Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Jalan Kembali


__ADS_3

Rein dan Darwin berjalan menyusuri semak-semak di dalam hutan itu. Rein memperhatikan sekitarnya. Dia sangat yakin bahwa tempat yang dia lewati adalah jalan keluar dari hutan itu.


"Rein, kamu yakin ini jalan yang benar?" tanya Darwin pada gadis itu.


"Tentu saja, jika aku bisa membawamu ke luar dari hutan ini. Kumu harus percaya dengan apa yang aku ceritakan tentang dunia vampir itu? Bisa?" tanya Rein pada Darwin.


"Baiklah, aku akan percaya padamu," jawabnya. Keduanya kembali menyusuri hutan untuk menemukan dimana teman-teman mereka.


Ketika baru beberapa puluh meter mereka berjalan. Tiba-tiba seekor ular muncul di depan Rein. Gadis itu tidak menyadarinya.


Darwin yang di belakang malah melihat ularnya. Dia segera menarik lengan Rein untuk menjauh dari ular berbisa itu.


"Rein awas!" ucap Darwin sambil menarik lengan Rein. Untung saja Darwin sigap kalau tidak kaki Rein sudah di gigit ular itu.


"Astaga! Untung tidak menggigit mu!" Rein bukannya terkejut karena ular itu, namun dia terkejut karena Darwin tiba-tiba mendekapnya. Dia masih menatap Darwin dalam dekapan pria itu.


"Rein," Darwin melihat ke arah Rein,tanpa sadar dia mendekapnya. Dengan cepat Darwin melepaskan Rein. Setelah memastikan ular tadi pergi menjauh dari mereka.


"Em, terima kasih sudah menolongku lagi," ucap Rein canggung.


"Iya, hati-hatilah kalau jalan. Di sini pasti banyak ular dan binatang berbahaya lainnya," jawab Darwin mengurangi rasa canggung diantara keduanya.


Rein menganggukkan kepala. Keduanya segera melanjutkan perjalanan mereka. Rein akhirnya menemukan jalan pertigaan yang sebelumnya membuat keduanya tersesat.


"Lihat itu! Kita akan segera keluar dari hutan ini," ucap Rein menunjuk ke arah pertigaan jalan.


"Benar juga, kamu hebat Rein!" Darwin memuji Rein sambil mengelus rambut gadis itu. Rein menjadi sedikit berdebar karena perlakuan berbeda dari Darwin padanya.


Pak Ilham dan pak Rein pagi-pagi memasuki area penjelajahan malam tadi. Keduanya berteriak-teriak memanggil nama Darwin dan Rein.


"Darwin!"


"Rein!"


Dari arah yang berlawanan, Rein bisa mendengar suara keduanya.


"Eh itu sepertinya suara pak Ilham dan pak Ren?" ucap Rein. Darwin ikut mendengarkan dengan seksama.


"Benar juga, sepertinya mereka mencari kita," balas Darwin. Rein mengangguk.


"Lihat,itu mereka!" teriak Rein melihat kedua guru mereka itu.

__ADS_1


"Pak Ilham, pak Ren!" teriak Rein memanggil keduanya.


"Rein,Darwin!" pak Ilham dan pak Ren menghampiri mereka.


"Syukurlah kalian sudah ketemu, kalian baik-baik saja kan?" tanya pak Ilham.


"Kami baik-baik saja pak. Hanya semalam tersesat di tengah hutan," jawab Rein.


"Tengah hutan?" tanya pak Ren heran.


Rein dan Darwin saling memandang.


"Benar pak, kenapa memangnya?" tanya Darwin.


"Hutan ini tidak ada tengahnya Darwin. Saya pernah menelusurinya dengan drone. Hanya ada jalanan yang kita lalui semalam saja," jelas pak Ren.Membuta keduanya bingung.


"Apa bapak yakin? Ada rumah kosong di tengah hutan itu pak? Apa drone milik bapak juga tidak bisa merekamnya?" tanya Rein memastikan.


"Tidak ada, nanti kalau di sekolah bisa bapak tunjukkan. Bapak punya rekamannya," jawab pak Ren lagi.


Rein dan Darwin saling memandang lagi. Sorot mata mereka memiliki arti yang sama.Keduanya bertanya tentang keberadaan rumah dan tengah hutan yang semalam membuat mereka tersesat.


"Baik pak," jawab Rein dan Darwin.


Mereka segera menuju ke tenda mereka.Disana Rora dan teman yang lain telah menunggu keduanya.


Rora melihat pak Ilham dan pak Ren tiba. Di belakang mereka ada Rein dan Darwin. Rora segera berlari ke arah Rein.


"Rein!" teriaknya, ketika sampai di depan gadis itu. Rora memeluk Rein dengan sangat erat.


"Rein, kamu gak apa-apa kan?" tanya Rora.


"Ra aku gak bisa napas!" ucap Rein ketika gadis itu memeluk dirinya terlalu erat.


"Ah maaf!" Rora melepaskan pelukannya. Dia memeriksa tubuh Rein.


"Untung tidak kenapa-napa," ucapnya bersyukur.


"Kalian cepat membersihkan diri. Nanti malam kita akan menyalakan api unggun. Sekarang kalian bebas bermain. Tapi ingat jangan terlalu jauh dari area camping kita?oke?" ucap pak Ilham memberitahu anak didiknya.


"Siap pak!" jawab mereka semua dengan senang hati.

__ADS_1


Rein segera menuju ke tendanya. Dia sangat lelah ingin tidur sebentar. Sebelum malam tiba,begitu pula dengan Darwin. Pria itu memilih berbaring di dalam tenda.


"Apa mungkin semalam kami masuk ke hutan lain?" gumam Darwin masih tidak percaya dengan apa yang dia alami bersama Rein.


Semua yang tadi malam tampak nyata di depan matanya. Bagaimana mungkin tidak ada hutan itu.


"Ah pusing!" ucapnya.


"Ngomong-ngomong, semalam pengalaman yang paling mendebarkan dalam hidupku. Bagaimana ke depannya jika bertemu lagi dengan gadis itu?" batin Darwin bingung. Dia yang jarang berkontak fisik dengan gadis. Semalam malah mendekap Rein semalaman.


"Rasanya begitu hangat!" Darwin memandang kedua tangannya. Teringat dekapan mereka semalam.


"Ah Darwin, lupakan! Kenapa dengan otakmu ini?" tanya Darwin pada diri sendiri. Dia segera menutup wajah dengan selimut miliknya. Agar tidak lagi memikirkan Rein dan kejadian semalam.


Ketika bangun, matahari sudah hampir tenggelam. Darwin dan Rein segera bersiap untuk bergabung dengan teman yang lainnya.


Pak Ren memimpin acara malam ini. Api telah siap di nyalakan.Para murid duduk membentuk lingkaran besar di sekitar api unggun itu.


"Anak-anak, ini adalah malam terakhir kita ada di sini. Besok pagi kita akan kembali ke rumah masing-masing. Malam ini kita akan bersenang-senang bersama,"ucap pak Ren membuka acara api unggun malam ini.


Para murid tampak antusias satu sama lain. Mereka jarang-jarang bisa berkumpul bersama seperti sekarang.


"Pak, ayo kita bernyanyi bersama!" ajak salah satu di antara murid-murid itu. Memberi ide agar suasana lebih hangat.


"Benar, kita memang akan melakukannya. Dan banyak permainan lainnya lagi malam ini." Pak Ren membalasnya.


"Hore!" teriak mereka semua bahagia.


Rein juga tampak senang, karena dia sudah lama menantikan acara malam ini..


"Baiklah, mari kita awali dengan penampilan dari salah satu teman kalian, silahkan maju ke depan Rumi!" panggil pak Ren.


Rumi maju ke depan dan berdiri di samping pak Ren. Semua bertepuk tangan untuk menyambutnya.


"Baiklah, Rumi akan menyanyikan satu lagu. Dan saya yang akan mengiring gitarnya,"ucap pak Ren. Diam-diam guru yang terlihat garang itu ternyata bisa bermain musik juga.


Semua menyambut baik kolaborasi keduanya. Pak Ren dengan terampil memainkan gitar.Di tambah suara Rumi yang merdu membuat suasana semakin ramai.


Rein tampak begitu kagum dengan pak Ren. Meski di dalam kelas pria itu tidak bisa di singgung siapapun. Namun di luar kelas dia lumayan ramah.


Darwin memperhatikan Rein, gadis itu tersenyum ke arah pak Ren. Sejenak pria itu merasa kesal. Dia memiliki ide cemerlang untuk membuat Rein kagum pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2