Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Jangan Mengganggu


__ADS_3

Guen tidak percaya bahwa apa yang dia lihat dan dengar, tentang berita Rein yang berpacaran dengan Darwin itu benar. Pria itu ingin menanyakan langsung pada Rein malam ini.


Dia sudah menyiapkan hadiah untuk gadis itu. Guen datang ke rumah Rein, menunggu gadis itu membukakan pintu rumahnya.


Suara pintu terbuka, Guen berbalik badan ke arah pintu. Dia melihat Rein yang tampak segar, sepertinya gadis itu baru saja mandi.


"Rein," sapa Guen pada Rein.


"Kak Guen, tumben ke sini?" tanyanya sedikit tidak senang. Namun Rein tetap menambahkan senyum di akhir pertanyaannya.


"Boleh kah aku masuk Rein?" tanyanya.


"Oh iya,silahkan kak!" Rein membuka pintunya lebih lebar agar mereka bisa masuk ke dalam rumah.


"Silahkan duduk kak," ucap Rein sopan.


"Terima kasih Rein,"Guen duduk di sofa ruang tamu.


"Ada apa ya kak?" tanya Rein setelah keduanya sudah duduk berhadapan.


"Rein, apa rumor kalau kamu dan Darwin berpacaran di sekolah itu benar?" tanya Darwin pada intinya.


Rein bingung harus menjawab apa. Sedangkan pak Ilham memintanya untuk berhati-hati pada orang yang menanyakan hubungan keduanya.


"Memangnya kenapa kak? Bertanya tentang itu," jawab Rein.


"Rein!" tiba-tiba Guen berpindah posisi. Dia duduk di samping Rein. Gadis itu sedikit terperanjat.

__ADS_1


"Kenapa kak?" Rein sedikit menjauh dari Guen.


"Rein, sebenarnya aku sangat menyukaimu," ucap Guen sambil memegang tangan Rein. Gadis itu risih karena Guen tiba-tiba memegang tangannya.


"Kak, tapi aku," Rein ragu-ragu menjawabnya.Dari arah pintu,Darwin berdiri di sana. Dia melihat Guen yang memegang tangan istrinya. Seketika hati Darwin menjadi panas.


"Ehem!" Darwin berdehem. Rein terkejut,dia segera melepaskan tangan Guen dari tangannya. Lalu berdiri menghadap ke arah Darwin.


"Darwin!" panggil Rein gugup. Dia takut kalau Darwin akan marah karena Guen yang memegang tangannya tadi.


Pria itu melangkah ke arah keduanya. Rein menarik napas panjang. Lalu perlahan mengeluarkannya.


"Kenapa kamu disini?" tanya Darwin pada Guen.Arah mata Darwin tak lepas dari pria itu. Tampak di wajahnya Darwin tengah cemburu.


"Aku ke sini ingin bertemu dengan Rein. Kenapa kamu juga ke sini?" tanya Guen tidak tahu bahwa rumah Darwin berada di samping rumah Rein.


"Kalian?" tanya Guen mulai mengerti.


"Ya, dia pacarku, jadi jangan ganggu dia lagi!" pinta Darwin tegas.


"Rein belum menjawabnya, itu bisa saja kamu berbohong. Rein benarkah kalian berpacaran?" tanya Guen berharap mereka tidak benar-benar berpacaran.


Rein menganggukkan kepalanya. Guen seketika kecewa, dia kalah cepat dengan Darwin.


"Sudahkan? Dia sudah menjawabnya. Cepatlah pergi!" pinta Darwin mengusir Guen.


"Darwin jaga sikapmu!" ucap Rein dengan suara pelan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kok Rein. Dia benar, sebaiknya aku pergi sekarang. Sampai jumpa lain waktu," Guen akhirnya pamit pergi.


"Akhirnya pergi juga!" ucap Darwin lega,dia masih merangkul manja pada istrinya.


"Kamu kenapa sih arogan banget?" protes Rein.


"Biarin, siapa suruh memegang tangan kamu. Aku juga dengar kalau dia suka sama kamu. Iya kan?" tanya Darwin memastikannya.


"Iya, jadi kamu sudah menguping cukup lama di depan pintu?" tebak Rein.


"Benar. Kalau tidak mungkin saja dia akan memelukmu atau mencium mu tadi!" gerutu Darwin sambil mengerucutkan bibirnya kesal.Rein menahan diri untuk tidak tertawa.


"Jadi kamu sangat cemburu tadi?" tanya Rein.


"Sangat! Jangan lagi dekat dengan pria lain. Ingat kamu itu hanya lah milikku seorang!" balas Darwin sambil menoel hidung Rein.


"Iya-iya, aku paham! Sana mandi kamu bau sekali!" pinta Rein pada suaminya.


"Masak sih bau?" Darwin mengendus bajunya. Lalu segera ke kamar mereka untuk mandi. Di susul Rein yang pergi ke dapur untuk membuatkan makan malam suaminya itu.


Guen melampiaskan kekecewaannya pada sebotol minuman beralkohol. Dia sudah lama mengincar Rein. Namun gadis itu dengan mudah memilih Darwin dari pada dirinya.


"Kurang apa aku hah!" ucapnya sambil setengah mabuk. Guen berada di dalam bar.


"Rein,Rein! Dia hanya pria biasa dan miskin. Kenapa tidak bersama ku saja. Aku punya segalanya," ucap Guen lagi dengan sesekali menegak minumannya kembali.


Dari jauh seorang gadis memperhatikannya. Dia tertarik pada Guen. Lalu mendekati pria itu, mengajaknya minum bersama. Keduanya dengan cepat bisa akrab. Meski tidak saling kenal satu sama lainnya.

__ADS_1


Setelah habis satu botol, Guen tak lagi sadar. Dia sudah sangat mabuk hingga tak bisa melakukan apapun lagi. Di sampingnya gadis yang tadi menemani pria itu masih bertahan. Dia sudah terbiasa minum alkohol sebelumnya.


__ADS_2