
Rein masih berada di hamparan bunga. Keduanya menikmati pemandangan di sana.
"Ah!" Rein tiba-tiba menutup kedua telinganya.
"Kenapa Rein?" tanya Darwin panik.
"Tidak apa-apa, hanya sepertinya salah satu tetua di istana mencoba melakukan telepati denganku," ucap Rein. Darwin terkejut dengan perkembangan gadis itu. Bahkan kini dia sudah bisa melakukan telepati jarak jauh seperti ini.
"Yang Mulia ratu Rein, anda dimana sekarang?" tanya tetua Tan.
"Ada apa tetua Tan, aku sedang ada urusan!" jawab Rein.
"Gawat yang mulia, ada seseorang yang membuat keributan di istana. Dia mencari ratu dan tidak mau pergi sebelum bertemu yang mulia," jawabnya memberi tahu pada Rein.
"Keributan? Siapa dia?" tanya Rein.
"Dia pangeran dari negara sebelah yang mulia," jawab tetua Tan.
"Baiklah, tunggu sebentar aku akan kembali ke sana," akhirnya telepati terputus setelah Rein mengatakan itu.
"Apa yang dia katakan?" tanya Darwin.
"Ada seseorang yang membuat keributan di istana. Dia ingin bertemu denganku, jadi aku harus kembali," jawab Rein.
"Biar aku ikut bersama mu," Darwin siap menjaga Rein.
"Tidak perlu Darwin. Selesaikan dahulu masalahmu di sini. Aku bisa menyelesaikan urusanku sendiri," Rein tak ingin mengganggu rencana Darwin untuk merebut kekuasaannya kembali. Dia memilih untuk belajar mandiri mulai dari sekarang.
"Kamu lupa kalau aku pengawal mu? Bagaimana kalau ada yang menanyakannya?" tanya Darwin.
"Kamu yakin mereka akan menanyakan tentangmu? Bukankah kamu membuat mereka tidak mengingat dirimu?" tanya Rein.
"Aku tidak melakukannya?" Darwin tampak bingung, begitu pula Rein.
"Ah sudahlah, itu tidak penting sekarang. Aku harus kembali dulu," Rein mencoba untuk berteleportasi seperti saat dia datang ke tempat Darwin.
Dia fokus mengingat kamar tidurnya di istana. Namun sebelum dia benar-benar kembali. Darwin tiba-tiba memeluknya.Rein terkejut dan konsentrasinya buyar.
"Hati-hati," ucap Darwin. Rein segera menghilang dan kembali ke istananya.Darwin terdiam sesaat di hamparan bunga itu sendirian.
"Sepertinya kamu menyukainya kan?" tanya seorang gadis dari belakang Darwin. Suara gadis itu membuatnya terkejut.
__ADS_1
"Kamu?" Darwin membalikkan bada dengan cepat, memastikan siapa yang berbicara dengannya tadi.
"Iya ini aku, Rumi." Jawab gadis itu.
"Tidak, tidak mungkin. Kamu sudah mati!" Darwin tidak mau mempercayai apa yang dia lihat.
"Aku kembali Darwin, lihat lah aku." Rumi mendekati Darwin,pria itu seperti tersihir. Dia diam di tempatnya dan menyambut gadis itu.
Rumi semakin dekat, gadis itu hendak mencium bibir Darwin.Semakin dekat keduanya hingga bibir mereka bertemu.
Darwin tiba-tiba tersadar dan mendorong Rumi ke belakang. Pria itu segera menjauh darinya.
"Kamu bukan Rumi!" ucap Darwin.
"Kamu sudah melupakanku? Apa gadis tadi sebagai pengganti ku?" tanya Rumi.
"Jangan ganggu dia? Siapa sebenarnya kamu?" tanya Darwin, masih tidak percaya bahwa dia adalah rumi.
"Aku adalah Rumi, kenapa menanyakannya lagi," jawabnya. Jika secara fisik memang sangat mirip Rumi. Tapi gadis yang dia kenal tidak akan dengan mudah menciumnya.
Darwin ragu pada Rumi di depannya itu. Sikap mereka berbanding terbalik.
"Aku harus pergi dulu, sampai jumpa lain waktu." Rumi hendak pergi kembali.
"Ini tidak mungkin, jelas-jelas aku melihat pemakamannya sendiri. Kenapa dia bisa ada di sini sekarang?" keraguan membayangi Darwin.
Ada sedikit harapan jika memang dia adalah Rumi. Tapi Darwin merasa biasa saja ketika berada di dekatnya. Di tambah lagi ketika dia mencium bibir Darwin tadi.
"Kenapa jantungku biasa saja? Tak lagi sama seperti dulu?" gumam Darwin merasa ada yang aneh dengan dirinya.
Di tempat lain, Rein yang tadi berhasil berteleportasi malah jatuh tidak di kamarnya. Gadis itu tidak sengaja jatuh di kamar lain di istananya. Karena Darwin yang tiba-tiba memecah konsentrasi gadis itu.
"Ah sial. Kenapa sakit sekali jatuh di sini!" gerutu Rein ketika dia jatuh di lantai kamar.
"Eh tapi dimana ini? Sepertinya bukan kamarku?" gumam Rein lagi.
"Kamu siapa?" tanya seorang pria yang entah sejak kapan berada di kamar itu. Dia mengetahui bagaimana Rein datang ke kamar itu.
"Kamu yang siapa?Bukankah ini di istanaku?" Rein malah balik bertanya.
"Istanamu? Apa kau ratu Rein? Ratu baru yang masih kecil itu?" tanya pria itu.
__ADS_1
"Hei siapa yang kamu panggil kecil? Aku sudah besar,usiaku dua puluh satu tahun," jawab Rein kesal.
Pria itu memperhatikan tubuh Rein dengan mengitarinya. Melihat Rein dari kepala hingga kakinya.
"Dimana yang terlihat besar? Semuanya masih kecil?" ucap pria itu. Rein segera tahu maksud perkataannya. Dia lalu memukul wajah pria yang baru saja melecehkannya.
"Jangan bicara sembarangan, atau kamu mau di hukum mati di istana ini!" ucap Rein.
"Ah maafkan aku yang mulia ku, perkenalkan aku pangeran Kun dari negera sebelah." Pria itu akhirnya meminta maaf dan memperkenalkan dirinya pada Rein.
"Oh jadi kamu pengganggu yang tidak mau pergi dari istanaku?" Rein tak ingin berbaik hati pada Kun. Jika di lihat pria itu tampak tak bersahabat.
"Yang mulia kenapa memanggilku pengganggu," Kun tanpa ragu tiba-tiba memeluk pinggang Rein dari belakang. Gadis itu terkejut dan segera mengeluarkan dua belati miliknya.
"Ups, ternyata calon istriku ini galak juga," ucap Kun,perlahan dia melepaskan kedua tangannya.
"Calon istri?" Rein yang mendengarnya tidak percaya. Pria di depannya ini seperti pandai membual. Rein bersiap menyerangnya.
"Ya, apakah yang mulia tidak mengetahuinya. Bahwa ada perjanjian pernikahan diantara kita?" ucap Kun.
"Aku tidak percaya, jangan membual di sini!" Rein sudah mulai menyerang Kun dengan senjata di tangannya. Tapi pria itu dengan lihai bisa menghindar.
"Tenang lah dulu, jangan menganggap ku musuh. Kedepannya kita harus melakukan apapun bersama-sama."
Rein bergidik mendengar pengakuan dari Kun. Pria itu benar-benar sangat percaya diri.
"Siapa yang mau menikah denganmu?" ucap Rein.Ketika hendak menyerang Kun. Pria itu dengan cepat menghindar. Rein tak sengaja tersandung. Membuatnya kehilangan keseimbangan.
Kun menangkap tubuhnya, kini Rein berada dalam pelukan pria itu.
"Lepaskan aku!" teriaknya.
"Wanita secantik mu, mengapa harus sangat kejam? Bau tubuhmu begitu harus?" Kun mencoba mengendus bau tubuh Rein. Membuat gadis itu jijik.
"Yang Mulia, apa anda ada di dalam?" dari luar suara tetua Tan terdengar. Rein merasa bersyukur akhirnya ada yang datang menyelamatkannya.
"Te-" Rein yang hendak berteriak tertahan suaranya karena Kun membekap mulutnya dengan tangan pria itu.
"Ada apa tetua? Aku sedang mandi. Tolong jangan menganggu!" ucap Kun membohongi tetua Tan.
"Maaf kalau begitu pangeran Kun, saya tidak akan menganggu kembali." Tetua Tan pamit pergi, Rein menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Jangan pergi tetua Tan!" batin Rein.