Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir

Oh Tidak! Pengawal Ku Vampir
Ramalan


__ADS_3

Pagi hari sudah terlewati,matahari pun telah naik.Rein dan Darwin masih di tempat yang sama. Keduanya tidak bisa melupakan kejadian semalam.


Rein perlahan turun dari atas ranjang. Wajahnya tidak bisa berhenti menahan malu. Jika mengingat apa yang dia dan Darwin lakukan semalam.


"Apakah ini mimpi?" batin Rein tidak percaya. Dia memberikan harta paling berharganya pada pria itu.Rein memukul kedua pipinya. Merasakan sakit di bekas pukulan itu. Nyatanya dia tidak sedang bermimpi.


"Kamu memang tidak bermimpi Rein! Semalam itu nyata!" ucap Darwin yang entah sejak kapan duduk di belakang Rein. Dia lalu memeluk punggung Rein. Membiarkan wajahnya menyusuri leher gadis itu. Rein belum terbiasa dengan sikap manja Darwin.


"Darwin? Sejak kapan kamu bangun?" tanya Rein.


"Sejak tadi," Darwin kembali bermanja dengan Rein. Setelah semalam pria itu tidak membiarkan Rein beristirahat.Hingga menjelang pagi keduanya baru menyelesaikannya.


"Lepaskan Darwin, bagaimana kalau pelayan ku datang?" tanya Rein waspada.


"Tenang saja, mereka tidak akan datang. Sejak semalam aku telah memberi pelindung untuk kamar ini. Tidak mudah untuk orang lain masuk sembarangan.


Darwin sudah tahu bahwa Rumi menguping keduanya. Dia tidak ingin wanita itu mengganggunya kali ini. Jadi Darwin sengaja membuat pelindung yang hanya bisa di hancurkan oleh dirinya sendiri.


"Benarkah?" tanya Rein.Darwin menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana kalau kita melakukannya lagi?" tanya Darwin mengajak gadis itu untuk melakukan kegiatan semalam mereka.


"Apa? Tidak!" Rein tidak mau ajakan Darwin. Dia segera berdiri dan memakai pakaiannya dengan terburu-buru.


"Hahaha," Darwin tertawa melihat tingkah Rein yang menolaknya,bukan malah marah.


"Oh iya, aku dengar pangeran Guen belum menyerah untuk mendekatimu?" tanya Darwin.Pria itu mendengar dari para pelayan bahwa pangeran Guen mengirim banyak hadiah pada Rein. Tapi gadis itu menolaknya.


"Ya begitulah,biarkan saja. Dia lama-lama juga akan pergi jika aku menolaknya terus menerus." Rein tidak peduli dengan pria lain. Yang dia pedulikan hanyalah Darwin saja.


"Benar juga!" Darwin ikut bangun dan memakai pakaiannya. Dia ingin mengajak Rein jalan-jalan malam ini.


"Rein, bagaimana kau hari ini kita pergi jalan-jalan ke kota?" ajak Darwin.


"Jalan-jalan?" tanya Rein.


"Ya, ada pesta besar di kota hari ini. Kamu sebagai ratu apa tidak mengetahuinya?" tanya Darwin.


"Aku terlalu sibuk hal lain. Untuk apa mengetahuinya." Rein selesai mengenakan pakaiannya. Dia juga menyisir rambut gadis itu.

__ADS_1


"Kalau begitu ayo pergi hari ini?" ajak Darwin.


"Baiklah," Rein juga ingin merasakan berpacaran di jaman ini.


Ketika malam hampir tiba, keduanya segera keluar dari istana. Setelah Darwin membuka pelindungnya.


Tidak ada para pelayan di depan kamar Rein ketika dia membuka pintu. Gadis itu mulai curiga. Kemana mereka?


"Jangan mencari mereka, aku sudah membuat mereka tertidur. Setengah jam lagi mereka akan terbangun," beri tahu Darwin pada Rein.


"Oh baiklah," Rein lupa bahwa dia sekarang bersama seorang penguasa yang bisa segalanya.


Keduanya pergi ke tempat yang ingin mereka tuju ketika sudah malam. Pesta untuk para rakyat begitu meriah. Rein tampak menyukainya. Dia bisa membeli banyak makanan yang tersedia di area itu.


Darwin memegang tangan Rein. Gadis itu merasa bahagia atas perlakuan Darwin.


"Ternyata seperti ini memiliki pria yang kita cintai," batin Rein bersyukur.


"Hei lihat itu? Ada orang yang bisa membaca ramalan. Bagaimana kalau kita mencobanya?" tanya Darwin.


"Baiklah, mari kita coba!"


"Gadis kecil, kembali lah ke dunia mu!" tiba-tiba pria itu mengatakan kalimat itu. Rein terkejut. Bagaimana pria di hadapannya bisa tahu hanya dengan melihat dirinya.


"Apa yang anda maksud?" tanya Darwin sedikit kesal.


"Tenang lah, kita duduk dulu!" ajak Rein menenangkan pria itu.


"Kamu bukan manusia?" tanya pria paruh baya. Darwin juga terkejut, dia bisa melihat dirinya bukan manusia. Padahal Darwin sudah menyembunyikan aura vampirnya dengan baik.


"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Darwin ketika keduanya sudah duduk di hadapan pria itu.


"Garis kehidupan kalian sudah bisa terlihat olehku. Untuk gadis ini, banyak rahasia dalam dirinya. Sedangkan kamu tetaplah berhati-hati. Musuh hanya menunggu waktu ketika kamu lengah saja."


Pria paruh baya itu kembali menjelaskan. Darwin mencoba mencerna tentang rahasia apa pada Rein.


"Pak tua, bisa kah aku kembali ke dunia ku?" tanya Rein di tengah keheningan. Darwin langsung menatap gadis itu serius.


"Maksud kamu apa Rein?" tanya Darwin.

__ADS_1


"Ada hal yang belum bisa aku jelaskan saat ini Darwin!" ucapnya memberi tahu Darwin.


"Bisa, jika kamu rela kehilangan semua yang ada di sini!" jawab pak tua itu serius. Rein terlihat ragu jika harus kehilangan segalanya yang dia miliki. Apa lagi jika itu Darwin. Dia tidak peduli dengan kekuasaan. Tapi perasaannya pada Darwin tidak ingin hilang.


"Sudahlah ayo kita pergi!" Darwin mulai tidak nyaman dengan ramalan pria tua itu.Dia menarik lengan Rein untuk ikut pergi bersamanya.


Sudut bibir pria itu tertarik ke belakang. Tatapannya tajam ke arah Rein.


"Hati-hatilah kalian dengan orang terdekat!" ucapnya sebelum Rein dan Darwin keluar dari rumah kecil itu.


"Apanya yang meramal? Aneh sekali!" gumam Darwin. Rein menarik lengan Darwin agar dia berhenti melangkah.


"Kenapa Rein?" tanya Darwin.


"Tapi yang di katakan peramal itu benar! Aku bukan dari dunia ini Darwin!" ucap Rein. Darwin tampak bingung menanggapinya.


"Lalu?" tanya Darwin.


"Suatu saat aku akan hilang dari hadapanmu." Kedua mata Rein mulai berkaca-kaca.Jika membayangkan mereka akan terpisah dalam dua dunia yang berbeda. Masihkah bisa saling mencintai.


"Itu tidak benar kan?" tanya Darwin.


"Mungkin saja," Rein menunjukkan tanda hitam di lengannya. Tanda itu mulai mengecil. Darwin menyadari ada perubahan tanda itu.


"Bukankah kemarin dua tanda hitam?" tanya Darwin.


"Ya sebelum jiwa Rumi keluar dari tubuhku," balas Rein.


"Maksudmu tanda ini menunjukkan jiwa dalam tubuhmu?" tanya Darwin lagi. Rein menganggukkan kepalanya.


Darwin bisa mengira apa yang akan terjadi jika tanda itu benar-benar hilang sepenuhnya. Jiwa Rein akan meninggalkan tubuhnya.


"Tidak. Ini tidak boleh terjadi! Aku akan mencari cara agar kamu bisa abadi seperti ku!" ucap Darwin tidak rela jika Rein pergi meninggalkannya. Apalagi jika gadis itu kembali ke dunianya.


"Bagaimana caranya?" tanya Rein.


"Aku belum tahu, tapi tenanglah. Kita tidak akan mudah terpisah," ucapnya menyakinkan Rein.


Itulah yang di takutkan oleh Rein. Dia dan Darwin terpisah di saat mereka sama-sama saling mencintai.Darwin segera memeluk tubuh Rein. Menenangkan gadis itu. Agar tidak terlalu khawatir.

__ADS_1


__ADS_2