak mereka hanya beberapa puluh centimeter saja. Rein bahkan bisa mencium aroma tubuh pria itu.Jantung Rein hampir melonjak ditempatnya.


Rein memperhatikan Darwin yang sedang menjelaskan cara mengerjakan soal-soal itu. Rein perlahan bisa mengerti. Ternyata Darwin memang bisa membuat pelajaran itu mudah.


"Kamu mengerti?" tanya Darwin,dia memandang wajah Rein. Ternyata gadis itu sejak tadi tidak fokus pada penjelasannya. Dia lebih fokus pada Darwin.


Pria itu mulai gemas dengan Rein. Dia mendekatkan wajah mereka. Lalu mencium bibir gadis itu. Rein akhirnya sadar dari lamunannya ketik Darwin tiba-tiba menciumnya.


"Kamu? Apa yang kamu lakukan tadi?" protes Rein.


"Siapa suruh melamun, bukan mendengarkan penjelasan ku!" Darwin ikut protes juga.


Rein hanya bisa cengengesan di hadapan pria itu. Dia benar-benar tidak bisa fokus jika Darwin sedekat itu dengannya.


"Eheem!" pak Ilham tiba-tiba masuk ke dalam rumah. Pria itu baru saja pulang. Rein dan Darwin dengan cepat menjaga jarak mereka.


"Ternyata ada Rein disini," ucap pak Ilham.


"Iya pak, Rein tengah meminta Darwin untuk mengajari pelajaran matematika," balas Rein.


Pak Ilham menatap keponakannya. Wajah mereka berdua merona. Pria itu tahu bahwa keduanya mungkin saling menyukai.


"Ah baiklah, kalian teruskan saja. Bapak akan ke kamar dulu," ucap Ilham melewati keduanya.


Rein dan Darwin menganggukkan kepala mereka. Lalu bersamaan menghela napas panjang. Keduanya takut jika ketahuan berciuman tadi pada pak Ilham. Sepertinya pria itu tidak melihat ulah Darwin tadi.


Rein segera memukul lengan Darwin. Dia lalu membereskan buku-bukunya.


"Loh mau kemana? Kan belum selesai?" tanya Darwin.


"Hari ini cukup di sini. Besok lanjut lagi, mama bilang tidak boleh sampai malam-malam." Rein segera berjalan keluar rumah Darwin.Pria itu tidak bisa mencegahnya.


"Pasti dia malu ada paman tadi," gumam Darwin.

__ADS_1


__ADS_2