
Rora tengah memilih beberapa kebutuhan rumahnya. Dia kini tengah berada di supermarket tak jauh dari rumahnya. Gadis itu sudah terbiasa mandiri sejak kecil.
"Pilih yang mana ya?" gumamnya sambil memilik beberapa barang kebutuhan rumah.
"Ah semuanya saja deh, masukin aja ke ranjang," ucapnya dari pada kebingungan.
Satu keranjang penuh dengan barang-barang yang dia ambil di susunan rak.
"Bruk!" Rora tanpa sengaja menabrak seseorang ketika hendak berbalik badan.
"Ah maaf, aku tidak sengaja!" ucap Rora sambil menundukkan kepalanya. Dia segera mengambil beberapa barang yang jatuh karena dirinya. Dan mengembalikan ke dalam ranjang orang yang dia tabrak tadi.
"Maaf ya aku tidak," Rora mendongakkan kepala untuk melihat siapa yang dia tabrak.
"Kamu?" Rora menunjuk ke arah pria itu. Ternyata yang tadi dia tabrak adalah Joi.
"Rora," sapa Joi.
"Maaf ya aku tidak sengaja," ucap Rora pada Joi meminta maaf.
"Ah tidak apa-apa Ra," Joi mengambil barang-barang yang berserakan di lantai.Dia tadi juga tidak melihat kalau di sampingnya ada orang.
"Kamu sendirian?" tanya Rora sambil celingukan mencari orang di sekitar Joi. Namun tak ada satupun.
"Ya, kalau kamu?" tanya Joi pada Rora.
"Sama, aku juga sendirian," jawab Rora sambil cengengesan.
"Bagaimana kalau kita pulang bareng?" ajak Joi.
"Hah, tapi dimana rumahmu?" tanya Rora
"Rumahku tak jauh dari sini, kalau kamu?" tanya Joi.
"Aku juga deket dari sini," balas Rora.
"Kalau begitu ayo kita bareng saja," Rora mengangguk setuju.
Keduanya segera membayar barang-barang yang mereka beli. Lalu keluar dari supermarket bersama-sama.
Ternyata rumah keduanya satu arah. Dan Joi pun jalan kaki ke supermarket itu. Rora juga sama. Mereka akhirnya mengobrol sambil berjalan ke arah rumah mereka.
"Hahaha ,kok bisa ya kebetulan seperti ini. Aku baru tahu kalau rumah kamu sekitar sini loh Joi,"ucap Rora sambil tetap cengengesan.
"Aku juga baru tahu kamu tinggal di daerah sini Ra." Joi juga baru mengetahuinya.
__ADS_1
"Ra!" panggil Joi.
"Ya, kenapa Joi?" tanya Rora.
"Akhir pekan besok ada acara tidak?" tanyanya.
"Hah,akhir pekan? Kayaknya tidak ada. Kenapa Joi?" tanya Rora.
"Maukah pergi makan bersama ku?" tanya Joi memberanikan dirinya. Dia tampak malu-malu ketika mengatakannya.Rora tersenyum ke arah pria itu.
"Tentu saja, jangan lupa untuk menjemput ku!" ucap Rora lalu menunjuk rumah yang berada di depan mereka. Itu adalah rumah gadis itu.
"Baiklah, aku akan menjemputmu!" balas Joi, Rora melambaikan tangannya. Dia sudah sampai di rumah gadis itu. Sedangkan Joi masih harus berjalan beberapa meter lagi untuk bisa sampai di rumahnya.
"Haih ternyata dia tetanggaku!" gumam Joi, memandang rumah megah milik Rora.
Mereka masih satu perumahan yang sama. Namun kenapa Joi tidak pernah bertemu dengan gadis itu.
Keesokan harinya, ketika malam tiba. Joi menjemput Rora di depan rumah gadis itu. Rora juga telah bersiap, dia tampak cantik dengan pakaian kasual yang dia kenakan.
Joi tampak terpesona dengan gadis itu. Meski begitu, Joi masih bisa menyembunyikan rasa kagumnya.
"Sudah siap?" tanya Joi.
"Sudah,ayo kita pergi sekarang," balas Rora.
"Kemana kita akan pergi?" tanya Rora.
"Mau makan dulu atau nonton di bioskop?" tanya Joi.
"Em, mending kita nonton dulu yuk!" ajak Rora.
"Baiklah," Joi melajukan mobilnya menuju ke bioskop terbaik di kota itu.
Keduanya tengah menyimpan perasaan masing-masing. Rora perlahan mengagumi Joi. Sedangkan Joi, dari pertama bertemu sudah menyukai kepribadian Rora.
Mereka telah sampai di bioskop nya. Joi dan Rora memilih film yang ingin mereka tonton kali ini.
Setelah memilihnya, keduanya masuk ke dalam bioskop. Mereka memilik film romantis untuk di tonton.
Ketika film mulai di putar, Rora dan Joi larut dalam cerita di film itu. Keduanya seakan bisa masuk ke dalam alur ceritanya.
Perlahan-lahan, Joi memegang tangan Rora. Gadis itu tersenyum dan membiarkan Joi menyentuh tangannya. Dia juga ingin lebih dekat lagi mengenal pria itu.
Mereka menikmati film yang tengah di putar. Joi menggenggam erat tangan Rora.
__ADS_1
Berbeda dengan keduanya, Rein kini hanya menghabiskan malam akhir pekan dengan tumpukan buku di depannya.
Dari balik buku-buku itu ada Darwin yang sejak tadi mengawasi dirinya. Pria itu seperti seorang guru yang mendapatkan murid super nakal di kelas. Dia juga harus protektif pada muridnya.
"Hei Darwin! Bisakah kita jalan-jalan saja malam ini? Aku sangat bosan dengan soal-soal ini," gerutu Rein.
"Boleh," jawab Darwin. Rein sudah sangat senang mendengar perkataan Darwin, sebelum pria itu melanjutkan ucapannya.
"Tapi selesaikan dulu soal-soal itu," ucapnya menambahkan.
"Aaahh!" Rein menyandarkan dagunya pada tumpukan buku di depannya. Dia sudah hampir gila karena soal-soal rumit itu.
Darwin tertawa kecil melihat tingkah lucu Rein. Gadis itu sepertinya mengharapkan keduanya untuk berakhir pekan malam ini. Tapi Darwin telah menyiapkan sesuatu yang lebih spesial untuk gadis itu.
"Rein!"panggil Darwin di sela-sela kesibukan Rein menyelesaikan tugas darinya.
"Apa sih?" jawab Rein tanpa melihat wajah Darwin.
"Lihat dulu!" Darwin akhirnya menyentuh dagu gadis itu agar mendongakkan kepalanya.
"Kenapa Win?" Rein akhirnya melihat ke arah Darwin. Pria itu memegang sebuah kotak berwarna pink.
"Lihat,ini untukmu," ucapnya sambil memberikan kotak itu pada Rein.
"Apa ini? Hadiah?" tanya Rein.
"Buka dulu dong!"
Rein lalu membukanya, dari dalam kotak itu ada sebuah gaun berwarna biru muda. Rein mengerutkan keningnya.
"Gaun untukku?" tanya Rein. Darwin menganggukkan kepalanya.
"Ya apa kamu suka?" tanya Darwin.
"Ya aku suka, tapi kenapa harus gaun?" tanya gadis itu bingung.
"Karena kamu sangat cantik ketika memakai gaun seperti itu," balas Darwin. Wajah Rein kembali memerah.
"Kamu ini bisa saja. Terima kasih Darwin, aku pasti akan memakainya." Balas gadis itu.
"Ya, pakailah besok malam. Kita akan pergi kencan," ajak Darwin.
"Hah kencan?" tanya Rein tidak percaya.
"Ya, kamu mau kan?" tanya Darwin.
__ADS_1
"Tentu saja,aku mau Darwin," balasnya sambil menganggukkan kepala gadis itu. Dia tentu saja mau jika Darwin yang mengajaknya. Rein lalu menyimpan kembali gaun itu ke dalam kotak tadi.
Keduanya lalu bersama-sama menyelesaikan soal-soal matematika tadi. Darwin membantu Rein menjelaskan cara yang lebih mudah dalam mengerjakan soal-soal yang sulit bagi gadis itu.